
“Van, dari mana saja kamu? Kamu tahu kan aku menunggumu dari tadi. Sudah dua jam aku di sini. Kenapa tidak segera pulang menemuiku?!” Tanya Ega emosi.
“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk balik? Kenapa masih menungguku?! Dan ke mana aku pergi, itu bukan urusan kamu Ga.” Ucapku setelah turun dari motor Mas Sony.
“Van, besok itu kita sudah pulang dan tidak di kota ini lagi. Jadi apa salahnya kamu menemaniku jalan-jalan?! Malah pergi dengan lelaki tidak jelas.” ucap Ega yang tidak mau kalah dan menatap tajam ke Mas Sony.
“Dia lelaki baik Ga, sangat baik. Kau tidak mengenalnya, jadi jangan bicara sembarangan.”
“Apa katamu?! Lelaki baik?! Lelaki baik tidak akan merebut milik orang lain Van. Dasar licik!” umpat Ega.
“Apa yang dia rebut?! Dia tidak merebut apa pun dari orang lain. Jadi kamu jangan pernah berpikir negatif terhadapnya.”
“Bela saja terus Van, kamu hanya belum mengerti watak aslinya. Kamu akan menyesal memutuskanku demi dia.”
“Cukup Ga! Setidaknya Mas Sony Sama sekali tidak pernah menyakitiku, sedikit pun! Tidak seperti kamu!” Ucapku mendekat ke motor Ega.
“Van, kamu tahu. Aku sangat menyayangimu.” Ucap Ega sedikit memelankan suaranya sambil mengelus pipi kemudian bibirku.
“Ega!” aku melotot menepis tangannya yang lancang.
“Hei! Jangan pernah sekalipun berani menyentuh wanitaku!” teriak Mas Sony lalu turun dari motornya.
“Wanitamu?! Cih! Sejak kapan dia menjadi wanitamu! Ingat! Peluangku lebih besar untuk mendapatkannya lagi. Karena besok dan seterusnya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku daripada denganmu!” menyunggingkan bibirnya sinis.
“Mas, sudah,, jangan layani dia. Mas pulang saja ya. Aku akan masuk.” Ucapku menenangkan Mas Sony.
“Tunggu Dek, Mas akan di sini sampai dia pergi. Mas mau memastikan dia tidak mengganggumu lagi.” Jawab Mas Sony berjalan mendekat ke arahku kemudian menghampiri Ega.
“Perlu kamu tahu! Seberapa besar usaha kamu mendapatkan Vania. Dia tidak akan terpengaruh dan tidak akan mau kembali lagi dengan orang sepertimu! Karena dia sudah memiliki hatiku. Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini.” Lanjut Mas Sony memperingatkan Ega.
“Siapa kau berani mengusirku. Aku akan tetap di sini sampai Vania mau kuajak pergi. Ayo Van.” Menarik tanganku dan mencekal kuat-kuat pergelangan tanganku.
“Ega lepaskan. Sakit. Kau gila?! Ini sudah malam, aku tidak akan mau.” Mengibaskan tangannya namun masih tak terlepas. Kebiasaan Ega selalu berbuat kasar terhadap siapa pun.
“Lepaskan Vania!” Mas Sony memukul tangan Ega dengan pinggir telapaknya. Dan langsung terlepas.
__ADS_1
“Sekali lagi berani menyentuhnya sedikit saja. Aku akan memberimu pelajaran. Paham! Pergi dari sini! Sekarang!”
“Ha ha ha. Dasar sok pahlawan!”
“Ga, bisa tidak jangan berisik. Ini sudah malam. Aku mau istirahat. Dan kamu balik saja. Lagi pula aku juga tidak mungkin keluar jam segini.” menyuruh agar Ega cepat pergi.
“Mas, maaf ya aku mau masuk dulu. Besok aku berangkat pukul sepuluh pagi. Kalau Mas ada waktu, bisa menemuiku sebentar?” tanyaku berharap Mas Sony datang saat aku berangkat.
“Insya Allah dek, Mas pasti akan datang. Ya sudah, sekarang adik masuk. Mas juga akan pulang.” Ucap Mas Sony.
“Iya Mas. Terima kasih untuk malam ini dan hari-hari sebelumnya.” Ucapku tersenyum lalu mencium punggung tangan Mas Sony.
“Iya Dek, sama-sama.”
“Cih, sungguh membuatku mual.” Ucap Ega lirih namun masih terdengar jelas di telingaku.
“Sudahlah Ega, cepat pergi dari sini. Aku mau tidur.”
Mas Sony membelokkan motornya dan tak lama Ega pun menyusul balik ke Kos Leo yang hanya berjarak beberapa meter dari kosku.
Setelah aku memasuki kamar kosku, sesaat aku merebahkan tubuhku di tempat tidur yang kecil itu. Teringat sesuatu yang sudah terjadi di rumah kontrakan Mas Sony itu. Bibirku sudah tidak perawan sekarang, ternyata seperti itu rasanya ciuman, ah rasanya seperti mimpi saja aku bisa sedekat ini dengan Mas Sony.
Aku terus menyentuh bibirku dan senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Aku berdiri di depan cermin, berkaca, memperhatikan bibir yang tadi sudah dilahap habis Mas Sony.
Apakah masih utuh, atau sudah berbeda bentuk?! Ha ha ha. Dasar aku! Sangat norak. Aku sudah merasakan ciuman dan pelukan pertamaku dengan orang yang aku sayang. Dari dulu, sejak dengan Ega. Aku selalu menjauh dan sekalipun aku tidak pernah mau ketika Ega berusaha menciumku. Bahkan sekedar bergandeng tangan aku seperti keberatan.
Tapi ini apa?! Aku malah pasrah saja, kurelakan ciuman itu lolos begitu saja dan aku menikmati itu. Tubuhku juga aku relakan untuk di peluk Mas Sony. Kehangatan itu begitu terasa sampai di hati.
Dia begitu istimewa untukku. Dia sempurna untukku, Ya Tuhan semoga Engkau melindungi cinta kami sampai nanti, sampai suatu hari Mas Sony mendatangi orang tuaku. Aku begitu mencintainya. Semesta alam, tolong jaga hubungan kami. Pertemukanlah kami kembali dalam hati yang sama, hati yang tak akan pernah kuharapkan untuk berubah. Jika berubah, setidaknya rasa itu bertambah saling menguatkan satu sama lain. Terima kasih Tuhan, telah mempertemukan aku dengan lelaki yang begitu baik.
Aku bergegas mengemasi barangku, memasukkan satu persatu baju dan alat make up yang sudah berserakan memenuhi kamar. Kali ini aku benar-benar merasakan perpisahan yang begitu sesak. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya akan seperti ini kejadiannya. Mengenal lelaki di sini. Dan akhirnya terlalu berat untuk berpisah entah sampai kapan waktu yang akan menjawabnya.
Aku memasuki kamar Dina yang ternyata dia juga belum tidur. Masih berkutat membereskan barangnya.
“Din, bantu aku!”
__ADS_1
“Enak saja. Kamu lihat sendiri kan aku juga belum selesai. Eh, tadi kamu habis dari mana sama Mas Sony?” tanya Dina sembari memasukkan bajunya ke tas.
“Diajak makan doang. Memangnya kenapa?” duduk di sebelah Dina.
“Yakin Cuma diajak makan? Enggak mampir ke mana gitu?!” mulai menggoda.
“Mampir ke kontrakannya sih Din, Cuma sebentar tadi.” Jawabku singkat sambil ikut merapikan barangnya.
“Ciyeee ... ha ha ha ...!” goda Dina seperti akan mempertanyakan sesuatu.
“Dih kenapa sih Din?! Aneh. Tiba-tiba tertawa sendiri. Gila ih!”
“Biasanya kalau cowok cewek berduaan akan terjadi sesuatu sih. Ha ha ha ....” tawa puas Dina melirik berpikir seperti membayangkan sesuatu.
“Apaan sih Din. Jangan sok tahu deh!” jawabku malu menyembunyikan senyum yang tak bisa kuhindari jika ingat kejadian tadi, di kontrakan Mas Sony.
“Yakin tidak terjadi apa-apa?! Eh bentar deh, itu kalung dia yang ngasih?!”
“Iya, aku tidak tahu kenapa dia memberikanku barang berharga ini Din.”
“Wah, kelihatannya dia serius sama kamu Van. Meskipun kamu masih sekolah. Dia enggak ilfeel ya. Padahal kamu masih seperti bocah. Ha ha ha.”
“Dina! Niat kamu mau memuji atau menghinamu! Dasar teman aneh!” ucapku mencubit paha Dina.
“Van, aku melihat sesuatu yang beda.”
“Hah apa?!” reflek aku menyentuh bibirku dan menutupnya dengan jariku.
“Ha ha ha ...! Aku tahu sekarang. Gampang sekali kamu di jebak.” Dina tertawa puas melihat pipiku merah. Dia seperti tahu apa yang terjadi tadi.
“Bagaimana rasanya Van?” tanyanya menggoda dan masih belum berhenti tertawa.
Bersambung...
tolong dukung aithor dengan like, komen dan vote ya...
__ADS_1
terima kasih❤❤😘😘☺