
Sean, Alexa, Martin, Jean, Jonathan, Rose, Kenzo dan Sally duduk dalam satu meja bersama. Aura dingin Sean semakin terasa setelah ia dan Alexa terpergok sedang bersama. Jean membuka pembicaraan dengan tujuannya dinner dengan Martin.
"Kalian sebenarnya siapa ? Kenapa kalian punya banyak senjata ? dan kenapa kalian bisa membunuh orang tanpa di ketahui polisi ?" tanya Jean secara beruntun kepada Martin.
"Benar juga ya.. Kenapa loe sangat santai saat lengan loe terkena sayatan pisau Ken ??" tanya Sally kepada Kenzo.
"Lalu parfum apa yang kamu gunakan sampai orang-orang kemarin tewas seketika saat kamu menyemprotkannya Jo ??" tanya Rose.
Martin, Jonathan dan Kenzo tidak langsung menjawab pertanyaan para cewek. Mereka melihat Sean seakan bertanya apakah ia di izinkan untuk mengungkap identitas mereka yang sebenarnya. Sean melihat Alexa yang juga melihatnya dengan tatapan penasaran. Akhirnya sean mengangguk dan mengizinkan anak buahnya mengungkap identitas mereka yang sebenarnya.
"Kami adalah anggota Mafia Devils. Sejak kecil kami sudah dididik dengan keras hingga tergores pisau pun tidak akan terasa bagi kami. Gue, ahli mempergunakan senjata. Jonathan, dia seorang Alchemist, ahli membuat racun dan penawar racun. Kenzo, dia hacker dan ahli dalam teknologi." kata Martin menjelaskan panjang lebar.
Jean, Rose dan Sally melongo mendengar penjelasan Martin. Lain halnya dengan Alexa yang menanggapinya dengan santai karena Martin tidak menyebut Sean sebagai anggota Mafia. Ia menunduk dan tersenyum lega.
"Oh.. gue pernah dengar nama kelompok kalian. Apa benar kelompok kalian adalah kelompok terkuat ?" tanya Alexa.
Sean, Martin, Jonathan dan Kenzo terkejut mendengar perkataan Alexa. Martin mencoba mengorek informasi yang Alexa ketahui.
"Bagaimana loe bisa tahu Lex ?" tanya Martin. Alexa menceritakan saat dulu dirinya diculik. Kakak dari penculiknya adalah sahabat dari King Devils, si kelompok terkuat dari dunia Mafia. Hingga membuat Papa Kevin khawatir jika Alexa tidak bisa diselamatkan.
Martin, Jean, Jonathan, Rose, Kenzo dan Sally terkejut mendengar cerita Alexa. Sean tidak lagi terkejut karena Alexa sudah terlebih dahulu bercerita kepadanya.
"Jadi gue dan keluarga gue datang kemari untuk bersembunyi dari kelompok Mafia karena Negara L sudah tidak aman bagi keluarga kami. Jika mereka datang kemari dan mencari gue, maka kita akan pindah ke tempat yang lebih aman lagi." kata Alexa.
"Alexa... ternyata hidup loe sulit sekali yaa.. Gue nggak mau loe pindah dari sini. Loe harus tetap disini bersama kami Lex.. kata Jean kemudian memeluk Alexa, disusul dengan Rose dan Sally.
Martin, Jonathan dan Kenzo menatap Alexa dengan prihatin. Sedangkan Sean mengepalkan tangannya saat tahu Alexa dan keluarganya sedang bersembunyi dari kelompok Mafia Negara L. Ia berjanji akan melindungi Alexa dan keluarganya. Setelah puas memeluk Alexa, Jean teringat ada seseorang yang belum terungkap identisanya.
"Lalu bagaimana dengan Sean ??" tanya Jean. Mereka semua melihat ke arah Sean. Sean hanya santai sambil menikmati milkshake strawberry favoritnya. Alexa pun ikut santai meminum milkshake strawberry yang juga merupakan minuman favoritnya.
"Sean, dia king kami. Dia orang terkuat dari seluruh kelompok Mafia. Sean Astin, King Devils" jelas Kenzo. Alexa tersedak mendengar perkataan Kenzo. Kini giliran Alexa yang melongo setelah mendengar kebenaran identitas Sean.
"Oh.. Alexa berakhirlah hidup loe.. beraninya loe melempar daun kering ke King Mafia ?? beraninya loe menyentil kening King Mafia?" batin Alexa.
Sean melihat ekspresi Alexa yang mulai berubah saat melihatnya. Ia tahu benar bahwa kini Alexa takut kepadanya. Alexa berpamitan pulang terlebih dahulu untuk menghindari Sean. Akan tetapi Sean segera mengejarnya. Ia menarik tangan Alexa agar Alexa tidak berlari darinya. Alexa merasakan sakit di punggungnya saat Sean menarik tangannya dengan kuat.
"Loe nggak perlu takut sama gue Lex.. Gue tidak akan menyakiti loe. Gue akan melindungi loe. Please jangan menghindar dari gue.." kata Sean sembari memegang tangan Alexa.
"Gue nggak takut sama loe Sean, gue mau pulang karena malam mulai larut. Gue nggak bisa keluar terlalu malam. Gue takut Sean !!" kata Alexa sembari melepaskan tangan Sean dari tangannya.
"Oke.. gue antar pulang sekarang !!" kata Sean kemudian mengajak Alexa masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Diperjalanan Sean memilih diam agar Alexa lebih rileks saat bersamanya. Ia melihat ada rasa takut di mata Alexa.
"sudah berapa orang yang loe bunuh ??" tanya Alexa dengan nada dingin.
"tidak terhitung. Gue tidak sembarangan membunuh orang Lex. Gue hanya membunuh orang yang mengusik hidup gue, keluarga gue dan orang yang berharga buat gue." jawab Sean sembari fokus mengemudi.
Beberapa saat kemudian, Sean dan Alexa tiba di Mansion keluarga George. Alexa dan Sean turun dari mobil. Alexa berterimakasih kepada Sean karena telah mengantarnya pulang. Tanpa Sean sadari, ia mencium bibir Alexa dengan lembut. Alexa mencoba mendorong Sean agar ciuman mereka terlepas akan tetapi Sean menahannya dan memeluk Alexa lebih erat. Alexa menggigit bibir Sean dengan kuat hingga bibir Sean berdarah. Sean pun melepaskan ciumannya karena merasakan sakit akibat digigit Alexa.
"Plaaaakkkk...." Alexa menampar Sean dengan keras.
"Loe memang King Mafia Sean, loe bisa membunuh semua orang yang loe mau. Tapi tidak seharusnya loe berbuat seenaknya kepada wanita" kata Alexa dengan raut wajah penuh amarah.
"hiks.. hiks.. Beraninya loe ngambil ciuman pertama gue !!!!!! hiks... hiks..." bentak Alexa sambil menarik kerah baju Sean.
"Loe tega Sean..hiks..hiks.." kata Alexa kemudian masuk ke dalam Mansion.
"Alexaaa... maafin gue.. gue khilaf Lex..Loe jangan pergi begitu saja Lex.." teriak Sean.
"Haish... !!!!! Padahal tadi juga ciuman pertama gue.." kata Sean pelan. Alexa tidak lagi menghiraukan Sean, Ia berlari menuju kamarnya dan menangis hingga tertidur.
Sean pun pergi karena Alexa tidak menghiraukannya. Ia berniat meminta maaf saat disekolah besok. Ia pun melajukan mobilnya ke Mansion Keluarga Astin. Di perjalanan ia terus teringat rasa manis bibir Alexa.
"Tapi bibir Alexa..." kata Sean sembari meraba bibirnya dan otaknya mulai berfantasi. Ia tersenyum membayangkan jika ia mencium kening, pipi, hidung dan leher Alexa.
"Siall !!!! kenapa gue jadi mesum seperti Martin gini sih !!!" batin Sean. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia segera tiba di Mansionnya.
Beberapa saat kemudian Sean tiba di Mansion Keluarga Astin. Mama Ivanka dan Papa Robbert baru saja selesai makan malam dan mulai beranjak ke ruang keluarga. Mereka melihat Sean yang hendak naik ke kamarnya. Mama Ivanka melihat wajah Sean sangat merah. Mama Ivanka menyenggol Papa Robbert agar melihat wajah putra semata wayang mereka. Papa Robbert pun bertanya kepada Sean tentang wajah Sean yang masih merah karena malu.
"Sean.. kamu mabuk ?? Kenapa wajah kamu seperti itu ?? Kamu berantem lagi ?? Kenapa dengan bibir kamu ?" tanya Papa Robbert dingin. Mama Ivanka sangat kesal dengan Papa Robbert karena tidak peka dengan putranya. Ingin sekali ia mengutuk suaminya.
"Mabuk apa sih Pa ?? Wajah aku biasa aja kok, aku nggak berantem" jawab Sean dingin kemudian berlalu meninggalkan Mama Ivanka dan Papa Robbert.
"Apa wajah gue merah ?? dan ci..ciuman Alexa membekas di bibir gue ??" batin Sean sembari tersenyum.
Mama Ivanka melihat Sean tersenyum. Ia sangat bahagia karena senyum Sean perlahan mulai kembali.
//////////////
Mentari pagi menyinari seorang gadis yang masih tidur diselimuti mimpi. Ia mencoba mengerjapkan matanya akan tetapi sangat berat. Ia membuka matanya perlahan, pandangan matanya menyempit. Ia segera bercermin untuk melihat matanya.
"Mata gue sembab karena Sean.." kata Alexa sembari melihat bayangan wajahnya di cermin. Ia pun bergegas mandi dan bersiap ke sekolah.
__ADS_1
Pukul 07.30 Alexa tiba disekolah. Ia turun dari mobilnya. Saat melangkah menuju kelasnya, Alexa dihadang oleh Vallerie dan teman-temannya.
"Hish.. beraninya keroyokan !!!" kata Alexa dengan nada songongnya.
"Heh.. ******, gue sudah pernah bilang ke loe jangan deketin Sean. Sean itu milik gue !!!" kata Vallerie.
"Siapa juga yang mendekati Sean ?? Sean tuh yang ngedeketin gue. Bahkan semalam dia berani nyium bibir gue !!!" kata Alexa sengaja memancing emosi Vallerie.
"Brengsek !!!! loe bener-bener ****** ya.. Loe kira gue percaya sama omong kosong loe ??" kata Vallerie hendak menampar Alexa. Alexa melihat Sean yang baru saja turun dari mobil. Muncullah ide untuk membuat Vallerie semakin cemburu. Ia memanggil Sean kemudian menggandeng tangan Sean menuju kelas. Tak lupa pula ia menjulurkan lidah kepada Vallerie hingga membuat Vallerie marah besar.
"Brengsek !!!!! Dasar wanita ****** !!!!" teriak Vallerie kemudian pergi ke kelasnya. Teman-teman Vallerie mengikuti dibelakangnya.
Setelah memastikan Vallerie sudah pergi, Alexa segera melepaskan tangannya dari Sean. Sean mengira Alexa sudah memaafkannya. Ternyata perkiraannya salah, Alexa hanya memanfaatkannya untuk membuat Vallerie cemburu. Alexa berlari menuju kelas mereka meninggalkan Sean di lapangan olahraga.
"Alexa... Maafin gue.." kata Sean sembari menarik tangan Alexa. Lagi-lagi Alexa merasakan sakit di punggungnya. Sean melihat mata Alexa sembab. Ia menatap Alexa dengan menahan emosi. Alexa menangkis tangan Sean dan berlari ke kelasnya.
"Kenapa punggung gue sakit banget" batin Alexa sembari menahan rasa sakit.
Jean, Sally dan Rose menyambut Alexa yang baru saja masuk kedalam kelas. Mereka melihat mata Alexa yang sembab.
"Alexa sayang, kenapa mata loe sembab ?" tanya Sally penasaran.
"Oh.. ini karena tadi malam gue digigit tikus nakal Sall.." kata Alexa sembari melihat ke arah Sean. Sean mencoba menahan tawanya mendengar omongan Alexa. Semua melihat ke arah Sean.
Alexa merasa ingin buang air kecil. Ia pun bergegas ke toilet. Sean yang melihat Alexa hendak ke toilet, ikut keluar dari kelas.
"Sean.. loe mau ke mana ??" tanya Jonathan.
"Ponsel gue ketinggalan di mobil" jawab Sean dingin.
Sean menunggu Alexa di depan toilet. Saat Alexa selesai dengan ritual buang air kecilnya, Sean menarik tangan Alexa dan meminta maaf kepada Alexa. Alexa menangkis tangan Sean dan hendak kembali ke kelasnya. Kesabaran Sean sudah habis. Ia mendorong Alexa ke tembok dan menghimpitnya dengan tubuh kekarnya.
"Lex.. please maafin gue, gue nggak tahu kenapa setiap di dekat loe gue selalu ingin menyentuh loe, bahkan lebih. Gue janji tidak akan mengulanginya lagi Lex.. Maafin gue ya.." kata Sean sembari memegang pipi Alexa. Sean melihat ekspresi Alexa seperti menahan rasa sakit.
"Alexa loe baik-baik saja ? Mana yang sakit ??" tanya Sean khawatir.
"Punggung gue sakit Sean" kata Alexa sembari mendorong tubuh Sean agar menjauh darinya.
"Gue udah maafin loe kok.." kata Alexa kemudian meninggalkan Sean di toilet. Sean merasa lega karena Alexa telah memaafkannya.
~bersambung~
__ADS_1