Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Tertidur Pulas


__ADS_3

Setelah mereka selesai dengan drama potong rambut. Tangan Sony tergerak meraih ponsel yang ada ujung meja. Ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari Om Irawan. Dia pun meminta izin Vania untuk pergi menelepon keluar rumah sebentar.


“Dek, Mas ke depan sebentar ya.” Berjalan dan membuka pintu.


 


“Mau ngapain Mas? Mas mau ke mana?”


 


“Mas cuma di depan rumah Dek, mau telepon sebentar. Sepertinya penting.” Berbalik menatap Vania.


 


“Oh, aku kira Mas mau merokok.” Jawab Vania.


 


“Mas tidak merokok Dek, masa sudah berbulan-bulan dekat belum tahu kalau Mas tidak pernah merokok.” Senyum menggoda. “Sebentar ya Dek.” Sony keluar rumah dan menutup pintu.


 


“Telepon siapa sih sampai harus menjauh dariku? Apa Mas Sony sedang dekat dengan cewek lain? Kalau cuma urusan hotel harusnya kan telepon di sini bisa.” Gerutu Vania yang duduk di ruang tamu sendirian.


 


“Assalammu’alaikum Om, ada apa? Maaf tadi Sony tidak tahu kalau om telepon.”


 


“Kamu ke mana sih Son? Om cari-cari di acara tadi tidak terlihat. Padahal om mau mengumumkan ke semua orang kalau kamu yang akan mengurus hotel ini.” Ucap Om Irawan di telepon.


 


 


“Maaf Om, tadi Sony harus mendadak pergi karena ada sesuatu yang urgent. Lagi pula Om juga kenapa harus di umumkan sekarang?! Kan perjanjiannya kalau Sony sudah siap Om?” bantah Sony yang sedikit menggerutu karena Omnya melanggar kesepakatan.”


 


“Maksud om hanya untuk di kenalkan saja Son, biar semua orang tahu. Masalah kamu urus hotelnya bisa nanti-nanti kalau kamu sudah siap.”


 


 


“Tidak om, Sony tetap akan keberatan kalau om memaksa untuk mengumumkan siapa Sony sebenarnya. Itu akan merubah semua kehidupan Sony sekarang Om.” Jawab Sony membantah.


 


 


“Oke-oke, baiklah om tidak akan mengumumkan dalam waktu dekat. Tapi jangan terlalu lama ya. Karena Om harus segera meninggalkan hotel ini, dan mengurus hotel yang ada di Surabaya.”


 


 


“Iya Om, ya sudah kalau begitu Sony tutup dulu teleponnya ya Om.”


 


“Oke, kamu beristirahatlah. Jangan tidur larut malam.”


 


“Siap Om!”


 


“Dek, maaf ya menunggu. Lama ya?” Sony membuka pintu melangkahkan kaki jenjangnya ke arah dalam rumah.


 


Tidak ada jawaban dari Vania, Sony pun mendekat sofa krem yang cukup besar itu, tubuh kecil itu meringkuk tertidur pulas. Senyum Sony tergambar jelas di wajahnya, melihat wanita kecilnya yang sedang memejamkan mata.


“Sungguh manis, tidur saja cantik Dek.” Ucap Sony lirih mengusap pelan dahi Vania.


Udara malam terasa mulai menusuk pori-pori, suara bising jalan raya sudah mulai tak terdengar hiruk pikuknya. Sony melangkahkan kakinya bergegas menuju kamar mengambilkan bantal dan selimut untuk membuat Vania nyaman dan agar tidak merasa kedinginan.


Perlahan dia membetulkan posisi Vania, membaringkan tubuh kecil itu memastikan agar tidak terbangun.


Sony menatap dalam wajah Vania, lalu ia mendudukkan dirinya di lantai, bersender tepat di samping kepala Vania.


Apa aku salah jika aku membiarkannya semalaman denganku? Meskipun tidak berbuat apa-apa. Tapi nanti apa yang akan di pikirkan teman-temannya? Jika aku membangunkannya, kasihan juga, dia sudah terlelap. Lagi pupa ini sudah jam sebelas malam.


 


Sony pun akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan malam berlalu tanpa memikirkan esok. Mereka pun terlelap dalam mimpinya masing-masing.


 


Suara azan subuh bergema terdengar di telinga,  Sony terbangun dan meregangkan otot tangan dan kakinya yang kaku karena semalaman ia tertidur dengan hanya bersender sofa, duduk dilantai tanpa alas.


“Dek, bangun sudah pagi.” Mengelus kepala Vania perlahan namun masih belum juga bangun. “Dek, bangun yuk, salat dulu.” Ulang Sony.


 


Vania terkejut dan langsung mendudukkan badannya. “Mas! Jam berapa ini?! Aku harus balik ke kos. Dina dan Kiki pasti mencariku.” Teriak Vania melihat jam, sesekali mengucek matanya yang masih lengket karena kantuk.


 

__ADS_1


“Dek, ini sudah subuh. Salat dulu baru Mas antar pulang ya.” Jawab Sony lembut.


 


“Hah?! Subuh?! Mas, kenapa tidak membangunkanku semalam?!”


 


“Mana tega Mas membangunkanmu Dek, kamu tertidur sangat pulas, ini minum air dulu.” Memberikan segelas air.


 


“Terima kasih,” meminum air pemberian Sony.


“Tasku mana Mas, HP?! Dina pasti meneleponku ribuan kali. Duh!” tepok jidat mencari ponselnya di dalam tas yang tergeletak di meja.


 


“Dek, kenapa berlebihan begitu. Tenang saja, oke?!”


 


“Mas, tapi nanti apa kata temanku jika aku semalaman tidak pulang mereka pasti berpikir aku macam-macam.” Mengusap wajah putus asa.


 


“Mereka tidak akan berpikir macam-macam kalau Mas yang bawa kamu Dek. Mereka pasti mengerti. Lagian kita juga tidak berbuat apa-apa kan?” Jawab Sony tertawa kecil.


 


“Ih Mas masih sempat-sempatnya bercanda. Aku serius.”


 


“Mas juga serius Dek. Sudahlah ayo bangun, kita salat. Habis itu Mas antar pulang.”


 


“Mas, memangnya di sini ada mukena?”


 


“Ada Dek. Cepat bangun, wudu dulu.” Perintah Sony.


Deg!


Bukannya langsung berdiri, Vania masih terpaku. Bagaimana bisa di kontrakan cowok bisa ada mukena? Apa ada wanita yang sering kesini? Siapa? Ah bangun tidur aku harus disuruh berpikir.


 


Setelah Sony selesai berwudu, dia menggelar sajadahnya di kamar kosong, mungkin memang di khususkan untuk ruang salat. “Dek ayo, kok masih di situ?” Vania melangkahkan kakinya pelan menuju kamar mandi. “Iya Mas, ini lagi jalan.”


 


 


“Mukena tante Dek.” Jawab Sony singkat dan langsung memulai sholat. Membuat Vania semakin bertanya-tanya.


 


“Tante?!” Masa Mas Sony dekat sama tante-tante? Ah tidak mungkin Mas Sony mengoleksi tante girang. Mungkin tantenya kali ya. gumam Vania dengan teka teki kepintarannya.


 


“Sudah jangan bengong terus Dek, ayo cepat di pakai. Jangan khawatir dan jangan berpikir aneh-aneh. Itu mukena tantenya Mas. Dia sering kesini sama Om. Sudah jelas ya?!”


 


“Oh, oke.” Bagaimana Mas Sony bisa tahu aku berpikir aneh? Apa dia bisa membaca pikiranku. Ngeri sekali kalau begitu.”


Vania otaknya lagi gesrek karena bangun tidur nyawa belum sepenuhnya terkumpul. 😂


 


***


 


Fajar mulai menampakkan sinarnya meskipun belum sempurna. Aroma segar embun pagi terhirup begitu khas. Sony kini bersiap untuk mengantar Vania ke kosnya, meskipun hari ini mereka mendapatkan jadwal libur.


 


“Dek, yakin mau pulang? Hari ini kan kamu off.” Tanya Sony sambil memakai jaket.


 


“Iya Mas, aku harus pulang. Tapi bagaimana nanti kalau ditanya dari mana, aku harus jawab apa? Belum lagi nanti ketemu mbak-mbak di kos yang kamarnya dekat ruang santai. Pasti cerewet.” Jelas Vania.


 


“Mas akan senang kalau Adik di sini. Atau kita jalan-jalan? Kalau pulang siang atau sore sekalian mereka pasti tidak akan curiga Dek. Dari pada membiarkan mereka berpikir macam-macam kan?”


 


“Iya juga sih Mas, tapi masa aku tidak mandi, tidak ganti baju dan lain-lain?”


 


“Di sini ada air Dek, kenapa harus bingung. Masalah baju dan yang lain nanti beli saja.” Jawab Sony enteng, mengurungkan niatnya untuk mengantar pulang.


 

__ADS_1


“Aku bingung Mas,” mendudukkan badannya dengan kasar di sofa. “Oh aku tahu! Aku harus telepon Dina dulu Mas.”


 


Vania mendapati ponselnya yang ternyata mati.  “Mas, kok mati ya? Perasaan baterainya kemarin penuh.”


 


“Coba dinyalakan dulu Dek,”


 


“Eh, ini masih utuh kok baterainya. Kenapa ya?! Atau jangan-jangan pas kejadian di kolam ya Mas. Kan aku sibuk sama rambutku. Aku lempar deh tasnya."


 


“Bisa jadi Dek, kebanting.”


 


Vania menjauh dari Sony yang sedang duduk di sofa menyenderkan badan dan kepalanya. Terlihat masih mengantuk karena tidur yang tidak betul semalam.


 


“Halo,”


 


“Halo, Van! Ke mana sih?! Di telepon enggak bisa. Menghilang begitu saja tanpa pamit. Suka banget bikin orang panik.” Belum sempat Vania bicara sudah mendengar omelan dari Dina.


 


“Ya maaf Din. Nanti aku cerita. Sekarang kalau aku pulang, di kos rame ya? Aku malas kalau ditanya-tanya nanti, akhirnya jadi bahan gibah.”


 


“Eh mending kamu pulang siang aja sekalian. Ini ibu kos juga lagi di depan belanja tukang sayur. Yang ada kamu di cegat lagi nanti. Memangnya kamu sekarang di mana sih, heran deh!”


 


“Aku di tempat Mas Sony. Kamu jangan khawatir, aku masih utuh. Aku tahu batasan dan perlu kamu ingat Din, Mas Sony tidak mungkin berani macam-macam terhadapku.”


 


“Iyaaaa, aku percaya. Aku juga enggak nanya kan?!”


 


“Sebelum kamu bertanya, aku sudah tahu jalan pikiran kamu Din. Dasar!”


 


“Sudah ya, aku mau tidur lagi. Ngantuk banget. Aku masuk siang. Nanti pulang sebelum jam tiga ya. Sebelum aku berangkat ke hotel. Kamu libur kan?!”


 


“Oke, siap bos. Aku libur hari ini. Yaudah kalau begitu, makasih ya. Bye!” menutup telepon dan menghampiri Sony.


 


“Mas, aku pulang siang. Katanya, ibu kos lagi di depan sama penjual sayur keliling. Pasti banyak ibu-ibu kompleks juga di sana, takut di cegat ditanyain nanti.”


 


“Baguslah, sekarang Adik mandi dulu terus kita jalan.”


 


“Ke mana?!”


 


“Beli baju ganti kamu Dek. Sekalian kita sarapan di luar.”


 


“Dingin Mas, Mas dulu saja yang mandi. Aku pengen tidur lagi sebentar. Hehe ... nanti, kalau Mas selesai mandi, bangunkan aku ya.”


 


“Baiklah Bocah kecil.” Berdiri mengacak rambut Vania.


 


“Mas, jangan panggil aku bocah bisa?!” ucap Vania sedikit ngambek.


 


“Siap Bos kecil! Ha ha ha.”


 


Mata Vania melirik kepergian Sony. Entah kenapa Sony mulai suka bercanda dan menggoda Vania.


 


 


 


 Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2