Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Kunjungan Orang Tua


__ADS_3

Sean dan Alexa tiba di Mansion mereka. Alexa bergegas ke dapur untuk meminta ART memasak makan malam dengan jumlah banyak karena kedua orang tua Sean dan Alexa hendak berkunjung ke Mansion mereka. Sedangkan Sean berlalu ke kamar. Setelah dari dapur, Alexa menyusul Sean ke kamar.


Alexa tiduran di sofa di dalam kamar karena merasa lelah setelah shopping di Mall bersama Jean, Rose dan Sally. Tak lama kemudian Sean keluar dari kamar mandi. Ia melihat Alexa tertidur pulas di sofa. Ia menghampiri Alexa kemudian menciumi pipi Alexa agar Alexa segera bangun. Satu ciuman, Alexa masih saja belum bangun sehingga Sean menciumnya bertubi-tubi. Bukannya bangun, Alexa justru mengubah posisi tidurnya.


Seutas senyuman nakal terukir di bibir Sean. Ia melepaskan kancing baju yang Alexa kenakan. Alexa tidak sadar jika saat ini suaminya sedang mengerjai dirinya. Kancing baju berhasil terlepas. Terlihatlah dua bongkahan gunung yang padat nan kenyal.


"Sayang.. kamu pasti capek.. Aku pijit yaa ??" tanya Sean sambil menahan senyumnya.


Oleh karena dalam keadaan mengantuk, Alexa hanya mampu menjawab perkataan Sean dengan anggukkan. Merasa mendapat lampu hijau, Sean segera memijat dua gunung Alexa dengan lembut. Sean menggigit bibir bawahnya merasakan kekenyalan gunung Alexa.


"Sayaaang.. empuk banget siiih.." kata Sean sambil menambah tekanan pijatannya.


Sean semakin bersemangat saat sang junior mulai bangun dari hibernasinya. Ia mencoba melepas pengait penutup dua gunung Alexa. Sean menunggu reaksi Alexa. Ternyata Alexa masih tetap tidur tanpa bergeming sedikit pun. Sean tidak ingin membuang kesempatan. Ia pun mengecup dua bongkah gunung Alexa kemudian ia hisap dengan lembut bebatuan yang berada puncak gunung. Alexa menggeliat kegelian hingga ia terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat Sean sedang asyik menikmati dadanya.


"Sayang... kamu mau ngapain ??" kata Alexa sambil mendorong kepala Sean yang masih di depan dadanya.


"Aku mau ***** sayaang..." kata Sean dengan nada manjanya.


"Noooo.... sebentar lagi Mama sama Papa akan kemari. Kita harus segera bersiap sayang.." tolak Alexa.


Sean hanya diam dengan wajah kecewa. Ia beranjak dari duduknya meninggalkan Alexa yang masih duduk di sofa. Melihat raut kekecewaan di wajah Sean, Alexa menjadi tidak enak. Saat Sean hendak membuka pintu, Alexa memanggil Sean.


"Sayang.. kamu mau kemana ??" tanya Alexa.


Sean tidak menjawab pertanyaan Alexa. Ia pergi begitu saja ke ruang gym. Alexa yakin bahwa saat ini Sean marah kepadanya. Akan tetapi ia harus segera bersiap karena kedua orang tuanya dan orang tua Sean akan segera tiba. Alexa segera beranjak dari sofa lalu pergi ke kamar mandi.


Malam telah tiba. Alexa membantu Mbok Dian menyiapkan makanan untuk menjamu Papa dan Mama mereka. Saat Alexa sibuk menyajikan makanan diatas meja, Sean berjalan melewati ruang makan.


"Sayang.. bantu menata makanan ini dong.." pinta Alexa.


Sean hanya diam akan tetapi ia membantu Alexa menata makanan di meja makan. Suasana meja makan sangat sunyi tanpa ada pembicaraan antara Sean dan Alexa.


Alexa mencoba mencairkan suasana. Ia pun kembali mengajak Sean berbicara.


"Sayang.. kamu baru selesai latihan ya ??" tanya Alexa basa basi.


"Hmmm..." jawab Sean singkat.


"Say.." kata Alexa yang terpotong.


"Aku mau mandi" kata Sean memotong perkataan Alexa kemudian berlalu ke kamar.


"Sean..kamu benar-benar marah ya.." batin Alexa.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Papa Robbert, Papa Kevin, Mama Ivanka dan Mama Nessa tiba di Mansion Sean dan Alexa. Sean dan Alexa membuka pintu menyambut kedatangan orang tua dan mertuanya. Sean mempersilahkan Papa Robbert dan Papa Kevin masuk ke ruang tamu. Sedangkan Alexa, Mama Ivanka dan Mama Nessa mengikuti suami mereka di belakang.


"Sebenarnya kami kemari ingin meminta maaf kepada kalian tentang kejadian di pesta kemarin" kata Papa Robbert membuka pembicaraan.


"Kejadian apa Pa ??" tanya Alexa penasaran.


Papa Robbert hendak menjawab pertanyaan Alexa. Akan tetapi Sean sudah terlebih dahulu menginjak kaki Papa Robbert. Sean memberi isyarat kepada Papa Robbert agar merahasiakan kejadian saat di pesta kemarin. Mama Nessa dan Mama Ivanka saling pandang saat Papa Robbert menghentikan pembicaraannya. Hati mereka tergerak ingin memberi tahu yang sebenarnya kepada Alexa. Mama Ivanka pun menggantikan Papa Robbert menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Alexa.


"Jadi Papa Robbert membuat minuman yang telah dicampur dengan obat perangsang. Sebenarnya minuman itu untuk Mama sayang" kata Mama Ivanka.


"Saat kamu tersedak, Papa Kevin secara tidak sengaja mengambil minuman di tangan Papa Robbert yang sudah dicampur dengan obat perangsang dan memberikannya kepadamu sayang.." kata Mama Nessa.


"Dan kamu meminumnya sampai habis sayang.." imbuh Papa Kevin.


Alexa terlihat sangat terkejut saat tahu bahwa dirinya telah meminum obat perangsang yang dibuat oleh mertuanya dan yang memberikannya adalah Papanya sendiri. Sean mengusap wajahnya dengan kasar karena kesal dengan keempat orang tua di depannya.


"Kita makan dulu Ma.. Pa..." kata Sean mengajak Papa Robbert, Papa Kevin, Mama Ivanka dan Mama Nessa berpindah ke ruang makan.


Pembicaraan berlanjut di meja makan. Papa Robbert, Mama Ivanka, Papa Kevin dan Mama Nessa kembali meminta maaf kepada Sean dan Alexa. Alexa terpaksa memaafkan keempat orang tua di depannya. Ia tidak ingin membuat mereka sedih dan kecewa. Akan tetapi rasa kesal tidak dapat terhindarkan dari wajahnya.


"Apa kalian sudah melakukannya ??" goda Mama Ivanka.


"Sudah lah.. kan kalian sendiri yang meminta kami melakukannya.." kata Sean dengan nada kesalnya.


"Memangnya bisa Pa ?? kan sudah terlanjur keluar di dalam !!!" kata Alexa yang masih dengan nada kesalnya.


"Pfffttttt...." Sean menahan tawanya mendengar jawaban Alexa.


"Ap..apa ?? Kamu bilang apa sayang ??? Kemana putri polos Papa yang dulu ??" kata Papa Kevin yang tidak menyangka putrinya sudah tidak se polos dulu.


"Kan kalian sendiri yang membuat Alexa menjadi dewasa dan agresif seperti sekarang ini. Kenapa sekarang Papa bertanya seperti itu ?" jawab Sean dengan nada kesalnya.


"Diam.. kamu Sean !!!!" kata Papa Robbert yang merasa tersudut dengan perkataan Sean.


Mama Nessa memberikan obat kepada Alexa dan meminta Alexa meminumnya setiap hari. Mama Ivanka menjelaskan kepada Alexa bahwa fungsi dari obat itu adalah untuk menunda kehamilan. Alexa pun menerima obat itu. Mama Nessa meminta Alexa meminum satu butir saat itu juga.


"Tapi ini bukan obat perangsang kan Ma??" tanya Alexa.


"Tidak sayang.. itu benar-benar obat penunda kehamilan." kata Mama Ivanka.


Malam semakin larut. Papa Robbert, Mama Ivanka, Papa Kevin dan Mama Nessa berpamitan pulang. Sebelum pulang, Mama Nessa dan Mama Ivanka berpesan kepada Alexa agar meminum obat penunda kehamilan setiap hari. Alexa pun mengangguk sambil memegang tangan Sean.


Setelah orang tua mereka pulang, Sean melepaskan tangan Alexa dan pergi ke ruang kerjanya tanpa bicara satu kata pun kepada Alexa. Rasa bersalah kembali mengitari perasaan Alexa. Ia bergegas ke kamar untuk menenangkan hatinya dan memikirkan cara agar Sean tidak marah lagi kepadanya.

__ADS_1


Setibanya Alexa di kamar, ia duduk termenung di sofa sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ia teringat dengan baju yang pernah ia beli bersama Sean. Ia pun memiliki ide untuk membuat Sean tidak marah lagi kepadanya. Ia bergegas mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat.


Setelah selesai mandi, Alexa memakai pakaian yang pernah ia beli bersama Sean. Tak lupa pula ia semprotkan parfum ke sekujur tubuhnya. Ia aplikasikan riasan tipis yang menambah kecantikan wajahnya. Alexa pun selesai dan siap menyambut Sean dengan mengenakan pakaian seksi berwarna putih dan riasan tipis serta tatanan rambut yang semakin menampakkan aura kecantikannya.


Alexa menghubungi Mbok Dian dan memintanya memberitahu Sean bahwa dirinya sedang demam. Mbok Dian pun menuruti perintah Alexa dan bergegas memberitahu Sean bahwa Alexa sedang demam. Sean yang pada saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya menjadi panik saat Mbok Dian memberitahunya. Ia berlari ke kamar menghampiri Alexa.


Sean membuka pintu kamar. Ia melihat Alexa sedang memejamkan matanya dengan tubuh yang ditutupi selimut. Sean mendekat ke tempat tidur dan duduk disamping Alexa.


"Meskipun sedang sakit, kenapa kamu tetap saja cantik sih sayang.." gumam Sean kemudian hendak memegang kening Alexa.


Belum sempat memegang kening istrinya, Alexa sudah membuka mata. Alexa tersenyum manis kepada Sean hingga membuat Sean bingung.


"Aku memang sakit sayang.. tapi disini..!!! Maafkan aku sayang.. aku bersalah sudah menolak keinginanmu. Aku nggak mau kamu mendiamkanku seperti ini sayang.." kata Alexa hampir menangis sembari meletakkan tangan Sean di dadanya. Sean tersenyum kemudian memeluk Alexa dengan erat.


"Oke.. saat ini aku memaafkanmu tapi lain kali jangan diulangi lagi yaa sayang.." kata Sean sembari memeluk Alexa dengan erat. Alexa pun mengangguk dengan pasti.


Sean meraba punggung Alexa dan merasakan ada yang aneh dengan pakaian Alexa. Akhirnya Sean membuka selimut Alexa. Dan nampaklah Alexa yang memakai pakaian seksi dengan memperlihatkan senyum nakalnya kepada Sean. Sean terbengong dengan mulut menganga melihat Alexa berpenampilan tidak seperti biasanya.


"Tadi katanya ada yang pengen ***** ?? atau sekarang sudah tidak ingin ***** lagi yaa...??" goda Alexa. Sean tersenyum saat Alexa menggodanya.


"Tidak cuma ***** sayang.. aku mau lebih dari *****..." kata Sean dengan semangat kemudian ia mencium bibir Alexa. Alexa pun membalas ciuman Sean.


Sean mulai melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya hingga tidak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuh kekarnya. Sean juga melepas satu persatu pakaian yang dipakai Alexa. Tinggallah dua insan yang menyatu, yang saling mencumbu dan memadu cinta di tengah indahnya malam di suasana kamar yang panas.


Gerakan demi gerakan tercipta dengan penuh gairah saat kedua insan yang saling mencinta memadu kasih diatas ranjang. Tibalah saat junior Sean masuk kedalam sumur Alexa.


"Emmmmhhhhh..." erang Alexa yang merasakan kenikmatan saat Junior Sean masuk kedalam kandangnya.


"Aaaaahhhhhh... sayang.. " erang Sean saat merasakan sensasi hangatnya sumur yang lembab nan licin.


Sean mulai menggerakkan juniornya lebih cepat sehingga erangan demi erangan lolos dari mulutnya dan Alexa. Tibalah saat puncak kenikmatan menyelimuti kedua insan yang tengah memadu cinta hingga menyemburkan lava pijar yang membanjiri arena pergulatan mereka. Alexa terkulai lemas saat pergulatan berakhir. Sean mencium kening, pipi dan bibir Alexa dengan lembut.


"terimakasih sayang.. I Love You.." bisik Sean sambil memeluk Alexa yang terkulai lemas tanpa ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Alexa hanya tersenyum dan mengangguk kemudian tertidur karena lelah.


//////////////////


Tuan Leon sedang berbincang dengan putri semata wayangnya Rachel William. Rachel meminta kepada tuan Leon bahwa saat sedang meeting dengan S.A group, dirinya harus ikut.


"Kamu sepertinya menyukai Sean ya sayang ?" tanya Tuan Leon. Rachel tersenyum sipu dan mengangguk. Tuan Leon pun tersenyum melihat putrinya malu-malu.


"Besok Papa akan ada meeting di SA Group, Kamu mau ikut ?" tawar Tuan Leon.


"Mau.. mau.. mau.. aku mau ikut Pa.." jawab Rachel antusias.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2