Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Ikhlas


__ADS_3

Sinar matahari terlihat redup karena tertutup mendung yang tebal dan gelap. Jean sudah menjemput Alexa sejak pukul 06.45 untuk pergi ke sekolah bersama. Lain halnya dengan Sean yang masih bingung menentukan apakah ia akan menjemput Alexa atau langsung menuju ke sekolah. Dengan pertimbangan yang cukup mendalam, Sean memutuskan untuk menjemput Alexa terlebih dahulu.


Saat Sean tiba di Mansion Keluarga George, Mama Nessa memberitahunya bahwa Alexa sudah berangkat bersama Jean. Sean pun berpamitan kepada Mama Nessa untuk berangkat ke sekolah. Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak perlu waktu lama untuknya tiba di sekolah. Sean bergegas turun kemudian menuju ke kelasnya.


Sean melihat Alexa sedang bercanda dengan Jean, Rose dan Sally. Ia sangat kesal karena Alexa tidak mempedulikannya sama sekali. Sean mencari keberadaan Briant. Ia bertanya kepada Martin tentang keberadaan Briant. Martin mengatakan bahwa Briant tidak masuk sekolah karena sakit. Sean bisa bernafas lega karena untuk sehari tidak ada Briant yang mengganggu Alexa.


Dari tempat duduknya, Sean terus memandangi Alexa. Ia benar-benar kesal karena Alexa masih tidak mau mengerti setelah ia menjelaskannya panjang lebar di UKS. Dalam hatinya, Sean sangat merindukan Alexa. Ia rindu untuk berangkat sekolah bersama, bercanda bersama dan rindu saat sedang bercumbu dengan Alexa. Tanpa ia sadari, Jonathan duduk tepat di depan Sean sehingga Sean terkejut dengan kehadiran Jonathan.


"Kenapa loe melamun terus dari tadi king ?" tanya Jonathan.


"Pasti dia sedang berfantasi liar sambil melihat Alexa..hahahaha..." kata Martin yang mencoba bercanda dengan Sean. Sean tidak menjawab ocehan Jonathan dan Martin. Sean berdiri dari tempat duduknya kemudian berlalu ke kantin.


Alexa yang melihat Sean pergi begitu saja tanpa menyapanya pun menjadi kesal. Jean, Rose dan Sally mencoba menenangkan Alexa yang mulai emosi. Jean menyarankan agar Alexa melakukan tarik ulur terhadap perasaan Sean karena Jean tidak ingin sahabatnya diperlakukan seenaknya oleh Sean.


////////////////


Papa Robbert datang ke kantor Papa Kevin untuk membicarakan keinginan Sean. Setelah Papa Robbert menyampaikan tujuannya datang ke kantor Papa Kevin, Papa Kevin menjadi sedikit ragu karena Sean dan Alexa masih dibawah umur.


"Mereka masih sekolah Rob, gue takut mereka dikeluarkan dari sekolah" kata Papa Kevin.


"Loe lupa ?? Sean adalah pemilik sekolah itu sendiri Vin. Mana mungkin mereka akan mengeluarkan Sean dan Alexa ??" kata Papa Robbert.


"Bener juga loe Rob. Tapi jika mereka menikah, lalu Alexa hamil gimana ? Mereka masih kecil Rob.." tanya Papa Kevin.


"Gampang !!! kita minta mereka menunda kehamilan. Alat kontrasepsi kan banyak Vin" kata Papa Robbert meyakinkan Papa Kevin.


Papa Kevin mulai bimbang. Ia pun mempertimbangkan ucapan Papa Robbert. Tak lama kemudian, Papa Kevin telah menyelesaikan tahap pertimbangannya. Papa Kevin setuju untuk mempercepat pernikahan Sean dan Alexa. Papa Robbert meminta Papa Kevin bersiap karena nanti malam Papa Robbert beserta keluarganya akan datang ke Mansion Keluarga George untuk melaksanakan pertunangan Sean dan Alexa.


"Baiklah.. gue akan menghubungi Nessa agar bersiap menyambut kedatangan besan gue yang tampan ini" kata Papa Kevin sembari menoel dagu Papa Robbert.


"Brengsek !!!! jangan pegang-pegang gue !!!" kata Papa Robbert yang risih dengan tindakan Papa Kevin.


///////////////

__ADS_1


Briant masih terbaring lemah di rumahnya. Ia memanggil semua anak buahnya untuk berkumpul di rumahnya. Sebanyak lebih dari 30 orang sudah berkumpul. Briant memerintahkan mereka untuk menyerang Markas 666 dan menghancurkan Markas Sean tanpa sisa.


"Lakukan penyerangan seperti pertama kali kita melakukannya. Kalian hancurkan markas Devils. Gue akan memberi kalian bonus jika kalian berhasil membunuh King Devil" kata Briant.


Briant telah merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendamnya kepada Sean. Ia sudah tidak bisa menunda dan menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendamnya kepada Sean. Ia sudah terlampau kesal dengan tindakan Sean. Hingga ia berfikiran haris melakukan penyerangan Markas Devils tanpa pikir panjang.


/////////////////


Bel istirahat berbunyi. Alexa, Jean, Rose dan Sally pergi ke kantin. Sean memantau Alexa dari belakang bersama Martin, Jonathan dan Kenzo. Tiba-tiba Felix, Zidane, Lucas dan Victor datang dan bergabung ke meja Alexa. Martin, Jonathan dan Kenzo sangat kesal dengan kehadiran Felix dan teman-temannya, sedangkan Sean sudah terlihat jelas dari wajahnya bahwa ia sedang menahan amarah.


Martin, Jonathan dan Kenzo hendak menghampiri pacar mereka dan mengajaknya pergi dari kantin. Ketika beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba ponsel Kenzo berbunyi. Saat ia cek, ternyata Thomas yang menghubunginya. Thomas memberitahu bahwa Markas kembali diserang oleh gangster. Kenzo terkejut mendengar informasi dari Thomas. Setelah mengakhiri panggilannya, Kenzo memberitahu Sean, Martin dan Jonathan bahwa saat ini markas sedang diserang oleh kelompok gangster yang sama dengan kelompok dahulu.


Sean memerintahkan Martin, Jonathan dan Kenzo segera ke Markas. Mereka pun bergegas pergi. Alexa, Jean, Rose dan Sally melihat kepergian Martin, Jonathan dan Kenzo yang terburu-buru. Sean bergegas menyusul anak buahnya. Saat akan beranjak dari tempatnya, ia melihat Felix sedang mengajak Alexa ke Taman Sekolah. Ingin sekali ia melarang Felix dan membawa Alexa pergi dari Felix. Akan tetapi keadaan di Markas lebih darurat daripada rasa cemburunya kepada Felix. Akhirnya, untuk sementara Sean membiarkan Felix bersama Alexa. Akan tetapi ia tetap memerintahkan mata-matanya di sekolah untuk terus mengawasi pergerakan Felix.


Felix meminta Alexa untuk ikut dengannya karena Felix ingin menyampaikan sesuatu kepada Alexa. Sebenarnya Alexa ragu dengan ajakan Felix. Ia masih takut jika Felix menculiknya seperti dahulu. Akan tetapi Jean, Rose dan Sally meyakinkan Alexa agar mau menemui Felix walau hanya sekali. Mereka bersedia menunggui Alexa dari kejauhan. Alexa pun terpaksa bersedia mengikuti Felix.


"Gia.. ikutlah dengan ku ke Negara B. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu. Aku mencintaimu Gia.." kata Felix dengan tulus sambil memegang kedua tangan Alexa.


"Felix, loe adalah sahabat terbaik gue dan selamanya akan tetap seperti itu Felix. Gue dan Sean sudah dijodohkan sejak kecil. Kami juga saling mencintai. Tolong relakan gue Fel.. bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan Fel ?" kata Alexa dengan lembut sambil menggenggam satu tangan Felix.


"Felix.. loe tahu dan faham bagaimana perasaan gue ke loe. Gue harap kita bisa menjadi sahabat seperti dulu Fel.. Gue nggak mau persahabatan kita hancur Fel. Gue sayang sama loe, tapi sayang gue ke loe sebagai sahabat Fel, tidak lebih.." kata Alexa mencoba membuat Felix mengerti.


Mendengar jawaban Alexa, Felix tak mampu membendung air matanya. Alexa memeluk Felix untuk menenangkan Felix yang sedang menangis. Sebenarnya Felix bingung dengan perasaannya. Dalam hatinya ia sangat mencintai Alexa dan ingin memiliki Alexa. Akan tetapi Alexa telah mengatakan bahwa ia tidak mungkin mencintai Felix karena hanya ada Sean di hatinya.


"Lalu gue harus gimana Gia ?? hiks..hiks.. gue datang kemari hanya demi loe. Tapi apa yang gue dapat ??? Cinta gue bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya apa yang membuat loe mencintai Sean ?? Apa kekurangan gue hingga loe lebih memilih Sean daripada gue ?" tanya Felix yang sudah putus asa dengan perasaannya.


"Dari kecil gue sudah mencintainya Fel, gue juga tidak tahu apa yang membuat gue cinta Sean. Loe sangat sempurna sebagai sahabat gue Fel.. maafkan gue Fel.. gue hanya bisa menganggap loe sebagai sahabat" kata Alexa tegas.


"Baiklah.. gue akan tetap menjadi sahabat loe Gia. Tapi jika gue tahu Sean menyakiti loe atau gue melihat loe sedih, gue akan mengambil loe dari Sean, bagaimanapun caranya" kata Felix yang kini berusaha merelakan Alexa. Alexa menangis dan mengangguk. Ia senang akhirnya sahabatnya telah kembali. Ia pun memeluk Felix dan berterimakasih.


"Felix.. maafin gue, gue telah menyakiti loe.. hiks..hiks..hiks... gue juga berterimakasih sama loe karena loe masih mau menjadi sahabat gue. Gue janji gue akan bahagia bersama Sean. Gue janji gue tidak akan bersedih Fel.." kata Alexa sembari menangis tersedu-sedu.


"Kalau ada apa-apa, loe bilang saja ke gue Lex. Gue selalu ada buay loe" kata Felix sambil melepaskan pelukan Alexa kemudian mengusap air mata Alexa.

__ADS_1


Bel masuk pun terdengar, Alexa kembali ke kelasnya sedangkan Felix pulang sebelum jam pulang tiba. Ia ingin menenangkan dirinya yang baru saja merelakan Alexa kepada Sean. Ia mencoba merelakan Alexa akan tetapi pada kenyataannya ia masih berat melepaskan Alexa.


/////////////////


Thomas dan Zayn mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkap para Gangster yang menyerang markas. Beberapa dari mereka yang mencoba melawan akan dihabisi oleh Zayn. Tak lama kemudian, Martin, Jonathan dan Kenzo tiba di Mansion.


Martin segera mengangkat pistol yang ia sembunyikan di ikat pinggangnya. Ia menembaki anggota Gangster tanpa ampun. Jonathan memanfaatkan parfum racunnya untuk membunuh anggota Gangster. Sementara Kenzo berusaha menculik salah satu anggota Gangster untuk diselidiki.


Sean tiba di Markas 666. Ia melihat banyak anggota Gangster yang terbunuh. Bukannya senang dengan hasil kerjanya, Sean menjadi murka saat melihat tidak ada seorangpun yang tersisa. Sean mencekik leher Martin dan Jonathan yang telah membunuh anggota Gangster tanpa pikir panjang.


"Sejak kapan gue memerintahkan loe berdua membunuh musuh tanpa diselidiki ha ????" kata Sean yang semakin mempererat cengkeraman di leher Martin dan Jonathan. Martin fan Jonathan hampir kehabisan nafas karena cengkeraman kuat tangan Sean.


Kenzo datang dari dalam kemudian memberitahu Sean bahwa ia telah menangkap salah satu anak buah Gangster. Sean pun melepaskan tangannya dari Martin dan Jonathan. Ia bergegas pergi ke ruang penyekapan untuk mengetahui pelaku penyerangan di Markas Devils.


"Siapa yang memerintahkan loe kemari ???" kata Sean dengan tatapan tajam dan gaya bicara yang dingin. Anak buah Briant memilih diam karena ia tidak ingin menghianati bosnya.


"Loe mau mulut loe yang bicara atau pisau ini yang bicara ??" ancam Sean dengan menodongkan pisau tepat di salah satu mata anak buah Briant.


Anak buah Briant hanya tersenyum kemudian menunjukkan kapsul yang berisi racun sianida dari dalam mulutnya. Sean yang peka dengan gerak gerik anak buah Briant segera meminta Jonathan mengambil kapsul yang ada di mulut anak buah Briant. Upaya Sean sia-sia karena anak buah Briant sudah terlebih dahulu menelan kapsul sianida hingga mulut anak buah Briant berbusa. Dalam hitungan detik, anak buah Briant tewas.


"Brengsek !!!!!!!" umpat Sean. Thomas, Zayn, Martin, Jonathan dan Kenzo menunduk takut atas kemarahan Sean.


"Gue nggak mau tahu, malam ini juga kalian harus menemukan siapa dalang dibalik penyerangan ini!!!" bentak Sean kemudian berlalu meninggalkan markas.


Sean melajukan mobilnya menuju ke Mansion Keluarga Astin. Ia diminta Mama Ivanka bersiap untuk acara makan malam di Mansion Keluarga George. Saat fokus mengemudi, ponsel Sean berbunyi. Ternyata Martin sedang menghubunginya. Sean pun menjawab panggilan Martin.


"King.. Queen diculik King, Jean yang memberi tahu gue.." kata Martin dengan suara orang panik.


"Loe jangan bercanda Martin !!!!! Loe mau gue gue bunuh ha ??!!!!!" bentak Sean.


"Jean melihat dengan mata kepalanya sendiri King, kejadian itu tepat di depan Jean, Rose dan Sally. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tenaga mereka tidak sebanding dengan penculik itu." jelas Martin.


Sean mengakhiri panggilan Martin setelah menanyakan keberadaan Jean, Rose dan Sally. Ia bergegas menemui Jean, Rose dan Sally. Sean sangat takut jika terjadi apa-apa dengan Alexa.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2