
“Sayang, sini.” Sony menepuk bantal di sebelahnya menyuruh istrinya untuk tidur di sampingnya..
“Ayo kita tidur. Pagi-pagi kita harus berangkat sayang, Mas ada pertemuan dengan klien besok siang.” Tutur Sony.
“Kok mendadak Mas? Masa baru sampai sudah harus meeting sih.” Menaiki ranjang, tenggelam dalam pelukan Sony.
“Iya sayang, soalnya klien dari Malaysia, dan dia harus kembali sore. Jadi kejar waktu.”
“Tapi Mas, aku lupa sesuatu.”
“Apa sayang?”
“Aku harus merapikan beberapa buku untuk kubawa. Sebentar ya sayang.” Vania beringsut turun dari ranjang.
“Sayang, memangnya buku apa sih? Apa wajib banget di bawa?”
“Iya Mas, kalau aku tidak boleh bekerja. Lalu aku harus ngapain di sana. Menghabiskan waktu seharian penuh di rumah. Bosan tau! Makanya aku mau bawa buku, biar tidak suntuk.”
“Besok ikut Mas ke Hotel biar nggak bosen. Temenin Mas kerja, sekarang tidurlah. Sudah malam sayang.” Vania masih berkutat di rak bukunya mencari beberapa Novel yang ia koleksi.
Sony pun mulai kesal dan mendekati Vania yang susah di atur, hanya di suruh tidur saja tidak menurut.
“Judulnya apa sayang, Mas bantu cari. Mas tidak bisa tidur kalau tidak di peluk.”
“Mulai deh. Lebay banget sih Mas."
“Ini kenyataan Dek, Mas sudah terbiasa bobok dengan itu.” Sony memainkan alisnya menunjuk dada Vania dengan tatapan nakal.
“Mas mesum!” cibir Vania, melirik tajam ke suaminya. Ia melanjutkan pencarian bukunya yang di bantu oleh Sony. Satu persatu mereka melihatnya dengan teliti.
“Sayang, ini apa?!” tanya Sony penasaran dengan buku tebal bersampul pink.”
“Oh, itu buku lama Mas. Dulu iseng-iseng suka gambar.”
Sony pun membuka lembar demi lembar buku itu dan ia sangat takjub ketika melihatnya. Dia tak menyangka istrinya ternyata mempunyai bakat yang tak pernah ia tahu.
“Ini Adik yang gambar?!”
__ADS_1
“Iya sayang, siapa lagi. Kan bukuku.” Jawab Vania acuh, tangan dan matanya masih sibuk di rak, menyibaknya satu per satu buku yang tertata rapi di sana.
“Bagus sekali Dek, Mas lihat gambar ini langsung terbesit di pikiran Mas untuk melakukan sesuatu.”
“Apa?” Tanya Vania lagi-lagi ia masih cuek, tak memandang suaminya.
“Buka butik sayang. Ini benar-benar bagus. Kenapa bakat seperti ini Adik sembunyikan? Adik bisa jadi desainer. Daripada bekerja sebagai House Keeping. Mas sangat keberatan.”
“Hah, Mas jangan aneh-aneh deh. Mending bantu Adik cari Novelnya. Biar kita cepat tidur.”
“Oke lah, besok kita bicarakan lagi soal ini.”
“Terserah Mas saja. Ayo, bantuin dulu. Adik sudah ngantuk Mas.”
“Dek, kenapa masih menyimpannya?!” tanya Sony sambil menunjukkan album yang tengah di pegangnya. Ketika tak sengaja menemukan di selipan buku paling pojok.
“Apa sih Mas, ah itu.” Vania merebut album foto dari tangan Sony.
“Mas, ini kan hanya album. Lagi pula bukan hanya foto dia saja, semua temanku juga ada.”
“Pokoknya Mas tidak suka, Dek. Buang nggak!” ucap Sony yang terus menekan Vania. Ia begitu cemburu melihat foto istrinya dengan lelaki lain di sekolahnya dulu. Siapa lagi kalau bukan Ega. Mantan kekasih Vania, meskipun Vania tifak memiliki rasa pada Ega, tetap saja selama pacaran ia selalu menjaga hubungannya dan menjaga perasaan Ega. Mereka memang terlihat begitu akrab, semua foto yang di lihat Sony di dalamnya rata-rata merangkul wanitanya dan bergandeng tangan.
“Mas, jangan marah dong. Itu kan hanya masa lalu. Mas cemburu ya?”
“Lelaki mana yang tidak cemburu melihat istrinya berdekatan dengan lelaki lain, Dek. Buang atau Mas akan membakarnya sekarang?!” tegas Sony.
“Tidak penting sayang. Bagiku dia sudah masa lalu, bahkan aku tak tahu kabarnya sekarang bagaimana.”
“Jadi Adik mengharap kabar darinya?!”
“Penasaran sih Mas. Hehe ..” Sony menatap tajam pada Vania. “Dia, apa kabar ya sekarang.” tatapannya menerawang.
“Dek, kalau terus-terusan membicarakannya Mas akan marah.”
__ADS_1
“Mas bisa marah pada Adik? yakin??” goda Vania. Ia lalu menghampiri Sony di tepi ranjang, Vania duduk di pangkuan Sony dan melingkarkan tangannya ke leher Sony.
Aku mau lihat, seberapa lama Mas Sony tahan marah padaku. Aku tidak akan membiarkan burung itu masuk ke sarangku. Biar kapok. Kalau marah bukan aku yang rugi Mas, tapi kamu. Hahahah. Batin Vania bermonolog dengan dirinya dalam hati.
“Adik menggoda Mas?” Sony yang merasa juniornya tertindih, ia semakin membara untuk memakan Vania.
“Siapa yang menggoda Mas. Aku hanya ingin di pangku saja kok.” Vania mulai menenggelamkan wajahnya di pundak Sony hingga bibir dan nafasnya membuat Sony menegang.
“Tanggung jawab, sayang!”
“Tanggung jawab apaan coba?! Memangnya apa salah Adik? “
“Di bawah sana sudah ingin masuk ke kandang sayang. Ayolah ...”
“Katanya Mas marah sama Adik, masih butuh juga kan?? Adik nggak mau layanin. Wleekkk.” cibir Vania dengan nada juteknya.
“Dosa lo Dek, pilih surga apa neraka?!”
“Ya surga sih, tapi ...”
“Nggak ada tapi-tapian sayang, Mas sudah tidak sanggup menahannya.” Sony membaringkan Vania sambil menciuminya dengan panas.
"Mas, tunggu! Bukankah kita harus mencari Novel yang belum ketemu. Besok nggak ada waktu buat nyarinya Mas. Sekarang jangan main kuda-kudaan dulu. Ayo bantu cari."
"Mas sudah panas Dek. Apa Adik nggak kasihan sama Mas?"
"Kalau novelnya sudah ketemu nanti aku kasih hadiah deh. Tahan dulu sebentar. hehe." ucap Vania beranjak dari tempat tidur, ia yang tadinya di peluk Sony melepas pelukannya dengan tiba-tiba dan menjauhi suaminya.
"Cari novel apa mau lihat kenangan mantan?" Sindir Sony.
"Tentu saja lihat kenangan mantan juga, lumayan untung. Bisa di lihat kalau lagi kangen." Vania sangat hobi menggoda Sony. Ia merasa rasa cemburunya Sony kali ini begitu menggemaskan. Tiada hentinya ia terus mencari-cari masalah yang sebenarnya tak ada masalah.
"Oh, istri Mas sudah berani ya ternyata. Awas saja! Kalau sampai Mas menemukan sesuatu yang berbau lelaki di sini. Mas akan membakarnya, Dek. Mas tidak main-main."
"Coba aja kalau berani Mas." ucap Vania dengan menggoyangkan pinggulnya mengejek Sony. Sony mana tahan lihat begituan. Apalagi istrinya kali ini memang berpakaian seksi, hanya menggunakan lingerie namun masih mengenakan cetakan dada dan kain segitiganya. Sejak seminggu yang lalu sering berhubungan dengan suami, ia nampaknya sudah tak ada lagi rasa malu untuk mengumbar semua aset berharga di tubuhnya.
Sony yang melihat Vania terus menggodanya, ia tak tahan dan segera menghampirinya. Ia menggendong istrinya ala bridal style menuju ranjang.
"Mas! lepas dong, nakal banget sih! turunin nggak?!"
"Mas bilang tanggung jawab ya tanggung jawab Dek, makanya jangan terus menggoda Mas. Dan satu lagi, Mas tidak mau melihat buku ma tan itu ada di kamar ini. Kalau besok tidak di buang, Mas benar-benar akan membakarnya." ucao Sony dengan deru nafas yang memburu karena menahan gairah cinta yang menggebu.
Bersambung....
Jangan lupa ya, biasa...
__ADS_1
Tinggalkan jejak. LIKE, KOMEN, VOTE. sehat selalu sayang..m