Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Guru Baru


__ADS_3

Di Kota Vania,


Sore hari, matahari mulai tenggelam pulang dengan membawa cahayanya yang sempat menerangi bumi. Suasana hiruk pikuk di kota tempat kelahiran Vania yang tidak terlalu macet membuat Sinta bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa cepat sampai tempat yang ia tuju.


 


Beberapa menit setelah menelusuri jalan, akhirnya Sinta dengan dua body guard itu memasuki rumah yang sudah di siapkan oleh Beni, rumah yang cukup untuk mereka bertiga. Walaupun Sinta hanya perempuan sendiri, Beni berani menjamin kalau dua lelaki itu tidak akan mungkin berani macam-macam karena ia tahu body guard yang di perintahkannya itu adalah anak buahnya di Bali selama beberapa tahun sebelum pindah kerja dengan Sony.


 


Saat ini Sinta sedang menyiapkan data-data untuk mengajar menjadi guru dadakan serta mempersiapkan mental karena baru kali ini ia bekerja di luar bidangnya. Kalau bukan karena seorang petinggi yang memberi perintah, tidak mungkin ia repot-repot dan bersusah payah menjalani misi yang bertolak dengan batinnya.


 


“Vania, Ega? Sepenting apa sih kalian hingga mereka sanggup membayarku lima kali lipat dari gajiku biasanya? Kalian sungguh sangat merepotkan. Semoga aku bisa menjalankan pekerjaanku dengan baik dan tidak mengecewakan si Bos.” Gumam Sinta sambil memandangi foto Vania dan Ega yang di kirim Beni melalui ponselnya. Target utama yang menjadi fokus pekerjaannya saat ini.


 


Drrtttttt... drrrttt....


 


Terlihat nama Pak Beni di layar ponsel milik Sinta. Ia segera menekan gambar telepon itu menerima panggilannya.


 


“Ha-...”


baru saja mau menyapa, Beni memotongnya. “Kenapa tidak memberiku kabar kalau sudah sampai?”


 


“Ah, itu... anu Pak, maaf tadi masih sibuk beres-beres.”


 


“Apa pun yang kamu lakukan, kamu harus laporan sama saya, paham?!”


 


“Baik Pak.” Dasar lelaki batu. Selalu saja marah-marah.


 


“Kamu sudah baca semuanya?”


 


“Sudah Pak.” Berkas yang berisi tentang apa saja yang harus ia kerjakan besok. Mulai dari mengenal Vania lebih dekat, tidak membiarkan Vania atau Ega satu kelompok dalam hal apa pun, dan paling penting tidak memberikan kesempatan Vania dan Ega untuk berdekatan di dalam maupun di luar sekolah.


 


“Ada yang mau kamu tanyakan?!” tanya Beni.


“Tidak Pak, saya sudah cukup paham.” Saya sudah malas berbicara lama dengan Anda. Segera saja matikan teleponnya. Batin Sinta.


 


“Bagus. Selamat beristirahat.” ucap Beni.


 


“Terima kasih Pak, selamat ...—“


 


Tut.....


 


Kebiasaan! selalu mematikan telepon sebelum selesai bicara. Hobi banget memotong pembicaraan orang. Sangat tidak sopan!


 


💚💚💚


 


“Selamat pagi, hari ini kalian kedatangan guru baru, namanya Bu Sinta beliau akan mengajar di bagian praktik bab perhotelan.” Ucap guru BK yang memperkenalkan Sinta pada murid kelas tiga itu. “Jadi nanti langsung saja ya Bu, kebetulan hari ini jadwal mereka praktik.” Sambungnya lagi pada Sinta.


 


“Oh, baik Bu. Terima kasih.” Sinta mengangguk ramah.

__ADS_1


 


“Cantik banget,”


 


"Umurnya beeapa ya kira-kira?"


"Putih banget kaya tisu."


“Sepertinya masih muda, dari mana ya dia?!”


 


“Dari kayangan kali.”


Ha ha ha ha ...


Keributan mulai tercipta kala Sinta memperkenalkan identitasnya. Lelaki di kelas Vania sangat heboh begitu melihat wanita cantik, anggun dengan balutan blazer berwarna hitam juga rok pendek selutut. Tubuh tinggi dan juga putih itu semakin membuat mata lelaki terpesona jika melihatnya. Walaupun dengan riasan seadanya, wajah itu begitu cantik natural.


 


Sinta memulai mengajar di kelas Vania dengan profesional. Meskipun gerogi dan penuh keraguan, Sinta berhasil melaluinya dengan baik karena semalam suntuk ia latihan di depan cermin. Hingga jam istirahat berdering, satu persatu keluar meninggalkan kelas itu, bertebaran bagai burung yang lepas dari sangkarnya. Tinggal tersisa tiga orang di sana, Ega, Vania dan Dina.


 


Dina yang duduk sebangku dengan Vania, matanya tiba-tiba terfokus pada Ega, dengan wajah bekas pukulan Sony kala itu yang masih membiru samar di tulang pipinya.


“Van, apa itu bekas pukulan dari Mas Sony?” tanya Dina berbisik memusatkan matanya pada Ega yang duduk di meja paling belakang.


 


“Ah, hmm ... mungkin, bisa jadi sih Din. Aku jadi merasa bersalah padanya.”


 


“Buat apa?! Dia yang mencoba kurang ajar sama kamu, kenapa kamu yang mengasihani dia!” maki Dina pada Vania.


 


“Eh dia ke sini Van, kita keluar aja yuk.” Dina melirik ke arah Ega yang sedang berjalan menuju mejanya.


 


 


“Din, aku mau bicara sama Vania. bisa keluar dulu?"


 


“Tidak bisa Ga, aku mau mengerjakan PR yang belum selesai.” Jawab Dina yang mencoba mencari alasan.


 


“Tolong Din, sebentar saja.” suara Ega lirih melemah dan memohon.


 


Vania mengisyaratkan bola matanya pada Dina menyuruhnya untuk pergi sebentar. Ia hanya penasaran dengan apa yang akan Ega katakan, juga sebenarnya ia ingin meminta maaf atas nama Sony yang sudah memukulinya malam itu. Namun ia juga kesal mengingat Ega sudah menyuruh temannya untuk membalas dendam pada Sony.


 


“Van, aku minta maaf. Aku minta maaf sama kamu atas segala perlakuanku sebelumnya ke kamu.”


 


“Kenapa kamu lakukan itu Ga?” Vania mengingat perbuatan Ega dua hari lalu yang sempat hampir menculiknya dan mengancamnya sehabis dari toilet kafe malam itu.


 


“Aku sudah bersalah, aku khilaf Van. Maafkan aku.” Ucap Ega melas menatap dalam mata Vania yang duduk di depannya terhalang meja. “Aku cemburu melihatmu dengannya Van.” Sambungnya lagi.


 


“Tapi tidak seharusnya juga kamu menyuruh orang untuk memukuli Mas Sony kan?! Kamu sudah kelewatan Ga.”


 


"Tapi dia yang memukulku dulu kan?!"


"Aku minta maaf atas nama Mas Sony, tapi asal kamu tahu Ga, Mas Sony meemukulimu bukan karena tidak ada alasan. Itu karena dia marah dan tidak terima atas perbuatanmu, kamu hampir menculikku, mengancamku malam itu."


“Cinta yang membuatku gelap mata Van. Aku tidak bisa berpikir jernih. Tolong jangan benci aku ya?” rayu Ega memelas memperlihatkan sisi lemahnya.

__ADS_1


 


“Jangan bawa-bawa cinta Ga. Yang jelas, kejadian kemarin sudah cukup membuatku hilang respect sama kamu.”


 


“Apa kamu tidak mau lagi berteman denganku Van?! Apa masih mungkin hatimu terbuka lagi untukku?!” tanya Ega.


 


“Aku maafkan kamu, aku juga masih mau berteman denganmu. Tapi untuk membuka hati. Itu tidak mungkin Ga, jangan terlalu berharap. Kamu juga tahu kan aku sangat mencintai Mas Sony.” Tegas Vania.


 


“Van, aku—aku tidak bisa jauh darimu, aku tidak bisa melupakanmu, aku sayang banget sama kamu Van, tolong mengertilah perasaanku.”


 


Kenapa kamu jadi seperti ini sih Ga, jelas-jelas kamu sudah tahu dan sudah berulang kali juga aku mengatakannya kalau aku hanya ingin Mas Sony, hanya dia di hatiku. Dari dulu sampai sekarang, aku tidak pernah memiliki rasa padamu. Hanya sebatas teman, kalaupun rasa itu lebih, mungkin itu hanya rasa simpati dan kasihan.


 


“Ehem! Vania, bisa ikut saya sebentar?!” suara lembut itu tiba-tiba menyapa memecah keheningan antara Ega dan Vania yang saling membungkam mulutnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun, tak tahu apa yang harus Vania katakan dan Ega yang sedang menunggu jawaban dari Vania.


 


“Oh, iya Bu.” jawab Vania, berdiri lalu mendekat.


 


Tanpa pamit dan bagai kesempatan emas, Vania meninggalkan Ega sendirian mengikuti Bu Sinta, guru barunya yang langsung menghafal nama Vania itu.


 


“Ada yang bisa saya bantu Bu?!” tanya Vania begitu sampai ruang perpustakaan.


 


“Apa kamu tidak ke kantin? Tidak makan?”


 


“Saya memang tidak pernah makan kalau jam segini Bu. Tadi sudah sarapan pagi di rumah.” Jelas Vania pada Sinta guru muda itu.


 


“Baiklah, kalau begitu tolong bantu saya cari buku ini bisa?” Sinta memberikan daftar catatan beberapa buku yang harus di carinya. Tanpa rasa curiga atau penasaran, Vania mencari buku itu.


"Terima kasih ya Van sudah membantu saya, kita bisa jadi teman kalau kamu mau." Ucap Sinta tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Dengan senang hati Bu." Vania menerima uluran tangan dari Sinta.


 .


 


Bersambung.....


 


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 

__ADS_1


 


__ADS_2