Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Bebas Hukuman


__ADS_3

Perdebatan antara Papa Robbert, Papa Kevin, Jasmine, Darren, Pak Danang dan Pak Bennedict terus berlanjut. Pak Danang memanggil Vallerie menjadi saksi untuk membuktikan kesalahan Alexa, Sean dan teman-temannya. Tuan Bennedict terkejut saat Pak Danang melibatkan Vallerie dalam masalah ini. Akan tetapi, demi membuktikan kebenaran, Tuan Bennedict mempersilahkan Pak Danang melibatkan Vallerie. Pak Danang pun berangkat sendiri ke kelas Vallerie.


"Vallerie.. kamu ikut saya. Kamulah yang bisa membuktikan semua kesalahan Alexa dan teman-temannya." kata Pak Danang. Vallerie dengan senang hati bersedia menjadi saksi.


"Akhirnyaaa.. gue bisa menjatuhkan Alexa.. hehehehe..." batin Vallerie.


Saat tiba di ruang kepala sekolah, Vallerie nampak terkejut setelah melihat ada Papa Robbert disana. Vallerie tersenyum kemudian memberi salam Papa Robbert. Papa Robbert hanya tersenyum kecil menanggapi sapaan Vallerie.


"waduuuh !!! ada calon mertua gue nih !!! gue harus terlihat seperti gadis yang baik !!" batin Vallerie.


Pak Danang mulai bertanya kepada Vallerie tentang kebenaran Alexa, Sean dan teman-temannya. Vallerie hendak menjawabnya. Tiba-tiba ia merasa gugup dan takut karena semua mata mengarah kepadanya termasuk Papa Robbert dan Tuan Bennedict.


"Apakah benar kamu melihat Alexa, Sean dan teman-temannya berbuat tidak senonoh saat berada di sungai ?" tanya Pak Danang.


"Se...sebenarnya saya ti..tidak melihat mereka. Tapi yang saya tahu Alexa dan teman-temannya mandi di sungai. Saya tidak tahu jika Sean dan teman-temannya juga berada di sungai Pak.." kata Vallerie dengan takut.


"Apa ?? jadi kamu tidak melihatnya secara langsung ?" tanya Pak Danang meyakinkan Vallerie. Valerie menggeleng dengan pasti.


"Siallll !!!!! jika saja Tuan Robbert tidak ada disini gue akan bilang kalau gue melihatnya" batin Vallerie.


"Semuanya sudah jelas. Anak saya tidak bersalah" kata Papa Robbert. Tuan Bennedict mengangguk karena Ia tidak ingin memiliki urusan dengan Papa Robbert. Pak Danang meminta Vallerie kembali ke kelasnya.


"Sean beserta teman-temannya saya nyatakan tidak bersalah dan saya bebaskan dari hukuman. Tapi untuk Alexa dan teman-temannya, mereka masih harus di skors karena sudah melakukan foto vulgar." kata Tuan Bennedict.


Vallerie yang mendengarnya tersenyum senang. Rencana yang selama ini ia lakukan akhirnya berhasil. Ia pun kembali ke kelasnya dengan perasaan bahagia. Pak Danang juga meminta Sean, Martin Jonathan dan Kenzo kembali ke kelas mereka. Martin, Jonathan dan Kenzo kembali ke kelas mereka. Sedangkan Sean masih mendampingi Alexa di dalam ruang kepala sekolah. Darren pun ikut keluar karena urusan di sekolah sudah selesai.


"Saya yakin adik-adik saya tidak akan melakukan foto vulgar seperti yang anda tuduhkan !!!!" kata Jasmine.


"Tapi buktinya sudah jelas Pak Ben !!!" bisik Pak Danang kepada Tuan Bennedict.


"Saya yakin Alexa tidak akan melakukan hal gila seperti itu !!!!" bentak Papa Kevin yang sangat kesal karena putri kesayangannya dituduh yang tidak-tidak.


"Foto itu adalah hasil editan" kata Sean dengan yakin. Mendengar pernyataan Sean, Papa Kevin sangat senang karena Sean percaya sepenuhnya kepada Alexa.


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau itu adalah foto editan !!!!! Apa Kamu bisa membuktikannya Ha !!!!!???" bentak Pak Danang. Sean mulai emosi saat Pak Danang membentaknya. Papa Robbert pun terlihat sedang menahan amarahnya.


"Dada Alexa tidak ada tahi lalat seperti yang ada di foto itu !!!!!" teriak Sean yang tidak sengaja keceplosan. Semua orang terkejut mendengar perkataan Sean. Pipi Alexa bersemu merah seketika.

__ADS_1


"what !!!!" teriak Jean, Rose, Sally dan Jasmine secara bersamaan karena tidak percaya dengan perkataan Sean. Papa Kevin syok mendengar perkataan Sean. Ia berada diantara rasa percaya dan tidak dengan apa yang Sean katakan.


"Apa benar yang Sean katakan Alexa ???" tanya Tuan Bennedict. Alexa terpaksa mengangguk agar ia dan teman-temannya terbebas dari tuduhan berfoto vulgar.


Tuan Bennedict meminta guru wanita mengecek kebenaran perkataan Sean. Beberapa saat setelah guru wanita mengecek, ternyata apa yang dikatakan Sean benar. Jean, Rose dan Sally merasa lega karena tuduhan yang dilayangkan kepada mereka telah terbukti tidak benar.


Jean, Rose, dan Sally diminta Tuan Bennedict segera kembali ke kelas. Jasmine pun berpamitan karena ada jadwal pemotretan. Sedangkan Sean, Alexa, Papa Robbert dan Papa Kevin masih berada di ruang kepala sekolah.


"Tuan Robbert dan Tuan George (Kevin) kami meminta maaf karena telah salah faham terhadap Sean dan Alexa" kata Tuan Bennedict sambil membungkukkan setengah badannya.


"Pecat Danang sekarang juga !!!!" kata Sean dingin. Alexa belum tahu bahwa Papa Robbert adalah pemilik Einstein Highschool. Ia menatap Sean dengan heran. Alexa mengelus lengan Sean agar Sean tenang. Papa Robbert dan Papa Kevin tersenyum sembari melihat Sean dan Alexa. Pak Danang pun terkejut karena Sean berani berucap seperti itu.


"Baiklah.. saya akan memecat Pak Danang saat ini juga" kata Tuan Bennedict.


Pak Danang protes kepada Tuan Bennedict karena ia merasa perlakuan Tuan Benedict tidak adil kepadanya. Akan tetapi Tuan Bennedict tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan Papa Robbert dan Sean Astin.


"Kenapa anda memecat saya Pak ?? saya sudah berpihak kepada putri anda. Tapi mengapa anda malah menuruti perkataan anak bau kencur ini ???" tanya Pak Danang kepada Tuan Bennedict.


"Maaf Pak Danang, sebenarnya Tuan Robbert adalah pemilik sekolah ini, sedangkan Tuan Muda Sean adalah pewaris tunggal Keluarga Astin" jawab Tuan Bennedict.


Pak Danang terduduk lemas setelah mendengar jawaban Tuan Bennedict. Ia menyesal telah membuat masalah dengan Sean. Ia pun memohon kepada Sean agar tidak dipecat sebagai guru di Einstein Highschool. Sean memilih pergi dari ruang kepala sekolah kemudian disusul Papa Robbert dan Papa Kevin.


Setiba mereka di parkiran, Papa Robbert menarik kerah seragam Sean. Sean pun hanya pasrah saat Papanya berbuat demikian.


"Apa yang kamu lakukan ke Alexa ??? Kenapa kamu bisa tahu jika dada Alexa tidak terdapat tahi lalat ??!!!!" tanya Papa Robbert sangat kesal.


"Mampus !!!! gue harus jawab apa ini ???? Nggak mungkin kan gue bilang tadi pagi sudah melihat dada mulus Alexa kan ??" batin Sean.


"Sean !!!!!!" bentak Papa Robbert yang menyadarkan Sean dari lamunannya.


"Ak..aku cuma nebak aja kok Pa.." jawab Sean asal ngomong.


"Sudahlah Rob.. gue percaya kok sama Sean. Lagian Alexa itu masih polos. Mana mungkin dia membiarkan Sean berbuat macam-macam kepadanya..." kata Papa Kevin yang percaya penuh kepada Sean. Sean pun tersenyum kepada Papa Kevin yang sudah mempercayai kebohongannya.


"Oke.. kali ini Papa percaya sama kamu. Jika suatu saat kamu berani berbuat macam-macam kepada Alexa, Papa tidak akan segan-segan membunuh kamu !!!!" ancam Papa Robbert. Sean hanya mengangguk.


Papa Robbert dan Papa Kevin mengajak Sean dan Alexa makan siang. Mereka pergi dengan menggunakan satu mobil. Papa Robbert meminta Sean mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Pa.. tapi aku mau dibelakang bersama Alexa.." protes Sean.


"kamu tega menjadikan Papa sebagai sopir ???!! Kamu sama Alexa di depan !!!" kata Papa Robbert.


Dengan berat hati, Sean menuruti perkataan Papanya. Ia dan Alexa hanya bisa saling curi pandang. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di Restoran. Papa Kevin dan Papa Robbert masuk ke dalam restoran terlebih dahulu, sedangkan Sean mengantar Alexa ke toilet. Beberapa saat kemudian Alexa selesai dengan ritual di Toiletnya.


"Sayang, kenapa kamu bisa tahu kalau dada aku tidak ada tahi lalatnya ??" tanya Alexa. Sean mendorong Alexa masuk ke dalam toilet kembali. Ia pun ikut masuk bersama Alexa.


"Kamu lupa ?? tadi pagi saat kita berciuman di dalam mobil, aku membuka baju kamu seperti ini.." kata Sean sembari membuka kancing baju seragam Alexa.


Alexa seakan lumpuh seketika saat Sean membuka seragamnya. Hatinya ingin sekali menolak Sean, akan tetapi tubuhnya tidak bisa ia ajak kompromi. Sean mulai menciumi leher Alexa. Tangannya meremas dada Alexa dengan lembut.


"Se..Sean..nanti ketahuan orang. Ini toilet umum sayang.." bisik Alexa sembari menurunkan tangan Sean dari dadanya. Sean pun menghentikan ciumannya di leher Alexa. Ia menutup kembali kancing seragam Alexa.


"Sayang, kamu adalah milikku. Selamanya adalah milikku !!!" kata Sean kemudian memeluk Alexa. Alexa tersenyum mendengar perkataan Sean.


"Kata siapa ??? kita belum menikah, jadi aku masih milik orang tuaku kan.." kata Alexa sembari tersenyum manis kepada Sean.


"Aku akan segera menculikmu dari Papa Kevin dan Mama Nessa.." kata Sean sembari mencium kening Alexa.


Mereka berdua bergegas menghampiri Papa Robbert dan Papa Kevin. Papa Kevin meminta Sean dan Alexa segera makan sebelum makanan mereka dingin. Sean dan Alexa pun mulai makan.


"Pa.. tolong jangan pecat Pak Danang yaa ??" pinta Alexa.


"Memangnya kenapa sayang ??" tanya Papa Robbert sembari memasukkan potongan Steak kedalam mulutnya.


"Pak Danang sudah merendahkan kamu sayang. Bahkan dia telah menghina kamu di depan teman-teman kita. Pak Danang tidak bisa diampuni !!" kata Sean dengan tegas.


"Tapi aku sudah memaafkannya sayang. Lagian kita kan tidak dihukum, beri dia satu kesempatan lagi yaa ?? yaa..??? ayolah sayaaang.." pinta Alexa dengan manja kepada Sean.


Melihat tingkah manja Alexa, Sean tersenyum dan mengangguk. Oleh karena gemas, Sean pun ingin sekali mencium pipi Alexa. Ia hendak mencium pipi Alexa, akan tetapi Papa Kevin menahannya dengan wajahnya sehingga Sean kini mencium Papa Kevin.


"Papa aaaahh... !!!!" teriak Sean kesal.


"Masih kecil, jangan cium-cium dulu yaa.." kata Papa Kevin sembari tersenyum kepada Sean. Alexa tertawa saat melihat wajah kesal Sean.


Sean pun memakan Steaknya dengan potongan yang besar untuk meluapkan rasa kesalnya. Saat asyik makan, Sean melihat tiga orang anak buah Steve baru selesai makan. Ia berfikir akan mengumpulkan anak buahnya ke markas 666 untuk membicarakan tujuan anak buah Steve datang ke negara ini.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2