Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Perdebatan


__ADS_3

“Jangan kurang ajar ya Son! Mama yang melahirkanmu, sekarang ini balasan kamu sama Mama?!”


 


“Maaf Ma, Sony tidak bermaksud kurang ajar sama Mama. Tapi sifat Mama yang seperti ini yang membuat Sony berontak dan menjadi pribadi yang kuat. Setelah Sony lama hidup sendiri di luaran sana tanpa kasih sayang, apa Mama masih berhak menuntutku untuk melakukan sesuatu yang Mama inginkan?” mata Sony sedikit berkaca-kaca mengatakan hal itu kepada Bu Rima. Tetapi ia masih menahannya agar tidak terlihat lemah di depan Papanya, Vania juga Mamanya yang sekarang tengah memarahinya.


Ia hanya tak menyangka, dari dulu hingga sekarang Mamanya tidak pernah berubah, egonya yang begitu besar, sangat menyakitkan hati Sony. 


 


“Sony – Sony berhak menentukan pilihan Sony sendiri. Sudah cukup Mama mengaturku, Sony akan berdiri di kaki Sony sendiri. Bahkan sepeser pun Sony tidak menginginkan harta Papa.”


 


Ma, pahamilah aku ... aku tidak ingin menambah dosa jika berhadapan sama Mama. Ya Tuhan, berikanlah hamba kesabaran, jangan biarkan amarah menguasaiku. Lembutkanlah hati Mama ... gumam Sony sesekali melihat wajah sang Ibu, Sony sangat merasa bersalah jika sampai orang tuanya tersakiti karena ucapannya.


Namun, apa yang dilakukan Sony semata-mata hanya ungin menyadarkan Bu Rima.


 


“Benar-benar kamu ya Son! Tega sekali berkata seperti itu!” Bu Rima menunjuk-nunjuk wajah Sony dengan kesal.


 


“Sudah-sudah jangan bertengkar. Ma, Sony itu sudah dewasa, dia sudah terbiasa mandiri. Sekarang biarkanlah dia menentukan pilihannya. Jangan terus kau tekan dia. Cukup berikan kasih sayangmu yang selama ini tidak kamu curahkan padanya.” Ucap Pak Gunawan dengan suara lirih.


 


“Pa, Papa kenapa tidak tegas sih. Lihat! Dari dulu dia tidak pernah mendengarkan omongan kita Pa.” Ujar Bu Rima meninggikan suara.


 


“Percuma Sony mencari pembenaran kalau jalan pikiran Mama saja berbeda dengan Sony. Sony minta maaf belum bisa menjadi anak yang baik, abelum bisa menjadi anak yang berbakti, dan belum bisa menjadi seperti yang Mama inginkan.”


 


Di waktu yang bersamaan, Vania hanya terdiam mendengar perdebatan yang begitu menggelegar dan menggema di seluruh ruangan karena suara Bu Rima yang selalu berteriak.


 


Ya Allah harus bagaimana aku, apa sebaiknya aku keluar saja? Batin Vania.


 


“Semua ini gara-gara kamu! kamu sudah mempengaruhi anakku hingga dia berani seperti ini!”


 


“Maaf, saya ... saya" ucap Vania dengan suara yang gemetar tidak bisa meneruskan kata-katanya. Mulutnya seperti terkunci, suaranya tercekat di tenggorokan.


 


“Ma, cukup Ma. Jangan bawa-bawa Vania. Dia tidak salah dan tidak tau permasalahannya.”


 


“Maaf, saya permisi.” Vania menunduk lalu berjalan keluar karena sudah tidak tahan. Telinganya serasa panas, juga hatinya merasakan perih saat ia mendengar makian Bu Rima.


 


“Dek!” teriak Sony pada Vania. “Pa, Sony pergi dulu, Sony akan kembali ...”  lanjutnya sambil mata menatap tajam Bu Rima, ia keluar dari kamar mengikuti Vania.


 


Vania berjalan dengan penuh kegundahan, air matanya telah membasah sempurna di kedua pipi mulusnya.


 


“Dek!” kejar Sony meraih tangan Vania.


 


“Maafkan Mas ya Dek atas sikap Mama, jangan di masukkan ke hati. Mas pun juga tidak sanggup kalau terus-terusan mendengarkan Mama bicara, Adik tidak apa-apa?”


 


“Aku tidak apa-apa Mas, aku hanya sedikit terkejut saja melihat Mas Sony marah-marah.” Vania berkelit menutupi kesedihannya karena ucapan Bu Rima.


 


“Mas, apa sebaiknya aku pulang saja?” ujar Vania yang masih terus melangkahkan kakinya menatap lurus ke depan tanpa melihat Sony di sampingnya.


 


“Pulang ke mana? Ini Jakarta Dek bukan Jogja, mana mungkin Mas membiarkanmu pulang sendiri, sabar dulu ya, kita kan belum sempat ngobrol sama Papa.”

__ADS_1


 


“Mas, kehadiranku tak diinginkan di sini, dan untuk permintaan Bapak. sebaiknya kita tunda saja dulu, aku tidak mau kalau nantinya akan semakin membuat Mama Mas Sony membenciku.”


 


“Sudah menyerah? Cuma segitu kah rasa sayangmu pada Mas?”


 


“Bukan begitu Mas, aku cuma tidak mau aku jadi penyebab pertengkaran antara anak dan Ibu.”


 


“Siapa yang menyalahkanmu, Dek? Tidak ada yang berpikiran seperti itu.”


 


Tidak ada? Sudah jelas-jelas tadi Bu Rima bilang seperti itu, Mas masih saja berusaha menenangkanku. Batin Vania sambil menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.


 


“Mas, apa Mas masih yakin mau menikahiku sedangkan Mama Mas Sony, beliau sepertinya tidak setuju dan tidak menerimaku.”


 


“Bukankah Mas sudah bilang Dek tadi, Mas tidak peduli Mama merestuiku atau tidak. Yang penting Papa mendukung keputusanku. Mas akan tetap menikahimu, jangan khawatir.”


 


“Tapi aku ingin mendapat ridho dari keduanya Mas.”


 


“Duduk sini dulu, Dek.” Sony mengajak Vania untuk duduk di sebuah kursi yang terletak di setiap koridor rumah sakit tersebut.


 


“Mas bisa memahami keinginanmu Dek, tapi Mas juga tidak bisa menjamin apa Mama akan bisa merubah pikirannya, jadi Mas harap kamu mengerti ya, kita menikah tanpa Mama juga bukan masalah besar.”


 


“Mas, aku akan merasa sangat jahat jika Mas tetap menikahiku tapi Mama Mas Sony tersiksa batinnya.”


 


 


Vania terdiam, tak satu pun kata keluar dari mulutnya, ia ikut merasakan kesedihan yang Sony alami, dari SMP sudah tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya.


 


"Aku bersyukur mempunyai orang tua yang sayang padaku, tidak seperti Mas Sony yang malang. Aku bisa merasakan kesedihan iyu meskipun Mas Sony tidak memperlihatkannya." Batin Vania. Ia lalu termenung sejenak, lalu mengalihkan pembicaraannya agar Sony tak merasa sedih mengingat masa lalunya.


 


“O, iya Mas. Nanti kita pulang jam berapa? Kita langsung ke Jogja kan?”


 


“Penerbangan adanya besok pagi Dek, jadi kita berangkat habis subuh.” Jawab Sony mengeluarkan ponsel dari sakunya.


 


“Terus kita tidur di mana Mas?”


 


“Hotel.” Jawab Sony singkat sambil fokus melihat ponselnya yang sedari tadi menerima banyak pesan dari Beni.


 


“Hotel?!” bagai mendengar sesuatu yang sensitif, telinga Vania langsung terbuka lebar. Ia membayangkan hal negatif jika dia dan Sony menginap di satu hotel.


 


“Apa yang kamu pikirkan Dek?” menarik nafas lalu tersenyum, kemudian ia mematikan ponselnya fokus pada Vania.


 


“Masa di hotel, Mas?” Vania mengernyitkan dahinya seolah tak percaya Sony mengajaknya ke hotel.


 


“Tenang saja Dek, kita di kamar yang berbeda. Mas masih waras.” Sony terkekeh lalu menarik pipi Vania dengan gemas. “Pikirannya sudah mulai traveling ya, Dek? Hahaha ...”

__ADS_1


 


Tanpa jawaban, Vania langsung menepuk kasar paha Sony yang duduk di sebelahnya.


 


“Mas, mau sampai kapan kita di sini?”


 


“Kita tunggu Mama keluar dulu ya, Dek. Nanti kita ketemu Papa lagi. Biasanya setelah jam makan siang Mama kembali ke perusahaan.”


 


“Baiklah. Mas, aku mau ke toilet dulu ya.”


 


“Mas antar Dek.” Sony berdiri menggandeng tangan Vania.


 


“Mas please, kita bukan mau nyebrang. Jadi aku sendiri saja, tidak perlu di gandeng.”


 


“Dek, memangnya kamu tau di mana toiletnya? Jauh sayang dari sini. Nanti kalau hilang bagaimana?!”


 


“Tidak mungkin Mas, aku bukan anak kecil.”


 


“Tetap saja kamu masih kecil di mata Mas”


 


Vania melirik tajam pada Sony dengan bibirnya yang di monyongkan. “Kenapa mau menikahi anak kecil?!”


 


“Bercanda sayang, Ya Allah ... jangan gampang marah begitu. jelek.” goda Sony.


 


Setelah perdebatan yang tak jelas akhirnya Vania menurut untuk pergi ke toilet diantar sang kekasih, dengan sabar Sony menunggu Vania di depan toilet,  bersandar di temboknya sambil memasukkan tangannya di kedua saku celananya.


 


 Bersambung...


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


...Terima Kasih .... lopyu pul dah....


... ...


...kenalan sama author yukk, follow IG @Epha_Yunitha...


... ...


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2