
Sean tiba terlebih dahulu di Markas Scorpions. Saat hendak memasuki pintu utama, Sean dihalangi oleh dua orang anak buah Peter. Sean mencekik dua orang tersebut dengan kedua tangannya hingga tewas. Jean, Sally, dan Rose melongo melihat Sean. Menurutnya begitu mudah bagi seorang Sean Astin membunuh dua orang sekaligus.
"Sean menjadi sangat menakutkan saat seseorang mengusik orang yang dia sayangi Jean" kata Martin. Jean, Rose dan Sally mengangguk mengerti.
Di depan Markas, Martin telah meminta 10 orang anak buahnya untuk menyerang markas Scorpions. Sean bergegas menemui Peter di singgasananya. Dengan amarah yang masih ia tahan, ia bertanya kepada Peter.
"Mana Alexa ??!!!!" bentak Sean.
Peter bingung dengan apa yang dimaksud Sean. Ia tidak tahu siapa yang Sean cari dan mengapa Sean mencari seseorang di Markasnya. Seingatnya ia tidak memiliki sandera di Markasnya.
"Alexa siapa ?? Gue tidak kenal dan tidak tahu siapa itu Alexa Sean" kata Peter yang kini mulai takut.
"Loe jangan macam-macam sama gue !!!! Loe sudah nyulik Alexa. Kembalikan dia ke gue !!!!" bentak Sean sembari mencekik Peter. Kini Peter sudah benar-benar takut dengan Sean. Sorot mata Sean seakan ingin menempatkannya pada kematian.
"So..Sorry Sean, gue tidak tahu apa maksud loe, gue bener-bener tidak tahu. Atau loe bisa geledah Markas gue" kata Peter tercekat karena Sean masih mencekiknya.
Sean melepaskan tangannya dari leher Peter. Ia memerintahkan Martin, Jonathan dan Kenzo menggeledah Markas Scorpions. Sedangkan Sean ikut menggeledah bersama Peter.
//////////////////
Alexa mulai sadar dari pingsannya. Saat ia membuka mata, ia melihat Vallerie sudah berada di depannya. Ia hendak pergi dari Vallerie akan tetapi ia tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya terikat.
"Loe tidak bisa kabur dari gue Lex.. Hahahaha..." kata Vallerie dengan tawaan penuh kepuasan.
"Brengsek !!!!! Loe akan menyesal telah melakukan ini ke gue Vall !!!" bentak Alexa.
"Hahahahaha.. menyesal ??? justru gue akan menyesal jika gue tidak memberi perhitungan ke loe wanita ****** !!!" kata Vallerie merendahkan Alexa.
"Loe akan bersenang-senang disini lex.. Gue jamin loe akan berterimakasih sama gue" kata Vallerie kemudian pergi meninggalkan Alexa.
Setelah Vallerie pergi, Yuna masuk bersama Marcus dan Leon. Yuna meminta Leon dan Marcus memberikan pelajaran kepada Alexa sedangkan dirinya bersama Vallerie dan Darwin menunggu di depan ruang penyekapan. Marcus dan Leon mulai berbicara kepada Alexa, akan tetapi Alexa hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.
"Le.. gimana kalau kita beri dia pelajaran tentang reproduksi wanita ?" tanya Marcus.
"Boleh juga tuh.." kata Leon.
Marcus dan Leon melepaskan ikatan Alexa. Alexa hendak berlari akan tetapi dicegah oleh Leon. Leon memegangi tangan Alexa agar Alexa tidak dapat berlari. Marcus mulai memegangi wajah cantik Alexa.
"Gila !!!! baru kali ini gue lihat cewek secantik dia" kata Marcus. Alexa berteriak meminta tolong. Sean seperti mendengar suara Alexa. Ia memiliki firasat bahwa Alexa berada di dalam gudang di belakangnya. Sambil menyeret Peter, Sean menuju gudang bersama 3 anak buahnya. Ia terkejut melihat Vallerie dan temannya sedang bersama anak buah Peter. Tanpa diperintah oleh Sean, Anak buah Sean bergegas menangkap Vallerie, Yuna dan Darwin.
Marcus membungkam mulut Alexa dengan tangannya. Ia sangat kesal karena Alexa berteriak. Ia juga takut jika aksinya diketahui oleh King Peter.
__ADS_1
"Kalau loe berteriak, loe akan mati !!!" ancam Leon.
Meskipun diancam, Alexa menahan rasa takutnya. Ia kembali berteriak minta tolong. Marcus menampar Alexa hingga ujung bibirnya berdarah. Karena merasa kelamaan, Marcus hendak mencium pipi Alexa. Alexa mencoba menghindar. Ia menendang kaki Leon agar bisa berlari. Alexa pun terlepas dari pegangan Leon. Ia hendak membuka pintu ruangan akan tetapi kunci dari pintu itu dibawa oleh Yuna.
Leon memegang Alexa dan memaksanya berbaring di atas jerami. Kini Alexa menangis karena Marcus mulai menciumi pipinya, sedangkan Leon mengelus paha Alexa.
Sean mendengar suara Alexa dari dalam ruangan. Ia meminta Peter membuka pintu ruangan tersebut. Alangkah terkejutnya Peter saat melihat dua anak buahnya mencoba memperkosa seorang gadis. Lain halnya dengan Sean yang darahnya mendidih saat melihat Alexa sedang dilecehkan.
"Brengsek !!!!!!" Sean menghampiri Marcus dan Leon. Ia seret Marcus dan Leon dengan kedua tangannya. Marcus dan Leon terkejut saat melihat Peter berada di ruangan yang sama dengan mereka.
"Peter !!!! loe pegang salah satu anak buah loe atau loe sendiri yang akan mati di tangan gue !!!!" bentak Sean dengan aura membunuh yang semakin terasa. Peter memegangi Leon, sedangkan Sean berhadapan langsung dengan Marcus.
"Beraninya loe menyentuh milik gue !!!!" bentak Sean sembari mencekik Marcus.
Martin, Jean, Jonathan, Rose, Kenzo dan Sally datang ke ruang penyekapan. Jean, Rose dan Sally menghampiri Alexa yang saat ini pingsan. Sedangkan Martin, Jonathan dan Kenzo menyaksikan kemarahan Sean. Sean memukuli Marcus secara bertubi-tubi hingga wajah Marcus penuh dengan darah.
"Loe berani mencium Alexa di depan gue ??" kata Sean sembari mengeluarkan pisau dari dalam sakunya.
"Tolong ampuni gue" kata Marcus memohon kepada Sean. Sean hanya tersenyum sinis.
"Loe mencium Alexa menggunakan bibir busuk loe kan ??" kata Sean sembari memainkan pisaunya di area bibir Marcus.
"Gue harus menghukum bibir busuk loe karena sudah mencium milik gue !!!" bentak Sean kemudian menyayat bibir Marcus. Martin, Jonathan dan Kenzo tersenyum kagum kepada Sean. Pasalnya baru kali ini mereka menyaksikan jiwa psikopat Sean.
"Mohon ampun lah kepada Tuhan, karena gue akan mengirim loe ke Tuhan sekarang juga!!!" kata Sean dengan senyuman seringainya sembari menarik rambut Marcus kemudian membuka mulut Marcus secara paksa dan memasukkan racun kedalam mulut Marcus. Dalam hitungan detik, Marcus tewas ditangan Sean.
Sean melihat ke arah Leon. Leon meminta Sean membunuhnya dengan cepat. Ia tidak ingin merasakan sakit seperti Marcus. Sean mendekat ke arah Leon. Bagi Sean permintaan Leon adalah sebuah ide untuk menangani Leon.
"Loe sudah menyentuh Alexa. Tangan kotor loe sudah menyentuh milik gue !!!!" bentak Sean sembari menusuk jari-jari Leon menggunakan pisaunya.
"Arrrgghhh.. tolong bunuh gue sekarang !!!! Jangan siksa gue !!!!" pinta Leon. Dengan senyum seringai, Sean menyayat tangan Leon dengan pisau kesayangannya. Leon menangis meminta ampun kepada Sean. Sean memanggil Martin, Martin pun melemparkan pistolnya kepada Sean. Dengan satu tembakan tepat di tengah keningnya, Leon tewas seketika.
Selanjutnya Sean hendak menghampiri Darwin. Akan tetapi Jean mencegahnya. Jean memberitahu Sean bahwa Alexa kini harus segera dibawa pulang karena saat ini Alexa pingsan dan harus mendapat perawatan dokter. Sean bergegas menghampiri Alexa. Ia
menyerahkan sisanya kepada Martin, Jonathan dan Kenzo, sedangkan ia menggendong Alexa dan mengantarnya pulang. Jean, Rose dan Sally mengantar Alexa hingga pintu gerbang Markas.
Martin memerintahkan Marco dan Joko yang merupakan anak buahnya untuk mengerjai Vallerie dan Yuna, sedangkan dirinya akan menghadapi Darwin. Ia menembak Darwin berkali-kali hingga tewas seketika. Sambil menunggu Jean, Rose dan Sally kembali dari gerbang, Martin, Jonathan dan Kenzo menunggu anak buahnya mengerjai Vallerie dan Yuna di depan ruang penyekapan.
Marco dan Joko mengikat Yuna dan Vallerie di tiang dan menutup mata Yuna dan Vallerie dengan kain. Joko mulai melucuti pakaian Yuna.
"Apa yang akan loe lakukan ke gue ??" bentak Yuna.
__ADS_1
"Kita akan bersenang-senang sayang." kata Joko sembari memegang gunung kembar Yuna. Yuna berteriak minta tolong akan tetapi tidak ada yang menghiraukannya.
Tanpa membuang waktu, Joko memasukkan juniornya kedalam lubang kenikmatan Yuna. Yuna menangis pilu karena ia tak bisa mempertahankan kesuciannya. Ia takut jika ia hamil sebelum ia lulus sekolah.
Marco telah selesai melucuti pakaian Vallerie. Ia mulai menjamah tubuh indah Vallerie. Di saat yang sama Jean, Rose dan Sally tiba di ruang penyekapan. Jean, Rose dan Sally terkejut saat melihat Darwin tewas bersimbah darah. Jean bertanya tentang Vallerie dan Yuna.
"Mana si bunga kentut sama pembokatnya ?" tanya Jean.
"Loe tenang aja Jean, mereka akan menerima balasan yang setimpal" jawab Kenzo dengan senyuman jahat di bibirnya.
Jean mendengar teriakan Vallerie dari dalam ruang penyekapan. Jean mengintip sedikit dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat Marco sedang menciumi gunung kembar Vallerie. Jean terkejut dan meminta Martin, Jonathan dan Kenzo membuka pintu ruangan.
"Kalian gila ya..!!!!!! mereka itu wanita, kalian jangan berbuat seenaknya ke mereka !!!" bentak Jean.
"Memangnya apa yang terjadi sih Jean ??" tanya Sally yang tidak tahu dengan apa yang terjadi di dalam ruang penyekapan.
"Mereka bertiga meminta anak buah mereka memperkosa Bunga Kentut dan Pembantunya Sall.." kata Jean Kesal. Sally terkejut hingga bengong. Ia tidak percaya jika teman sekelasnya sangat kejam, bahkan kepada wanita sekalipun. Rose hanya diam menyimak kedua sahabatnya berbicara.
Martin pun membuka pintu ruang penyekapan kemudian meminta Marco dan Leon menghentikan aksi mereka.
"Untung gue sudah bersenang-senang bos.. hahahaha..." kata Joko dengan penuh kepuasan.
"Baru juga bermain dengan gunungnya bos.." kata Marco dengan lesu.
Jean dan Sally bergegas menghampiri Vallerie yang menangis histeris karena ketakutan dan Yuna yang saat ini sudah pingsan. Jean dan Sally meminjamkan jaket mereka untuk menutup tubuh Vallerie dan Yuna.
"Oke.. kita tinggalkan mereka disini saja. Mereka akan diantar oleh Marco dan Joko" kata Martin dingin.
Jean, Sally dan Rose pulang terlebih dahulu. Sedangkan Martin, Jonathan dan Kenzo mengikuti mereka dari belakang. Mereka takut terjadi sesuatu dengan para wanita. Kenzo kembali teringat saat Jonathan memeluk Rose.
"Loe jadian sama Rose Jo ??" tanya Kenzo penasaran. Jonathan hanya tersenyum yang mewakili bibirnya mengucapkan kata "iya".
"Mending loe tembak deh cewek incaran kalian, sebelum diambil orang" saran Jonathan. Martin dan Kenzo hanya diam tanpa menanggapi ocehan Jonathan.
/////////////////
Di perjalanan, Sean terlihat sangat khawatir dengan kondisi Alexa. Dalam kondisi tidak sadar, Alexa terus menerus memanggil Mama dan Papanya. Sesekali Alexa meneteskan air mata.
"Gue janji akan menjaga loe Lex.. Gue akan melindungi loe.." kata Sean sembari mengelus wajah Alexa.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku tidak bisa melupakan Gia, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Alexa dalam bahaya. Aku baru sadar jika hatiku mencintai Alexa dan Gia. Maafkan aku Gia, aku sudah menunggumu terlalu lama hingga mengabaikan perasaanku sendiri. Saat kamu kembali kepadaku, aku berjanji akan meninggalkan semua demi kamu. Kali ini biarkanlah aku mencintai Alexa. Aku harap kamu mengerti dengan keputusanku Gia." batin Sean.
__ADS_1
~bersambung~