
Beberapa saat kemudian Sean dan Alexa tiba di Mansion Keluarga George. Ia menggendong Alexa dan hendak membawanya masuk ke dalam Mansion. Di depan pintu utama, Mbok Ningsih menunggu kedatangan Alexa sesuai dengan perintah Mama Nessa dan Papa Kevin jika Alexa hingga malam belum pulang, maka ia diperintahkan untuk menunggui Alexa di depan pintu utama. Mbok Ningsih terkejut saat melihat pria tampan menggendong Alexa.
"Mbok.. dimana kamar Alexa ?" tanya Sean
"Oh.. di..diatas Tuan, hiks..hiks..apa yang terjadi dengan Nona Alexa Tuan hiks...hiks..?" tanya Mbok Ningsih yang kini mulai menangis.
Sean tidak menjawab pertanyaan Mbok Ningsih. Ia meminta Mbok Ningsih mengganti pakaian Alexa. Sambil terisak, Mbok Ningsih mengganti pakaian Alexa, sementara Sean menunggu di depan pintu kamar Alexa dengan perasaan khawatir. Mbok Ningsih keluar dari kamar Alexa setelah mengganti baju Alexa. Sean meminta Mbok Ningsih memberitahu orang tua Alexa bahwa Alexa sedang sakit. Mbok Nungsih pun menuruti perintah Sean.
Sean masuk kedalam kamar Alexa. Ia melihat-lihat isi kamar Alexa. Ia heran mengapa tidak ada satupun foto Alexa dan keluarganya yang terpasang di Mansion sebesar ini.
"Prince.." igau Alexa.
"Ya.. Gia.." kata Sean yang tidak sadar menjawab panggilan Alexa.
"Prince.. tolong aku.." igau Alexa. Sean baru menyadari jika Alexa menyebut nama Prince disaat ia tidak sadar. Ia pun bergegas menghampiri Alexa yang masih berbaring di tempat tidur.
"Prince.. jangan tinggalkan aku Prince hiks.. hiks..." igau Alexa. Sean mulai curiga dengan Alexa. Ia membuka satu kancing baju Alexa. Ia melihat Alexa memakai kalung yang sama dengan miliknya. Terlihat pula 1 foto di samping bantal Alexa. Ia melihat fotonya dan Gia semasa kecil dulu.
"Gi..Gia.. a..aku menemukanmu.. Gia, Al..Alexa.. kamu adalah Gi..Gia ?? Pa..pacar masa kecilku ??" kata Sean tidak percaya.
Sean mulai menangis. Ia tidak percaya bahwa Gia yang selama ini ia cari ada di depannya. Ia mencoba membangunkan Alexa.
"Gia.. hiks..hiks.. bangunlah.. aku disini Gia.., Aku Prince ada bersamamu hiks..hiks.." kata Sean di iringi tangis bahagia. Alexa membuka matanya mendengar suara lelaki menyebut dirinya Prince.
"Prince.. mana Prince... ?? Sean ?? hiks.. hiks..Loe bukan prince gue cuma butuh Prince hiks..hiks.. Pulanglah Sean.. hiks..hiks.." kata Alexa sambil menangis.
"Gia.. hiks..hiks..aku Prince.. aku Prince kamu" kata Sean yang kini sudah tidak bisa menahan tangisnya. Akan tetapi Alexa masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Lihatlah... ini kalung kita saat kecil. Aku memberimu kalung yang sama denganku saat kamu akan berangkat ke Negara B." kata Sean sembari menunjukkan kalung yang ia pakai.
Alexa kembali teringat dengan kenangan bersama Prince. Ia menangis bahagia karena orang yang selama ini ia tunggu sudah berada di depannya. Alexa memeluk Sean dengan erat, menumpahkan tangisnya di pelukan Sean seakan takut akan kehilangan Sean untuk kedua kalinya. Sean pun menangis dan memeluk Alexa dengan erat.
"Aku berjanji tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi Gia hiks..hiks.." kata Sean sembari mengelus kepala Alexa.
Mbok Yeti masuk ke kamar Alexa hendak memberikan minuman kepada Sean. Ia melihat Sean dan Alexa berpelukan sambil menangis. Ia pun mengurungkan niatnya memberikan minuman ke Sean.
Setelah keadaan Alexa tenang, Sean memanggil dokter pribadi keluarga Astin ke Mansion Keluarga George. Sean membaringkan Alexa di tempat tidur. Ia menunggui Alexa yang tidur sambil menggenggam erat tangannya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi Gia. Bahkan jika Papa Kevin dan Mama Nessa memintamu pergi, aku tidak akan membiarkannya." batin Sean sembari menciumi jemari tangan Alexa.
Dokter Rendra tiba di Mansion Keluarga George. Ia mengetuk pintu utama. Mbok Ningsih membukakan pintu untuk Dokter Rendra.
"Saya diminta Tuan Sean datang kemari untuk memeriksa pasien mbok" kata Dokter Rendra.
"Oh.. silahkan masuk Pak Dokter, mari saya antar ke kamar non Alexa" kata Mbok Ningsih.
Dokter Rendra mengetuk pintu kamar Alexa. Sean membuka pintu kamar Alexa dan mempersilahkan Dokter Rendra memeriksa Alexa.
__ADS_1
"Apa dia pacar loe Sean?" tanya dokter Rendra.
"Jangan banyak tanya. Loe periksa saja dia" jawab Sean dingin. Dokter Rendra mengangguk dan memeriksa Alexa. Dokter Rendra memberitahu Sean bahwa Alexa hanya syok. Ia juga berkata bahwa Alexa memiliki trauma dengan peristiwa yang baru saja ia alami. Sean mengepalkan tangannya dengan erat saat mendengar penjelasan dokter Rendra.
"Loe jaga dia baik-baik Sean. Jangan biarkan traumanya kambuh" kata Dokter Rendra. Sean mengangguk dan meminta Dokter Rendra segera pergi dari Mansion keluarga George.
"Kenapa loe ngusir gue ?? seharusnya loe berterimakasih kepada gue kan !!" protes dokter Rendra.
"Pergi atau gaji loe gue potong !!!" ancam Sean. Dokter Rendra pun pergi dari Mansion keluarga George.
Alexa masih tidur dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Sean. Sean pun tertidur di samping Alexa. 5 jam berlalu dengan cepat. Papa Kevin dan Mama Nessa tiba di Mansion Keluarga George. Mereka segera menuju ke kamar Alexa. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat ada lelaki yang tidur disamping Alexa. Papa Kevin menyeret Sean yang masih tertidur. Mama Nessa menangis sambil memeluk Alexa yang masih tidur.
"Beraninya kamu main-main dengan putri saya !!!!" bentak Papa Kevin sembari memukuli wajah Sean. Sean tidak berani melawan karena yang ia hadapi saat ini adalah orang tua Alexa.
Alexa terbangun karena mendengar keributan di dalam kamarnya. Mata Alexa melotot saat tahu Sean dipukuli oleh Papa Kevin. Alexa segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Papa.. jangan pukul dia. Dia Prince.. jangan pukul Prince ku Pa.. hiks.. hiks.." kata Alexa sembari menahan tangan Papa Kevin agar tidak memukul Sean.
"Prince apa ??? dia hanya seorang pembohong Alexa..!!!" kata Papa Kevin. Sean hanya diam dan tidak menghindar saat Papa Kevin memukulnya. Alexa menunjukkan kalung yang melingkar di leher Sean dan kalung yang melingkar di lehernya.
"Lihatlah.. dia Prince Pa.. Prince ku sudah kembali hiks..hiks..!!!" kata Alexa sambil menangis karena tidak tega melihat Sean di pukuli Papa Kevin. Papa Kevin pun berhenti memukuli Sean.
"Siapa nama kamu nak ??" tanya Mama Nessa sembari membawa Sean menjauh dari Papa Kevin.
"Sean Astin Ma, putra tunggal Robbert Astin dan Ivanka Maurya." jawab Sean.
"Maafkan Papa nak.. Papa menyesal telah memukulmu." kata Papa Kevin sambil memeluk Sean.
"Tidak apa-apa Pa, justru aku senang karena aku menyaksikan sendiri bagaimana Papa melindungi istriku saat aku tidak bersamanya" kata Sean dengan santainya.
"A..apa ??? Is..istri ???" kata Papa Kevin syok mendengar ucapan Sean.
"Bukannya dulu kita sudah menikah ?? Iya kan Ma ?" tanya Sean kepada Mama Nessa.
"Kata siapa ?? itu cuma akal-akalan Papa kamu biar kamu membiarkan kami pergi" kata Mama Nessa.
Sean merasa telah ditipu oleh kedua orang tuanya. Papa Kevin dan Mama Nessa menanyakan kabar Papa Robbert dan Mama Ivanka. Sean baru teringat jika ia belum menghubungi orang tuanya bahwa ia akan pulang terlambat malam ini. Ia pun mengecek ponselnya. Terdapat 46 panggilan tak terjawab dari Mama Ivanka dan Papa Robbert.
Muncullah ide dari Papa Kevin untuk mengerjai Papa Robbert dan Mama Ivanka. Ia meminjam ponsel Sean dan menghubungi nomor Papa Robbert.
"Sean.. kamu dimana ?? kenapa tidak pulang ??" tanya Papa Robbert.
"Maaf tuan, putra anda ada bersama kami. Dia sedang terbaring lemah di rumah saya" kata Papa Kevin. Mama Nessa mencubit Papa Kevin karena sudah berumur pun jiwa jahilnya masih tetap ada. Papa Robbert seperti familiar dengan suara seseorang dari ponsel Sean.
"Loe siapa berani sekali loe mengambil ponsel anak gue?" bentak Papa Robbert. Papa Kevin menahan tawa mendengar bentakan Papa Robbert.
"Jika anda ingin anak anda selamat, datanglah ke alamat ********" kata Papa Kevin kemudian mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Papa Kevin, Mama Nessa, Alexa dan Sean tertawa bersama karena rencana Papa Kevin akan berjalan sesuai rencana.
///////////////
Papa Robbert memberitahu Mama Ivanka bahwa Sean diculik. Mama Ivanka ragu jika Sean diculik. Pasalnya, Sean adalah King Mafia, secara logika akan sangat sulit untuk menculik Sean.
"Papa mungkin salah dengar kali.. mana mungkin King Mafia diculik ?" tanya Mama Ivanka.
"Benar juga yaa Ma, tapi kenyataannya ponsel Sean berhasil diambilnya Ma. Mereka bilang kita harus datang ke alamat ******* jika ingin Sean selamat" kata Papa Robbert.
Mama Ivanka mulai panik setelah Papa Robbert menceritakan semua. Papa Robbert memanggil semua anak buahnya dan memerintahkan mereka ke alamat yang telah disebutkan. Sedangkan dirinya dan Mama Ivanka berada dibelakang mereka.
Tak butuh waktu lama, Papa Robbert dan Mama Ivanka tiba di alamat yang dimaksud. Mereka melihat-lihat rumah penculik Sean.
"Mansion ini indah sekali Pa" kata Mama Ivanka kagum.
"Tujuan kita menjemput Sean Ma jangan lakukan yang lain" kata Papa Robbert dingin. Bibir Mama Ivanka cemberut karena Papa Robbert berkata dingin kepadanya.
Papa Robbert memerintahkan anak buahnya mengepung Mansion Keluarga George, sedangkan ia bersama Mama Ivanka masuk melalui pintu utama. Papa Robbert mengetuk pintu. Ia membawa sebilah pisau untuk mengancam penculik agar mengembalikan Sean kepada mereka. Saat Mbok Ningsih membuka pintu, Papa Robbert mengarahkan pisau kepada Mbok Ningsih.
"Mana anak saya !!!!" bentak Papa Robbert. Mbok Ningsih terkejut saat Papa Robbert mengarahkan pisau kepadanya.
"Mana saya tahu ??? Tuan yang punya anak, kenapa malah tanya ke saya ??" jawab Mbok Ningsih santai.
"apa anda pemilik mansion ini ?" tanya Mama Ivanka kepada Mbok Ningsih.
"Mansion ini milik majikan saya" jawab Mbok Ningsih.
"Panggil majikan kamu atau saya tidak segan-segan menusukmu" ancam Papa Robbert.
Tiba-tiba Papa Kevin dan Mama Nessa turun dari lantai 2 dan menghampiri Papa Robbert dan Mama Ivanka.
"Heii... jangan asal tusuk gitu dong brooo.." kata Papa Kevin sambil tersenyum.
Papa Robbert dan Mama Ivanka menoleh ke arah asal suara. Mama Ivanka dan Mama Nessa menangis bahagia karena setelah sekian lama berpisah, akhirnya mereka dipertemukan kembali. Mama Ivanka berlari memeluk Mama Nessa.
"Gue kangen banget sama loe Nes.. hiks...hiks Loe kemana aja sih hiks..hiks..??? Kenapa kalian menghilang ??" tanya Mama Ivanka sembari memeluk Mama Nessa.
"Gue juga kangen banget sama loe Van, kami tidak menghilang, kami hanya bersembunyi" kata Mama Nessa sambil membalas pelukan Mama Ivanka.
"Brengsek !!!! kemana aja loe ha ??? sudah lebih dari 10 tahun gue nyari loe berdua. Sampai anak gue seperti orang gila gara-gara menanti kepulangan anak loe !!!!" umpat Papa Robbert sambil menahan tangis karena rindu.
Papa Kevin memeluk Papa Robbert untuk melepas rasa rindu mereka.
"Maafin gue Rob, gue kehilangan kontak loe. Selain itu kami harus menyembunyikan Alexa dari orang jahat." kata Papa Kevin sembari mengelus punggung Papa Robbert.
~bersambung~
__ADS_1