Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Persahabatan


__ADS_3

Papa Robbert, Papa Kevin, Mama Ivanka dan Mama Nessa saling melepas rindu hingga melupakan kedua putra dan putri mereka. Papa Robbert menceritakan alasannya bersembunyi dari publik kepada Papa Robbert dan Mama Nessa.


"Bagaimana bisa mereka mengincar menantu gue ??? berani sekali mereka ???" kata Papa Robbert kesal.


"Menantu apa ??? Mereka belum menikah !!!" protes Papa Kevin.


"Kan kita sudah sepakat menjodohkan Gia dan Prince ??" kata Mama Ivanka.


"Belum tentu Gia mau sama Prince.. hahahaha.." goda Mama Nessa.


"Sorry yaa.. bukannya Gia yang nempel terus sama Prince ???" kata Mama Ivanka.


Sementara itu...


Sean masih menemani Alexa di dalam kamarnya. Ia memandangi wajah cantik Alexa. Begitupun sebaliknya, Alexa memandangi wajah tampan Sean. Sean bertanya kepada Alexa tentang alasan menggunakan nama Alexa saat di sekolah.


"Aku sudah pernah bercerita sama kamu kan. Seseorang sedang mencariku dia ingin aku mengikuti keinginannya. Yang membuat Mama sama Papa takut, dia adalah adik king mafia terkuat di negara B. Sedangkan aku harus menghindari orang itu. Kalau aku memakai nama Gia, dia akan mengetahui keberadaanku Prince. Lagian nama aku juga Alexa kok. Alexa Georgia" jawab Alexa.


Sean baru mengetahui jika nama Gia masih ada lanjutannya. Sean pun menceritakan jika orang tuanya, Papa Kevin dan Mama Nessa memanggilnya Prince, jadi yang Alexa ketahui hanya nama Prince. Sedangkan nama aslinya adalah Sean Astin. Hanya orang tuanya, Papa Kevin, Mama Nessa dan Gia yang memanggilnya Prince. Alexa pun baru tahu jika nama asli Prince adalah Sean Astin.


Obrolan mereka berlanjut hingga pertemuan pertama mereka saat Alexa menjadi siswa baru di Einstein Highschool. Alexa bertanya kepada Sean tentang perasaan Sean kepadanya. Sean pun menjawabnya dengan jujur.


"Saat pertama melihat kamu, aku seperti melihat Gia. Apapun yang kamu lakukan, semua hampir sama seperti Gia. Akhirnya aku terus memperhatikan kamu hingga pandanganku tidak bisa teralihkan dengan yang lainnya. Aku sangat mencintaimu Alexa" kata Sean.


Alexa tersenyum tanpa menjawab pernyataan cinta dari Sean. Sean hendak mencium bibir Alexa. Alexa pun sudah memejamkan matanya bersiap menerima ciuman Sean.


Tiba-tiba pintu kamar Alexa terbuka. Muncullah Mama Ivanka dan Mama Nessa yang masuk ke kamar Alexa. Sean dan Alexa sangat terkejut atas kedatangan Mama Nessa dan Mama Ivanka yang secara tiba-tiba. Ciuman mereka berdua akhirnya batal karena Mama Ivanka memeluk Alexa dan membelakangi Sean. Sean merasa kehadirannya di sisihkan oleh Mama Ivanka dan Mama Nessa.


"Sial !!!!! ciuman kedua gue batal gara-gara dua emak-emak ini !!!" batin Sean kemudian pergi dari kamar Alexa. Ia menemui Papa Robbert dan Papa Kevin di Ruang keluarga.


Papa Robbert melihat ekspresi kesal dari wajah Sean. Papa Kevin yang tidak peka dengan emosi Sean meminta Sean duduk bersama mereka. Sean pun menuruti permintaan Papa Kevin. Papa Robbert telah menceritakan semua tentang Sean kepada Papa Kevin termasuk status Sean sebagai King Mafia. Sean menjadi takut jika statusnya akan mempengaruhi hubungannya dengan Alexa.


"Pa.. tolong jangan pisahkan aku dengan Alexa yaa ??? aku bersedia melepas semua statusku demi Alexa Pa" kata Sean serius.


Papa Kevin tersenyum. Papa Kevin memberitahu Sean bahwa ia tidak mempermasalahkan statusnya sebagai King Mafia. Akan tetapi Papa Kevin menyerahkan semua keputusan kepada Alexa. Kini Sean hanya perlu merayu Alexa agar menerima dirinya beserta statusnya.


Malam telah berganti pagi. Papa Robbert dan Mama Ivanka berpamitan pulang kepada Papa Kevin dan Mama Nessa. Sebenarnya Sean masih ingin menemani Alexa, akan tetapi Mama Ivanka memaksanya pulang dan memberitahu Sean bahwa Alexa juga butuh istirahat. Papa Robbert dan Mama Ivanka pulang terlebih dahulu. Sedangkan Sean menyusul mereka dibelakang.


//////////////


Jean, Rose dan Sally menunggu Alexa di parkiran sekolah. Mereka sangat khawatir dengan kondisi Alexa. Martin, Jonathan dan Kenzo tiba di sekolah tanpa Sean. Mereka melihat Jean, Rose dan Sally di sekitar parkiran.


"Kamu menunggu aku ya Rosie ??" tanya Jonathan. Rose hanya tersenyum malu. Jean dan Sally melihat Rose yang tersipu pun menjadi ingat bahwa mereka akan menanyakan hubungan antara dia dengan Jonathan.


"Kalian berdua sudah jadian ?" tanya Sally. Rose kembali tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Sally.

__ADS_1


"Rojee.. loe ditanya malah senyum mulu !!!! gue cabut gigi loe baru tahu rasa loe!!!." kata Jean kesal. Jonathan memberitahu Jean dan Sally bahwa dirinya dan Rose sudah resmi berpacaran. Sally seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jonathan.


"Rose.. loe udah sold out ??" tanya Jean dengan tatapan sedihnya. Rose tersenyum sambil mengangguk.


"Makanya kalian berdua juga jadian dong.. kalian kelihatan saling suka loh.." saran Rose.


"Ekhm..ekhm.. gue ke kelas dulu" kata Martin dengan wajah merahnya. Kenzo pun tersenyum kepada Sally kemudian menyusul Martin.


Bel masuk berbunyi, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Alexa. Jean, Rose dan Sally semakin khawatir. Ia pun menghubungi Alexa untuk mengetahui kondisinya.


"Loe baik-baik saja lex ? Kita khawatir banget sama loe" kata Jean.


"Iya.. gue baik-baik aja kok. Kalian datanglah kemari." kata Alexa kemudian memberitahu alamat Mansionnya kepada Jean.


Pak Danang masuk kelas hendak mengisi jam pelajaran pertama. Sebelum memulai pelajaran, Pak Danang memberitahukan khususnya kepada para wanita agar berhati-hati dalam menjalin hubungan. Pak Danang bercerita bahwa ada salah satu siswa yang hampir menjadi korban nafsu pacarnya. Oleh karena itu Pak Danang menghimbau agar para gadis tidak mudah percaya dengan laki-laki. Pak Danang merasakan ada yang kurang dari kelasnya. Ia pun melihat ke arah tempat duduk Sean dan Alexa.


"Dimana Sean dan Alexa ? Apa mereka membolos bersama untuk berkencan ??" tanya Pak Danang curiga.


"Bukan pak, Alexa sedang sakit. Nanti sepulang sekolah kita akan menjenguknya" jawab Rose.


"Sean juga sakit pak. Kenapa sih bapak selalu negatif thinking sama mereka berdua ??" tanya Kenzo penasaran.


"Siapa yang negatif thinking ?? sebagai wali kelas, saya berhak tahu keadaan siswa di kelas saya" kata Pak Danang kemudian pergi dari kelas.


"Waaa.. ngambek tuh dia.." kata Martin sambil melihat kepergian Pak Danang.


///////////////


Orang Tua Yunna mengurung Yunna di dalam kamarnya. Yunna sangat syok dan trauma atas pelecehan yang ia alami. Orang tua Yunna sangat kecewa dengan Yunna. Mereka malu karena anak yang selama ini mereka banggakan telah mencoreng nama baik keluarga mereka.


"Seharusnya kita tidak membiarkannya berpacaran Ma.." kata Papa Yunna dengan gurat kesedihan di wajahnya.


"Tapi itu bukan sepenuhnya salah Yunna Pa. Dia adalah korban. Kita harus menuntut lelaki itu" kata Mama Yunna.


"Bagaimana kita bisa menuntut ?? laki-laki itu sudah mati Ma..!!!" bentak Papa Yunna. Mama Yunna sangat sedih. Ia takut jika Yunna hamil tidak akan ada yang bertanggungjawab kepadanya. Mereka khawatir jika Yunna hamil, ia akan dikeluarkan dari sekolah. Mereka hanya menyerahkan kepada Tuhan atas takdir Yunna.


/////////////////


Bennedict Johnson, ayah Vallerie sangat khawatir karena sejak semalam Vallerie tidak keluar dari kamarnya. Vallerie terus menerus menangis di dalam kamarnya. Ia tidak menyangka bahwa Martin, Kenzo dan Jonathan yang merupakan sahabat Sean tega berbuat kejam kepadanya. Ia tidak tahu bahwa Seanlah yang memerintahkan Martin, Jonathan dan Kenzo untuk memberi pelajaran kepada Vallerie.


"Kalian tega sekali sama gue. Sean pun tidak akan tinggal diam jika dia tahu gue diperlakukan kejam oleh sahabatnya. Ini semua karena Alexa, Jean, Rose dan Sally. Pasti mereka telah menghasut sahabat Sean untuk berbuat kejam ke gue." batin Vallerie.


"Gue nggak boleh lemah. Gue harus membalas semua yang mereka lakukan ke gue. Terutama loe Alexa.." batin Vallerie. Vallerie bersikukuh membalas dendam atas apa yang ia alami kemarin.


/////////////////

__ADS_1


Bel pulang sekolah berbunyi. Jean, Rose dan Sally bergegas pergi ke rumah Alexa. Tak lupa ia membeli cake dan buah-buahan untuk Alexa. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka tiba di alamat yang diberikan Alexa. Mereka tampak kagum melihat Mansion yang berdiri megah di depan mereka.


"Bunga kentut bilang Alexa anak beasiswa, tapi kenapa dia punya Mansion seindah ini ??" tanya Rose.


"Gue mah tidak percaya satu pun apa yang dikatakan bunga kentut" kata Jean.


"Loe bener Jean, mulutnya penuh dengan kebohongan" sahut Sally.


Mereka masuk ke Mansion Keluarga George. Mbok Ningsih telah diminta Alexa untuk menunggu teman-temannya di depan pintu utama. Belum sempat Sally mengetuk pintu, Mbok Ningsih telah mempersilahkan Jean, Rose dan Sally masuk dan menuju kamar Alexa. Saat hendak menaiki anak tangga, Mama Nessa menyapa Jean, Rose dan Sally.


"Hai.. kalian temannya Alexa kan ??" tanya Mama Nessa dengan senyum yang mengembang cantik di wajahnya.


"Iya tante. Saya Sally, mereka Jean dan Rose." jawab Sally sedikit canggung.


"Waaah.. kalian cantik-cantik yaa.. Saya Nessa, Mamanya Alexa. Kalian langsung ke kamar Alexa saja. Tante akan membuat cake untuk kalian" kata Mama Nessa dengan penuh semangat.


"Waaa.. aku suka banget makan cake tante.." kata Rose. Sally mencubit Rose karena tidak sopan dengan Mama Alexa. Mama Nessa tersenyum senang mendengar ucapan Rose.


"Maaf tante.. tidak perlu repot-repot, kami cuma ingin menemui Alexa kok" kata Jean.


"Ah.. tidak apa-apa, tante tidak repot kok. Anggap rumah sendiri yaa anak-anak.." kata Mama Nessa kemudian berlalu ke dapur untuk membuat cake.


Jean, Rose dan Sally bergegas menuju kamar Alexa. Mereka membuka pintu kamar Alexa. Terlihatlah seorang Alexa yang sedang tertawa sambil memainkan ponselnya. Ia baru sadar jika teman-temanya sudah datang.


"Hai.. Alexa.. sepertinya loe baik-baik saja yaa.. sampai bisa tertawa cekikikan seperti tadi ???" kata Jean.


"Hahahaha.. iya.. gue baik-baik aja kok guys. Makasih yaa udah datang menjenguk gue" kata Alexa sambil memeluk ketiga sahabatnya.


Mereka saling bercerita betapa khawatirnya mereka saat Alexa diculik. Mereka juga tidak menyangka jika Vallerie tega berbuat kejam kepada Alexa. Jean memberitahu Alexa bahwa Vallerie dan Yuna telah mendapatkan balasan yang setimpal.


Mama Nessa sedikit mendengar obrolan Alexa dan teman-temannya. Mama Nessa pun masuk ke kamar Alexa. Ia memberikan cake buatannya kepada teman-teman Alexa. Jean, Sally dan Rose mencoba cake buatan Mama Nessa. Alexa menahan tawa saat mereka memakan cake itu. Terlihat Ekspresi aneh di wajah Jean dan Sally.


"Apa rasanya enak Jean ??" tanya Mama Nessa yang mengharapkan pujian.


"Cakenya bantet tante.. coba kalau tidak bantet pasti enak" kata Rose asal ceplos. Alexa tertawa mendengar komentar dari Rose yang begitu jujur. Alexa sudah faham betul jika Mama Nessa membuat cake, rasanya akan aneh.


"Yaaaahh... gagal lagi kan... lain kali tante akan membuatkan cake yang lebih enak untuk kalian. Hehehe.." kata Mama Nessa yang tidak patah semangat. Jean, Sally dan Rose saling pandang.


"Tidak perlu Maa.. mereka sukanya cake yang enak. Buatan Mama nggak ada enak-enaknya" kata Alexa terus terang.


"Alexaaaaaaaa...." teriak Mama Nessa yang kesal dengan ucapan Alexa.


Mama Nessa teringat dengan obrolan Alexa dan teman-temannya saat ia hendak membuka pintu kamar Alexa. Mama Nessa pun menanyakan penyebab sakitnya Alexa.


"Apa benar ada yang mencelakakanmu sayang ?" tanya Mama Nessa serius.

__ADS_1


Jean, Sally dan Rose terkejut karena Mama Nessa tidak diberitahu bahwa Alexa telah mengalami penculikan. Akan tetapi mereka memilih tutup mulut agar orang tua Alexa tidak khawatir.


~bersambung~


__ADS_2