
“Oh, jadi begitu? Kamu memang sama sekali tidak mempunyai hati ya Van. Tega sekali kamu berbicara seperti itu.” Suara Ega mulai membuat beberapa telinga mendengarnya dan melihat ke arahku.
“Iya memang aku jahat, jadi sebaiknya lupakan perasaan kamu itu karena sampai kapan pun aku tidak akan menjalin hubungan denganmu lagi. Maaf kalau aku sudah menyakitimu. Lebih baik menjauh dari pada kamu merasa tersakiti olehku.” Aku berdiri mengarah ke Ega, panjang lebar aku berbicara padanya tidak peduli semua teman melihat perdebatanku dengannya.
“Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu, sekalipun kamu menolakku. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan sadar dan mencariku, karena kamu akan mengerti betapa aku mencintaimu dengan tulus. Tidak ada yang memiliki rasa sebesar cintaku Van, kamu harus membuka matamu.” Ucap Ega dengan sorot matanya yang tajam. "Duduklah dulu," lanjut Ega.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani melerai perdebatanku dengan Ega. Yang ada malah mereka menikmatinya sebagai tontonan seperti drama dadakan yang seru bagi mereka. .
“Terserah apa katamu Ga, yang jelas aku juga akan tetap teguh dengan pendirianku. Bagiku hal mustahil untuk aku berhubungan denganmu lagi. Aku sudah cukup capek dengan sifat kamu. Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke kursi kamu. Aku mau duduk di sini, aku mau istirahat.” Ucapku pasrah masih berdiri membuang muka.
“Ega, ngapain di sini?! Minggir.” Ucap Dina yang baru saja masuk bus, mengusir Ega menarik lengan bajunya.
“Syukurlah kamu datang Din.” Sahutku.
“Aku belum selesai bicara sama Vania, kamu ke depan dulu Din.” Jawab Ega dengan santainya, keberatan untuk beralih tempat.
“Tolong Din, aku sudah pusing banget.” Ucapku memelas pada Dina agar membujuk Ega pergi dari kursiku.
“Ega! Pergi enggak?! Cepetan! Kamu tidak lihat Vania sudah pucat begitu?!” ketus Dina setengah emosi.
“Bawel banget jadi cewek.” Gerutu Ega sambil berdiri meninggalkan kursiku.
“Si Ega ngapain sih Van tadi? Ngomong apa saja dia?!” Tanya Dina sambil menjatuhkan badannya dengan kasar ke kursi.
“Tahu enggak, dia bilang, dia tidak akan menyerah mendekatiku sampai kapan pun. Dan berulang kali dia menjelekkan Mas Sony. Siapa yang tidak emosi coba.”
“Dasar gila! Kamu juga sih, kenapa dulu sampai mau menerimanya. Sudah tahu dia orang yang keras kepala.” Dina mengomel menyalahkanku karena pernah berpacaran dengan Ega walau terpaksa.
“Dih, kok malah nyalahin aku sih. Bukannya ngebelain. Lagian kalau dulu Widya tidak memaksaku, aku juga tidak mungkin jadian dengan dia. Sudahlah Din jangan dibahas lagi. Males banget.” gerutuku.
“Sekarang dan ke depannya kamu akan terus berdekatan dengan Ega Van. Akan susah buat kamu untuk menghindar. Sama aja kamu terjebak. Menjauh atau membenci, Ega pasti akan semakin berontak, tapi kalau kamu baik-baik saja dengannya, itu akan membuat dia berpikir kalau kamu memberinya harapan lagi. Susah juga kan?!” cetus Dina menjelaskan panjang lebar.
“Lihat saja nanti Din, yang jelas aku akan bersikap sewajarnya. Aku juga tidak akan mungkin kembali pada Ega, sekalipun aku berhutang nyawa sama dia. Itu sangat mustahil. Perasaanku cuma buat Mas Sony. Pikiranku sudah di penuhi olehnya.” Jawabku meyakinkan.
Perasaan untuk Ega sedikit pun memang tidak ada, kosong dari dulu. Keterpaksaanku menerimanya menjadi pacarku adalah keputusan yang salah. Siapa tahu pada akhirnya Ega yang selalu memelas mengemis cinta, kini berubah drastis menjadi pribadi yang suka memaksa dan keras kepala.
__ADS_1
Perjalanan panjang memakan waktu sekitar lima jam, melewati beberapa kota dengan suasana hiruk pikuk, menjalani kesibukannya.
Pukul 15.30, bus pun tiba di sekolahan. Sudah banyak orang tua atau keluarga yang menanti kedatangan kami. Aku menuruni bus dengan membawa tas berisi oleh-oleh dan boneka raksasa pemberian Mas Sony, sedikit memalukan. Mataku tertuju pada seseorang yang tersenyum bahagia, terlukis jelas di wajah lelaki berusia 50 tahun yang tengah duduk di sebuah kursi di halaman sekolah. Ya, dia lelaki pertama yang mencintaiku dengan tulus, lelaki hebat yang tiada tanding. Pahlawan terhebat, dialah Bapakku.
“Assalammu’alaikum Bapak.” Sapaku menghampirinya dan mencium punggung tangannya, Bapak memelukku tanda dia merindukan anak sulungnya.
“Waalaikum salam nduk, Alhamdulillah akhirnya selesai juga nduk magangnya.” Melepas pelukannya.
“Iya Pak, Alhamdulillah, mataku berkaca-kaca karena bahagia. Bapak apa kabar? Sehat kan?” duduk di kursi panjang.
“Alhamdulillah sehat nduk. Kamu juga sehat kan? Bagaimana tadi perjalanannya? Lancar?”
“Lancar kok Pak, hanya sedikit macet.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Ini boleh langsung pulang atau masih ada yang harus diselesaikan nduk?”
“Langsung pulang kok Pak, tidak ada yang perlu diurus lagi. Vania ambil tas dulu di bagasi ya Pak.”
“Biar Bapak bantu nduk.” Berjalan menuju bagasi bus.
“Iya Pak.” Jawabku.
“Iya Pak, yang itu.” Sambil aku mengeluarkan tas tenteng satu lagi.
Aku dan bapak berjalan menuju tempat parkir motor. Sambil membawa barang bawaan yang cukup banyak.
“Nduk, itu boneka siapa kamu bawa-bawa? Besar sekali.” tanya bapak penasaran.
“Bonekaku Pak, tapi ini pemberian teman kok.. Vania juga tidak mungkin membeli boneka sebesar ini Pak. Hehe ... “ jawabku sambil tersenyum dan berbohong mengatas namakan teman. Maaf Pak, Vania belum bisa cerita ke Bapak kalau Vania mempunyai kekasih di tempat magang. Takutnya bapak memarahiku.
“Oalah, ya sudah kalau begitu.”
Setelah berpamitan ke Bu Triana, aku dan Bapak meninggalkan sekolahan yang cukup membuatku rindu akan masa-masa belajar di bangku kelas. Terlihat ada beberapa bangunan yang berubah lebih tinggi, dan cat dinding yang juga berubah warna menjadi lebih terang. Taman di sekitar halaman semakin menghijau di penuhi rumput hias, ditambah bunga yang mekar beraneka macam membuat mata yang melihat sejuk memandangnya. Aku berjalan menyusuri halaman menuju tempat parkir bersama Bapak.
.
.
.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, kudapati kedua adikku yang sedang berada di depan rumah. Sepertinya mereka memang menunggu kedatanganku.
“Assalammualaikum...” ucapku.
“Waalaikum salam,” dijawab kompak kedua adikku.
“Mbak ... hore mbak Vania pulang.” Sambut Rafa Adik lelakiku yang berusia delapan tahun, ia segera menghampiri dan mencium punggung tanganku. Tangannya yang masih imut melingkar di pinggangku memeluk erat. Di susul dengan Rina yang juga menyambut uluran tanganku untuk bersalaman.
“Rafa kangen ya sama mbak?” tanyaku gemas mencubit pipinya.
“Iya, lama sekali mbak tidak pulang.” Jawab Rafa menggerutu.
“Ibu di mana Rin?” tanyaku pada Rina yang sedang sibuk memasukkan koperku ke dalam rumah.
“Lagi masak mbak.” Berlalu masuk.
Aku bergegas ke dapur untuk menemui ibu. “Buk, kok tidak menyambutku sih?”
“Ya Allah anak ibuk sudah datang, maaf nduk ibuk lagi masak jadi tidak tahu kalau kamu sudah datang.” Aku mencium punggung tangan beliau, kemudian Ibu memelukku erat dan mencium kedua pipiku. Kebiasaan yang selalu ibu lakukan ketika pulang dan pergi sekolah.
“Nduk, kalung dari siapa ini?” tanya ibu selepas memelukku.
“Eh, anu buk, ini kalung pemberian teman.” Ucapku gugup sambil tersenyum malu.
“Yakin cuma dari teman? Terus kalung yang dari ibu mana?” tanya ibuk semakin selidik seperti curiga.
“Kalung dari ibuk Vania simpan di rumah. Kan sebelum magang Vania lepas Buk, takut hilang.” Jawabku berusaha tenang.
“Ya sudah cepat ganti baju sana nduk, terus makan. Ibuk siapkan makanannya. Ucap ibuk sambil mengaduk masakannya.
BERSAMBUNG
.
.
***JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA...
LIKE, KOMEN, VOTE,
tTHANKS SUDAH MAMPIR.
__ADS_1
maaf telat up, lagi sibuk banget guyss😬😬***