
///////Taman///////
Hari sudah semakin sore. Sean dan Alexa memutuskan pulang ke Mansion mereka. Di perjalanan, Alexa melihat banyak buah mangga yang menggantung di pohonnya. Alexa menelan salivanya membayangkan rasa segar saat ia memakan buah mangga tersebut. Ia mencoba meminta kepada Sean, berharap agar Sean mengambilkannya buah mangga. Alexa meminta Sean menghentikan mobil tepat di depan rumah yang terdapat pohon mangga. Alexa kembali menelan salivanya saat ia melihat banyak buah mangga menggantung di pohonnya.
"Ada apa sayang ?" tanya Sean.
"Sayang..aku ingin sekali makan mangga itu !!! ambilkan yaa.. please.." pinta Alexa dengan wajah memelas berharap Sean akan menuruti keinginannya.
"Tapi pohon itu milik orang sayang. Kalau aku mengambilnya sama saja aku mencuri. Kita beli mangga di supermarket saja ya sayang ??" ajak Sean.
"Tapi aku mau mangga yang itu Sean !!!" rengek Alexa. Sean menghembusnya nafasnya dengan kasar.
"Baiklah, akan aku usahakan !!! kamu tunggu disini dulu !!!" kata Sean kesal.
Sean mulai memanjat pagar rumah yang terdapat pohon mangga. Ia meraih ranting pohon mangga agar bisa mengambil buahnya akan tetapi ranting pohon itu terlalu tinggi sehingga Sean tidak bisa meraihnya. Ia terus berusaha meraih ranting pohon. Tiba-tiba dua ekor anjing menggonggong tepat di depannya hingga membuat Sean terkejut dan jatuh. Melihat suaminya jatuh, Alexa bergegas turun dari mobil dan membantu Sean berdiri.
"Sayang..kamu tidak apa-apa ??" tanya Alexa.
"Aku jatuh, p*an*tatku sakit sayang !!! Ini semua gara-gara anjing sialan itu !!!" kata Sean sangat kesal.
"kamu gendong aku saja sayang, biar aku yang mengambilnya !!" pinta Alexa. Sean mengangguk kemudian memulai aksinya.
Sean kembali menaiki pagar disusul dengan Alexa di belakangnya. Setelah berhasil naik di pundak Sean, Alexa mulai meraih ranting pohon mangga. Sean turut melihat keatas untuk menyaksikan aksi Alexa. Akan tetapi ia menjadi gagal fokus setelah melihat aset Alexa dari bawah.
"Sayang..aku bisa melihat isi rok kamu.. hehehehehe.." kata Sean dengan mata yang masih setia melihat isi rok Alexa.
"Sean kamu jangan mesum !!!" kata Alexa sembari menjepit roknya dengan kedua pahanya. Oleh karena rok Alexa terlalu pendek, ia kesulitan untuk melakukannya.
"Sayang, jangan banyak gerak !! nanti jat.." kata Sean terpotong.
"Bruuugh!!!!" Alexa jatuh menimpa Sean.
Dan lagi-lagi dua ekor anjing kembali menggonggong hingga membuat sang pemilik keluar dan menghampirinya.
"Hei..ada apa ini ??!!!!? apa yang kalian lakukan di depan rumah saya !!!! kalian mau mencuri yaa ???!!!" tuduh pemilik rumah.
"Maaf pak, kami tidak bermaksud mencuri. Jadi istri saya ini ingin makan mangga milik anda, bolehkah saya membeli beberapa buah untuk istri saya pak??" tanya Sean dengan hati-hati.
Sang pemilik rumah melihat Sean dan Alexa dengan seksama. Ia curiga jika dua anak muda di depannya ini sedang berbohong. Pemilik rumah pun mulai menginterogasi Sean dan Alexa.
"apakah kalian masih sekolah ??" tanya pemilik rumah dengan nada dinginnya. Sean dan Alexa mengangguk dengan pasti.
"apakah kalian berbohong sama saya ??? tadi kamu bilang dia istri kamu, sekarang kalian mengaku sebagai anak sekolah. Kalian jangan main-main sama saya !! atau saya laporkan kalian berdua ke polisi !!!" ancam pemilik rumah.
Alexa menggenggam tangan Sean dengan erat karena takut dengan ancaman sang pemilik rumah.
"Kami memang masih sekolah dan kami memang sudah menikah. Tempat kami bersekolah adalah milik keluarga saya. Kami dijodohkan kemudian kami menikah. Sekarang istri saya sedang hamil dan ingin memakan buah mangga itu pak" kata Sean menjelaskan panjang lebar.
Pemilik rumah kembali menatap Sean dan Alexa bersamaan. Ia sangat sulit mempercayai perkataan Sean. Pemilik rumah meminta kartu identitas Sean dan Alexa sebagai bukti kebenaran ucapan Sean. Sean dan Alexa pun memberikan kartu identitasnya. Pemilik rumah terkejut saat melihat identitas Sean dan Alexa.
"Jadi kalian putra tuan Astin dan putri tuan George ?" tanya pemilik rumah.
__ADS_1
Sean dan Alexa mengangguk. Pemilik rumah pun mengembalikan kartu identitas Sean dan Alexa kemudian meminta Sean dan Alexa masuk ke halaman rumahnya. Perlakuan pemilik rumah tiba-tiba berubah setelah mengetahui identitas Sean dan Alexa.
"anda tunggu disini tuan, saya akan mengambilkan mangga itu untuk nona Alexa" kata pemilik rumah dengan ramah.
Sesuai dengan yang dikatakan pemilik rumah, Sean dan Alexa menunggu di halaman rumah. Tak lama kemudian pemilik rumah membawa galah dan mulai mengambil mangga muda yang diinginkan Alexa. Setelah terkumpul beberapa buah, pemilik rumah memberikannya kepada Sean dan Alexa.
"Tuan, ini mangga yang diinginkan istri anda. Sebagai gantinya, saya mohon pekerjakan putra saya di perusahaan anda. Dia ingin sekali bekerja di RA group tuan." pinta pemilik rumah.
Sean berfikir bahwa sang pemilik rumah memanfaatkan keadaan dan identitasnya untuk mendapatkan keuntungan. Akan tetapi saat melihat senyum sumringah Alexa ketika melihat buah mangga membuat Sean bersyukur dan berterimakasih.
"baiklah, berikan dokumen lamaran pekerjaannya kepada saya. Besok minta putra anda datang ke RA. Group" kata Sean.
Sang pemilik rumah dengan semangat mengambil berkas milik putranya kedalam rumahnya. Sambil menunggu pemilik rumah, Alexa mulai memakan mangga yang telah diberikan pemilik rumah. Saat Sean mengetahuinya, ia mengambil semua mangga yang dibawa Alexa. Ia melarang Alexa makan mangga terlebih dahulu karena semua mangga belum dicuci. Sean khawatir Alexa akan sakit jika memakan buah mangga yang kotor.
Setelah pemilik rumah memberikan berkas lamaran pekerjaan untuk putranya, Sean berterimakasih dan berpamitan kepada pemilik rumah. Pemilik rumah pun berterima kasih kepada Sean dan Alexa karena bersedia membantu putranya bekerja di perusahaan Papa Robbert.
//////Hotel Delima///////
Steve dan Felix baru tiba di hotel setelah meeting bersama Darren selesai. Steve kembali mengingatkan Felix agar tidak berulah terhadap Sean. Felix menjelaskan kepada Steve bahwa dirinya hanya ingin berteman dengan Alexa.
"Loe berteman boleh Fel, tapi jangan sampai Sean terganggu dengan pertemanan kalian. Gue lihat loe masih belum bisa move on dari Alexa" kata Steve.
Dari gerak gerik Felix, Steve tahu bahwa adik kesayangannya masih belum bisa move on dari Alexa. Hal itu yang membuatnya khawatir. Ia takut jika Sean mengetahuinya, Felix akan mengalami hal serupa seperti beberapa bulan yang lalu.
"Alexa cinta pertama gue kak, mana mungkin gue bisa melupakannya dengan mudah. Dia itu terlalu sempurna untuk dilupakan kak" kata Felix.
"Meskipun begitu, Alexa sudah menjadi istri Sean. Alexa sudah menjadi milik orang Fel.. gue harap loe tahu batasan loe" saran Steve. Felix hanya mengangguk menanggapi saran Steve.
"Tentu saja Fel.. tapi mereka akan hadir setelah rekan bisnis kita pulang. Jadi acara khusus untuk kelompok mafia akan diselenggarakan malam hari. Itupun secara tertutup. Di saat itulah gue akan menjelaskan kepada Rachel bahwa gue adalah king dragon" kata Steve.
"Kalau begitu besok biar gue yang mengundang Martin, Jonathan dan Kenzo kak. Mumpung kita masih disini, gue ingin main bersama mereka." kata Felix. Steve pun mengangguk sambil tersenyum tanpa curiga sedikitpun.
Felix tersenyum senang saat Steve menyetujui permintaannya. Ia memiliki rencana akan menyampaikan undangan untuk Martin, Jonathan dan Martin di Einstein Highschool besok. Dengan begitu ia akan bertemu kembali dengan Alexa.
///////Mansion Sean dan Alexa///////
Malam yang gelap telah tiba. Sean dan Alexa sudah menyelesaikan ritual mandinya. Alexa bergegas ke dapur untuk meminta Mbok Dian mengupas mangga yang telah didapat. Sean mengikuti Alexa di belakangnya. Sambil menunggu Mbok Dian selesai mengupas mangga, Sean dan Alexa makan malam di ruang makan.
"Sayang kenapa tiba-tiba kamu menginginkan mangga muda itu ?? apakah kamu hamil ??" tanya Sean penasaran.
"mana mungkin aku hamil sayang !!! aku sudah meminum obat penunda kehamilan kan !!" kata Alexa.
"Oh.. benar juga !! tapi kenapa kamu ingin mangga muda ??" tanya Sean.
"aku membayangkan sepertinya makan mangga muda sangat menyegarkan sayang. Nanti kamu ikut cobain ya.." kata Alexa. Sean hanya tersenyum melihat Alexa makan dengan lahap.
Tak lama kemudian Mbok Dian telah selesai mengupas mangga. Ia menyajikan mangga muda tersebut di meja makan. Alexa kembali menelan salivanya saat melihat mangga muda tersaji di depannya. Ia mengambil satu potong mangga muda kemudian mengigitnya. Sean menjadi ngilu saat melihat Alexa memakan mangga muda dengan lahap.
"apakah tidak asam sayang ?" tanya Sean.
"enggak kok.. masih asam hidup kita dibandingkan mangga ini sayang.. hehehe.." jawab Alexa sembarangan. Sean mencubit pipi Alexa karena gemas.
__ADS_1
Setelah makan malam selesai, Sean meminta Alexa segera tidur sementara dirinya menemani Alexa sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai. Sean kembali mengingatkan Alexa untuk minum obat penunda kehamilan. Alexa yang pada dasarnya selalu lupa pun kini meminum obat tersebut. Alexa banyak bercerita kepada Sean hingga ia tertidur.
Pagi hari Alexa telah selesai bersiap pergi ke sekolah dan Sean bersiap pergi ke perusahaan. Tiba-tiba Alexa merasakan mual. Ia pun berlari ke kamar mandi terdekat untuk melepaskan rasa mualnya. Sean dengan sigap mengelus punggung Alexa agar memudahkan Alexa menuntaskan muntahnya. Sean menjadi tidak tega melihat Alexa memuntahkan semua makanan yang ia makan.
"Ini pasti karena kamu makan mangga muda terlalu banyak sayang !!!" kata Sean.
"habisnya mangganya segar sekali sayang. Jadi tidak sadar jika kebanyakan makannya.." jawab Alexa.
"Mulai sekarang jangan makan mangga muda lagi !!!" perintah Sean. Alexa tersenyum dan mengangguk.
Setelah selesai menuntaskan rasa mualnya, Sean dan Alexa segera berangkat sebelum hari semakin siang. Sean hendak pergi ke perusahaan, akan tetapi ia mengantar Alexa ke sekolah terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian Sean dan Alexa tiba di depan sekolah. Sebelum turun dari mobil, Sean kembali mengingatkan Alexa bahwa Alexa adalah milik Sean.
"Iya sayaaang.. aku milik kamu, dan kamu milikku" kata Alexa kemudian mencium pipi Sean dan berlari menuju kelasnya.
"Hei !!!!!!" teriak Sean sambil tersenyum gemas melihat Alexa.
Alexa memberikan kiss bye untuk Sean dan membentuk kedua tangannya menjadi bentuk hati. Sean hanya tersenyum salah tingkah sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya jika Alexa bisa bertingkah jahil kepadanya. Setelah mengantar Alexa, Sean melajukan mobilnya ke RA. Group untuk mengurus putra pemilik pohon mangga.
Alexa berjalan melewati taman. Dari kejauhan, David tersenyum melihat Alexa yang berjalan dengan anggunnya menuju ke kelas. Ia hendak menghampiri Alexa, akan tetapi sayang sekali, bel masuk telah berbunyi. David segera menghampiri Alexa sebelum Alexa masuk ke kelasnya. Ia memanggil Alexa kemudian memegang tangan Alexa.
"Hai Lex.. gimana kabar loe ?" tanya David yang mengagetkan Alexa.
"Eh.. David ??? loe sudah sembuh ?" tanya Alexa. David tersenyum dan mengangguk.
Jean, Rose dan Sally memanggil Alexa dari dalam kelas. Alexa secara refleks menoleh ke kelasnya kemudian berpamitan kepada David untuk masuk ke kelas duluan. Oleh karena Alexa masuk ke dalam kelasnya, David juga masuk ke kelasnya.
////////RA. Group/////////
Sean tiba di RA. Group. Saat ia menuju ke ruang Papa Robbert untuk memberitahu tentang putra pemilik pohon mangga, ia melihat lelaki yang mirip dengan foto di berkas lamaran pekerjaan dari pemilik pohon mangga. Setelah memastikan, Sean mengajak pemuda itu ke ruang Papa Robbert. Sean masuk ke ruang Papa Robbert tanpa mengetuk pintu.
"Kalau mau masuk harus ketuk pintu !!!! jadilah orang yang sopan !!!!" bentak Papa Robbert tanpa melihat pelaku.
"Papa.. aku dan Alexa telah berhutang budi kepada seseorang. Sebagai gantinya, orang itu ingin memasukkan putranya disini sebagai karyawan karena bekerja di RA Group adalah impiannya" kata Sean.
"memangnya kalian berhutang apa sama orang tuanya ??" tanya Papa Robbert dengan nada dinginnya.
"Alexa meminta mangga muda kepada orang tuanya Pa dan orang itu tidak mau dibayar dengan uang" kata Sean.
"Mangga muda ??? apakah Alexa hamil Sean ??" tanya Papa Robbert dengan semangat.
"Mana mungkin Alexa hamil Pa ?? Alexa kan minum obat penunda kehamilan!!!" kata Sean. Ekspresi Papa Robbert seketika berubah menjadi kecewa.
"Baiklah, kalau begitu berikan berkas lamarannya kepada Papa" kata Papa Robbert.
"berkas loe gue serahkan ke Papa gue, selanjutnya loe sama Papa gue !!!" kata Sean dengan nada dinginnya.
"Siap tuan !! terimakasih telah membantu saya." kata putra pemilik pohon mangga.
Sean memberikan berkas lamaran kepada Papa Robbert kemudian pergi dari RA. Group dan menuju ke SA. Company
~bersambung~
__ADS_1