Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Putus Asa


__ADS_3

Bel pulang berbunyi. Semua siswa berangsur meninggalkan sekolah. Jean, Rose, dan Sally sudah pulang terlebih dahulu. Sedangkan Alexa masih menunggu Sean yang masih berdiskusi dengan ketiga anak buahnya. Beberapa saat kemudian, Martin, Jonathan dan Kenzo pergi terlebih dahulu ke Markas 666. Tinggallah Sean dan Alexa di dalam kelas.


"Sayang.. kita jadi beli lingerie kan ??" tanya Sean.


"Nggak !!! kamu tebar pesona saja sana.." kata Alexa dengan nada juteknya sambil berjalan meninggalkan Sean. Sean tersenyum kemudian mengejar Alexa. Ia menarik tangan Alexa dan menghimpitnya ke tembok.


"Sejak kapan aku tebar pesona ha ??!" tanya Sean dengan nada dinginnya.


"Tadi... waktu istirahat !!! Bisa-bisanya kamu memamerkan otot lengan kamu kepada semua siswi di sekolah ini !!!" kata Alexa kesal. Sean tersenyum mendengar jawaban Alexa.


"Jadiii kamu cemburu ya ??" tanya Sean.


"Ngapain cemburu.." kata Alexa sembari tersenyum dan mencubit perut kekar Sean kemudian berlari menuju parkiran. Sean mengejar Alexa dan memeluknya dari belakang. Alexa pun tertawa saat Sean berhasil menangkapnya. Sean meminta kepada Alexa untuk tidak cemburu karena hati dan tubuhnya hanya milik Alexa seorang. Alexa pun mengangguk sambil tersenyum manis.


Sean dan Alexa pergi ke Mall untuk membeli lingerie yang rencananya akan dikenakan nanti malam. Alexa tidak menyangka bahwa Sean sendirilah yang memilihnya untuk Alexa. Setelah mendapatkan beberapa lingerie untuk Alexa, Sean mengajak Alexa pulang ke Penthouse yang akan mereka tempati.


Beberapa saat kemudian, Sean dan Alexa tiba di Penthouse mereka. Darren sudah menunggu kedatangan Sean dan Alexa disana. Alexa tertegun melihat kemegahan Penthouse yang akan ia tempati bersama Sean. Akan tetapi Sean melihat Alexa seperti tidak menyukai Penthouse yang Sean siapkan.


Sean ingin bertanya kepada Alexa karena wajah Alexa terlihat muram. Sean pun menanyakan penyebab wajah muram Alexa. Alexa menjelaskan bahwa ia ingin tinggal di rumah yang terdapat taman bunga dan kolam ikan. Ia tidak begitu suka tinggal di Penthouse yang berada di ketinggian puluhan meter.


"Oke.. besok aku akan menyiapkan Mansion untuk kamu sayang.." kata Sean.


"Tapi kenapa harus Mansion sayang ?? bukankah itu terlalu besar untuk kita tempati berdua ?" kata Alexa.


"Karena yang aku punya hanya Mansion dan Penthouse ini sayang. Jika kamu tidak mau tinggal di Penthouse, kita hanya punya pilihan tinggal di Mansion. Kita akan tinggal disana bersama anak-anak kita. Jadiii... biar Mansion kita ramai, kita harus bikin anak yang banyak.." kata Sean asal ngomong. Alexa pun mengangguk setuju dengan perkataan Sean.


Sean meminta Darren menyiapkan Mansion untuk ia tempati bersama Alexa. Ia tidak ingin terus menerus tinggal bersama orang tua dan mertuanya. Sean merasa sudah mampu memenuhi segala kebutuhan Alexa sehingga ia memilih tinggal berdua bersama Alexa tanpa merepotkan kedua orang tua dan mertuanya.


"Gue nggak mau tahu !!! Besok Mansion gue harus sudah siap !!!" kata Sean dengan angkuhnya.


"Siap King.." jawab Darren. Sebenarnya Darren keberatan jika harus menyiapkan Mansion selama sehari. Akan tetapi, perintah Sean bersifat mutlak, jadi mau ataupun tidak, keputusan Sean harus terlaksana atau akan terjadi kehancuran jika para anak buah Sean menentang keputusannya.


Hari sudah semakin gelap. Sean dan Alexa bergegas pulang ke Mansion Keluarga George setelah Mama Nessa menghubungi mereka dan meminta mereka pulang. Beberapa saat kemudian, Sean dan Alexa tiba di Mansion Keluarga George. Mama Nessa menyambut mereka dengan perasaan bahagia.


"Anak-anak Mama pulangnya lama banget siih.." kata Mama Nessa sambil memeluk Sean dan Alexa bergantian.


"Iya Ma.. tadi kita sedang mencari tempat tinggal.." jawab Sean.


"Buat apa nyari tempat tinggal ?? kalian bisa tinggal disini kan ??" tanya Mama Nessa.


"Kami ingin mandiri Ma.." jawab Alexa tegas.

__ADS_1


Mama Nessa mengajak Sean dan Alexa masuk ke dalam. Papa Kevin sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu. Papa Kevin meminta mereka mandi dahulu sebelum makan malam bersama. Sean dan Alexa pun segera ke kamar. Alexa meminta Sean mandi terlebih dahulu. Bukannya bergegas mandi, Sean justru mulai berulah.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama sayang??" tanya Sean sembari memeluk Alexa dari belakang.


"ALEXAAAAAA.. BANTU MAMA MENYIAPKAN MAKAN MALAM SAYAAANG.." teriak Mama Nessa memanggil Alexa.


"Aku sih mau-mau saja Sayang, tapi mama memanggilku.. jadi... maaf.. kita tidak bisa mandi bersama..hahahaha" kata Alexa sembari tertawa dan mengelus rambut Sean.


"Pergilah sayang, setelah menyiapkan makan malam, pakailah lingerie yang aku pilih tadi" kata Sean sambil mencium leher Alexa dan memberikan tanda kepemilikan disana. Alexa tersenyum sambil mengangguk.


Alexa terpaksa turun ke ruang makan untuk membantu Mama Nessa menyiapkan makan malam. Sambil menata makanan di meja makan, Mama Nessa memberikan wejangan agar Alexa menunda kehamilannya.


"terus gimana agar aku tidak hamil Ma ??" tanya Alexa dengan polosnya.


"besok mama beri kamu pil kontrasepsi, kamu harus meminumnya setiap hari. Dan satu lagi, jangan sampai lupa meminumnya.." pesan Mama Nessa.


"Siap Ma..." kata Alexa.


Setelah selesai menyiapkan makanan, Alexa bergegas mandi. Sedangkan Sean sudah selesai mandi dan kini duduk di tempat tidur menanti kedatangan Alexa. Alexa pun masuk ke kamarnya.


"aku mau mandi dulu sayang.." kata Alexa terburu-buru.


"sayang.. biar aku yang membuka baju kamu.." pinta Sean dengan manja.


"Sayang.. adikku bangun nih..." kata Sean yang tangannya kini telah sibuk menjelajahi keindahan gunung dan lembah yang masih tertutup kabut merah.


"Mana sayang ?? bolehkah aku melihatnya ?? bolehkah aku memainkannya ?" kata Alexa dengan antusias.


"Tentu saja sayang. Ini adalah milikmu.." jawab Sean sembari melepaskan ikat pinggangnya. Saat Sean hendak menurunkan celananya. Tiba-tiba terdengar suara Papa Kevin yang memanggilnya.


"SEAN...!!!! KEMARI SEBENTAR NAK..!!!!" teriak Papa Kevin memanggil Sean sambil mengetuk pintu kamar Alexa.


Sean dan Alexa kaget bukan main mendengar suara ketukan pintu. Alexa bergegas lari ke kamar mandi sebelum Papa Kevin melihatnya. Sean pun menyembunyikan ikat pinggangnya yang tergeletak di lantai. Tak lama kemudian, Sean membuka pintu untuk Papa Kevin.


"Ada apa Pa ??" tanya Sean dengan wajah dinginnya.


"Kamu ikut Papa sebentar, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu" kata Papa Kevin yang melihat gerik aneh Sean. Sean mengangguk kemudian mengikuti langkah Papa Kevin.


"Brengsekkk !!! Lagi-lagi gagal dapat jatah !!!" umpat Sean dalam hati.


"Sean.. resleting kamu tutup dulu ya.. Papa khawatir junior kamu lepas dari kandangnya" kata Papa Kevin sembari menahan tawanya. Sean pun secara spontan menutup resletingnya.

__ADS_1


Seperti dilempari dengan kotoran binatang, Sean merasa sangat malu setelah Papa Kevin menegurnya masalah resleting. Papa Kevin meminta Sean menunggu Alexa di meja makan. Tak lama kemudian Alexa pun turun dari kamarnya. Sean tersenyum melihat wajah segar Alexa yang baru selesai mandi. Kini Alexa duduk di samping Sean.


Mama Nessa meminta Alexa mengambil sayur yang masih dipanaskan di dapur. Sean beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Alexa. Sebenarnya Sean penasaran apakah Alexa benar-benar memakai lingerie yang ia pilih untuknya.


"Apa kamu sudah memakainya sayang??" bisik Sean kepada Alexa.


Tanpa menjawab pertanyaan Sean, Alexa melepas tali piyama kimono yang ia kenakan kemudian membukanya dan menunjukkannya kepada Sean. Sean tercengang menyaksikan pemandangan indah di depannya. Alexa segera menutup kembali kimono yang membalut tubuhnya.


"Sayang.. kenapa lama sekali ?!!" kata Mama Nessa.


"Iya Ma... pancinya sangat panas Ma..jadi aku harus hati-hati " teriak Alexa dari Dapur.


Sean tidak tega membiarkan Alexa membawa panci berisi sayur panas. Ia pun mengambil alih panci tersebut dan membawanya ke meja makan. Mama Nessa tersenyum bahagia menyaksikan Sean yang menjaga Alexa dengan baik. Akhirnya mereka mulai makan.


"Sean.. apakah kamu bisa bermain catur ??" tanya Papa Kevin.


"Bisa Pa.." jawab Sean singkat. Papa Kevin pun mengangguk.


"Firasat gue nggak enak nih..." batin Sean.


Setelah makan malam selesai, Papa Kevin mengajak Sean bermain catur. Sebenarnya Sean keberatan dengan permintaan Papa Kevin. Akan tetapi ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi menantu yang baik sehingga ia terpaksa menuruti permintaan Papa Kevin.


"Nyesel gue bilang bisa main catur.." batin Sean.


Oleh karena malam semakin larut, Alexa bergegas ke kamarnya. Ia menunggu Sean di dalam kamar sambil memainkan ponsel. Tak lupa ia semprotkan minyak wangi di sekujur tubuhnya. Jam telah menunjukkan pukul 00.15, Alexa pun mulai mengantuk, ia berusaha menahan kantuknya demi memberikan jatah kepada Sean. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda Sean masuk kedalam kamar.


Alexa pun memejamkan matanya sambil menunggu Sean hingga ia benar-benar tertidur. Sementara Sean dan Papa Kevin masih bermain catur di ruang keluarga. Sean mulai gelisah karena Papa Kevin tak kunjung mengakhiri permainan caturnya.


"Sean.. Kalian boleh melakukan itu tapi kami minta kepada kalian untuk menunda kehamilan. Kalian masih sekolah jadi kalian wajib menundanya. Kamu pasti tahu kan cara menundanya ??" tanya Papa Kevin. Sean menggeleng dengan polosnya.


"Besok Mama kamu akan memberikan pil kontrasepsi kepada Alexa. Tugas kamu mengingatkan Alexa agar tidak lupa meminumnya." kata Papa Kevin.


"Siap Pa..." jawab Sean dengan tegas.


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Papa Kevin meminta Sean segera tidur karena besok harus sekolah. Sean pun dengan semangat berlari menuju ke kamar. Sean menjadi lemas seketika saat melihat Alexa sudah tidur dengan nyenyak. Ia ingin membangunkan Alexa dan menagih jatahnya, akan tetapi ia tidak tega membangunkan Alexa yang tidur dengan sangat nyenyak.


"Oh.. Tuhan... mengapa engkau selalu menghalangiku merasakan surga dunia ?? Aku manusia normal Tuhan... Aku juga sangat ingin merasakannya..." kata Sean yang mengeluh dalam hatinya karena putus asa. Sean pun meratapi nasibnya hingga ia tertidur sambil memeluk Alexa.


/////////Ke esokan harinya/////////


Mama Nessa memanggil Sean dan Alexa untuk sarapan bersama. Mama Nessa mengingatkan kepada Sean dan Alexa bahwa nanti malam akan ada acara anniversary Papa Robbert dan Mama Ivanka. Papa Kevin meminta Sean dan Alexa berangkat bersama mereka nanti malam. Sean pun menyetujuinya. Setelah selesai sarapan, Sean dan Alexa berpamitan kepada Papa Kevin dan Mama Nessa untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2