
Kenzo mulai berlari membawa tongkat estafet untuk diberikan kepada Martin. Sementara di regu kelas Vallerie, Victor telah berhasil memberikan tongkat estafet kepada Anna. Anna pun mulai berlari untuk memberikan tongkat estafet kepada Zidane. Di regu Sean, Tak butuh waktu lama, Kenzo berhasil memberikan tongkat estafet kepada Martin. Dengan langkah cepat dan lebar, Martin berlari hendak memberikannya kepada Jean. Jean pun bersiap menerima tongkat estafet dari Martin.
Setelah mendapat tongkat dari Martin, Jean berlari sekuat tenaga untuk memberikan tongkat estafet kepada Alexa. Beberapa saat kemudian Alexa berhasil membawa tongkat estafet. Kemenangan tinggal di depan mata. Alexa berlari sekencang-kencangnya agar regu mereka bisa memenangkan pertandingan. Akan tetapi, saat Alexa berlari, tiba-tiba seseorang secara sengaja menjegal kakinya hingga ia terjatuh.
Rose dan Sally yang melihat kecurangan Vallerie hendak masuk ke area pertandingan. Akan tetapi Pak Danang menghalangi mereka. Sean terlihat sangat khawatir. Ia hendak menghampiri Alexa akan tetapi dihadang oleh Pak Danang dengan ancaman sesuai dengan yang Papa Robbert berikan kepadanya. Akhirnya Sean hanya bisa melihat Alexa dari kejauhan. Sementara vallerie berhasil menerima tongkat estafet dari Zidane. Ia berlari hendak memberikan tongkat kepada Lucas.
Alexa yang terjatuh, mengalami luka pada lututnya. Akan tetapi ia tetap menahan rasa sakit di lututnya agar regu kelasnya memenangkan pertandingan. Ia pun kembali berlari menuju ke arah Sean. Alexa hampir menyalip Vallerie yang akan memberikan tongkat kepada Lucas. Entah apa yang terjadi hingga Vallerie memberikan tongkatnya kepada Sean.
Oleh karena merasa bukan regu Vallerie, Sean pun mengabaikan pemberian Vallerie. Tak lama kemudian Alexa datang memberikan tongkat kepada Sean. Sean berlari dengan kencang hingga ia tiba di garis finish terlebih dahulu. Semua teman sekelas Sean bersorak gembira karena kelas mereka berhasil memenangkan pertandingan estafet.
Disisi lain, Vallerie mendapat banjir umpatan dari teman sekelasnya karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sedangkan Rose dan Sally tertawa terbahak-bahak menyaksikan kebodohan Vallerie.
Setelah pertandingan selesai, Sean bergegas menghampiri Alexa yang kakinya terluka karena jatuh. Ia hendak mengobati luka Alexa, akan tetapi Pak Danang memberitahu Sean bahwa dirinyalah yang akan mengobati Alexa.
"Biar saya saja yang mengobati Alexa" kata Sean dingin.
"Saya saja Sean. Kamu istirahatlah dulu.." kata Pak Danang agar Sean tetap menjauh dari Alexa. Sean sangat kesal dengan sikap keras kepala Pak Danang.
Tanpa mengindahkan perintah Pak Danang, Sean memapah Alexa menuju ke UKS. Ia tidak takut jika Pak Danang mengadukannya kepada Papa Robbert. Ia sudah lelah dan tidak sanggup untuk menjauh dari Alexa.
"Sean !!!!! berhenti !!!!! atau saya adukan kamu kepada Papa kamu !!!!" ancam Pak Danang. Sean masih tidak mempedulikan Pak Danang. Ia tetap mengobati Alexa di UKS.
"Sayang, bagaimana jika Pak Danang benar-benar memberitahu Papa Robbert ? Bagaimana jika hukuman kita ditambah ? aku tidak sanggup lagi sayang" kata Alexa sembari memegang lengan Sean.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Kita akan menikah secepatnya. Entah orang tua kamu setuju atau tidak, yang jelas kita akan menikah !!! Kamu mau menikah denganku kan ?" kata Sean dengan lembut sambil memegang jemari Alexa.
Alexa terdiam mendengar ucapan Sean. Ia tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan kepada Sean. Ia takut jika dirinya mengecewakan kedua orang tuanya. Akan tetapi ia juga tidak bisa menolak Sean karena ia sangat mencintai Sean. Sean sangat faham dengan diamnya Alexa saat dirinya mengajak Alexa menikah.
"Kenapa diam sayang ? Kamu tidak perlu khawatir sayang, setelah pulang sekolah kita akan ke Mansion Keluarga George. Aku akan menemui orang tua kamu" kata Sean meyakinkan Alexa.
Alexa mengangguk meskipun dirinya masih ragu dengan keputusan Sean. Sedangkan Sean tetap yakin dengan keputusannya. Ia berencana setelah menikah, ia akan mengajak Alexa tinggal diluar negeri sehingga tidak akan ada yang mengganggu hubungan mereka.
///////////////////
Papa Robbert mengunjungi perusahaan Papa Kevin setelah meeting dengan beberapa Klien di daerah sekitar G.K Group. Papa Robbert masuk ke ruang Papa Kevin tanpa mengetuk pintu hingga Papa Kevin terkejut dibuatnya.
"Bangsattt !!!! Kenapa loe nyelonong masuk aja sih !!!! Loe harus ketuk pintu dulu Rob !!!! Loe nggak baca tata tertib disini ???" kata Papa Kevin yang kesal karena kaget.
"Alaahhhh.... nggak penting !!!! Gue mau nanya gimana kabar menantu gue ???" tanya Papa Robbert to the point.
"Enak aja...Alexa bukan menantu loe.. nikah aja belum, udah main panggil menantu-menantu" kata Papa Kevin dingin.
__ADS_1
"Iya..iya.. gimana kabar Alexa Vin ?" tanya Papa Robbert dengan nada yang dibuat-buat.
"Dia baik-baik saja Rob. Tapi gue sangat tahu bahwa hatinya hancur saat gue memintanya menjauh dari Sean. Sebenarnya gue tidak tega Rob.." kata Papa Kevin sambil bersandar di kursi presdir kebesarannya.
"Tidak apa-apa Bro, itu semua demi kebaikan anak-anak. Asal loe tahu Vin, Sean pergi dari Mansion karena dia menganggap gue menjodohkannya dengan putri Bennedict." kata Papa Robbert dengan semangat membara.
Mendengar perkataan Papa Robbert, Papa Kevin tertawa terbahak-bahak. Wajah Papa Robbert menjadi kesal seketika. Ia pun melempar tempat tissue beserta isinya ke arah Papa Kevin untuk melampiaskan kekesalannya.
Setelah puas berbincang-bincang, Papa Robbert pamit undur diri sedangkan Papa Kevin juga pulang ke Mansion keluarga George karena hari sudah mulai sore. Hanya butuh waktu 40 menit, Papa Kevin telah tiba di Mansion.
///////////////////
Felix bersiap untuk menempuh perjalanan dari Negara B ke negara K. Setelah segala persiapan termasuk administrasi sekolah baru yang di lakukan oleh Lucas, Zidane dan Victor selesai, mereka meminta Felix untuk segera pindah ke negara K.
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertemu denganmu sayang.." batin Felix sembari melihat foto Alexa yang ia jadikan wallpaper di ponselnya.
"Loe yakin akan berangkat sekarang Fel ??" tanya Steve yang merasa ragu dengan keputusan Felix.
"Iya kak, hari senin aku mulai bersekolah disana" kata Felix dengan wajah penuh harapan.
Steve ingin melarang Felix berangkat, akan tetapi setelah melihat wajah Felix, ia menjadi tidak tega. Ia pun membiarkan Felix pindah ke negara K. Steve memberikan sejumlah uang ke rekening Felix untuk berjaga-jaga.
"Loe hati-hati yaa Dek.. gue akan segera mengunjungi loe" kata Steve sembari menepuk pundak Felix. Felix mengangguk dan tersenyum kepada Steve.
//////////////////
Waktu pulang sekolah tiba. Jean, Rose dan Sally hendak mengajak Alexa jalan-jalan ke mall. Dengan cepat Sean melarang Alexa karena ia dan Alexa akan melangsungkan rencana mereka saat pulang sekolah. Jean, Rose dan Sally heran karena Sean dan Alexa sudah berani bersama tanpa takut ketahuan oleh Pak Danang.
"Lex..tapi kalian kan dihukum ???" kata Jean mengingatkan Alexa.
"Kita akan menyelesaikannya sekarang Jean. Doakan yang terbaik buat kita ya ???" kata Alexa sembari memeluk Jean dengan erat.
Mendengar perkataan Alexa, Jean, Rose dan Sally menjadi berfikir yang tidak-tidak. Mereka takut jika Sean dan Alexa mengakhiri hubungan mereka.
"Sean.. loe harus berfikir dua kali sebelum bertindak Sean !!" saran Sally yang masih salah faham dengan pemikirannya. Sean hanya diam tanpa merespon perkataan Sally. Setelah berpamitan, Sean dan Alexa pergi bersama menuju ke Mansion Keluarga George.
Beberapa saat kemudian, Sean dan Alexa tiba di Mansion. Alexa mengajak Sean masuk, akan tetapi saat menginjak ruang tamu, Papa Kevin sudah terlebih dahulu marah kepada Sean dan Alexa.
"Untuk apa kamu mengajak Sean kemari Alexa ??! kamu lupa hukuman kamu ??" bentak Papa Kevin
"Aku tidak bisa jauh darinya Pa.. Aku mencintainya.." kata Alexa sambil menahan tangisnya karena dibentak oleh Papa Kevin.
__ADS_1
"Kalau sudah begini, Papa yang akan memutuskan. Mulai sekarang kamu dan Sean tidak ada hubungan apa-apa !!!!" kata Papa Kevin dengan nada dinginnya.
Tangis Alexa pecah seketika saat mendengar Papa Kevin memutuskan hubungannya dengan Sean. Dengan sigap, Sean memeluk Alexa yang menangis walaupun saat ini hatinya seperti tersayat oleh pisau yang tajam. Papa Kevin sebenarnya tidak tega melihat kesedihan di wajah Sean dan Alexa.
"Pa.. jangan seperti ini Pa, aku juga tidak bisa jauh dari Alexa Pa.. Aku kemari ingin melamar Alexa. Aku akan menikahinya Pa.." kata Sean sembari memeluk Alexa.
"Memangnya kamu punya apa sampai berani melamar Alexa ?" tantang Papa Kevin.
"Say..saya.. punya S.A Company. Perusahaan yang saya rintis sendiri dengan dibantu teman-teman saya. Saya bersedia menyerahkannya kepada Alexa." kata Sean dengan tatapan penuh keyakinan.
"Hahahahaha... jika kamu berniat melamar Alexa, mengapa orang tua kamu tidak ikut bersamamu ?" tanya Papa Kevin yang sebenarnya ingin tertawa menyaksikan keseriusan Sean.
"Orang tua ?? Pap.. Papa sedang sibuk, Mama juga sedang bersama teman-temannya." jawab Sean asal ngomong. Ia bingung bagaimana ia menjawabnya, sedangkan ia sedang kabur dari Mansion.
"Ternyata kamu berbohong Sean" batin Papa Kevin.
"Panggil orang tua kamu sekarang juga !!!" perintah Papa Kevin. Sean sedikit ragu untuk menghubungi kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia tidak mau lamarannya ditolak hanya karena egonya. Ia pun terpaksa menghubungi Mansion keluarga Astin.
Mbok Yeti yang kebetulan selesai memasak mengangkat telepon keluarga yang terus menerus berdering.
"Mbok Yeti, tolong bilang Mama sama Papa. Suruh mereka datang ke Mansion keluarga George sekarang." pinta Sean kepada Mbok Yeti. Setelah meminta tolong kepada Mbok Yeti, Sean mengakhiri panggilannya.
//////////////////
Papa Kevin meminta Sean menunggu orang tuanya di ruang tamu bersama Alexa dan Mama Nessa. Alexa terlihat khawatir dengan hasil akhir dari lamaran Sean. Akan tetapi Mama Nessa menenangkannya.
"Kamu dan Sean pasti bersama sayang. Mama yang akan menjaminnya.." bisik Mama Nessa di telinga Alexa. Alexa mengangguk dan tersenyum senang.
Beberapa saat kemudian, Papa Robbert dan Mama Ivanka tiba di Mansion Keluarga George. Mereka tidak tahu mengapa Sean memintanya datang ke Mansion Keluarga George.
"Ada apa bro ? kenapa Sean meminta kami kemari ?" tanya Papa Robbert. Papa Kevin tidak langsung menjawab. Ia meminta Sean yang menjelaskannya kepada kedua orang tuanya.
"Tapi Pa.. mereka akan menjodohkanku dengan anak kepala sekolah itu !!! mereka tidak akan membiarkanku melamar Alexa Pa.." protes Sean.
"Siapa yang menjodohkanmu dengan putri Bennedict ?!!! Kamu telah salah faham Sean. Tidak ada wanita yang layak menjadi menantu kami kecuali Alexa !!! iya kan Pa ?" kata Mama Ivanka. Papa Robbert mengangguk setuju dengan penjelasan Mama Ivanka.
"Jadi kamu telah melamar Alexa Sean ?" tanya Papa Robbert dingin. Sean mengangguk dengan semangat.
"Lalu bagaimana jawaban mereka ?" tanya Papa Robbert.
"Saya menolak lamaran Sean !!!!" kata Papa Kevin dengan tegas. Semua terkejut dengan jawaban Papa Kevin. Bahkan Sean mulai tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak emosi.
__ADS_1
Bukan hanya Sean, Papa Robbert, Mama Ivanka dan Mama Nessa juga kecewa mendengar jawaban Papa Kevin.
~bersambung~