
Malam semakin larut. Setelah berpamitan kepada keluarga George, Papa Robbert dan Mama Ivanka dan Sean pulang ke Mansion mereka karena besok pagi Sean dan Alexa harus sekolah. Selepas kepergian keluarga Astin, Alexa meminta izin kepada Papa Kevin dan Mama Nessa untuk segera pergi ke kamarnya.
//////////////
Lucas memberitahu Felix bahwa besok dirinya wajib mengurus administrasi sebelum masuk ke kelasnya. Felix pun mengangguk. Tiba-tiba ia teringat dengan kakak tersayangnya. Ia pun menghubungi Steve.
"Ada apa Felix ?" tanya Steve dari seberang panggilan.
"Gue cuma mau mengabari loe bahwa gue sudah sampai di Markas dengan selamat. Besok gue juga sudah mulai sekolah kak !!" kata Felix. Meskipun ia sudah dewasa, ia masih saja menceritakan semua kegiatannya kepada Steve, kakaknya. Oleh karenanya Steve masih menganggapnya sebagai adik kecilnya.
"Fel.. gue ingetin ke loe. Jangan sampai loe cari gara-gara dengan Devils. Gue nggak mau loe dapat masalah, terutama loe jauhi orang-orang yang berhubungan dengan Sean Astin, King Devils. Dia bisa membunuh loe kapan saja Fel" kata Steve.
Mendengar peringatan dari Steve, Felix mulai ragu dengan seseorang yang bernama Sean yang diceritakan oleh anak buahnya sebagai mantan kekasih Gia. Ia khawatir jika Sean yang ada disekolah sama dengan Sean king Devils sahabat Steve. Ia berniat ingin memastikannya besok.
"Iya Kak, gue akan ingat pesan loe. Tapi jika Sean ada hubungannya dengan Gia, gue juga tidak akan tinggal diam kak" kata Felix dengan serius kemudian mengakhiri panggilannya.
Dalam hal ini, Felix memiliki firasat bahwa Sean yang merupakan mantan kekasih Gia adalah Sean Astin, King Devils. Akan tetapi ia mencoba menyingkirkan firasat itu karena ia tidak ingin dragons dan devils menjalin permusuhan hanya karena wanita.
"Tapi jika demi Gia, gue rela bermusuhan dengan siapapun tanpa rasa takut. Rasa cinta gue kepada Gia lebih besar dari rasa takut yang gue rasakan" batin Felix. Setelah menelepon kakaknya, Felix mempersiapkan semua dokumen-dokumen untuk administrasi besok di sekolah.
//////////////////
Seseorang sedang mempersiapkan dirinya untuk bersekolah di sekolah yang baru. Ia terpaksa pindah dari sekolah lamanya karena ia didrop out oleh sekolah lamanya setelah membuat teman sekelasnya terluka hingga koma selama empat bulan. Ia mendengar bahwa di Einstein Highschool ada teman sekelasnya semasa sekolah dasar.
"Akhirnya kita akan bertemu lagi. Gue akan balas semua yang telah loe lakukan ke gue. Loe harus lihat gue yang sekarang. Gue bukan orang lemah seperti loe. Gue akan menghabisi loe. Ingat janji gue Prince.." kata seseorang dengan senyuman seringai di bibirnya sambil memainkan pisau lalu melemparkannya ke arah foto anak kecil yang ia tempelkan di papan bidik.
Orang tersebut memiliki dendam pribadi kepada Prince/Sean karena ia pernah dipermalukan oleh Sean saat masa sekolah dasar. Ia selalu ingat perlakuan Sean kepadanya pada saat itu hingga membuatnya di keluarkan dari sekolah yang pada saat itu milik keluarga Astin.
//////////////
Awan mendung menutupi sinar mentari pagi di kota S. Udara yang sejuk membuat Alexa enggan beranjak dari kamarnya. Ia tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Bahkan Sean pun sudah datang menjemputnya. Mama Nessa memanggil Alexa dari ruang makan.
"Alexaaaaaaaaa.... Kamu sudah siap naaaaak ??? Sean sudah datang menjemput kamu Alexaaaa.." teriak Mama Nessa. Papa Kevin dan Sean yang diminta Mama Nessa menunggu Alexa di ruang keluarga pun menutup telinganya. Mereka tidak tahan dengan suara keras Mama Nessa yang menurut mereka bisa merusak gendang telinga mereka.
"Kelak kalau kamu sudah menjadi suami Alexa, kamu harus terbiasa dengan teriakan maut ini Sean" bisik Papa Kevin kepada Sean. Sean pun tersenyum dan mengangguk. Papa Kevin berpamitan kepada Sean untuk berangkat ke kantor terlebih dahulu karena waktu memang sudah siang.
Karena tidak menyahut setelah diteriaki oleh Mama Nessa, Mama Nessa meminta Sean membangunkan Alexa. Sean pun dengan senang hati membangunkan Alexa yang masih asyik bersembunyi di bawah selimutnya.
"Sayang, ayo bangun.. nanti kita terlambat ke sekolah loh.." kata Sean sembari mengusap kepala Alexa.
Merasakan ada yang menyentuhnya, Alexa bergegas bangun dan terduduk. Sean tampak menelan ludah saat melihat Alexa duduk di tempat tidurnya dengan mengenakan tanktop putih tipis tanpa memakai bra. Ia melihat benjolan kecil yang bergoyang lincah saat Alexa bergerak. Alexa melihat Sean yang memfokuskan tatapannya ke arah dadanya. Alexa baru ingat bahwa ia tidak memakai bra saat tidur tadi malam. Ia pun bergegas menutup dadanya dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Sean !!!! kamu mata keranjang !!!!!" kata Alexa kesal karena Sean terus menatap ke arah dadanya.
"Mata keranjang gimana sayang ???? Kan kamu sendiri yang memamerkannya ??? Lagian aku kan cowok normal yaaa pasti senang lah saat melihat pemandangan langka seperti tadi !!! Itu namanya rejeki sayang !!!! hehehehe..." kata Sean membela dirinya.
"Mana bentuknya indah banget, jadi penasaran dengan bentuk aslinya" gumam Sean sambil tersenyum akan dan menghindari tatapan Alexa, akan tetapi Alexa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kamu bilang ??? Kam..kamu.. Dasar Mesum.. Keluar dari kamar aku Sean !!!!" teriak Alexa. Sean tertawa saat melihat Alexa salah tingkah. Ia pun menunggu Alexa bersiap di ruang keluarga.
Beberapa saat kemudian Alexa selesai dengan ritualnya sebelum berangkat ke sekolah. Ia dan Sean bergegas berangkat setelah berpamitan kepada Mama Nessa.
///////////////
Jean, Rose dan Sally menunggu kedatangan Alexa di Taman sekolah. Mereka melihat Vallerie sedang murung di bawah pohon mangga bersama teman-temannya. Sebenarnya Jean, Rose dan Sally penasaran dengan penyebab murungnya seorang Vallerie. Mereka akan mencari tahu setelah Alexa tiba di sekolah.
"Eh.. kata Kenzo hari ini ada siswa baru namanya Felix" kata Sally yang mendapatkan informasi dari Kenzo.
"Felix ???? seperti nama orang yang menculik Alexa ?????" sahut Rose sembari makan snack yang ia bawa dari rumah.
"Memang... dia Felix. Orang yang pernah menculik Alexa. Gue dengar malah si Felix ini datang kemari bertujuan untuk membawa Alexa ke negaranya." kata Jean dengan nada khas julidnya.
"Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi. Alexa adalah sahabat kita. Kita harus melindunginya" kata Rose dengan penuh semangat. Mereka bertiga pun sepakat melindungi Alexa jika Felix mengganggu ketenangan Alexa.
Martin, Jonathan dan Kenzo menunggu kedatangan Sean di dalam kelas sambil memantau pergerakan Felix dan anak buahnya. Mereka memantau melalui ponsel Kenzo yang telah terhubung dengan alat penyadap yang mereka pasang di tas sekolah Lucas. Sehingga mereka mendengar semua yang dikatakan Felix dan semua anak buah Steve.
"Hai... permisi.. gue anak baru disini. Gue ditempatkan di kelas XII-C, kalian tahu letak kelas ini ??" tanya seseorang.
"Oh.. kelas ini sama dengan kami. Ayo ikuti kami !!" kata Rose.
Siswa baru itu pun mengikuti langkah kaki Jean, Rose dan Sally hingga memasuki kelas mereka. Saat masuk kedalam kelas, siswa baru menoleh kesana kemari mencari sesuatu.
"Kenapa Prince tidak ada di kelas ini ? Gue yakin, Prince di kelas ini" batin siswa baru. Martin, Jonathan dan Kenzo tetap fokus dengan ponsel Kenzo dan mengabaikan kedatangan siswa baru di kelas mereka.
///////////////
Setelah menyelesaikan administrasi, Felix diminta oleh Tuan Bennedict untuk masuk di kelas XII-E bersama anak buahnya dan juga Vallerie. Semua siswa di kelas Vallerie memandang kagum saat Felix masuk ke kelas mereka.
"Oh.. Tuhan.. dia ganteng banget.." kata Angel yang kagum dengan ketampanan Felix.
"Akhirnya ada yang menandingi ketampanan pangeran es" sahut Anna. Anna menyebut Sean sebagai pangeran es karena sikapnya yang dingin kepada semua orang. Yunna hanya tersenyum menatap Felix yang terlihat sangat tampan. Sedangkan Vallerie masih murung semenjak lamarannya ditolak oleh keluarga Astin.
Sean dan Alexa tiba di sekolah. Pak Danang yang hendak menutup gerbang terlihat kesal saat melihat Sean dan Alexa yang datang terlambat. Ia pun berniat memberikan hukuman kepada Sean dan Alexa. Ia meminta Sean dan Alexa segera turun dari mobil, sementara pak satpam memarkirkan mobil Sean.
__ADS_1
"Kalian datang terlambat, jadi saya harus menghukum kalian !!!" kata Pak Danang dengan tegas.
"Pak, tapi kami hanya terlambat 15 menit Pak.." kata Alexa yang mencoba menghindari hukuman.
"Bahkan jika kalian terlambat 5 menit pun kalian akan tetap saya hukum. Bersihkan taman, setelah itu baru masuk ke kelas !!" perintah Pak Danang sambil memberikan sapu kepada Sean dan Alexa.
Sean dan Alexa terpaksa menerima hukuman dari Pak Danang. Mereka mulai menyapu di Taman Sekolah. Alexa sedang serius menyapu, sedangkan Sean tampak sangat kesal karena harus menyapu Taman Sekolah.
"Ini semua karena kamu sayang... coba kalau kamu tidak kesiangan, kita tidak akan dihukum seperti ini" kata Sean sembari melemparkan daun kering ke arah Alexa.
"Aargh !!!! Tapi aku tidak sengaja bangun kesiangan Sayang.." kata Alexa sambil membalas Sean melemparkan daun ke arah Sean. Sean berpura-pura kelilipan untuk mengerjai Alexa.
"Aargh... mataku...!!!!" kata Sean sembari mengucek matanya. Mendengar Sean kesakitan, Alexa bergegas mendekat ke arah Sean karena ia khawatir terjadi sesuatu dengan Sean.
"Mata kamu kelilipan ya sayang ?? Maaf yaa..." kata Alexa kemudian meniup mata Sean dengan lembut. Sean yang berpura-pura kelilipan pun segera membuka matanya kemudian mencium bibir Alexa. Alexa pun terkejut.
"plaaakkk !!!!" Alexa memukul lengan Sean.
"sayang !!!! kenapa dipukul ??!!!!" kata Sean kesal.
"ini di tempat umum Sean, kalau dilihat orang gimana ??" kata Alexa yang khawatir jika aksi Sean dilihat orang lain. Sean yang masih kesal berlalu meninggalkan Alexa dan kembali ke kelas terlebih dahulu. Melihat kepergian Sean, Alexa menjadi kesal.
"Sana pergi sendiri !!!!! Nanti juga ada seseorang yang akan menggandengku ke kelas" sindir Alexa.
Mendengar perkataan Alexa, Sean tersenyum kemudian berbalik dan menggandeng Alexa. Akan tetapi Sean masih diam meskipun tangannya menggenggam erat jemari Alexa. Oleh tidak suka di diamkan, Alexa menghentikan langkah Sean. Sean pun berbalik menghadap Alexa.
"Sayang.. kamu masih marah ????, Maafin aku yaa ??" kata Alexa dengan mata berbinar seperti boneka yang menggemaskan. Melihat wajah Alexa, Sean menjadi gemas. Ia mencubit hidung Alexa.
"Oke.. aku maafin tapi cium dulu dong!!!" kata Sean sambil menunjuk pipinya.
Alexa tersenyum sambil mencium pipi Sean. Mereka berdua tersenyum bersama kemudian Sean menggandeng Alexa menuju ke kelas mereka. Saat mereka masuk kedalam kelas, siswa baru menatap Sean dengan tatapan sinis. Sean yang baru saja masuk kedalam kelas, seketika mengarahkan pandangannya ke arah siswa baru.
"Sayang, bukannya dia teman kita saat sekolah dasar ?" bisik Alexa kepada Sean.
"Hmm.." jawab Sean dengan nada dingin.
Alexa sangat faham jika mood Sean berubah, maka ada yang sedang mengusiknya. Jean menggandeng Alexa dan memintanya duduk bersamanya. Sedangkan Sean duduk di tempatnya sambil menatap tajam siswa baru di kelas mereka. Pak Danang meminta siswa baru memperkenalkan dirinya.
"Hai.. gue Brian Dominic, gue adalah teman Prince dan Gia sejak sekolah dasar" kata Brian, siswa baru. Semua teman sekelas bingung dengan perkataan Brian karena di kelas mereka tidak ada yang bernama Prince dan Gia. Akan tetapi bagi Jean, Rose, Sally, Martin, Jonathan dan Kenzo, nama itu tidak asing lagi bagi mereka.
"Maksud kamu siapa ? Di kelas ini tidak ada yang bernama Prince dan Gia" kata Pak Danang mencoba meluruskan kebingungan para siswa di kelasnya.
__ADS_1
Brian menunjuk Sean dan Alexa secara bergantian. Semua anak satu kelas terkejut saat Brian menunjuk Sean, karena selama ini menurut mereka, Sean adalah orang yang misterius dan dingin sehingga tidak ada seorangpun yang tahu tentang masa lalu Sean.
~bersambung~