
Raut muka panik terlihat jelas dari wajah Sony, nafasnya berembus tidak beraturan karena memikirkan keselamatan Vania.
“Ke mana kamu Dek, selalu membuatku kawatir.” Gumam Sony.
Sony melihat sekeliling luar toilet, dia menyusuri setiap sudut ruang di sekitarnya untuk mencari gadisnya yang hilang begitu saja yang entah ke mana perginya bagai di terpa angin.
Lelaki bertubuh tegap itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat, matanya tertuju pada satu titik. Sony menarik nafas panjang tatkala ia menemukan wanitanya tengah berjalan santai bersama Ega menuju pintu keluar kafe.
Dek, kenapa kamu pergi begitu saja dan memilih bersama Ega.
“Tunggu!” teriak Sony berlari menghampiri Ega dan Vania yang sedang bersamaan.
Vania yang berjalan beriringan dengan Ega sepertinya tak mengindahkan kehadiran Sony. Apalagi tangan Ega dengan sempurnanya menggandeng tangan Vania dengan erat. Meskipun Vania melakukan penolakan, Ega tetap berusaha memaksanya agar menuruti kehendaknya.
“Mas Sony, ma--maaf. Aku pulang sama Ega saja ya. Mas juga sebaiknya cepat pulang.” Ucap Vania dengan mata berkaca-kaca, menatap dalam netra Sony yang terdiam mematung.
Seperti tertancap pisau hati Sony sangat sakit mendengar kalimat Vania. Dia tak menyangka jika kekasihnya itu dengan mudah meninggalkannya begitu saja, seperti ada yang tidak beres. Apa yang di takutkan Sony akhirnya terjadi juga, Vania kembali pada Ega. Mantan kekasihnya yang sepertinya sakit jiwa. Namun Sony berusaha berpikir logis, tidak mungkin Vania menghianatinya.
Kenapa kejadian ini sungguh tiba-tiba, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin Vania semudah itu berpaling. Sedangkan sebelumnya baik-baik saja. Batin Sony yang masih keheranan dengan perilaku Vania, dia sungguh tak percaya dengan apa yang di lihatnya di depan mata.
“Jika kamu memilih Ega, harusnya sejak dulu saja. Sejak aku dan kamu menjalani hubungan jarak jauh. Kenapa baru sekarang. Apa yang kamu takutkan Dek?”
“Hei lepaskan Vania. Apa yang kau lakukan?!” Bentak Sony
“Diam! Pergi dari sini. Jangan ikuti kami! Percuma, Vania sudah tidak membutuhkanmu lagi!”
Ega dan Vania berlalu melangkahkan kakinya laju menuju tempat parkir.
“Sebenarnya ada apa ini Dek?! Sini ikut Mas!” tanya Sony berusaha menarik tangan kanan Vania. Ega yang menggandeng tangan kiri Vania pun reflek membalikkan badannya lalu menepis tangan Sony dengan sangat kasar.
Buliran hangat itu terjatuh, lolos begitu saja tanpa permisi melewati pipi mulus Vania. Tanpa bisa berkata, Vania hanya melihat sayu membalas pandangan Sony. Netra mereka bertemu seakan menyimpan seribu bahasa yang tidak sanggup di ungkapkan.
__ADS_1
“Mas, pergilah. Sungguh, aku akan baik-baik saja.” Ucap Vania dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
Mas, maafkan aku... aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mau Mas terluka karena aku. Maafkan aku. Ini sangat menyakitkan. Aku melihatnya Mas, sorot mata itu sangat jelas mengungkapkan perasaan Mas Sony saat ini, Mas pasti sedih dan bertanya-tanya. Aku harap Mas tidak membenciku. Batin Vania yang saat ini merasakan hatinya bagai tersayat pisau belati.
Vania terpaksa melakukan ini semua karena perintah Ega. Demi lelaki yang di cintainya, Vania rela melakukan perintah Ega agar Sony selamat.
Flash Back
Keluar dari toilet, Vania dengan langkah pasti akan kembali ke meja di mana Sony menunggu. Namun sialnya sepasang mata mengamatinya. Dengan sigap tangan Vania di tarik oleh Ega dengan kuat. Ega dengan kasar menggandeng Vania sangat kuat, membawanya ke sudut belakang toilet. Tempat yang cukup gelap dan tak satu pun ada orang yang melewati tempat itu
“Ega, lepaskan! Kenapa kamu membawaku ke sini?!” bantah Vania berusaha mengibaskan tangannya dari genggaman Ega namun sayangnya tenaga Vania sangat kecil, tidak sebanding dengan lelaki yang berbadan besar itu.
“Van, aku sudah cukup sabar selama ini menghadapimu. Tapi aku juga punya batas kesabaran, aku punya perasaan!” tutur Ega dengan penuh emosi dan tatapan tajam.
“Kamu mau tahu apa salah kamu?! Salah kamu, karena kamu sudah mengabaikanku. Kamu meninggalkanku. Dan kamu lebih memilih lelaki brengsek itu di banding aku! Apa kamu tidak bisa melihatku Van! Hah! Kamu pikir aku tidak sakit hati melihat kamu berciuman dengan dia! Sangat menjijikkan! Bahkan aku saja belum pernah menyentuhmu sama sekali. Kenapa kamu jadi murahan seperti ini!”
terang Ega sambil mencengkeram pipi Vania kasar dengan jari-jarinya. Dia mengingat kejadian di dalam kafe tadi ketika Sony mencium Vania. Ega sengaja mengawasi dan memperhatikannya dari jauh karena merasa tidak rela Vania berdekatan dengan Sony. Tak di sangka ada adegan yang membuat matanya sangat panas dan tersulut emosi.
“Ega sakit. Tolong lepaskan. Maafkan aku!” Vania menangis ketakutan melihat Ega tak seperti biasa. Dia seperti kerasukan roh jahat yang siap menghabisinya kapan pun.
“Jauhi dia! Putuskan dia! Kembalilah padaku! Dan jangan pernah kamu berhubungan lagi dengannya. Paham?!” teriak Ega.
“Tapi Ga.. a—aku sangat mencintainya. Dan kamu, kamu tidak pernah sedikit pun ada dalam hatiku, tolong pahamilah. Jangan memaksaku.” Vania yang berdiri di balik pohon semakin mundur tak berjarak dan tubuhnya kini membentur pohon besar itu, ia semakin terisak, keringatnya pun mengalir deras karena ketakutan.
“Kenapa?! Kenapa kamu tidak membukanya untukku Van, buka hatimu untukku. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi.” Pinta Ega memohon, suaranya melemah seperti menahan tangis karena mungkin hatinya bereaksi ketika ia mengungkap perasaannya pada Vania. Namun itu hanya sesaat. Sebentar suara bariton itu akan mengeras kembali ketika ia mengingat sosok lelaki yang berani merebut Vania darinya.
__ADS_1
Padahal Sony tidak merebutnya, Vania lah yang memilih jalannya, memilih lelaki yang pantas baginya, lelaki yang sangat membuatnya nyaman, menjadikannya seperti ratu. Bukan seperti Ega yang sifatnya keras dan egois.
“Ega, cukup. Jangan seperti ini. Tolong lepaskan aku.” Rengek Vania.
“Aku akan melepaskanmu. Tapi lepaskan juga perasaanmu padanya. Kamu akan tahu akibatnya kalau kamu masih bersama dia Van. Aku pastikan dia tidak akan bisa kembali lagi ke kotanya dengan selamat. Aku sudah tidak peduli, kalau aku harus terlibat kasus kriminal.”
“Sepertinya kamu sudah gila Ga! Bicaramu sungguh tidak masuk akal. Mana Ega yang kukenal?! Mana Ega yang selalu baik dan tidak pernah menyakiti wanita. Aku tidak menyangka kamu bisa setega ini sama aku. Lepaskan aku!”
“Aku tidak peduli Van. Kali ini aku benar-benar serius. Kamu tahu kan teman-temanku yang ikut bela diri, mereka mempunyai badan yang cukup besar. Kalau hanya untuk mematahkan tulang leher seseorang saja itu sangat gampang buat mereka.”
Vania mulai terpengaruh dengan setiap kata yang diucapkan Ega. Dia terpancing dan sangat ketakutan membayangkan Sony akan di keroyok oleh teman Ega. Vania cukup mengenal beberapa teman Ega yang jago bela diri dan bertubuh besar sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Ega.
Meskipun Vania tahu Sony juga hebat dalam berkelahi atau bela diri, namun tetap saja ia ketakutan karena lelakinya hanya seorang diri Dan teman Ega, tak tahu berapa jumlah yang mereka suruh untuk mengeroyok kekasihnya itu.
Membayangkannya saja sangat mengerikan, aku tidak mau Mas Sony kenapa-kenapa gara-gara aku. Apa lagi di sini dia tidak punya keluarga. Bahkan teman pun tidak ada. Bagaimana kalau nanti Ega benar-benar nekat? Bagaimana nanti kalau dia menyakiti Mas Sony.
Ya Allah, lindungilah Mas Sony.
*BERSAMBUNG....
......Hai readers baik, jangan lupa tinggalkan jejak ya*.........
...jangan lupa Komen, Like dan Vote. ...
...Kalau boleh kirim bunga atau kopi juga boleh😁...
...dukungan kalian penyemangat buat author....
...love you💚💚😍...
__ADS_1