Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kegelisahan Sony (POV AUTHOR)


__ADS_3

Mulai Bab ini dan seterusnya, author akan memakai POV AUTHOR ya... agar ceritanya bisa meluas dan lebih detail.


Di sisi lain, Sony sedang bersiap untuk berangkat kerja. Dia memandangi dirinya di depan cermin, mengancingkan seragam putihnya, kemudian menyisir rambut. Seketika dia teringat gadis kecilnya sedang bergaya di depan cermin yang sama malam itu. Ketika itu, Sony memergoki Vania yang memutar badannya ke kanan dan ke kiri, memaniskan senyumnya, menata rambutnya, dan bergaya imut. Saat itu juga mereka berciuman untuk pertama kalinya. Vania selalu membuat Sony tersenyum geli melihat tingkahnya, “Sungguh sangat menggemaskan Dek tingkahmu, belum sehari aku sudah terlalu merindukanmu.” Gumamnya dalam hati.


 


Drrttttt.... Ponsel Sony bergetar, segera ia membuka pesan. Berharap dari Vania.


 


“Hay Mas ganteng, aku sudah di rumah sekarang. Sangat bahagia rasanya bisa berkumpul dengan keluarga. Apa Mas merindukanku?!”


 


“Hay gadis kecil, syukurlah kalau sudah sampai rumah. Saat ini Mas sedang melamunkanmu Dek, aku juga sangat merindukanmu.” Balas Sony tersenyum membayangkan wajah Vania yang imut.


 


“Mas, baik-baik ya di sana. Jaga matanya. Anak magang yang baru cantik-cantik. Awas kalau macam-macam!” Vania mengancam dari kejauhan membuat Sony semakin ingin melihat wajah cemburu Vania yang menggemaskan.


 


“Hahaha, tenang saja Dek. Mas tidak akan tergoda. Cukup bocah kecil ini saja yang mengisi hatiku.” Balas Sony, Menambahkan emot tertawa dan gambar love.


 


“Mas, semangat ya kerjanya. Sebentar lagi aku harus merapikan barang-barangku. Tolong kabari aku jika Mas sedang tidak sibuk ya.” Balas Vania.


 


“Siap Dek. Ini Mas juga mau berangkat. Emuuach.” Tulis Sony seketika membuat Vania melompat dari kasurnya karena bahagia.


 Begitu hebatnya lelaki ini bisa membuat Vania tergila-gila. Hahaha


.


.


Di Hotel, beberapa anak magang yang berada di pos security mengantri untuk pemeriksaan tasnya sebelum memasuki atau keluar area hotel. Sony yang sedang bertugas dengan Kris tampak lebih banyak diam karena Sony masih membencinya gara-gara dia berani menyentuh Vania waktu di acara Anniversary kala itu. Kalau bukan teman, mungkin dia sudah tidak peduli untuk menjaga sikapnya. Sony bisa saja nekat memukulnya namun ia takut akan melanggar peraturan di Hotel tersebut.


 


“Selamat Sore Mas.” Ucap salah satu anak magang yang terlihat cantik menawan, namun tak sedikit pun Sony meliriknya.


 


“Sore.” Jawab Sony singkat sambil meraih tas perempuan itu untuk diperiksa.


 


“Sore, siapa namamu?!” timpal Kris kegatelan melihat wanita cantik di depannya.


 


“Sari Mas.” Jawab perempuan melihat ke arah Kris sebentar, lalu dengan senyum yang merekah, pandangannya fokus ke Sony. Terlihat dia menyukai lelaki tampan di depannya.


 


Setelah Sony selesai mengecek tas wanita itu, dia segera masuk ke dalam pos security. Meredam emosinya yang lagi-lagi dia sangat muak dengan tingkah Kris yang selalu mempermainkan wanita.


 


“Seandainya kamu masih di sini Dek, pasti Mas tidak akan semurung ini. Rasanya sangat sepi tidak melihat senyummu sehari saja. Kau tahu, bagiku tidak ada wanita yang menarik selain kamu.” Batin Sony.


 


“Son, kok malah ke dalam?! Banyak anak magang yang keluar masuk ini.” Ucap Kris di depan pintu Pos menyuruh Sony keluar untuk membantunya.


 


“Kamu saja, bukankah kamu lebih suka melihat wanita-wanita cantik?!” jawab Sony sinis sambil menulis data tugas yang harus di isi.


 


“Ayoklah, bilang saja kamu juga ingin cuci mata kan?! Timpal Kris dengan bercanda.


 

__ADS_1


“Sudah sana Kris. Jangan menggangguku.” Singkat Sony malas menanggapi Kris.


 


“Dasar lelaki bodoh, dikasih peluang melihat wanita cantik malah tidak mau.” Gumam Kris lirih meninggalkan Sony.


 


Sony mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi berlogo hijau. Di tulisnya pesan singkat kepada Vania.


“Dek, sedang apa di sana?”


Beberapa menit, jam, Vania juga tak kunjung membalas pesannya. Sony mulai gundah dan semakin gelisah. “Bodoh kamu Son, kenapa kamu harus sekhawatir ini, dia sedang aman di rumah. Buat apa kamu terlalu memikirkannya? Kamu hanya kesepian, dasar bucin..” Sony terus mengutuki dirinya yang selalu memikirkan Vania. Apa Vania juga memikirkanku seperti ini? Apa aku yang terlalu berlebihan?!


 


Sony berulang kali memeriksa ponselnya, berharap ada balasan dari Vania. Ternyata nihil. Hingga pukul sembilan malam, Sony sudah tidak bisa menahan rasa rindunya. Dia menelepon Vania di tengah tugasnya yang sedang melakukan operasi keliling koridor dilantai atas. Seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya dengan Vania. Dulu, setiap kali keliling koridor, dia juga selalu menemani Vania membantu tugasnya keliling dari kamar ke kamar untuk mengecek barang tamu yang belum lengkap.


 


Satu, dua kali berdering masih juga tak diangkatnya. Ke mana kamu Dek, kenapa tidak membalas pesanku,, kenapa tidak mengangkat telepon dariku?


Sony putus asa dan meletakkan ponselnya di dalam saku. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Dilihat nama yang tertera ‘Gadis Kecilku’ segera dia mengangkatnya, dan ...


Tanpa mengucapkan salam, Sony langsung menyerocos bak petasan.


“Dek, ke mana saja seharian ini. Kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tidak mengangkat teleponku juga?!” terlihat suara Sony yang sedikit meninggikan suara.


 


“Maafkan aku Mas, dari sore aku sibuk merapikan barangku, dan pergi ke tempat bibi, HP kutinggal. Jadi tidak tahu kalau Mas menghubungiku. Maafkan aku. Jangan marah Mas.” Vania menjelaskan dengan detail.


 


“Lain kali jangan seperti ini Dek, membuatku khawatir saja.” Ucap Sony menghela nafas.


 


“Mas tidak perlu khawatir, aku di rumah pasti akan baik-baik saja. Jangan marah dong.” Jawab Vania merayu.


 


 


“Maaf sayang, hehe.” Vania tertawa kecil, bahagia mendengar suara lelaki yang ia cintai mengkhawatirkannya.


 


“Besok kalau Adik sibuk, tolong hubungi Mas terlebih dahulu. Jadi Mas tidak khawatir seperti sekarang. Paham Dek?” tegas Sony.


 


“Mas, bukankah sore tadi aku juga bilang, aku harus merapikan barangku? Kenapa Mas harus berlebihan memikirkanku? Sepertinya Mas terlalu merindukanku. Hahaha.”


Tawa Vania dari kejauhan menertawakan kelucuan Mas Sony.


 


“Tidak lucu Dek, Mas hanya risau aja. Sudah jangan di bahas. Sekarang Adik sedang apa?” tanya Sony mengalihkan pembicaraan yang sepertinya malu.


 


“Sedang mempersiapkan seragam buat sekolah besok Mas. Mas sedang apa?”


 


“Mas sedang keliling koridor Dek, sendirian. Biasanya ditemani wanita cantik yang sangat imut. Huhh, benar-benar kesepian rasanya.” Sony menghela nafas meratapi kesendiriannya.


 


“Kasihan sekali Mas, tapi aku tidak akan rela jika Mas berani menemani wanita lain ketika keliling koridor. Apalagi, anak magang yang sekarang luar biasa cantiknya. Aku tidak ada apa-apanya Mas dibanding mereka.” Vania mulai gusar.


 


“Dek, berapa kali Mas bilang, Mas tidak akan tergoda dengan wanita mana pun. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Paham sayang?!” tukas Sony.


 

__ADS_1


“Aku percaya sih Mas, tapi ya tetap saja ada rasa takut. Aku kan jauh, tidak tahu apa yang terjadi di sana.” Jawab Vania.


 


“Apa Adik pikir Mas di sini juga tidak kepikiran?! Di sana Adik selalu bertemu dengan Ega dan lelaki lain di sekolah yang mungkin lebih muda, ganteng. Tidak seperti Mas.”


 


“Mas, asal Mas tahu. Adik itu suka lelaki Tua seperti Mas. Hahaha.” Tawa Vania puas mengatai Mas Sony tua, meskipun sebenarnya belum pantas di sebut tua. Lebih tepatnya dewasa karena selisih 10 tahun dengannya.


 


“Sudah berani mengataiku ya Dek?!” pintar sekali.” Jawab Sony seperti marah yang di buat-buat.


 


Vania lagi-lagi tertawa terbahak-bahak sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang sangat nyaman. Hingga terdengar dari luar,


 


“Nduk, Van, telepon siapa sampai tertawa seperti itu?!” Tanya Bu Tia, ibu Vania yang langsung membuka pintu kamarnya.


 


‘Eh-ehm anu buk,, Dina. Telepon dari Dina.” Ucap Vania berbohong.


 


“Cepat tidur Van, kamu kan besok sekolah. Buat apa telepon kalau besok ketemu juga sama Dina.” Lanjut Bu Tia yang masih berdiri di tengah pintu.


 


“Iya ibuk, sebentar lagi Vania tidur.” Jawab Vania.


 


Sony mendengar suara Bu Tia dari teleponnya. “Dek, sebaiknya memang Adik harus tidur. Pasti capek kan seharian perjalanan dan langsung merapikan barang. Belum sempat istirahat juga.”


 


“Iya Mas, kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya. Besok disambung lagi.”


 


“Oke sayang.” jawab Sony singkat yang membuat Vania bahagia mendengar sebutan Sayang.


 


“Assalammualaikum Mas,”


 


“Walaikumsalam Adik Manis. I Love You.”


 


“Eh, I Love You Too.” Ucap Vania cepat segera mematikan teleponnya karena belum terbiasa dengan ucapan itu. Membuatnya tertawa dan senyum-senyum sendiri setelah mengakhiri panggilan.


 


“Dasar bocah, mengucap I Love You saja masih malu-malu.”  Batin Sony, tertawa dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia melanjutkan tugasnya yang tertunda karena menelepon sang pujaan hati. Sekarang ia semakin tenang dan sedikit menebar senyum bahagianya. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat kusut. Akhirnya mood kembali membaik.


***BERSAMBUNG.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YA, TINGGALKAN JEJAK.


LIKE


KOMEN


VOTE


THANKS SUDAH MAMPIR.💚😍***


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2