Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Wanita Susah Dipahami


__ADS_3

Enam jam sudah waktu berlalu, kini saatnya semua siswa bersiap diri untuk pulang. Vania merapikan buku-buku yang berserakan di meja lalu mengalungkan tasnya ke pundak. Ia melangkahkan kakinya keluar kelas bersama dengan Dina, berjalan beriringan sambil berbual saling curhat. Tak terasa jarak beberapa meter antar kelas dengan halaman depan Sudaah mereka lalui.


 


Sesampainya di halaman depan, Vania menengok ke kanan dan ke kiri ke luar gerbang sekolahnya. Tak di temukan sosok lelaki yang berjanji akan menjemputnya,


 


“Ke mana kamu Mas?! Kenapa belum sampai?!” batin Vania sambil merogoh benda pipih di tasnya. Di tekannya nama ‘Mas Sony’ di daftar kontaknya lalu meneleponnya. Tidak di angkat.


 


Lima belas menit Vania menunggu masih juga tak terlihat juga batang hidungnya. Mondar-mandir seperti kitiran meskipun ada kursi panjang menantinya untuk di duduki. Dina yang sedari tadi melihat Vania merasa kesal, sangat mengganggu matanya.


 


“Bisa duduk nggak! Yang tenang dong.” Bentak Dina pada sahabatnya yang tengah gelisah memikirkan Sony.


 


Vania menghela nafas panjang, “Din, aku takut Mas Sony kenapa-napa. Aku telepon dari tadi juga tidak di angkat. Tidak biasanya Mas Sony seperti ini.”


 


“Tunggu lima belas menit lagi, kalau tidak datang juga, aku antar kamu mendatangi hotel tempat Mas Sony menginap.” Ucap Dina berusaha menenangkan Vania.


 


“Lima belas menit itu sangat lama Din!” tukas Vania mendudukkan kasar tubuhnya di kursi panjang di samping Dina.


Dina melirik tajam sahabatnya yang tidak bisa bersabar, sebentar ia fokus ke ponselnya yang ia pegang.


 


Vania masih terus menghubungi Sony walaupun tidak ada jawaban darinya, “Kamu ke mana sih, Mas?” gumam Vania.


 Gelisah dan khawatir sangat di rasakannya, dia tidak bisa membayangkan kalau Ega benar-benar nekat menemui Mas Sony dan melukainya. Vania mulai gusar, wajahnya tampak murung. Menunduk hampir menjatuhkan air matanya yang sudah mulai menggenang.


 


“Van, sepertinya aku sudah di jemput kakakku. Aku pulang duluan, ya?” ucap Dina menggugah lamunan Vania yang tertunduk. Dengan gerakan cepat tangan Vania mengusap air mata itu agar tak terlihat sahabatnya.


 


“Ah, iya hati-hati ya Din.”


 


“Kamu enggak apa-apa aku tinggal?!”


 


“Santai aja, udah sana pulang!” pinta Vania.


 


“Oke deh, bye!” Dina berjalan meninggalkan Vania di kursi bawah pohon nan rindang itu sendirian, semakin lama halaman sekolah itu semakin sepi, siswa yang tadinya berkerumun di setiap sudut kini telah berhamburan meninggalkan gedung sekolah itu menuju rumah masing-masing. Mengistirahatkan otak mereka dari angka dan huruf yang mereka pelajari di sekolah beberapa jam yang lalu.


 


Vania terdiam memandangi bunga di taman bergantian dengan memeriksa ponselnya berharap Sony lekas memberi kabar. Pandangannya kosong ke satu tituk, lalu air mata itu lolos begitu saja.  


 .


.


Derap langkah kaki perlahan mendekati Vania, tangannya mengelus pucuk kepalanya. “Dasar cengeng! Kenapa menangis?!” suara lembut itu membuyarkan lamunan Vania. Ia berbalik menatap kehadiran pria gagah yang di tunggunya tiga puluh menit yang lalu. Sony berdiri di samping Vania yang terduduk.


 


“Mas Sony!” Vania berdiri terkejut, ingin memeluk namun ia masih sadar itu area sekolah. Ia mengurungkan niatnya.


 


Sony tersenyum lembut lalu menghapus air mata Vania yang sudah membasahi pipinya.


“Maaf ya Dek, Mas terlambat. Sudah menunggu lama ya?!”


 


“Mas tidak apa-apa, kan?” tanya Vania memutar badannya mengelilingi Sony, memastikan ia selamat dan tidak ada yang terluka.


 


“Aku baik-baik saja Dek, memangnya kenapa?!”


 


“Kenapa? Aku menunggumu sangat lama Mas, sendirian. Dan Mas Sony tidak memberiku kabar sama sekali.”


 

__ADS_1


“Iya Mas salah, Mas minta maaf ya, tadi harus cari pom bensin dulu Dek, karena lupa kalau sudah nipis banget dan antriannya lumayan panjang.”


 


“Hah?! Bensin?!” aku di sini menunggu dengan penuh kekhawatiran, air mata udah jatuh juga, eh ternyata malah cuma beli bensin. Menyebalkan! Batin Vania.


 


“Kenapa tidak meneleponku. Kan bisa kirim pesan Mas. Biar aku enggak kepikiran kaya orang gila.” Gerutu Vania.


 


“Mana boleh di Pom pegang ponsel Dek. Yang penting sekarang Mas sudah ada di sini, kan?”


 


“Tetap saja aku masih kesal sama Mas Sony.” Menyilangkan kedua tangannya dan membuang muka ke samping.


 


“Dek Vania yang cantik dan imut, Mas beliin es krim yuk. Biar nggak manyun terus bibirnya.” Sony berusaha merayu.


 


“Aku bukan anak kecil yang bisa di sogok dengan es krim.” Sewot Vania.


 


“Terus maunya ke mana?”


 


“TERSERAH.”


 


“Adik mau makan? Pasti lapar, kan?”


 


“NGGAK.”


 


“Mau jalan-jalan ke taman kota?!”


 


“TERSERAH.”


 


 


“NGGAK!” Vania semakin memicingkan matanya dan memonyongkan bibirnya tujuh senti.


 


Sony pun terdiam sejenak mulai kebingungan memahami kemauan gadis kecil yang berdiri di depannya itu, ia menggaruk kasar kepalanya yang tak gatal. Apa semua wanita begini kalau ngambek?


 


“Kenapa Mas diam?” lirik Vania dengan sinis ketika melihat ekspresi Sony yang bengong.


 


“Ah, Mas hanya...”


Kenapa serba salah aku dibuatnya. Ah perempuan!


 


Tak menunggu jawaban dari Sony, Vania langsung menyela. “Sudahlah kita pergi dari sini. Capek aku melihat gedung sekolah.”


 


Bahkan gedung sekolah yang tidak salah pun kamu salahkan Dek, astaghfirullah. Ada-ada saja. Sony mengelus dada bidangnya.


 


Vania berjalan menuju motor Sony, cardigan panjang abu-abu yang di pakainya membuat langkah Vania semakin terlihat kasar karena bergesekan dengan tangannya. Nafasnya memburu bercampur kekesalan.


 


Sony yang mengikuti Vania dari belakang segera menarik tangannya. “ Dek, pelan-pelan kalau jalan. Kesandung nanti jatuh.”


 


“Aku juga bisa hati-hati Mas.”


 

__ADS_1


“Kita mau ke mana?!” Sony bertanya lagi karena masih bingung akan di bawa ke mana gadisnya itu.


“Kan tadi aku bilang terserah Mas.” Menaiki jok belakang motor Sony.


 


“Terserah itu kata luas Dek. Mana bisa Mas membaca pikiranmu. Yang jelas ya, biar Mas juga nggak kebingungan.” Ucap Sony berusaha berkata lembut. Di kota Vania Sony belum terlalu hafal jalan dan juga lokasi-lokasi yang biasa untuk bersantai menikmati pemandangan.


 


“Kok Mas marah ke aku?”


 


“Ya Allah.... Mas tidak marah Dek. Mas bingung harus bagaimana.” Ya Tuhan kenapa menghadapi satu wanita saja begitu merepotkan, kalau bukan karena sayang tidak mungkin aku seperti orang bodoh sekarang. Batin Sony.


 


“Ya sudah ayo. Kita pergi dari sini Mas!” pinta Vania.


 


“Pegangan Dek!”


 


“Enggak mau!”


 


“Nanti jatuh.”


 


“Nggak Mas, aku sudah pegangan ini. Jangan khawatir.” Karena gengsi, Vania akbirnya memilih berpegangan besi belakang jok motor yang hanya secuil itu.


 


Tanpa berkata lagi, Sony sengaja memutar gasnya lebih kencang dari sebelumnya agar Vania mau berpegangan dan memeluknya dari belakang seperti biasa yang ia lakukan. Dasar modus kau Son.


 


“Mas, pelan-pelan dong! Kalau aku jatuh gimana?!”


 


“Makanya kalau Mas suruh pegangan ya pegangan Dek. Yang nurut, jangan bandel!”


 


Akhirnya Vania pun memeluk erat tubuh gagah Sony, seperti perangko yang menempel sempurna. Tangannya yang melingkar di perut Sony pun turut andil dalam keromantisan yang di ciptakan dua insan di atas motor tersebut tanpa menghiraukan pengendara lain. Dunia serasa milik berdua ketika di mabuk asmara.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.... Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


... ...


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2