Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Hari Terakhir Magang


__ADS_3

Hari berganti bulan, enam bulan telah berlalu, kini tiba saatnya masa magang Vania dan semua temannya telah usai. Itu berarti mereka akan meninggalkan semua yang berkaitan dengan hotel tempat mereka praktik, tempat mereka belajar, dan tentu saja tempat mereka mendapatkan pengalaman kehidupan baru.


Waktu enam bulan bukanlah waktu yang singkat, berkenalan dengan orang baru di tempat yang baru juga bukanlah hal yang mudah. Hingga mereka begitu dekat dengan karyawan dari departemen mana pun yang sangat berjasa mengajari mereka dengan sangat sabar. Terkecuali senior yang tidak waras, siapa lagi kalau bukan Pak Herman. Entah bagaimana nasibnya sekarang.


.


.


.


Sabtu, hari terakhir bekerja. Semua anak magang di wajibkan masuk, tidak ada jadwal libur karena  bersamaan dengan anak magang yang baru datang. Kita diharuskan mengajari anak magang baru, bisa di bilang mereka yang akan menggantikan posisi kita setelah kita kembali ke sekolah masing-masing di berbagai penjuru kota.


 


Terik matahari mulai menyapa, di setiap sudut ruangan. Tetapi tak menyulutkan niat kita sedikit pun untuk bersemangat menjalani hari terakhir di hotel tercinta ini.


 


“Van, teman-teman kamu bagian HK harus ke melati meeting room sekarang ya. Sudah di tunggu siswa dari kota A.” Ucap Bu Diana manager House Keeping.


 


“Baik Bu, terima kasih informasinya.”


 


Aku dan beberapa anak magang lainnya menuju ke melati room dengan berbekal ilmu saja. Dan kali ini aku benar-benar bangga karena aku yang ditunjuk untuk mempraktikkan cara kerja di departemen House Keeping di hotel ini. Itu berarti senior mengakui kalau kerjaku selama ini bagus. Bukan sombong yee ... tapi itu kenyataan adanya. 😝😁


 


Setelah kegiatan pembelajaran selesai, tidak ada kegiatan lagi. Hanya tinggal mengambil sertifikat di HRD, hasil nilai selama enam bulan magang. Dan beruntungnya, aku mendapat nilai terbaik di departemen House Keeping, hingga aku juga di berikan sertifikat khusus sebagai penghargaan. betapa bangganya aku.


.


.


.


Dari pagi hingga petang, bahkan kita masih berada di Hotel. Kali ini Mas Sony benar-benar susah mencariku padahal dia sangat ingin bertemu denganku. Apalagi setelah hari ini kita akan berpisah entah sampai kapan nanti bisa berjumpa kembali hanya takdir Allah yang bisa menentukan.


 


“Dek, temui Mas di kantin. Sekarang.” Pesan singkat yang aku baca di ponselku dari Mas tercinta, siapa lagi kalau bukan Mas Sony.


 


“Mas, boleh tunggu sebentar? Maaf, aku lagi sama teman-teman, rame banget di sini. Tidak enak kalau aku pergi begitu saja.” Balasku yang sedang bercanda gurau dengan teman magang lainnya dari departemen mana pun di taman belakang.


 


“Atau Adik lanjut saja. Nikmati waktunya sama teman-teman. Nanti pulangnya, Adik ikut aku ya. Mas pinjam raganya sebentar saja. Bolehkan?”


 


 


“Hah?! Pinjam raga? Apa sih Mas maksudnya?” tanyaku heran.


 


“Intinya Mas mau mengajak Adik ke suatu tempat, bisa? Ada yang mau Mas bicarakan.”


 

__ADS_1


“Iya Mas, bisa. Tunggu aku di pos ya :).”


 


Harusnya setelah ini aku dan temanku mengadakan acara makan-makan sederhana. Ya, sebut saja sebagai perpisahan. Tapi kalau di pikir-pikir kita sudah cukup lelah karena seharian berada di hotel. Lagi pula kita juga harus mengemasi barang-barang untuk pulang besok, hari minggu. Dan belum tahu juga, pukul berapa guru menjemput kita.


Akhirnya kita menuju kantor HK dan berpamitan kepada semua staf, termasuk Pak Adi. Suasana haru menyelimuti malam ini. Setelah tiga puluh menit berpamitan dan mendengar nasehat dari para senior, aku terlebih dulu meninggalkan kantor dan bergegas menemui Mas Sony.


“Selamat malam Mas.” Sapaku tersenyum ke Mas Sony yang berada di Pos Security. Menahan gejolak hati, menolak sedih mengingat sebentar lagi akan berpisah.


 


“Selamat malam Adik manis. Temannya mana? Kok sendirian?”


 


“Di belakang Mas, masih mengobrol dengan Staf HK (House Keeping).” Menjatuhkan tubuhku di kursi panjang depan Pos.


 


“Oh, sudah berpamitan sama Pak Adi dan staf yang lain Dek?” tanya Mas Sony mendekat.


 


“Sudah Mas tadi, ah rasanya sungguh berat meninggalkan tempat ini. Banyak sekali kenangan pahit, manis.” Ucapku memelas sedih mengusap sedikit air mata yang mulai terjatuh butirannya.


 


“Sabar Dek, tidak perlu bersedih yang berlebihan. Di mana pun setiap ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan. Entah perpisahan sementara atau selamanya.” Ucap Mas Sony menatapku membungkukkan badannya ke depan.


 


“Iya Mas, tapi sedih rasanya. Tahu tidak Pak Adi tadi Mas, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca ketika aku berpamitan. Beliau orang yang begitu baik, selama ini sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, banyak sekali pesan yang di sampaikan Pak Adi untukku, dan aku diberikan ini untuk kenang-kenangan Mas.” Menunjukkan sajadah kecil yang dibungkus rapi. Air mata semakin deras mengingat wajah Pak Adi yang berat berpisah dengan anak didiknya, terutama aku yang terdekat bahkan dia tak segan bercerita apa pun.


 


 


Aku menatap sayu wajah Mas Sony, wajah yang sebentar lagi tidak bisa kulihat langsung senyumnya, tak bisa lagi kudengar candanya, tak bisa lagi kurasakan perhatiannya, dan tak bisa lagi kurasa kehangatan kasihnya. Apa aku bisa jika berjauhan, sedangkan setiap hari aku selalu bergantung padanya. Seseorang yang selalu ada kaoanpun ketika aku kesusahan, ketika aku membutuhkan pertolongan. Kesabarannya sangat membuat hatiku nyaman berada di dekatnya.


 


“Kenapa melihat Mas seperti itu Dek?”


 


“Tidak apa-apa Mas,” aku menggeleng disertai jatuhnya buliran air mata yang membendung. "Apa aku siap berjauhan dengan Mas?" batinku.


 


“Kita bisa pergi sekarang Dek?”


 


“Tapi apa Mas sudah tidak ada jam kerja?” tanyaku.


 


“Tidak Dek, Mas kan harusnya pulang jam tiga tadi. Mas menunggumu.”


 


“Iyakah? Maaf ya Mas sudah menunggu lama.”

__ADS_1


 


“Bukan masalah Dek, yang penting sekarang kan sudah di depan Mas.” Tersenyum lembut. “Mas ambil motor dulu ya,”


 


“Iya Mas.”


.


.


.


Mas Sony mengajakku di sebuah restoran setelah aku mandi dan berganti baju di kos.


“Mas, kita mau apa di sini?” memarkirkan motornya di halaman restoran.


 


“Kalau di restoran, biasanya orang pasti makan Dek, he he ...  “ jawab Mas Sony tertawa kecil.


 


“Iya juga sih Mas, tapi aku masih kenyang. Bagaimana dong?!”


 


“Harus makan Dek, tadi kan cuma makan makanan ringan. Belum makan nasi, ya kan?” menggandengku masuk ke dalam restoran yang cukup ramai, tempat yang bagiku cukup mewah dan juga ada beberapa tempat yang begitu santai terkesan romantis.


 


“Kita duduk di sana ya Dek?” menunjuk meja di luar ruangan yang begitu santai dan jarak antara meja satu dengan yang lainnya cukup berjauhan. Di atasnya terdapat lampu-lampu kecil yang semakin menghangatkan suasana. Bunga yang terletak di sudutnya juga menyegarkan aroma malam. Sungguh nuansa yang indah.


 


“Mas, kenapa mengajakku ke sini? Kalau makan kan bisa di mana saja, tidak harus di tempat ini juga kan? Terlalu mewah Mas.” Mataku sibuk melirik kanan dan kiri menyapu sekeliling restoran.


 


“Dek, ini kan terakhir kali kamu di kota ini. Jadi nikmati saja ya. Jangan komplain. Oke? Mas juga ingin menghabiskan waktu bersamamu.”


 


“Mas, jangan bicara seperti itu. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh kalau bahas perpisahan.” Tiba di meja dan duduk berhadapan saling bertatapan.


 


Makanan yang telah di pesan sudah datang, aku dan Mas Sony menikmati makanan dengan santai. Dan kali ini Mas Sony tidak melarangku untuk berbicara. Biasanya jika aku makan dan banyak bicara dia akan menegurku. Mungkin Mas Sony juga menikmati suaraku yang besok sudah tidak bisa di dengar lagi secara langsung. Ah jadi sedih kan...


 



Senyum manis Mas Sony yang begitu menawan ketika makan.😝😁😁


Bersambung dulu...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2