
Setelah mendapatkan laporan dari salah satu siswa yang menyaksikan perkelahian Sean dan David, Pak Danang bergegas mendatangi lokasi perkelahian. Pak Danang terkejut saat melihat Sean menendang kepala David yang tersungkur di lantai dengan berlumuran darah. Pak Danang mencoba menghentikan Sean agar tidak lagi menendang kepala David.
"Sean Berhenti !!!" teriak Pak Danang. Sean masih saja terlarut dalam amarahnya hingga ia tidak mendengar peringatan dari pak Danang. Ia masih menendang kepala David dengan membabi buta. David yang mulai lemahpun tidak bisa menahan amukan Sean.
"Sean hentikan !!!!!" bentak Pak Danang.
"Loe berani membentak gue Ha ??!!!!" bentak Sean sambil mencengkeram kerah kemeja Pak Danang. Tatapan Sean sangat tajam hingga Pak Danang sedikit ketakutan saat menatap mata Sean.
Dari kejauhan, Martin, Jonathan, Kenzo dan Alexa berlari menghampiri Sean. Alexa melihat Sean melakukan hal tidak pantas kepada guru. Ia lebih terkejut lagi saat melihat David terkapar di lantai dengan kondisi lemah dan wajah berlumuran darah. Alexa takut Sean melakukan sesuatu yang fatal dan dapat menyeretnya ke meja hijau. Lain halnya dengan Martin, Jonathan dan Kenzo yang tersenyum dan kagum melihat keganasan king mereka terhadap musuh.
"Sean Stop !!!! sudah cukup Sean !!!"kata Alexa sembari melepaskan tangan Sean dari Pak Danang. Sean yang masih tenggelam dalam amarahnya pun tidak menyadari jika Alexa berada disampingnya. Cengkeraman Sean beralih ke rahang Pak Danang. Pak Danang mengeluh kesakitan karena Sean mencengkeramnya dengan keras.
"Aargh... Sean saya akan adukan kamu ke Papa kamu !!!" ancam Pak Danang.
"Jangan pernah sekalipun ikut campur urusan gue !!!!" ancam Sean di telinga Pak Danang.
"Sean sudah.. kamu jangan seperti ini Sean.. hiks..hiks.." kata Alexa dengan isak tangis. Akan tetapi Sean masih saja tidak mempedulikan Alexa. Alexa takut Sean membunuh orang yang tidak bersalah.
"Sean.. cukup !!!!" bentak Alexa. Sean pun melepaskan cengkeramannya dari Pak Danang dan menoleh ke arah Alexa.
"Cukup Sean !!! hiks..hiks.. jangan menyakiti orang lagi !!! hiks..hiks.." kata Alexa kemudian memeluk Sean dengan erat agar Sean tenang dan meredam amarahnya.
"Alexa..." kata Alexa singkat kemudian membalas pelukan Alexa dengan posesif. Sean mengelus rambut Alexa dan menenangkan Alexa yang masih menangis.
"Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyentuhmu. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri jika ada yang berani menyentuhmu !!!" kata Sean. Alexa mengangguk dan menangis dalam pelukan Sean. Sean pun mengajak Alexa pulang ke Mansion mereka.
Pak Danang bergegas menghampiri David yang terkapar di lantai dengan kepala penuh dengan darah. Ia meminta kepada Martin, Jonathan dan Kenzo untuk membantunya membawa David ke Rumah sakit.
"kalian cepat angkat David.. bawa dia ke rumah sakit !!! Saya akan mengambil tas saya di ruang guru terlebih dahulu" perintah Pak Danang. Martin, Jonathan dan Kenzo tersenyum sinis kepada Pak Danang.
"Kami tidak mau mengkhianati Sean. Lebih baik anda membawanya sendiri !!!!" kata Kenzo dengan senyuman seringai menghiasi bibirnya. Pak Danang menatap tajam kepada Martin, Jonathan dan Kenzo. Akan tetapi mereka tidak mempedulikan Pak Danang dan memilih pergi meninggalkan David yang tergeletak pingsan di lantai koridor.
"Saya pastikan kamu akan menerima hukuman Sean" batin Pak Danang. Pak Danang meminta bantuan kepada siswa lain untuk membantinya membawa David ke rumah sakit.
////////Ruang Guru/////////
Setelah meminta beberapa siswa membawa David ke Rumah Sakit, Pak Danang kembali ke ruang guru untuk mengambil tasnya. Tuan Bennedict melihat Pak Danang yang sedang terburu-buru.
"Pak Danang.. anda mau kemana ?? bukankah saat ini sedang jam pelajaran ?" tanya Tuan Bennedict.
"Oh.. saya akan mengantarkan David, si anak baru itu ke rumah sakit Tuan. Dia dan Sean terlibat perkelahian hingga David tidak sadarkan diri Tuan" lapor Pak Danang.
"Apa ??!!! bagaimana itu bisa terjadi Pak Danang ?" tanya Tuan Bennedict yang terkejut dengan laporan dari Pak Danang.
"Saya belum tahu lebih jelasnya Tuan. Saya mohon izin mendampingi David dulu tuan" kata Pak Danang. Tuan Bennedict mengangguk dan mempersilahkan Pak Danang pergi ke Rumah Sakit.
//////////Mansion Sean dan Alexa//////////
__ADS_1
Alexa menatap tajam Sean yang wajahnya babak belur setelah berkelahi dengan David. Alexa tidak habis fikir dengan Sean yang bertingkah seperti anak kecil dalam menyelesaikan masalah. Sean hanya diam menunduk saat Alexa menatap tajam dirinya.
"Maksud kamu apa berkelahi seperti itu ?? kamu mau jadi apa ???? jadi petarung ??? atau jadi tukang pukul ??!!!!" tanya Alexa dengan nada dinginnya. Sean hanya diam dan menunduk seperti anak ayam yang dimarahi induknya. Mbok Dian datang dan memberikan kotak P3K kepada Alexa.
"Kamu itu sudah dewasa Sean, sudah menikah tapi kenapa tingkah kamu masih seperti anak kecil !!! Tolong jadilah dewasa Sean !!!" kata Alexa yang memarahi Sean sambil mengobati lukanya. Namun Sean masih diam dan menatap Alexa dengan tatapan penuh kelembutan.
Alexa mendekatkan wajahnya di depan wajah Sean untuk membersihkan luka Sean secara detail. Alexa mengelap darah yang mulai mengering menggunakan kapas di area pelipis dan ujung bibir Sean. Tanpa ia sadari wajahnya sangat dekat dengan wajah Sean. Sean menatap bibir Alexa yang tepat berada di depan bibirnya. Ia mengelus rambut Alexa dan mencium bibir Alexa. Alexa terkejut sekaligus kesal dengan Sean.
"Sean.. bibir kamu terluka kenapa main nyosor aja sih !!!" protes Alexa.
"Hehehehe.. aku tidak tahan untuk tidak menciumnya saat melihat bibir kamu sayang." kata Sean sambil mengambil kapas di tangan Alexa dan mendudukkan Alexa di pangkuannya. Alexa hanya diam dan menuruti semua yang Sean inginkan. "Kamu bawel sekali. Sama seperti Mama.." imbuhnya sembari menciumi pipi Alexa.
"Ooh.. jadi aku seperti Mama ??" tanya Alexa. Sean mengangguk dan tersenyum. Alexa mulai mencubit lengan dan menjewer telinga Sean hingga Sean kesakitan.
"Aaaargh.. !!!!!! sakit sayang !!!!" keluh Sean.
"Mama pasti melakukan hal yang sama jika tahu kamu nakal seperti ini!!!" kata Alexa kesal.
"Aku terlalu mencintaimu sayang. Aku takut jika David merebutmu dariku !!!" kata Sean.
"Huuuft.. " Alexa membuang nafasnya dengan kasar.
"kamu kan tahu sendiri aku cuma cinta sama kamu. Tidak akan pernah ada Sean yang lain.." kata Alexa dengan kesal. Sean tersenyum sambil memeluk Alexa. Alexa pun membalas pelukan Sean.
//////Rumah Sakit////////
"Samuel.. saya beritahukan kepada kamu yang merupakan kerabat David bahwa saat ini David sedang dirawat di Rumah Sakit." kata Pak Danang.
Samuel terkejut saat Pak Danang memberitahunya. Ia sangat ingat terakhir kali saat ia bertemu, David terlihat baik-baik saja.
"Apa yang terjadi dengan David Pak ??" tanya Samuel khawatir.
"David terlibat perkelahian dengan Sean Astin. Kamu segeralah kemari" kata Pak Danang kemudian menutup panggilannya dengan Samuel.
Vallerie yang berada disamping Samuel menjadi penasaran saat melihat wajah khawatir Samuel.
"Ada apa sayang ?" tanya Vallerie.
"David masuk rumah sakit sayang. Dia terlibat perkelahian dengan Sean" kata Samuel dengan nada dinginnya. Vallerie terkejut saat mendengar Sean berkelahi dengan David hingga David masuk rumah sakit.
"Sean memang lelaki kuat. Itu yang membuat gue tergila-gila padanya. Cepat atau lambat gue akan mendapatkan Sean bagaimanapun caranya." batin Vallerie.
Samuel meminta Vallerie pulang ke rumahnya karena ia akan menemani David di Rumah Sakit. Vallerie pun menuruti perintah Samuel. Meskipun perutnya masih terasa nyeri karena tusukan pisau yang dilakukan oleh Sean, Samuel tetap pergi menemani David yang terbaring di Rumah Sakit. Ia meminta salah satu anak buah mengantarnya ke Rumah Sakit.
///////RA. Group////////
Papa Robbert sedang sibuk meeting dengan klien dan rekan bisnisnya. Saat meeting berlangsung, ponsel Papa Robbert berdering. Ia melihat nama Bennedict yang sedang menghubunginya. Papa Robbert pun menerima panggilan tuan Bennedict.
__ADS_1
"Selamat siang tuan Robbert. Saya akan menyampaikan bahwa putra anda, Sean Astin telah terlibat perkelahian dengan temannya David. Saat ini David dirawat di rumah sakit akibat perkelahian itu. Mohon besok anda datang ke sekolah untuk membicarakan masalah ini Tuan !!!" kata Tuan Bennedict dengan hati-hati.
"Mana mungkin Sean berkelahi ?? Selama ini Sean tidak pernah sekalipun berkelahi dengan temannya !!!" bentak Papa Robbert hingga membuat para klient terdiam menatapnya.
"Memang kenyataannya seperti itu Tuan. Saya harap anda datang dan membicarakan masalah ini besok di sekolah !!" kata Tuan Bennedict. Tanpa menjawab, Papa Robbert mengakhiri panggilan tuan Bennedict.
"Siallll !!!" umpat Papa Robbert.
Papa Robbert sangat faham bahwa Sean tidak akan pernah bertengkar dengan sembarang orang kecuali jika orang tersebut mengusik kehidupannya. Oleh karena sudah tidak ingin melanjutkan, Papa Robbert membubarkan meeting saat itu juga dan akan menggantinya di lain hari. Semua klien pun berangsur pergi meninggalkan ruang meeting.
/////////Sekolah////////
Peristiwa pertengkaran Sean dan David mulai tersebar di seluruh penjuru Einstein Highschool. Jean, Rose dan Sally meminta penjelasan kepada pacar mereka. Martin dan Kenzo menolak untuk menjelaskannya karena mereka menganggap pertengkaran Sean dan David tidak ada hubungannya dengan Jean, Rose dan Sally. Lain halnya dengan Martin dan Kenzo yang memilih tutup mulut, Jonathan justru menjelaskan semuanya secara rinci kepada Jean, Rose dan Sally.
"Kita masih belum tahu apa penyebab pertengkaran mereka. Tapi satu yang pasti !!! Sean tidak akan turun tangan jika itu tidak menyangkut kehidupan pribadinya. Sean sangat benci dengan orang yang mengusik kehidupannya dan orang disekitarnya" kata Jonathan. Jean, Rose dan Sally hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Kenzo.
"Berarti David sudah mengusik kehidupan Sean dong ??" tanya Sally.
"Pasti !!!" sahut Kenzo.
"Tapi kasihan banget yaa si David, sampai masuk Rumah Sakit !!!" kata Rose.
"David telah salah memilih musuh !!!" kata Martin dengan senyum seringai menghiasi wajah tampannya.
Kabar tentang perkelahian Sean dan David juga tersebar di kelas Vallerie. Yunna, Angel dan Anna tidak menyangka jika Sean akan berkelahi dengan David di sekolah karena selama mereka bersekolah di Einstein Highschool, tidak pernah sekalipun mereka menyaksikan Sean berkelahi apalagi hingga lawannya masuk rumah sakit. Menurut mereka Sean sangat menjaga martabat keluarganya yang merupakan keluarga terkaya di negeri ini.
"Apa perlu kita kasih tahu Vallerie ??" tanya Angel kepada kedua sahabatnya.
"Tidak perlu.. Besok juga dia akan tahu sendiri Ngel !!" jawab Yunna.
"Gue jadi gak sabar melihat gimana reaksi Vallerie mengetahui kabar ini" kata Anna sambil menyunggingkan senyuman penasaran.
///////Rumah Sakit///////
Samuel dan anak buahnya telah tiba di Rumah Sakit. Saat memasuki resepsionis, Samuel bertemu dengan Pak Danang yang sedang mengurus administrasi perawatan David. Pak Danang mengajak Samuel menemui David yang masih belum sadar. Setelah menjalani pemeriksaan, Dokter memperbolehkan David rawat jalan saat David sudah bangun dari pingsannya.
Samuel berterimakasih kepada Pak Danang karena telah membantu dan mengantarkan David ke rumah sakit. Setelah semua proses administrasi selesai, Pak Danang berpamitan kembali ke sekolah kepada Samuel karena ia harus kembali mengajar di sekolah.
Beberapa saat kemudian, David mulai membuka matanya. Samuel yang menyadari pergerakan David pun bergegas mendekatinya.
"Loe sudah sadar Vid ??" tanya Samuel. David hanya mengangguk lemah.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?? apa yang lelaki brengsek itu lakukan ke loe Vid ?? kita harus membalasnya.. berani sekali dia macam-macam dengan Fire.." tanya Samuel.
"Dia sangat kuat Sam.. gue juga tidak tahu kenapa Sean sangat kuat !!! Gue yakin ada yang tidak kita ketahui tentang Sean" kata David dengan nada lemah akibat menahan rasa sakit.
"Kita Fire Vid.. kita tidak pernah terkalahkan !!! jangan sampai kita dikalahkan oleh seorang Sean Astin si anak manja. Kita harus membalasnya !!!" kata Samuel dengan menahan emosi. David pun mengangguk menyetujui perkataan Samuel.
__ADS_1
~bersambung~