Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kelaparan


__ADS_3

Sony mengusap kasar wajahnya karena kesal Vania malah meninggalkannya saat tubuhnya sudah membara. Rasanya sangat tidak enak bukan...


 


“Ah, gagal! Siapa sih yang mengganggu?!” gerutu Sony. Ia lalu beranjak dari ranjang dan menatap punggung Vania yang berlalu. Vania menemui seseorang yang tadi mengetuk pintu, siapa lagi kalau bukan Ela. Hanya dia yang ada di ruang kerja Sony saat ini.


 


“Ada apa!?” tanya Vania pada Ela yang sedang berdiri di depan pintu setelah tadi mengetuknya.


 


“Maaf sudah mengganggu Bu, itu makanannya sudah datang. Barusan pelayan restoran mengantarkannya.”


 


“Oh, ya terima kasih. Eh, hem siapa namamu?”


 


“Ela Bu.” Jawabnya singkat.


 


“Jangan panggil aku Bu. Usiaku masih sangat muda, bahkan mungkin lebih muda darimu.” ujar Vania yang berlagak sok tegas. Padahal dalam hatinya, ia begitu iri dengan wanita itu karena melihat penampilannya yang begitu sempurna. Ia memandanginya dari atas sampai bawah, wanita itu tampak elegan dengan balutan rok dan blazer yang berwarna senada.


 


“Iya Bu, kalau begitu saya panggil nona saja boleh?” ucap Ela menunduk sopan terhadap Vania, ia Sangat menghormati istri bosnya itu. Walaupun Sony tak memberitahunya kalau Vania adalah istrinya, namun dari tingkah mereka yang ia lihat beberapa saat yang lalu, Ela sudah bisa menebak dan menyimpulkan.


 


“Nona?! Ah, terlalu berlebihan.”


 


Lalu aku harus panggil dia apa? apa aku harus memikirkan hal sekecil ini, hal sekecil ini memang cukup merepotkan. Hanya panggilan tapi sudah membuatku harus berpikir keras.


 


“Lalu, saya harus panggil apa?” tanyanya lagi kebingungan.


 


“Emm... panggil nama saja lah. Oh iya, namaku Vania.” Ucap Vania sambil berjalan ke sofa menghampiri makanannya yang sudah tertata rapi di meja.


 


“Jangan Nona, saya tidak enak, sangat tidak sopan. Atau saya panggil Kak saja, bagaimana?”


 


“Terserah kamu saja.” Vania membuka tutup saji satu persatu di setiap piringnya.


 


“Kenapa Mas Sony memesan banyak sekali makanan.


? Kebiasaan!” gerutu Vania sambil menggelengkan kepalanya.


 


Sementara itu, Sony yang sedang frustasi di ranjang seorang diri karena gagal mendapatkan jatahnya. Ia lalu berdiri dan menuju ke luar kamar. Kini ia sudah berada di ruangannya untuk menghampiri Vania yang tengah asyik menikmati makanannya.


 


“Dek, kok makan sendirian, tidak mengajak Mas?!”


 


“Adik kira Mas Sony tadi sudah makan di luar.” Vania menyuapkan salad buah ke dalam mulutnya.


 


“Ela, kamu ke ruangan Pak Beni dulu ya. Ada beberapa hal yang harus dia sampaikan ke kamu.” Ujar Sony pada Ela.


 


“Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu.” Ela menundukkan kepalanya lalu beranjak pergi meninggalkan Sony dan Vania.


 


“Sayang, pelan-pelan makannya. Lihat blepotan semua, kan.” Sony  memperhatikan cara makan Vania yang seperti orang kelaparan. Ya, dia memang sedang sangat kelaparan.

__ADS_1


 


“Dek, itu mayones sampai ke pipi. Makan itu di nikmati sayang, kalau buru-buru begitu tidak baik.” Sony mengelap mayones di pipi Vania dengan tisu.


 


“Salah sendiri, suami kok tega membiarkan istrinya kelaparan.”


 


“Maafkan Mas sayang, kan Mas tidak tahu.”


 


Vania terus mengunyah dan menyuap tanpa jeda hingga tersisa hanya dua sendok di piringnya. Sony pun membuka mulutnya agar Vania menyuapkan salad buah itu. Setelah menyuapkannya pada Sony, ia bersender pada senderan sofa sembari mengelus perutnya yang sedikit terisi, namun ia masih ingin menyantap makanan lain di depannya.


 


“Mas, kenapa pesan makanan sebanyak ini? Kebiasaan deh, mubazir tau!”


 


“Mas bingung apa yang Adik mau. Jadi Mas pesan beberapa agar bisa memilihnya.”


 


“Mas, aku mau itu, suapin!" ucap Vania manja.


 


“Ini?” Sony menunjuk sop telur tomat, asap panasnya masih mengepul, serta aromanya yang sedap membuat Vania ingin mencicipinya.


 


“Iya itu, kelihatannya sangat enak Mas.”


 


“Pasti enak sayang, apalagi Mas yang nyuapin.” Jawab Sony tersenyum sambil meniup sesendok sup telur panas yang akan di suapkan ke Vania.


 


Vania menerima suapan Sony seperti anak kecil yang sedang di suapi oleh ibunya. Ia menikmati setiap suapan yang Sony berikan karena sejujurnya ia memang masih lapar walaupun perutnya sudah terisi salad buah. Baginya, itu masih sangat kurang.


 


 


“Mas pastikan istriku kenyang terlebih dahulu, baru Mas akan makan.” Sambil menyuapi Vania, mata Sony tak hentinya menatap pemandangan indah, wanita cantik di depannya itu sudah membuat Sony benar-benar jatuh cinta setiap ia menatap manik almond di matanya dan bibir mungil yang di miliki Vania. Sony lalu tersenyum tipis penuh arti.


 


“Mas, kenapa memandangku seperti itu?!” Pekik Vania keheranan karena Sony terus menatapnya.


 


“Kamu sangat cantik sayang, sangat - sangat cantik. Mas ingin terus memandang wajah cantikmu itu.”


 


Pipi Vania memerah saat Sony memangku dagu dengan tangannya sembari menatap lekat Vania yang sedang fokus mengunyah. Vania mengalihkan pandangannya karena malu dan jadi salah tingkah jika terus di tatap intens.


 


“Mas, berhenti. Jangan menatapku seperti itu. Aku malu.”


 


“Pipi merah itu membuat kecantikanmu bertambah sayang.” Vania lalu meraih gelas yang berisi jus alpukat di meja, ia meneguk minumannya agar mengurangi rasa groginya. Walaupun sudah menjadi suami, ada kalanya Vania tetap tidak bisa menghilangkan sifat pemalunya.


 


“Ehemm, Mas! Aku sudah kenyang. Mas makanlah.”


 


“Mau ke mana sayang?! Duduk sini, temani Mas makan.” Pinta Sony menarik tangan Vania yang sudah beranjak dari sofa.


 


“Mau ambil hand phone sayang. Sebentar ya.” Padahal Vania hanya malu dan sedikit grogi di pandang terus oleh suaminya, ia lebih memilih menghindar sesaat agar tak salah tingkah di depan Sony.


 

__ADS_1


Selang beberapa menit, Vania kembali membawa ponsel dan earphone-nya. Ia duduk di dekat Sony. Tak lama Sony pun telah menghabiskan makanannya.


 


“Dek, itu dissertnya nggak di makan?”


 


“Kenyang Mas, Mas Sony saja yang makan.”


 


“Satu suap saja, Mas suapin. Coklatnya enak banget sayang, Adik harus coba. Aaa ... buka mulutnya.”


 


“Pemaksaan!” Vania terpaksa membuka mulutnya menerima suapan disssert coklat dari Sony.


 


“Enak kan?!”


 


“Iya enak, mau lagi dong. Hehe ...” Vania meringis gemas.


 


Sony mengacak rambut Vania lalu menyuapkan lagi dissert itu. Tiga sendok, lima sendok, hingga 10 sendok akhirnya mereka habiskan berdua secara bergantian.


 


“Sayang, mendekat sini.”


 


“Apa?” Vania menurut kata Sony, ia mendekatkan wajahnya yang di sambut cepat oleh bibir Sony. Bibir lembut itu menyambar bibir mungil Vania yang terkena coklat, Sony menji*latnya perlahan. Vania langsung membelalakkan matanya karena terkejut, ia langsung memundurkan tubuhnya dan ingin melepas ciumannya. Namun Sony malah memegang erat tengkuk Vania, mempertahankan posisinya untuk saling berpagut dan melilit lidah.


 


“ASTAGA! Mataku ternoda!!” teriak Beni yang tiba-tiba masuk ke ruangan Sony dan melihat adegan ciuman sepasang suami istri tersebut.


 


“Ben! Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?!”


 


“Ribuan kali aku sudah mengetuknya, tapi tak ada jawaban karena kalian asyik berci—... ah sudahlah lupakan!” sahabat bajul seperti Beni memang tak ada akhlak, dan tak pernah merasa sungkan. Sedangkan Vania, ia sangat malu dengan kejadian barusan, ia pura-pura fokus melihat ponselnya.


 


“Mau apa ke sini?!” tanya Sony bersender di sofa, tangannya melingkar ke pinggang Vania.


 


“Aku hanya mau mengantar datanya Ela. Bacalah, dan untuk nanti malam. Aku sudah siapkan semuanya.”


 


“Oke, terima kasih. Kau boleh pergi. Atau kamu ingin di sini melihat adegan yang lebih hot?!” Vania yang mendengar ucapan Sony langsung memukul pahanya dan melotot tajam.


 


“Gila! Kau memang sudah gila! Rasanya aku ingin menguras air laut dan meratakan bumi melihat kalian bermesraan.”


 


*Bersambung....



Hay, apa masih ada yang baca? coba absen dong.. komen sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa like sama Vote nya ya..


Hadiah bunga atau kopi juga sangat diterima dengan senang hati❤🤭🤭🌷*


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2