Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Malu-malu


__ADS_3

“Jangan lupa berdoa ya Adik cantik ...” ucap Sony mengingatkan Vania.


 


“Oke Mas.”


 


“Mas, selama ini Mas belum pernah cerita loh soal keluarga Mas. Boleh aku mendengarnya?”


 


Sony menghentikan suapan ke mulutnya dan terdiam sejenak. “Adik makan dulu ya, nanti Mas cerita. Tidak baik makan sambil berbicara.” Elak Sony yang sebenarnya enggan menceritakan keluarganya yang sekarang ini berada di Jakarta.


 


“Baiklah.” Singkat Vania menjawab.


 


Mereka makan dalam diam, sesekali mata tak sengaja bertemu ketika mencuri-curi pandang satu sama lain. Meski begitu, Sony tak lupa untuk terus memperhatikan Vania dan memastikan dia makan dengan betul.


 


 


Selesai makan, Vania mengangkat piringnya ke dapur untuk mencucinya, namun Sony mengikutinya dari belakang.


“Biar Mas yang mencuci piringnya Dek, Adik tunggu, dan duduk manis di sana.” Menunjuk kursi krem yang terlihat dari jendela dapur terhubung ke ruang tamu.


 


“Mas, aku kan perempuan. Harusnya aku yang bertugas di dapur. Mas saja yang tunggu di sana.”


 


“Sudah Mas saja Dek, jangan ngeyel.” Sony menatap tajam mendekatkan wajahnya ke wajah Vania hingga hampir tak berjarak.


 


Vania memundurkan badannya dan menutup wajahnya karena malu, lebih tepatnya salah tingkah. Mungkin yang ada di pikirannya, Sony akan menciumnya. Ha ha ha ... berharap sekali kamu Van! ... ia pun berjalan mundur perlahan menuju ruang tamu. Tak sengaja melihat cermin yang cukup besar dan menghampirinya.


 


Sony tersenyum geli, “Dasar bocah kecil!”


 


“Mas! Aku bantu ya?!” teriak Vania dari depan cermin.


 


“Dek, pelankan suaranya bisa? Nanti tetangga dengar nggak enak. Tidak perlu di bantu, Mas juga sudah selesai kok.”


 


“Maaf,” ucap Vania memelas.


 


 


Piring tersusun rapi setelah Sony mencucinya, ia pun menyusul Vania yang ternyata berada di sebelah kamar Sony memutar badannya ke samping, ke belakang. Menata rambut barunya dengan jari lentiknya, sesekali mengekspresikan wajahnya, memonyongkan bibir dan menata senyum genit di depan cermin. Tanpa sepengetahuan Vania, Sony tertawa melihat tingkahnya yang begitu imut dan sangat menggemaskan itu.


 


“Mas, rambutku pendek banget.” Ucap Vania melihat cermin besar yang berada di pojok dekat pintu kamar Sony tanpa ia tahu ternyata Sony memperhatikannya dari pintu dapur. Bersender dan menyilangkan tangannya di dada yang bidang itu. Yang Vania tahu, Sony masih berada di dapur.


 


Tanpa ada jawaban, Vania lanjut bertanya lagi, “Mas?! Belum selesai?” sambil melihat cermin, mengira Sony masih mencuci piring kotor.


 


“Sudah selesai dari tadi Dek.” Jawab Mas Sony menahan tawa yang akhirnya keluar senyum tipis yang begitu menawan.


 

__ADS_1


“Ahh Mas?! Sejak kapan di situ?” kejut Vania melihat ke kiri, terdengar suara Sony yang begitu dekat dengannya.


 


“Sejak Adik bergaya di depan cermin. Ha ha ha.” Tertawa puas melihat ekspresi Vania yang terlihat sangat malu.


 


“Mas ...  kenapa begitu sih?! Adik nggak suka.” Rengeknya manja sedikit ngambek, berjalan cepat menuju ruang tamu.


 


“Begitu bagaimana Dek? Mas salah apa?” jawab Sony duduk di depan Vania yang menutup wajahnya di senderan sofa. Masih menahan senyum malu.


 


“Aku malu. Kenapa Mas harus memperhatikanku tadi?! Menyebalkan ih!”


 


“Iya, Mas minta maaf. Lain kali nggak begitu lagi. Lagi pula masa Mas membiarkan begitu saja ada pemandangan indah. Kan mubazir Dek kalau tidak di lihat. Ciptaan Allah sungguh sempurna ya?” Puji Sony masih menggoda.


 


“Stop Mas! Jangan membuatku seperti wanita gila. Tidak ada habisnya memujiku, dipikir aku bisa tahan mendengarnya? Itu akan semakin membuat hatiku tergoncang tahu!” Gumam Vania dalam hati yang masih menutup wajahnya di senderan kursi, senyum bahagia tak bisa ia tahan. Meskipun di sembunyikan karena gengsi bercampur malu.


 


“Dek, coba Mas lihat pipinya, merah nggak?!” Sony tersenyum sambil mengelus rambut Vania.


 


“Mas, jangan begitu dong. Adik malu.”


 


“Makanya, angkat kepalanya coba Dek. Mas mau lihat pipi kamu yang merah karena malu. Tomat saja mungkin akan kalah.” Menutup mulutnya sendiri hampir kelepasan tertawa tak henti menggoda Vania.


 


“Mas!” bentak manja Vania Memukul kecil lengan Sony. Dan benar saja pipinya memerah.


 


 


“Sakit Mas.” Reflek menutup pipinya dengan kedua tangan.


 


“Dek, kenapa sih kamu sangat menggemaskan? Seperti bocah.” Goda Sony.


 


“Aku bukan bocah Mas! Aku sudah balegh.” Jawab Vania singkat.


 


Lagi-lagi Sony tertawa. “Eh Dek, itu poninya Mas potong saja ya. Biar sesuai sama rambutnya. Pasti bagus.” Tiva-tiba teringat urusan rambut yang belum selesai.


 


“Takut nggak cocok Mas nanti.”


 


“Boleh tidak sekali saja menurut sama Mas?” ucap Sony sedikit tegas namun masih memelankan suaranya.


 


“Ehm...baiklah. tapi yang bagus ya?”


 


“Nah gitu dong. Kalau nurut kan cantiknya nambah Dek. Hehe ...”


 

__ADS_1


Sony melanjutkan aksinya memotong rambut Vania bagian depan. Dengan serius dan teliti dia mengerjakannya tanpa melihat arah mata Vania yang fokus ke bibir merah merona milik Sony itu. Hanya berjarak satu jengkal dengan hidungnya, sesekali Vania memejamkan mata agar tidak tergoda dengan bibir lelaki di depannya.


Rasanya sangat gerogi kalau memperhatikan bibirnya sedekat ini. Aku belum pernah berciuman sama sekali, kira-kira apa Mas Sony akan menciumku malam ini? Bagaimana ya rasanya berciuman? Penasaran. Tapi apa mungkin Mas Sony akan menciumku? Menyentuhku saja takut dan selalu meminta ijin. Ah apa sih yang kupikirkan! Dasar mesum. Ingat Van, kamu cewek. Jangan kegatelan. Batin Vania yang bergelut dengan pikirannya.


 


“Sudah Dek. Coba lihat ke cermin.” Ajak Sony berdiri melangkah ke arah cermin samping kamarnya.


 


“Mas, ini rapi sih. Tapi aku terlihat seperti anak kecil.” Merapikan poni barunya.


 


“Imut Dek. Bagus kok. Nanti lama-lama juga terbiasa. Lagi pula lumayan juga kan menutupi dahinya yang agak luas.” Tertawa jahil, menggoda.


 


Vania melirik tajam ke arah Sony. Spontan Sony menutup mulutnya yang sedang tertawa.


 


Di jam yang sama, di tempat yang berbeda.


“Nomor Vania tidak aktif Ki. Dia ke mana ya? Dari tadi kita keliling tidak ketemu juga jejaknya. Mana kunci kost kubawa lagi. Kalau dia pulang mana bisa masuk?!” Ucap Dina kepada Kiki yang masih berada di Hotel karena acara masih belum selesai meskipun sebagian sudah meninggalkan acara itu.


 


“Duh, jangan-jangan dia di culik Mas Kris lagi Din?!”


 


“Hush! Ngawur kamu! Mana mungkin. Orang tadi dia sama Mas Sony kok terakhir, kan dia diajak ke tepi kolam renang.” Jelas Dina.


 


“Iya juga sih. Eh kamu punya nomor Mas Sony nggak?” tanya Kiki.


 


“Ya nggaklah, buat apa aku simpan nomor pacar orang!” Bentak Dina.


 


“Yaelah Din. Nanya doang. Lagian kan kamu dekat dengan Vania, siapa tahu dia pernah pinjam HP kamu buat menghubungi Mas Sony.”


 


“Tapi aku seperti yakin dia sama Mas Sony ya Ki. Mas Sony kan perhatian banget. Nggak mungkin dia menelantarkan Vania.”


 


“Ya sudahlah kita doakan saja semoga Vania baik-baik saja di mana pun dia berada.” Ucap Kiki.


 


“Kiki! Kamu kenapa lebay banget sih!” sahut Dina.


 


“Dih orang doain temen di bilang lebay.” Jawab Kiki emosi.


 


“Berarti kita pulang aja nih?” tanya Dina.


 


“Ya sudah. Yuk! Nanti juga dia pasti kasih kabar kok.” Jawab Kiki terlihat meyakinkan. Mereka pun pulang diantar salah satu senior karena Pak Adi sedang mengisi acara.


 


 


 


__ADS_1


 Rambut hasil potongan Mas Sony.


__ADS_2