
Sony menyahut jaket kulit hitam di gantungan lemari lalu memakainya sambil berjalan keluar rumah kontrakan kecilnya. Menaiki motor merah kesayangannya membuat penampilan Sony semakin terlihat gagah. Kali ini bukan pergi dengan Vania, melainkan dia akan pergi ke tempat Pak Irawan untuk sekedar makan malam.
“Silahkan masuk Mas, Tuan dan Nyonya sudah menunggu.” Sapa Pak Tejo satpam di rumah Pak Irawan sembari membukakan gerbang mempersilahkan Sony masuk.
“Iya Pak, terima kasih.”
“Assalammualaikum om, tante.” Mengucap salam ketika membuka pintu berkode itu dan langsung menuju meja makan.
“Waalaikumsalam, lama sekali kamu datang Son. Udah jam berapa ini? lihat makanannya dingin lagi kan.” Ucap tante Reni dari meja makan.
“Ya Allah tan, kan baru telat setengah jam doang. Jalanan macet banget tadi soalnya. Maaf ya.” Sony menjelaskan sambil meraih tangan tantenya dan mencium punggung tangannya.
“Lain kali harusnya pulang kerja langsung kesini. Kan dikamar kamu juga banyak baju ganti.” Ucap tante Reni yang sudah menganggap Sony seperti anaknya sendiri.
“Iya tan, maaf. Sudah, yuk kita makan, udah lapar banget nih. Loh Om mana tan? Kok nggak kelihatan.” Tanya Sony mengedarkan pandangannya ke lantai atas, terlihat ruang santai di sana namun sepi.
“Om kamu masih di ruang kerjanya tuh, sebentar tante panggil dulu ya.” Bergegas naik memanggil om Irawan untuk turun dan mengajaknya makan.
Tak lama Om Irawan turun dengan membawa beberapa berkas yang tak tahu berkas apa.
“Om, kok kerja terus?. Di rumah itu istirahat om. Jangan kertas terus yang diurus. Biar nggak kecapekan.” Tegur Sony kepada Om Irawan yang lekas menduduki meja makan.
“Ada yang harus om urus Son. Ya sudah yuk makan, pimpin doa Son!” Ucap Pak Irawan menduduki kursinya.
“Oke om.” Berdoa dimulai.
“Makan yang banyak Son.” Ucap Bu Reni kepadanya.
“Iya tan,”
Tanpa ada percakapan mereka fokus makan dan hanya ada suara piring bergelut dengan sendok garpu. Karena sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka menanamkan adab di meja makan. Selesai makan mereka menuju ruang tengah untuk membahas sesuatu yang penting.
“Son ke ruang tengah, ada yang mau om bicarakan.” Ajak Pak Irawan.
“Ya om.” Jawabnya singkat dan gegas menuju ruang tengah mengikuti Pak Irawan dari belakang.
“Son, kamu baca ini sebentar.” Duduk, menyerahkan lembaran kertas yang bermaterai.
“Ini apa om?”
__ADS_1
“Sudah kamu baca dulu aja.” Jawab Pak Irawan.
Sony membaca dengan teliti. Selembar dua lembar telah selesai dibacanya. Terdapat beberapa pertanyaan mengambang di otak Sony. Terkejut dan juga tidak menyangka.
“Apa ini om? Kenapa harus Sony? Sony tidak mau. Terlalu berat buatku.” Bantahnya dengan nada halus.
“Son, itu sudah keputusan om sama tantemu. Jadi kamu tidak bisa menolak.” Tertulis di surat itu bahwa Pak Irawan mewariskan hotelnya di Jogja untuk Sony.
“Iya Son, kamu itu sudah kami anggap seperti anak kandung sendiri. Apalagi kamu sudah menyelamatkan nyawa om dan tante. Meskipun Ariana tidak bisa selamat.”
Beberapa tahun lalu ketika malam hari mereka pulang dari wisata dalam perjalanan tidak sengaja terjadi kecelakaan hebat yang mengakibatkan mobil yang di kendarai sopir Pak Irawan lolos menerobos jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang cukup dalam karena bertabrakan dengan truk yang hilang kendali. Sony yang pada saat itu dalam keadaan sadar, dia langsung berinisiatif keluar dari mobil yang berada di dalam air entah bagaimana caranya dia memecahkan kaca jendela mobil itu. Dengan badannya yang kejar dan memiliki tenaga yang kuat, satu persatu ia selamatkan dan membawanya ke tepi sungai. Namun nasib malang menimpa sepupunya itu karena ternyata dia mengalami benturan keras dikepala sehingga menyebabkan pendarahan otak yang cukup parah dan akhirnya meninggal setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu Sony dengan sabar merawat om dan tantenya yang juga berminggu minggu dirawat karena luka yang cukup parah.
“Son, kamu harus terima ya. Tanda tangan di sini. Biar om tenang dan bahagia.” Ucap Pak Irawan menunjuk kertas yang harus ditanda tangani.
“Om, tante, ini terlalu berlebihan. Aku sudah di terima di keluarga ini saja sudah sangat bersyukur. Om dan tante sudah begitu baik, sayang sama Sony. Tidak seperti papa sama mama yang selalu menekanku.”
“Son, sebenci apa pun kamu sama mereka. Mereka tetap orang tua kandungmu. Apa kamu tidak kangen dengan mereka?” ucap Bu Reni menasehati.
“Sony sayang sama mereka tan, tapi apa ada orang tua yang tega memaksa anaknya untuk menikahi perempuan yang bahkan aku tidak kenal. Hanya demi menyelamatkan perusahaan yang mereka banggakan. Aku tidak habis pikir tan.”
“Bukan begitu om, aku sangat nyaman cara hidup sederhana seperti ini. Tidak banyak yang harus dipikirkan. Tidak harus banyak tanggungan hidup dan lain-lain. Lagi pula jadi security itu asyik om. Bisa lihat pemandangan indah. Hehe ...” tertawa kecil seperti dibuat-buat.
“Pemandangan indah apa? Polusi iya. Ada-ada aja kamu.” Sahut Bu Reni sedikit sinis namun bercanda.
“Beneran tan, kan bisa lihat cewek cantik juga. Hahaha” tertawa puas.
“Oh, jadi kamu udah punya cewek? Terus nggak di kenalin ke tante? Nakal sekali kamu.” sahut Bu Reni melirik tajam seolah-olah memarahi.
“Belum tan, tapi memang lagi dekat aja kok.”
“Oalah yang kemarin kamu tolong itu? Anak magang? siapa namanya, om lupa? Vani ya kalo nggak salah? Atau Vina?” Pak Irawan menebak-nebak karena lupa.
“Vania om, dia gadis yang baik. Tidak seperti perempuan jaman sekarang. Dia sangat berbeda. “ mendeskripsikan Vania dengan tatapan kosong seolah sedang membayangkan wajahnya yang cantik.
“Sepertinya keponakan kita sedang jatuh cinta pah. Ha ha ha.” Sindir Bu Reni melihat Sony melamun.
__ADS_1
Tawa Bu Reni membuyarkan lamunannya, seketika dia salah tingkah. “Eh, tadi pembahasan kita sampai mana om?!” tanyanya menahan malu.
“Hahaha santai aja Son, kenapa sama om tante aja malu. Om jadi penasaran seperti apa wanita pujaanmu itu.” Menggoda Sony.
“Sudah om, kita bahas ini aja. Jangan bahas dia dulu.” Pura-pura meraih kertas yang tergeletak di meja. “Membuatku benar-benar tidak bisa fokus terbayang wajahnya yang imut.” Ucapnya pelan namun masih terdengar tantenya yang duduk di sebelah kanan agak berdempetan.
“Kamu lucu banget Son. Ha-ha-ha, baru kali ini tante melihat gerak gerikmu ketika sedang jatuh cinta. Ya ampun.” Lagi-lagi tantenya tertawa terbahak-bahak.
Ah, Dek kamu benar-benar membuat pikiranku kacau. Detak jantungku juga sepertinya mulai tidak normal sekarang, gara-gara ulahmu Dek, Ya Allah begitu indah ciptaanmu.
Sony memuja Vania dalam hati betapa tergila-gilanya dia saat ini. Lekas bucin nih. Hahaha
“Nah yuk kita selesaikan ini dulu, bagaimana Son? Kamu harus mau ya. Om tetap akan memaksa.”
“Tapi Sony belum benar-benar siap om sekarang, aku masih pengin menikmati hidupku yang sederhana ini, bebas lepas tanpa beban.”
“Ya sudah, kalau begitu kamu tetap tanda tangan. Tidak perlu kamu urus sekarang. Nanti ketika kamu sudah siap, kamu bilang sama om. Jadi om bisa mengurus hotel yang ada di Jakarta dan Bali. Tapi jangan terlalu lama ya.”
“Om, kalau suatu saat nanti aku menggantikan posisi om, apa yang akan staff katakan? mereka pasti tidak akan setuju. Apalagi posisiku di Security. Masa tiba-tiba langsung jadi owner. Nggak lucu om. Aneh malah. Iya kan?” tanya Sony kebingungan.
“Halah itu perkara mudah Son. Tinggal mengumumkan siapa kamu sebenarnya. Bekal apa yang kamu miliki dan yang paling penting kamu punya visi dan misi, tekat yang kuat.” Ujar Pak Irawan.
“Tapi om harus tahu, aku melakukan ini karena ingin membantu om saja ya. Bukan mau menikmati dan bersenang-senang.”
“Son, om sudah kenal kamu dari lahir. Om tahu kamu, makanya om tidak akan salah memilihmu sebagai pewaris om, ya meskipun om tidak ada apa-apanya dibanding papa kamu sih Son. Perusahaan papa kamu termasuk lima besar di Jakarta. Harusnya kamu bangga menjadi anaknya Gunawan Dirgantara dan Laras , malah memilih kabur dari rumah.” Ucap Pak Irawan sedikit menegaskan.
“Om, papah itu yang dipikirkan hanya bisnis dan perusahaan. Bagaimana agar bisa berkembang terus, maju. Sedangkan kakak aja sudah menjadi korban disuruh menikahi anak dari temannya dari perusahaan lain supaya bisa bekerja sama sebagai besan. Kakak juga mau aja.” Jelas Sony berkeluh kesah.
“Eh tapi jangan salah Son, kakak kamu dulu juga langsung suka loh. Makanya dia mau dijodohkan.”
“Yang jelas Sony tidak akan pulang om sebelum Sony berhasil membawa calon istri yang Sony cintai.” Tegasnya kepada Pak Irawan.
“Baiklah, om akan mendukung apa pun keputusanmu. Cepat sini tanda tangan.” Perintahnya memberikan pulpen dan berkas yang harus ditanda tangani.
Tanpa ragu lagi Sony menyetujui permintaan Pak Irawan. Meskipun dia juga belum tahu pasti kapan akan menempati jabatan itu. Kekayaan Pak Irawan tidaklah seberapa dibandingkan kekayaan yang dimiliki Pak Gunawan. Hanya saja Sony memilih untuk tidak menikmati harta orang tuanya dikarenakan selalu ada paksaan untuk dijodohkan.
Rendah hati yang dimilikinya jauh berbeda dengan watak orang tuanya yang begitu sombong dan memprioritaskan harta kekayaan bahkan mereka sering meninggalkan Sony ketika bayi karena sibuk mengurus bisnisnya keluar negeri. Dari kecil dia sering di titipkan ke Pak Irawan dan Bu Reni, makanya dia menjadi pribadi yang lebih baik ketika mendapat didikan dari om dan tantenya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Pak Irawan dan Bu Reni memasuki kamarnya untuk beristirahat. Begitu juga dengan Sony, dia memasuki kamarnya dirumah mewah itu. Tidak ada yang berubah meskipun jarang menginap namun asisten rumah tangga selalu membersihkannya.
Bersambung ...
__ADS_1
like vote jangan lupa ya..
terima kasih sudah mampir.❤❤☺***