
Sean dan Alexa bergabung bersama Martin, Jean, Jonathan, Rose, Kenzo dan Sally. Alexa melihat semua menatapnya dan Sean.
"Kalian kenapa sih ?? apa ada yang salah sama gue dan Sean ?" tanya Alexa yang membuat mereka sadar dari bengongnya.
"Kalian serasi banget !!! Gue doakan kalian berjodoh !!!" kata Rose sembari menggenggam tangan Alexa. Alexa tersenyum kemudian duduk di sebelah Sean.
///////////////////
Jam menunjukkan pukul 20.00. Perjalanan yang ditempuh oleh Papa Robbert, Papa Kevin, Mama Nessa dan Mama Ivanka tersisa 2 jam lagi. Papa Robbert sudah tidak sabar ingin segera tiba di negara mereka. Sebelum berangkat, Papa Robbert telah menghubungi Mbok Yeti untuk menanyakan keberadaan Sean dan Alexa.
Mbok Yeti memberitahu Papa Robbertbahwa Sean dan Alexa sedang bersiap pergi makan malam bersama teman-temannya di luar Mansion. Papa Robbert masih sedikit lega karena mereka tidak berduaan di rumah, setidaknya masih ada teman-teman mereka yang menjaga Sean dan Alexa.
////////////////
Felix menerima kiriman rekaman perkelahian Alexa dan teman-temannya tadi siang. Ia memutar rekaman tersebut berulang kali untuk mengobati rasa rindunya kepada Gia. Ia mengelus layar ponselnya saat terlihat wajah Alexa.
"Kamu pasti Gia.. Tapi kenapa semua memanggilmu Alexa ?? Siapakah kamu sebenarnya ??" kata Felix lirih sambil memutar rekaman Alexa dan minum alkohol.
Semenjak kepergian Gia dari hidupnya, Felix berubah menjadi orang yang sangat kejam. Tidak ada sedikitpun perasaan lembut yang tersisa di dalam hatinya. Perasaan Felix telah mati bersama kepergian Gia dari hidupnya. Tiap hari ia dan kakaknya menginterogasi musuh yang tertangkap. Ia melampiaskan rasa kesepiannya dengan cara memukuli tawanan.
Saat anak buah yang ia perintahkan menemukan titik terang tentang Gia, Felix kembali memiliki harapan. Ia akan berjuang mendapatkannya meskipun gadis itu bukan Gia, gadis yang ia cintai dengan tulus. Ia berencana akan pindah ke Negara K agar lebih dekat dengan gadis yang ia anggap mirip dengan orang yang dicintainya. Akan tetapi ia menunggu waktu yang tepat untuk membawa Gia kembali ke Negara B dan menikahinya.
//////////////////
Setelah selesai makan, Jean meminta agar para cewek berkumpul di sebelah kiri. Sedangkan Sean, Martin, Jonathan dan Kenzo secara otomatis duduk disebelah kanan. Jean, Alexa, Rose dan Sally sibuk membahas tentang foto Vallerie.
"Hei... ternyata bukan hanya foto loh, videonya juga ada guys.." kata Jean yang muncul jiwa julidnya.
"Benarkah ??? mana-mana.. gue mau lihat dong.." kata Sally penasaran.
"Ayo kita nonton sekarang.. hehehehe.." kata Alexa dengan semangat.
Mereka mulai memutar video Vallerie dan teman-temanya saat melakukan hubungan dengan pria. Alexa tidak yakin jika itu benar-benar Vallerie dan teman-temannya.
"Tapi sepertinya itu bukan bunga kentut deh.. video ini editan." kata Alexa dengan yakin. "Tapi tidak apa-apa lah.. lumayan buat menghibur kita..hahahahaha.." tambahnya.
Saat asyik menonton, Rose tersenyum sembari menatap Jonathan, sementara yang lain fokus ke ponsel Jean.
"Waah.. gimana yaa rasanya begituan ??!!" kata Sally dengan tatapan masih di ponsel Jean.
"Enak banget.. tapi pertama kali sangat sakit" kata Rose yang tanpa sadar menjawab pertanyaan Sally.
__ADS_1
Jean, Alexa dan Sally terkejut karena Rose bisa bercerita dengan lancarnya. Jean pun menghentikan videonya. Saat semua terdiam, Rose baru sadar bahwa mulutnya telah bicara terlalu banyak.
"Rose, kok loe faham banget ? Atau jangan-jangan loe udah...??" tanya Jean penasaran.
"Ngaku aja loe Roje.." kata Sally mendesak Rose agar segera menjawab pertanyaan Jean. Alexa pun menatap Rose dengan tatapan selidik.
"Hehehehehe... se..sebenarnya gu...gue sama Jonathan sud..sudah pernah melakukannya." kata Rose sambil tersenyum canggung.
Jean, Alexa dan Sally tidak percaya jika Rose ternyata seberani itu. Mereka pun bertanya kepada Rose tentang pengalaman pertamanya melakukan hubungan intim. Rose pun dengan santainya menceritakan semua yang ia alami. Rose meminta Jean, Alexa dan Sally tidak menceritakannya kepada Jasmine, kakak Rose.
Dari sudut tempat lain di dalam resto, Sean, Martin, Jonathan dan Kenzo asyik memainkan ponselnya masing-masing. Mereka saling diam tanpa mempedulikan teman di sebelah mereka. Tiba-tiba Martin mengajak Sean, Jonathan dan Kenzo melihat ponselnya. Mereka pun mendekat ke arah Martin termasuk Sean.
"Ada film baru guys.. kita nobar yuk..." ajak Martin.
Sean hanya diam, akan tetapi tidak menghindar. Martin, Jonathan dan Kenzo heran karena biasanya Sean paling anti dengan film dewasa. Menurut Martin, Jonathan dan Kenzo, semenjak bersama Alexa, sifat dingin Sean sedikit berkurang. Bahkan kini Sean bisa diajak bersenang-senang tidak seperti dahulu yang sibuk dengan dunia mafia.
Martin pun mulai memutar film yang telah ia download. Sean, Martin, Jonathan dan Kenzo mulai fokus menonton. Martin, Jonathan dan Kenzo tampak gelisah. Berulang kali mereka membenahi celana mereka.
"Loe connect ya Ken ?? hahahaha..." tanya Martin.
"Iya lah.. gue normal Tin" jawab Kenzo jujur.
"Ternyata King kita juga pria normal.. hahahahaha..." kata Jonathan menertawai Sean.
Alexa berpamitan kepada Jean, Rose dan Sally untuk pulang terlebih dahulu. Sean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Alexa melihat Sean merasa kurang nyaman dengan posisinya. Ia pun bertanya kepada Sean.
"Sayang, kamu kenapa ?" tanya Alexa sembari memegang paha Sean.
"Tidak apa-apa sayang.." kata Sean yang mencoba terlihat tenang di depan Alexa, meskipun ia ingin sekali menerkamnya.
"Alexaaaa... kenapa kamu pegang di situ siiih.. bisa-bisa gue nggak tahan.. Mana celana gue jadi sesak pula!!!" batin Sean.
"Brengsekkk !!!! gara-gara film terkutuk itu junior gue meronta ingin keluar!!! " batin Sean.
Beberapa saat kemudian, Sean dan Alexa tiba di Mansion Keluarga Astin. Mereka masuk ke dalam Mansion. Saat memasuki ruang tamu, mereka melihat Mbok Yeti tertidur di ruang tamu. Sean bergegas menggandeng Alexa menuju ke kamar tamu.
"Sudah malam.. tidur yaa.. " kata Sean sembari mencium kening Alexa. Alexa tersenyum dan mengangguk. Sean hendak pergi ke kamarnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat Alexa memegang tangannya.
"Aku mencintaimu Sean.. bahkan lebih dari aku mencintai diriku sendiri." kata Alexa lembut. Sean tersentuh dengan kata cinta yang diucapkan Alexa. Ia memeluk Alexa dengan erat.
"Terimakasih sayang. Aku juga sangat mencintaimu sayang.. aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu melindungimu." kata Sean sembari mengelus pipi Alexa.
__ADS_1
Alexa tersenyum menatap Sean. Sean mencium bibir Alexa. Ia pagut bibir Alexa dengan lembut. Alexa pun memagut bibir Sean dengan penuh cinta. Pagutan yang mereka lakukan semakin dalam. Sean menyusupkan lidahnya kedalam mulut Alexa. Lidah Sean menari dengan lincah menyusuri lidah Alexa.
Oleh karena terbawa suasana panas yang mereka ciptakan, Sean mulai mendudukkan Alexa di tempat tidur. Sean membuka resleting dress Alexa kemudian menurunkan dress Alexa hingga ke pinggang. Alexa pun membuka T-Shirt yang Sean kenakan dan menaruhnya disamping tempat tidur.
Tanpa membuang waktu, Sean menciumi leher Alexa. Ia hirup aroma tubuh Alexa kemudian ia tinggalkan tanda kepemilikan di leher Alexa. Ia ciumi leher Alexa tanpa ada satu inci pun dari bagian leher Alexa yang terlewatkan. Alexa menutup matanya menahan rasa geli di area lehernya.
Penjelajahan Sean tidak berhenti di leher Alexa saja. Ia melanjutkan penjelajahannya turun ke dada Alexa. Sean mengamati dua gundukan padat nan berisi yang terpampang indah. Kini Sean tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia menciumi area dua gunung Alexa hingga membuat Alexa menahan desahannya. Ia remas gundukan padat nan berisi dengan penuh kelembutan.
Sean tahu bahwa Alexa mencoba menahan desahannya. Sambil meremas dua bongkahan gunung kembar Alexa, Sean menciumi bibir Alexa. Sean sudah tidak tahan, sambil mencium bibir Alexa, ia mencoba melepas pengait bra yang membungkus dua gundukan yang kenyal dan lembut.
Tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka. Sean dan Alexa terkejut bukan main saat tahu bahwa Papa Robbert, Papa Kevin, Mama Nessa dan Mama Ivanka masuk kedalam kamar tamu yang ditempati Alexa. Orang tua mereka pun tak kalah terkejut dengan pemandangan yang semestinya tidak mereka lihat. Sean segera menutup tubuh Alexa dengan selimut.
"Sean !!!!! Alexa !!!! Apa yang kalian lakukan !!!!!" bentak Papa Robbert dengan mata memerah karena menahan amarah.
Tanpa pikir panjang, Papa Robbert memukul wajah Sean berkali-kali. Sean tidak melawan karena ia memang bersalah dalam hal ini. Mama Ivanka dan Mama Nessa meminta Papa Robbert berhenti memukuli Sean. Papa Robbert telah dikuasai oleh amarahnya hingga ia tetap memukuli Sean bertubi-tubi. Setelah berpakaian, Alexa berusaha melindungi Sean dari pukulan Papa Robbert. Akan tetapi Papa Kevin mencegahnya
"Alexa !!!!! Kamu sudah melewati batasmu !!!! kita pulang sekarang !!!" bentak Papa Kevin sembari menarik tangan Alexa dengan kasar.
"Pa.. tapi Sean kesakitan Pa.. hiks..hiks.." kata Alexa yang tidak tega melihat Sean dipukuli Papa Robbert.
"Pulang sekarang !!!!" bentak Papa Kevin. Mama Nessa pun menangis. Baru kali ini ia melihat suaminya marah besar kepada Alexa, putri kesayangannya. Sean melihat kepergian Alexa bersama Papa Kevin dan Mama Nessa. Hatinya sangat sakit saat melihat Alexa diperlakukan kasar oleh Papa Kevin.
Papa Robbert menyeret Sean ke ruang keluarga. Mama Ivanka menangisi Sean yang terus menerus dipukul Papanya. Wajah Sean babak belur dan lebam karena pukulan Papa Robbert. Mama Ivanka tidak tega melihat putranya terus menerus mendapat pukulan dari Papa Robbert.
"Jangan pukul anakku !!!! hiks..hiks.. kalau kamu memukulnya, aku akan minta cerai dari kamu Rob !!!! hiks..hiks.." kata Mama Ivanka yang mulai kehabisan cara untuk menghentikan Papa Robbert.
Mendengar ancaman Mama Ivanka, Papa Robbert berhenti memukul Sean. Mama Ivanka memeluk Sean.
"Sean !!!!!! kamu tahu kan Alexa itu putri Kevin, sahabat Papa !!! Teganya kamu melakukan itu kepada Alexa !!!! Kamu benar-benar mempermalukan Papa Sean !!!!" bentak Papa Robbert. Sean hanya diam mendengarkan ceramah dari Papa Robbert.
"Kamu perlu tahu Sean, Kevin percaya sepenuhnya sama kamu. Seharusnya kamu jangan menghancurkan kepercayaannya !!! Tapi apa yang kamu lakukan kepada putrinya??!!! Kamu merusaknya Sean, merusaknya !!!!!!" bentak Papa Robbert.
"Mulai besok hingga satu bulan kedepan, kamu dilarang bertemu Alexa !!! itu sebagai hukuman buat kamu !!!" kata Papa Robbert kemudian berlalu meninggalkan Sean dan Mama Ivanka.
"Nggak bisa !!!! aku akan tetap menemuinya Pa!!! " teriak Sean yang tidak mau menerima hukuman dari Papa Robbert.
"Kalau kamu bersikeras menemuinya. Papa jamin perjodohan kalian akan Papa batalkan !!! Papa akan menempatkan mata-mata di sekolah kamu. Kalau sampai kamu melanggarnya, kamu akan tahu sendiri akibatnya" kata Papa Robbert dengan tegas.
Sean terduduk lemas saat Papa Robbert memintanya menjauh dari Alexa. Ia merasa tidak sanggup berada jauh dari Alexa. Ia ingin selalu bersama dengan Alexa. Akan tetapi ia juga tidak mau jika perjodohannya dengan Alexa dibatalkan begitu saja.
~bersambung~
__ADS_1