Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Sean, Briant dan Alexa/Gia


__ADS_3

Felix sangat bahagia karena Alexa menerima pemberiannya. Sedangkan Jean dan Sally bingung terhadap sikap Alexa. Jean dan Sally berfikir bahwa sikap Alexa dapat membuat Felix berharap lebih kepadanya. Melihat drama Alexa dan Felix, Vallerie beserta teman-temannya menjadi muak. Mereka memilih pergi dari kantin.


Setelah selesai membeli snack, Alexa, Jean, Rose dan Sally berencana kembali ke kelas mereka. Saat melewati taman sekolah, Vallerie dan teman-temannya menghadang langkah Alexa, Jean, Rose dan Sally. Sally sangat kesal dengan tindakan Vallerie dan teman-temannya. Bahkan ia berniat ingin memukuli mereka satu persatu.


Vallerie menghampiri Alexa dan berdiri saling berhadapan dengan Alexa. Vallerie ingin mengatakan kepada Alexa bahwa Sean telah memiliki calon istri.


"Lex.... gue kasih tahu ke loe. Lebih baik loe menjauh dari Sean Lex. Sean sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Gue yakin loe tidak akan ada kesempatan untuk mendapatkan Sean dalam hidup loe." kata Vallerie dengan nada sinisnya.


Alexa ingin tertawa akan tetapi ia harus menahannya agar rahasia perjodohannya dengan Sean tidak bocor di sekolah. Alexa berpura-pura terkejut saat Vallerie memberitahunya. Sedangkan Jean, Rose dan Sally tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak bisa menahan tawanya saat Vallerie memberitahu Alexa tentang perjodohan Sean.


"Loe jangan mengada-ada ya Vall.. loe kan tahu sendiri Sean cinta mati sama Alexa. Mana mungkin dia menerima perjodohan itu ???" kata Rose meremehkan Vallerie.


"Lagian loe tahu dari mana kalau Sean dijodohkan ???" selidik Jean.


Vallerie terdiam saat Jean bertanya kepadanya. Ia tidak mungkin menjawab bahwa lamarannya telah ditolak oleh Keluarga Astin karena Sean telah dijodohkan. Ia akan dipermalukan jika ia menjawabnya dengan jujur. Akan tetapi ia telah memikirkan dengan matang bahwa ia akan tetap berjuang mendapatkan cinta Sean. Dengan memberitahu Alexa, ia berharap agar Alexa segera mundur dari kehidupan Sean saat ia tahu Sean telah dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya.


Akan tetapi semua yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Alexa justru tidak percaya dengan perkataan Vallerie. Bahkan teman-teman Alexa menertawainya. Hal itu membuat Vallerie sangat kesal. Ia pun meninggalkan Alexa dan sahabatnya.


Sebenarnya, Jean, Rose dan Sally sedikit ragu dengan kebenaran Sean yang telah dijodohkan. Mereka mulai over thinking tentang hubungan Sean dengan gadis yang pernah diceritakan Alexa.


"Lex.. gue jadi ragu deh..jangan-jangan Rachel itu gadis yang dijodohkan dengan Sean ??" kata Rose asal ceplos. Jean dan Sally mencubit Rose seketika karena khawatir Alexa juga berfikir macam-macam terhadap Sean. Alexa hanya diam kemudian berlalu ke kelasnya.


Sebenarnya Alexa ingin memberitahu Jean, Rose dan Sally tentang perjodohannya dengan Sean. Akan tetapi melihat dari sisi mulut sahabatnya yang tergolong "ember", ia akhirnya mengurungkannya. Ia tidak ingin seisi sekolah tahu tentang perjodohannya dengan Sean.


Bel pulang berbunyi. Setelah mengantarkan Alexa ke Mansion Keluarga George Jean berpamitan pulang kepada Mama Nessa. Mama Nessa melihat ada yang aneh dengan wajah Alexa. Ia pun berniat ingin bertanya saat makan malam tiba.


////////////////////


Briant diantar pulang ke rumahnya oleh Pak Danang. Ia merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia berjanji akan membalas semua yang Sean lakukan kepadanya. Bahkan ia rela melakukan apapun untuk membalas perlakuan Sean.


"Ternyata Sean menjadi lebih kuat" kata Briant sembari mengobati luka memar di wajahnya.


Briant teringat saat dirinya dan Sean masih duduk di Sekolah Dasar. Kenangan itu masih sangat jelas terngiang dalam otaknya. Ia teringat bagaimana Sean memukulinya secara brutal hanya karena ia mengolok-olok Sean dan Alexa.

__ADS_1


//////////Flashback On/////////////


Saat masih duduk di Sekolah Dasar, Sean, Alexa/Gia, dan Briant adalah teman satu kelas. Pada saat itu Alexa adalah anak paling cantik di sekolahnya. Banyak siswa yang ingin berteman dengannya, termasuk Briant. Akan tetapi Alexa memilih menutup dirinya untuk berteman dengan orang lain kecuali Sean. Saat masih di Sekolah Dasar, Alexa selalu mengikuti kemanapun Sean pergi. Bahkan ke toilet pun Alexa masih mengikutinya.


Sebagai seorang anak laki-laki di usia yang masih tergolong anak-anak, Sean merasa risih saat Alexa terus menerus menempel kepadanya. Lebih parahnya, orang tua Sean selalu meminta Sean berteman dengan Alexa. Meskipun pada awalnya Sean merasa risih, lama kelamaan rasa risih itu berubah menjadi kebiasaan. Sean mulai terbiasa dengan Alexa yang menempel padanya. Oleh karena memiliki sifat pendiam, Sean hanya memiliki Alexa sebagai temannya. Ia tidak ingin teman yang lain kecuali Alexa. Ia juga tidak suka jika ada anak lain yang mendekati Alexa sehingga ia akan marah kepada Alexa saat Alexa berteman dengan anak lain.


Briant yang pada saat itu ingin sekali berteman dengan Alexa selalu mendapat omelan dari Alexa saat ia mencoba mendekatinya. Hal itu yang membuat Briant semakin tidak menyerah untuk mendekati Alexa. Dalam hatinya ia sangat ingin berteman dengan Alexa, akan tetapi karena keberadaan Sean, Alexa mengabaikannya. Ia menganggap Sean telah menguasai Alexa dan bersikap posesif kepada Alexa.


Suatu ketika, orang tua Alexa akan menjalankan bisnis yang berpusat di Negara B. Mau atau tidak Alexa harus tetap ikut orang tuanya ke Negara B. Sean dan Alexa menangis saat mereka berpisah di bandara. Kedua orang tua Sean dan Alexa merasa kasihan dengan anak-anak mereka. Akhirnya mereka berinisiatif untuk menjodohkan Sean dan Alexa setelah mereka besar. Kedua orang tua mereka memberikan liontin yang sama kepada Sean dan Alexa sebagai bukti perjodohan mereka.


Ke esokan harinya Sean berangkat ke sekolah seorang diri. Briant mencari-cari keberadaan Alexa, akan tetapi ia tetap tidak menemukannya. Ia bertanya kepada Sean tentang keberadaan Alexa. Bukannya menjawab, Sean hanya diam seribu bahasa.


"Dimana kamu menyembunyikan Gia !!!! katakan padaku !!!!" bentak Briant yang sudah putus asa mencari keberadaan Alexa. Sean memilih tetap diam karena ia masih bersedih atas kepergian Alexa. Oleh karena sikap diam Sean, Briant menjadi emosi. Ia mendorong Sean ke tembok hingga pelipis Sean berdarah. Sean memilih tetap diam tanpa membalas perlakuan Briant kemudian pulang sebelum jam pulang tiba.


Saat tiba di Mansion keluarga Astin, Papa Robbert melihat pelipis Sean berdarah. Ia pun bertanya kepada Sean tentang lukanya. Akan tetapi Sean tidak menjawabnya dan berlalu ke kamarnya. Mama Ivanka merasa bahwa kini sifat Sean telah berubah semenjak kepergian Alexa.


Ke esokan harinya, Briant kembali bertanya kepada Sean tentang Alexa. Sean masih tetap diam. Briant kembali kesal karena Sean tidak menjawab pertanyaannya. Ia pun memukul Sean berkali-kali hingga Sean babak belur. Sean tetap tidak membalas pukulan Briant. Seperti kemarin, Sean pulang sebelum jam pulang tiba.


"Sean berhenti !!!!! kamu mau jadi apa ? kamu mau jadi preman yang setiap hari kerjanya berkelahi ? Sekali lagi kamu berkelahi, Papa akan mengirim kamu ke tempat kakek !!!" ancam Papa Robbert. Sean masih diam dan berlalu ke kamarnya.


Sean sudah tidak peduli dengan ancaman Papa Robbert. Ia merasa hidupnya sudah tidak ada tujuan sejak kepergian Alexa. Ke esokan harinya, Briant menghadang Sean di lapangan sekolah. Ia telah mendengar bahwa Alexa dan keluarganya pindah ke Negara B, akan tetapi ia ingin memastikannya langsung kepada Sean. Briant bertanya tentang keberadaan Alexa kepada Sean. Akan tetapi Sean masih tidak menjawabnya. Ia pun kembali memukul Sean karena Sean hanya diam.


"Beraninya kamu tidak menjawab pertanyaanku. Asal kamu tahu, kamu itu lelaki lemah !!! Pantas saja Gia pergi. Dia tidak tahan dengan sikap lemah kamu!!" kata Briant sembari menarik kerah seragam Sean.


"Aku bukan lelaki lemah !!! Gia pergi karena orang tuanya bukan karena aku !!! Aku juga tidak mau dia pergi !!!!" bentak Sean yang kini sudah mulai tidak bisa menahan ledakan amarahnya. Ia memukul Briant secara bertubi-tubi hingga Briant pingsan.


Semua siswa dan guru melihat Sean dan Briant berkelahi. Para guru memihak Sean karena orang tua Sean adalah pemilik sekolah. Saat Sean pulang, Papa Robbert marah besar kepada Sean. Sesuai dengan ancaman yang telah dilontarkan, Sean dikirim orang tuanya ke tempat kakeknya.


Dari situlah Sean dididik sebagai seorang king mafia yang kejam dan tidak punya hati. Hal itu juga didukung oleh sifat dingin Sean yang muncul sejak kepergian Alexa. Sedangkan Briant, ia dinyatakan bersalah dan dikeluarkan dari sekolah. Sejak saat itu Briant menaruh dendam kepada Sean.


/////////////Flashback Off//////////


Hari sudah mulai gelap. Sean pulang ke Mansion Keluarga Astin untuk menjalankan saran dari Zayn. Saat makan malam berlangsung, Sean mencoba berbicara kepada Papa Robbert dan Mama Ivanka.

__ADS_1


"Ma... Pa... aku ingin segera menikahi Alexa !!!" kata Sean yang langsung to the point hingga membuat Mama Ivanka tersedak karena terkejut.


"Ap..apa ?? kam..kamu yakin Sean ?? Apa yang menyebabkan kamu ingin segera menikahi Alexa ?" tanya Papa Robbert.


"Ada laki-laki yang berniat merebut Alexa dariku Pa. Sedangkan saat ini aku dan Alexa sedang bertengkar. Aku takut hati Alexa beralih ke laki-laki lain Pa" kata Sean dengan jujur.


"Jadi kamu takut Alexa direbut lelaki lain ???" tanya Mama Ivanka dengan niat menggoda Sean.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya aku dan Alexa harus segera menikah dalam waktu hari ini Ma.. Pa..." kata Sean dengan serius.


"Kalau kita sih mau-mau saja nak. Tapi semua keputusan ada pada orang tua Alexa." kata Mama Ivanka. Sean sedikit lega karena orang tuanya mau menuruti kemauan Sean untuk segera menikahi Alexa.


"Oke.. besok malam kita berkunjung ke Mansion keluarga George, kita bicarakan keinginan kamu kepada orang tua Alexa" kata Papa Robbert.


Senyum manis terukir dari bibir Sean. Ia sangat senang saat Papa Robbert dan Mama Ivanka menyetujui keinginannya. Sebagai wujud rasa terimakasihnya, Sean memeluk Papa Robbert dan Mama Ivanka secara bergantian. Hal itu membuat kedua orang tua Sean senang sekaligus tidak menyangka bahwa pribadi Sean kini mulai berubah.


//////////////////


Alexa sedang makan malam bersama Papa Kevin dan Mama Nessa. Ia ingin bicara tentang Sean kepada kedua orang tuanya, akan tetapi ia takut Papa Kevin memarahinya. Meskipun demikian, ia tetap harus menyampaikan keinginannya.


"Pa.. Ma... aku... ingin segera menikah.." kata Alexa sedikit malu. Papa Kevin sangat terkejut dengan perkataan Alexa. Ia tidak menyangka anak perempuannya berani meminta hal yang menurutnya sangat tidak mungkin bagi Alexa.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah sayang?", tanya Papa Kevin.


"Ada wanita yang ingin mengambil Sean dariku Pa.. aku nggak mau wanita itu dekat-dekat dengan Sean. Aku nggak suka !!! Sean hanya milikku Pa !!!!" kata Alexa dengan nada kesalnya.


"Oooh... jadi anak gadis Mama ini sedang cemburu... " kata Mama Nessa yang menggoda Alexa.


"Mamaaa... aku serius.." kata Alexa dengan bibir yang di manyunkan.


Papa Kevin terdiam mendengar alasan Alexa. Ia berfikir jika ia membiarkan Sean dan Alexa terus menerus bersama tanpa ada ikatan yang pasti, maka akan besar pula peluang mereka melakukan **** bebas, mengingat mereka berdua yang sudah saling mencintai. Di sisi lain, Sean dan Alexa masih berstatus siswa SMA. Sekolah tidak akan memperbolehkan mereka menikah karena usia mereka masih dibawah umur. Tanpa berkata apapun, Papa Kevin meninggalkan ruang makan. kepergian Papa Kevin membuat Alexa bingung. Ia takut jika Papa Kevin menolak keinginannya.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2