
Alexa dan Vallerie masih baku hantam dengan sampah yang telah mereka kumpulkan. Setelah mendapat laporan, Pak Danang segera menghampiri Vallerie yang merupakan putri kepala sekolah. Ia lebih memperhatikan putri kepala sekolah yang memiliki pengaruh besar di sekolah daripada memperhatikan Alexa yang menurutnya hanya siswa biasa. Sean berlari menghampiri Alexa yang masih asyik melempari Vallerie dengan sampah. Vallerie semakin kesal saat tahu Sean membela Alexa daripada dirinya.
Pak Danang meminta Alexa dan Vallerie segera menghentikan pertikaiannya. Alexa pun berhenti melemparkan sampah ke Vallerie. Akan tetapi Vallerie tetap melempari Alexa. Bahkan ia berniat melempari Alexa dengan batu. Mengetahui Vallerie membawa batu dan hendak melemparkannya kepada Alexa, Sean segera memeluk Alexa. Ia rela menjadi perisai untuk Alexa karena tidak ingin terjadi hal buruk kepada kekasihnya.
"Sayang..kamu tidak apa-apa ?" kata Sean yang di keningnya berdarah karena lemparan batu dari Vallerie. Alexa mengangguk karena batu tidak mengenai dirinya.
Martin, Jonathan, Kenzo, Jean, Rose dan Sally menyoraki Sean dan Alexa yang mereka anggap sangat romantis.
"Cieeee... pepet terus Sean.. jangan kasih kendor.. hahahaha.." kata Sally asal ceplos.
"Kita mah cuma ngontrak di bumi, mending kita pindah ke Mars aja yuk..hahahahaha.." sahut Kenzo yang sangat ingin menggoda Sean. Sean melotot kepada Kenzo, Kenzo pun menunduk takut saat Sean melotot kepadanya.
"Peluk terus King.. jangan sampai lepas..hahahaha.." sahut Martin yang secara tidak sadar kini telah menggenggam tangan Jean. Jean tersenyum melihat tangan Martin yang menggenggam erat tangannya.
"Heeeeiii... lihat nih.. pasangan baru.." kata Jonathan sembari mendorong Jean dan Martin yang masih bergandengan.
"Cieeee... jangan lupa pajak jadiannya yaa.. hahahaha.." kata Rose sembari merangkul pinggang Jonathan.
Melihat kebersamaan Alexa dan sahabat-sahabatnya, Vallerie semakin emosi. Ia bergegas meninggalkan Pak Danang dan yang lainnya. Angel dan Anna mengikuti Vallerie di belakang. Alexa baru sadar jika kening Sean berdarah. Ia pun mengajak Sean ke kamarnya untuk mengobati luka Sean. Setelah mengobati luka Sean, Alexa memberitahu Sean bahwa ia akan mandi karena tubuhnya kotor dan bau. Sean pun kembali ke kamarnya.
/////////////////////
Pagi yang dingin mulai datang menyapa para siswa yang sedang menjalankan acara Study Tour. Desa yang mereka gunakan sebagai tempat study tour sangatlah indah. Di belakang Villa terdapat banyak jenis-jenis pohon yang tumbuh sehingga tempat tersebut menjadi hutan yang rindang di siang hari, dan hutan yang menyeramkan di malam hari. Di tengah hutan terdapat sungai yang airnya sangat jernih.
Oleh karena lokasi yang dekat dengan hutan, udara pagi hari di desa itu menjadi sangat dingin dan berkabut. Alexa yang merasa kedinginan pun terbangun dari tidurnya. Ia bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap. Ia ingat betapa tidak enaknya hukuman yang ia terima semalam sehingga membuat ia kapok dan tidak ingin dihukum lagi. Setelah selesai mandi, Alexa membangunkan Sally, Rose dan Jean yang masih asyik dengan alam mimpinya.
"Ayoooo bangun... sudah siang guys.. jangan sampai kalian dihukum karena kesiangan !!!" teriak Alexa sembari menepuk tubuh Jean, Sally dan Rose bergantian.
Mendengar kata dihukum, mereka bergegas bangun dan bersiap mengerjakan tugas kelompok dari Pak Danang. Beberapa saat kemudian, Alexa, Jean dan Sally siap menjalankan tugas dari Pak Danang. Sedangkan Rose masih sibuk buang air besar.
///////////////////
Martin, Jonathan dan Kenzo telah selesai melakukan persiapan mereka. Sedangkan Sean masih tidur dengan pulas. Martin meminta Kenzo membangunkan Sean. Akan tetapi ia tidak berani melakukannya. Jonathan memikirkan cara untuk membangunkan Sean.
"Haish !!! gue tidak bisa mikir !!!! Di pikiran gue cuma Rose doang nih.." kata Jonathan frustasi.
__ADS_1
"Loe terlalu bucin broo.. hahahaha.." kata Kenzo menertawai Kenzo.
"Gimana kalau kita minta bantuan Alexa ??" usul Martin.
Jonathan dan Kenzo menyetujui usul Martin. Menurut mereka hanya Alexa yang bisa menjinakkan seorang Sean Astin. Jonathan mengajukan diri untuk memanggil Alexa. Selain memanggil Alexa, ia juga bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu Rose. Jonathan bergegas memanggil Alexa sebelum waktu persiapan habis. Ia mengetuk pintu kamar Alexa dan teman-temannya. Kebetulan Alexa yang membuka pintu untuk Jonathan.
"Jo ??? Loe mau nyari Rose ?? Rose masih berak" kata Alexa memberitahu Jonathan.
"Gue mau minta bantuan loe Lex.. hanya loe yang bisa membantu kita. Tolong loe bangunkan Sean. Kita tidak berani membangunkannya Lex.." pinta Jonathan.
"Tapi kalian kan sahabatnya. Kenapa harus gue yang bangunin dia ?" tanya Alexa heran.
"Kan loe Queen.. King jinaknya cuma sama Queen. Kita ingin sekali membangunkannya tapi jika kita membangunkannya, dia akan marah kepada kita. Bisa-bisa pisau akan menancap di dada kita. Tapi jika kita tidak membangunkannya, dia akan lebih marah lagi sama kita. Kalau menyangkut Sean, kita selalu serba salah Lex.." kata Jonathan dengan wajah penuh harap.
Setelah mendengar penjelasan Jonathan, Alexa bersedia membangunkan Sean. Ia mengikuti Jonathan menuju ke kamarnya. Sedangkan Jean, Sally dan Rose yang baru selesai buang air mengikuti Alexa dari belakang. Setelah tiba di kamar Sean, Martin dan Kenzo memilih keluar dari kamar agar Alexa dapat membangunkan Sean dengan leluasa.
Meskipun mereka keluar dari kamar, tidak menyurutkan niat mereka untuk menguping pembicaraan Sean dan Alexa. Bagi mereka, kisah cinta Sean dan Alexa tergolong sangat unik sehingga akan disayangkan jika melewatkan momen kebersamaan mereka.
"Prince.. bangun..sudah siang loh.." kata Alexa sembari menepuk lengan kekar Sean. Sean bergerak sedikit kemudian tidur lagi. Martin, Jonathan, Kenzo, Jean, Rose dan Sally heran karena Alexa memanggil Sean dengan sebutan Prince. Martin, Jonathan dan Kenzo curiga jika Alexa adalah gadis yang dicari Sean. Mereka akan menanyakannya sendiri kepada Sean disaat ada waktu yang tepat.
Alexa kembali membangunkan Sean, akan tetapi Sean masih tidur dengan nyenyaknya. Kesabaran Alexa mulai habis. Ia kembali membangunkan Sean.
Bisikan Alexa menimbulkan rasa geli di telinga Sean. Sean menarik Alexa hingga Alexa jatuh di tempat tidur Sean. Sean memeluk erat Alexa seakan memeluk guling. Ia merasa nyaman saat mempergunakan Alexa sebagai guling.
"Duh..empuk banget siiih.. kenyal lagi.." gumam Sean sembari meremas dada Alexa. Alexa terkejut oleh sentuhan Sean. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Sean. Ia mendorong Sean dengan sekuat tenaga akan tetapi usahanya sia-sia karena tenaga Sean lebih besar dari pada dirinya.
"Hmmmm.. wangi sekali...!!!" gumam Sean yang menghirup aroma dan mengusap-usapkan wajahnya ke dada Alexa.
Alexa memukul Sean dengan keras hingga Sean terbangun. Ia terkejut saat melihat Alexa ada di pelukannya. Ia mengira dirinya sedang mimpi indah bersama Alexa.
"Sean... Kamu gila yaa !!!!! lepaskan tangan kamu. Apa yang kamu lakukan !!!!!" teriak Alexa. Sean masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia kembali meremas dada Alexa untuk memastikan apakah saat ini dirinya bermimpi atau ia memang berada di kehidupan nyata.
"Seaaannnn !!!!" teriak Alexa yang kini mulai emosi. Sean sepenuhnya terbangun. Ia terkejut melihat Alexa yang berada disampingnya. Ia tersenyum manis kepada Alexa kemudian melepaskan tangannya dari dada Alexa. Oleh karena kesal dengan Sean, Alexa mencubit hidung Sean hingga Sean kesakitan.
"Arrrrgh... Sayaaang... sakiiit... ampun sayaang. Aku tadi nggak sengaja.." kata Sean yang merintih kesakitan.
__ADS_1
Dari luar, Martin, Jean, Jonathan, Rose, Kenzo dan Sally masih setia menguping pembicaraan Sean dan Alexa. Saat mendengar suara rintihan Sean, mereka menahan tawa. Mereka sangat puas mendengar suara kesakitan Sean yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
"Waaah... king diapain Alexa tuh ??? hahahahaha.." tanya Martin penasaran
Mereka masih setia menguping Sean dan Alexa. Akan tetapi kini suara Sean dan Alexa tidak terdengar jelas oleh telinga mereka.
"Kamu mesum banget sih Seann !!!" kata Alexa sambil mencubit hidung Sean.
"Auhh...Alexaaa.. sakit.. !!!!" kata Sean sembari menarik tangan Alexa dari hidungnya dan mendorong Alexa hingga Alexa jatuh ke tempat tidurnya. Merasa mendapatkan kesempatan emas, Sean pun menindih tubuh Alexa.
Sean dan Alexa saling menatap mata satu sama lain. Tanpa sadar Sean menciumi leher Alexa dengan lembut. Alexa menutup matanya merasakan sentuhan bibir Sean. Sesaat Sean telah terbuai oleh suasana panas yang ia ciptakan bersama Alexa. Tiba-tiba Alexa teringat dengan tujuannya.
"Ekhm..Ekhm.. Se..Sean.. sudah siang. Kam..Kamu harus segera mandi." kata Alexa pelan karena merasa canggung. Mendengar deheman Alexa, Sean mulai menghentikan aksinya. Ia melihat ada bekas kemerahan di leher Alexa, akan tetapi Alexa tidak menyadarinya. Ia tersenyum dan mencium kening Alexa.
"Gue harus cari cara untuk menutupi bekas ****** di leher Alexa" batin Sean.
"Iya..iya... kamu keluar dulu sayang. Aku akan memakanmu jika tadi kamu tidak menyadarkanku sayang." kata Sean kemudian berlalu ke kamar mandi sambil menutupi juniornya yang terbangun. Alexa terbengong mencerna perkataan Sean sembari melihat Sean yang berjalan menuju kamar mandi.
"Saat Sean di atas gue.. sepertinya ada yang mengganjal di paha gue. Tadi itu apa yaa??" batin Alexa yang sedang bingung.
Sambil menunggu Sean selesai bersiap-siap, Alexa keluar dari kamar Sean. Saat membuka pintu, ia terkejut melihat teman-temannya berjongkok di depan pintu kamar Sean. Mereka semua tersenyum malu saat mereka terpergok menguping secara langsung oleh Alexa.
"Emmmmm... kit...kita tadi mengejar kecoa yang masuk ke kamar Lex..hehehehe.." kata Kenzo yang mewakili Martin, Jean, Jonathan, Rose dan Sally. Semua ikut tersenyum setelah Kenzo berbicara.
"Kalian pasti menguping kan !!! Gue aduin Sean loh..!!!" ancam Alexa dengan niat bercanda.
"Jangan Queen... kami mohon jangan... Sean pasti akan membunuh kita jika dia tahu kita menguping kalian" kata Jonathan sembari menangkupkan tangannya di depan Alexa. Martin, Kenzo, Jean, Rose dan Sally ikut menangkupkan tangan di depan Alexa.
"Hahahahahaha... gue tidak akan aduin kok.. santai sajaa guys.." kata Alexa sambil tertawa.
Jean, Rose dan Sally memeluk Alexa. Jean melihat ada bekas kemerahan di leher Alexa. Ia menyenggol lengan Sally dan mengisyaratkan agar Sally melihat leher Alexa. Sally yang lebih peka daripada Rose pun melihat leher Alexa. Sally dan Jean yang pada dasarnya faham dengan dunia "biru" seketika terkejut. Jean dan Sally memilih diam karena mereka khawatir jika Rose tahu, ia akan memberitahukannya kepada semua orang.
Beberapa saat kemudian Sean selesai bersiap-siap. Ia segera menyusul teman-temannya ke halaman Villa. Pak Danang menginstruksikan agar para siswa segera mengerjakan tugas kelompok mereka. Para siswa segera bubar dan mencari kelompok mereka masing-masing. Sean mencari Alexa yang masih mengobrol bersama Jean, Rose dan Sally.
Alexa bergegas menghampiri Sean saat tahu Sean sedang melambaikan tangan kepadanya. Sedangkan Jean, Rose dan Sally menghampiri Martin, Jonathan dan Kenzo selaku anggota kelompok mereka. Sean dan Alexa berjalan bersama memasuki hutan. Sean melihat sekilas leher Alexa ada bekas kemerahan. Ia sadar bahwa bekas kemerahan yang ada di leher Alexa adalah karena ulahnya. Ia pun memakaikan syal yang ia pakai ke leher Alexa. Alexa pun bingung dengan tingkah Sean.
__ADS_1
"Di leher kamu ada bekas kepemilikanku sayang. Kamu akan malu jika ada yang mengetahuinya" kata Sean sembari memakaikan Syal ke leher Alexa. Alexa tersenyum dan berterimakasih kemudian menggenggam tangan Sean.
~bersambung~