
Oleh karena Papa Kevin tidak begitu mengenal teman-teman Sean, ia menghubungi Papa Robbert untuk menanyakan informasi kepada anak buah Sean tentang alamat pelaku penculikan Alexa. Mama Ivanka menghubungi Kenzo untuk mencari tahu keberadaan Sean.
Kenzo memberitahu Mama Ivanka bahwa Sean sedang menyelamatkan Alexa yang saat ini diculik Briant. Mama Ivanka terkejut mendengar informasi dari Kenzo. Ia mengakhiri panggilan kemudian menghampiri Papa Robbert dan memberitahu semua yang terjadi kepada Sean dan Alexa.
Setelah diberitahu oleh Mama Ivanka, Papa Robbert menghubungi Kenzo untuk menanyakan lokasi penyekapan Alexa. Kenzo pun memberitahu alamat Briant. Papa Robbert berniat memberitahu Papa Kevin, akan tetapi belum sempat Papa Robbert menghubungi, Papa Kevin sudah terlebih dahulu menghubungi Papa Robbert.
"Rob.. Alexa diculik Rob, loe pasti kenal anak buah Sean kan ?? tolong tanyakan alamat orang yang bernama Briant. Dialah yang menculik anak gue Rob.." kata Papa Kevin yang saat ini khawatir dengan keadaan Alexa.
"Loe tenang dulu Vin.. Gue sudah dapat alamatnya , loe tunggu gue dan Ivanka di Mansion loe ya.." kata Papa Robbert yang juga tak kalah panik seperti Papa Kevin.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Papa Kevin, Papa Robbert mengajak Mama Ivanka ke Mansion keluarga George. Papa Robbert meminta Mama Ivanka menemani dan menenangkan Mama Nessa.
/////////////////
Briant memberikan makanan kepada Alexa serta menyuapinya. Briant memilih menyuapi Alexa daripada melepaskan ikatan di tangan Alexa. Ia tidak ingin Alexa berbuat nekat dan kabur dari dirinya. Saat Briant menyuapkan makanan kepadanya, Alexa menolak pemberian Briant karena ia takut Briant mencampurkan makanan itu dengan racun atau obat-obatan.
Oleh karena Alexa menolak, Briant menampar Alexa dengan keras hingga ujung bibir Alexa berdarah. Alexa mengeluh kesakitan saat Briant menamparnya. Air mata kembali menetes dari mata indahnya. Briant meminta Alexa menghentikan tangisnya karena ia sangat tidak suka dengan orang yang menangis.
Alexa masih tetap menangis karena ketakutan dan menahan rasa sakit di ujung bibirnya. Briant mencengkeram rahang Alexa dengan kuat hingga Alexa merasa kesakitan.
"Hiks...Briant... sakiiitt.... hiks...hiks.." kata Alexa dengan tangis yang tersedu-sedu karena ketakutan.
"Gue sudah memperingatkan loe, jangan pernah menangis di depan gue.. sekarang loe tahu sendiri kan akibat dari melawan gue kan ???" kata Briant sembari mengelus rambut Alexa.
"Gue tidak akan membiarkan darah sialan ini mengotori wajah cantik loe Lex.." kata Briant dengan senyum seringainya lalu memegang kedua pipi Alexa kemudian menjilati darah di ujung bibir Alexa. Alexa mencoba menghindari wajah Briant akan tetapi ia tidak bisa bergerak. Tangan dan kakinya telah diikat oleh Briant.
Briant sangat ketagihan setelah menjilat bibir manis Alexa. Kini ia ingin lebih dari jilatan. Ia mencium paksa bibir Alexa dengan rakus. Ia cengkeram pipi Alexa hingga mulut Alexa terbuka kemudian ia menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Alexa. Ia mainkan lidah Alexa menggunakan lidahnya.
Alexa menggigit lidah Briant dengan kuat hingga berdarah. Briant secara refleks melepaskan permainan lidahnya di mulut Alexa kemudian menampar Alexa dengan sangat keras hingga Alexa pingsan. Briant kembali melanjutkan permainannya meskipun Alexa dalam keadaan pingsan.
/////////////////
Sean dan Kenzo tiba di rumah Briant. Saat mendekati pagar, tidak ada satu orang pun anak buah Briant yang menjaga rumahnya. Sean dan Kenzo bergegas masuk kedalam rumah Briant. Sean dan Kenzo berpencar saat mencari Alexa. Sean mencari di lantai 2, sedangkan Kenzo di lantai 1.
Sean membuka seluruh ruangan yang berada di lantai 2. Perhatiannya tertuju pada satu pintu yang tidak bisa dibuka. Sean yakin bahwa pintu tersebut telah dikunci dari dalam. Ia pun mendobrak pintu kamar Briant. Alangkah terkejut dan marah saat Sean melihat Briant mencumbu Alexa yang pingsan dengan rakusnya.
Begitupun Briant yang juga tak kalah kaget melihat kehadiran Sean. Ia membuka laci nakas kemudian mengambil pistol yang ia simpan disana. Ia mengarahkan pistol ke arah Sean berharap agar Sean takut dan pergi dari rumahnya. Akan tetapi harapan Briant hanyalah hal yang sia-sia. Sean justru semakin mendekat ke arah Briant.
Briant telah menarik pelatuk pada pistol yang ia bawa. Saat Briant hendak menembak Sean, Sean sudah menendang Briant terlebih dahulu. Briant jatuh tersungkur di atas lantai. Pistol yang ia bawa jatuh entah kemana. Kini Briant tidak bisa berkutik tanpa menggunakan senjata. Sean menarik kerah baju Briant.
__ADS_1
"Beraninya loe menyentuh calon istri gue bangsat !!!!!" bentak Sean kemudian memukul kepala, dada dan perut Briant secara bertubi-tubi. Briant mencoba menahan rasa sakit akibat dipukuli Sean, akan tetapi lama kelamaan ia tidak tahan menerima rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
"Sean.. tolong ampuni gue, badan gue sakit semua Sean", kata Briant yang tubuhnya sudah penuh dengan luka memar.
"Sampai mati pun gue tidak akan pernah mengampuni loe !!!! Loe sudah berani menyentuh Alexa. Dia calon istri gue Brengsek !!! Loe harus mati di tangan gue sekarang juga !!!!" bentak Sean.
Kenzo tidak berani ikut campur dengan urusan Sean. Ia hanya melihat Sean, Alexa dan Briant di depan pintu kamar. Sean mengeluarkan pisau yang ia dapat dari Jonathan. Pisau tersebut telah di olesi dengan racun, sehingga sekali tersayat korban akan tewas seketika. Tanpa membuang waktu, Sean menusuk perut Briant. Darah mengalir deras dari perut Briant hingga ke lantai.
Seakan kehilangan akal, Sean menusuk Briant berkali-kali bahkan saat Briant sudah tidak bernyawa. Kondisi mayat Briant sungguh sangat mengenaskan, perut Briant berlubang akibat tusukan Sean yang dilakukan berkali-kali. Bahkan organ dalam Briant terlihat jelas.
Papa Robbert dan Papa Kevin yang kebetulan sudah tiba di rumah Briabt bergegas menghampiri Sean dan Alexa. Papa Robbert melihat Kenzo yang berdiri di depan pintu. Kenzo pun meminta Papa Robbert menghentikan Sean.
"Sean !!!! berhenti !!!!!" bentak Papa Robbert. Sean seakan tuli dengan bentakan Papa Robbert. Ia masih menusuk mayat Briant dengan menggunakan pisaunya.
"Sean !!!! kamu lihat !!!! Disana ada Alexa. Apa yang akan dia fikirkan tentang kamu jika dia tahu kamu membunuh manusia secara brutal seperti ini ???" kata Papa Robbert. Mendengar nama Alexa, Sean pun menghentikan tangannya.
Papa Kevin membawa Alexa pergi menuju ke Rumah Sakit. Sean mencoba menghalangi langkah Papa Kevin.
"Pa.. jangan bawa Alexa. Alexa calon istriku Pa..!!!" teriak Sean sambil menghadang Papa Kevin.
"Saya akan membawa Alexa ke rumah sakit Sean. Apa kamu tega membiarkan Alexa pingsan seperti ini tanpa tindakan dari dokter?" kata Papa Kevin mencoba membujuk Sean. Sean hendak ikut mengantar Alexa ke rumah sakit. Akan tetapi Papa Robbert mencegahnya.
"Kamu istirahatlah dulu Sean... Jangan bertindak yang bisa menyebabkan kamu dan Alexa jauh." kata Papa Kevin meyakinkan Sean. Sean pun mengangguk. Ia meminta Kenzo mengurus mayat Briant.
"Ken.. lemparkan mayat orang brengsek ini ke kolam piranha !!" perintah Sean.
"Siap King...!!!" jawab Kenzo dengan tegas.
Akhirnya Alexa dibawa ke rumah sakit bersama Papa Kevin dan Papa Robbert. Papa Robbert menghubungi Mama Ivanka dan memintanya pergi ke rumah sakit keluarga bersama Mama Nessa untuk menemani Alexa. Sedangkan Sean pulang ke Mansion keluarga Astin. Setelah bergegas ganti baju kemudian berangkat menyusul Alexa ke rumah sakit.
//////////////////
Kenzo menghubungi Thomas dan Zayn. Ia hendak meminta bantuan Thomas karena ia juga ingin mengetahui kondisi Alexa. Setelah Thomas dan Zayn tiba di rumah Briant, Kenzo meminta mereka membawa mayat Briant dan memperlakukannya seperti perintah Sean.
"Thom.. tolong loe urus mayat ini ya.. gue akan menyusul mereka ke Rumah Sakit bersama para sahabat Queen." kata Kenzo kepada Thomas dan Zayn. Thomas menyetujui permintaan Kenzo.
Zayn heran dengan luka yang terdapat di perut Briant. Ia tidak yakin jika Seanlah yang melakukannya. Ia tidak percaya Sean bisa membunuh orang hingga sebegitu brutalnya.
"Apa mungkin Sean menyerangnya seperti ini ??" tanya Zayn.
__ADS_1
"Tentu saja. Gue juga baru tahu sisi psikopat Sean. Kemarahannya justru lebih menyeramkan daripada kematian itu sendiri." kata Kenzo membanggakan Sean.
"Kalau gini kan gue bangga punya King yang punya jiwa psikopat. Sungguh sulit sekali menebak sifat Sean." kata Zayn sambil tersenyum dan merogoh organ dalam mayat Briant.
"Loe menjijikkan sekali sih Zay!!!!. Untuk apa loe masukkan tangan loe ke dalam perut si brengsek ini !!!!" kata Thomas yang risih dengan kelakuan Zayn.
"Terserah gue lah !!! tangan juga tangan gue.. kenapa loe yang sewot !!!" kata Zayn dengan gaya songongnya.
Kenzo segera berpamitan kepada Thomas dan Zayn. Sebelum ke Rumah Sakit, ia menjemput Sally, Jean dan Rose terlebih dahulu. Ia tahu bahwa sahabat-sahabat Alexa juga sangat khawatir. Oleh karenanya ia mengajak para sahabat Alexa ke rumah sakit agar mereka bisa menenangkan Alexa.
////////////////
Sean sudah tiba di rumah sakit. Semua karyawan menunduk memberi hormat saat Sean melewati lorong rumah sakit. Sean bergegas menuju ruang VVVIP tanpa mempedulikan karyawan yang menunduk padanya. Ruang VVIP merupakan ruangan yang hanya diperuntukkan bagi pemilik rumah sakit. Sehingga tidak ada satupun orang luar masuk ke ruang VVIP kecuali petugas kebersihan.
Sean bergegas masuk ke dalam ruang VVIP. Ia melihat Alexa yang masih pingsan. Sean menggantikan Mama Nessa yang duduk disamping Alexa. Ia menggenggam dan menciumi tangan Alexa. Terlihat jelas rasa khawatir di wajah Sean.
Papa Kevin menanyakan kepada Sean tentang Briant. Sean pun menjelaskan panjang lebar mulai dari saat mereka masih duduk di sekolah dasar dan Briant yang memiliki niat merebut Alexa darinya. Papa Kevin kini mulai berfikir. Di satu sisi masih ada Felix yang kemungkinan besar masih mengharapkan Alexa.
"Gue harus memastikan Alexa aman dari Felix yang merupakan adik king mafia. Tapi Sean juga king Mafia kan ?? Tapi kenapa Sean masih bisa kecolongan hingga Alexa kembali diculik ??" batin Papa Kevin.
"Tapi Sean tidak akan bisa menjaga Alexa full 24 jam. Untuk memastikan keamanan Alexa, mereka harus bersama dalam 24 jam setiap harinya. Apa gue harus menikahkan Alexa dengan Sean secepatnya ??" batin Papa Kevin penuh tanda tanya. Ia pun mencoba berunding dengan Papa Robbert.
"Rob.. bagaimana kalau pernikahan Sean dan Alexa dilaksanakan besok ?? Gue ingin Sean berada disamping Alexa di setiap saat" tanya Papa Kevin. Mendengar ucapan Papa Kevin, Papa Robbert dan Mama Ivanka bersorak bahagia di dalam hati mereka. Mereka sudah menginginkan Alexa sejak ia kembali ke Negeri S.
"Aku setuju Pa.." jawab Sean dengan lantang. Mama Nessa tersenyum melihat semangat Sean.
"Oke.. kami juga setuju Vin, kami akan sangat bahagia jika Alexa bisa secepatnya menjadi menantu kami." kata Papa Robbert.
"Berarti besok aku akan menikah dengan Alexa ???" tanya Sean memastikan.
"Iya sayaaang..." kata Mama Ivanka sembari mengelus rambut Sean.
Tanpa disengaja, pembicaraan kedua keluarga tentang pernikahan Sean dan Alexa di dengar oleh sahabat Sean dan sahabat Alexa. Jean, Rose dan Sally terlihat syok mendengar pembicaraan tersebut. Sean yang peka dengan kehadiran teman-temannya segera memperingatkan mereka.
"Jika kalian membocorkan informasi ini, gue pastikan nasib kalian sama seperti Briant" kata Sean dengan wajah datarnya. Kenzo yang pada dasarnya tahu kondisi mayat Briant pun segera menjawab peringatan Sean.
"Oh.. ti..tidak..king.. ki..kita tidak akan membocorkannya. Sampai matipun kita tidak akan membocorkannya", kata Kenzo dengan kata yang terbata-bata karena takut.
~bersambung~
__ADS_1