Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Pengawasan Sinta


__ADS_3

Udara panas semakin di rasa oleh Vania yang sedang di kursi halaman sekolah. Meski di bawah pohon rindang yang hijau, namun kesegaran mata memandang kehijauan belum tentu juga bisa menyejukkan tubuhnya dari sengatan sang surya.


 


Vania mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu menelepon Bapak agar menjemputnya.


“Halo, assalammu’alaikum, Bapak sudah berangkat jemput Vania?”


 


“Wa’alaikumsalam, maaf Nduk, Bapak masih ada tamu dari jauh. Tidak bisa menjemputmu. Apa kamu bisa pulang sendiri?”


 


“Tidak masalah Pak, Vania akan pulang naik ojek online saja.”


 


“Hati-hati ya Nduk.”


 


“Iya Pak.”


 


Sementara itu, dari tempat parkir yang tak jauh dari posisi Vania duduk ada mata yang memperhatikannya. Perlahan menghampirinya dengan mesin motor yang menyala.


 


“Belum di jemput Van?”


 


“Aku sudah memesan ojek online.” Jawab Vania singkat tak memandang Ega. Masih berkutat dengan ponselnya.


 


“Aku antar saja yuk.” Ega menawarkan bantuan.


 


“Tidak usah, terima kasih.”


 


Vania berjalan keluar menuju gerbang tak menghiraukan keberadaan Ega. Sayangnya Ega bertindak cepat, ia melajukan motornya dan menunggu di perempatan jalan dekat sekolahnya.


 


“Pak, Pak, Pak maaf.” Apa ini ojek pesanan atas nama Vania?”


 


“Vania? Oh Bukan Mas. Ada apa ya? maaf saya buru-buru ini.” Ujar driver ojek yang tiba-tiba di berhentikan oleh Ega.


 


“Oh tidak apa-apa Pak, maaf saya salah orang. Silakan.”


 


Lagi, ia mencari ojek online yang akan menuju sekolahnya dan memberhentikannya.


“Pak, Pak, maaf apa ini pesanan atas nama Vania?”


 


“Iya betul Mas, ada apa ya?”


 


“Mohon maaf Pak, orderannya dibatalkan sama teman saya, dia tidak bisa cancel karena ponselnya eror. Ini uang ganti ruginya ya Pak. Sekali lagi mohon maaf.”


 


“Oh, tidak apa-apa Mas. Tidak masalah. Terima kasih.”


 


Akhirnya Ega berhasil menggagalkan ojek online yang akan menjemput Vania, mengantarnya pulang. Dengan wajah sumringah, Ega langsung kembali lagi ke sekolahnya mendatangi Vania yang sedang berdiri sendiri menunggu abang ojek.


 


“Mana sih ojeknya enggak dateng-dateng. Perasaan tadi jejaknya sudah dekat, malah jauh lagi, kirim pesan juga tidak di baca.” Keluh Vania, menahan rasa kesal.


 


“Van, belum datang ojeknya?”


 


“Sebentar lagi juga sampai.” ucap Vania penuh drngan keyakinan.

__ADS_1


 


“Sudahlah, aku antar saja Van. Mau berapa lama menunggu?”


 


Vania masih tetap bersikukuh menunggu ojeknya yang tidak pasti akan sampai kapan.


 


Apa aku harus menerima tawaran Ega? Terik panas ini membuatku semakin kelelahan, keringatku juga sudah membasahi wajah dan baju yang kukenakan. Tapi dia sangat menakutkan, aku takut dia tidak mengantarku pulang malah membawaku ke suatu tempat.


 


“Ayo Van, aku tidak tega melihatmu kepanasan seperti itu. Aku janji aku tidak akan berbuat macam-macam lagi.”


 


“Apa aku bisa mempercayaimu Ga?!”


 


“Tentu saja, aku akan mengantarmu dengan selamat Van.”


 


Vania terlihat menimbang-nimbang ajakan Ega. Antara bingung dan terpaksa ia akhirnya menerima tawaran Ega. Vania menaiki motor Ega dengan berjarak, tidak seperti ketika menaiki motor dengan Sony, begitu lekat tanpa jarak, menempel sempurna seperti materai. Bahkan dia sama sekali tidak berpegangan sekalipun Ega menyuruhnya.


 


Baru saja Ega menyalakan motornya, dari belakang Sinta mendekat dengan motor maticnya, fasilitas dari Beni.


 


“Van, bareng saya aja yuk.” Ucap Sinta menawarkan bantuan.


 


“Ah, Bu Sinta, apa tidak merepotkan Bu?”


 


“Sama sekali tidak Van. Ayo.”


 


Vania turun dari motor Ega, lalu beralih ke motor Sinta.


 


 


“Ya sudah kalau begitu Van.”


 


“Ega, kami duluan ya.” Sapa Sinta pada Ega sambil menjalankan motornya yang hanya di balas anggukan olehnya.


 


Sial, kenapa dari tadi Bu Sinta selalu menggangguku ketika dengan Vania. Menyebalkan! Padahal Vania sudah mulai bersikap normal lagi padaku.


 


Grand Luxury Hotel


Sony yang sedang berkutat dengan berkasnya terlihat serius. Sembari sesekali mencocokkan data di laptopnya. Ponsel yang berdering sejak tadi pun tak di hiraukannya. Karena ia tahu, kalau Be i sudah menelepon tandanya ia akan semakin pusing dengan segala makiannya.


 


Tanpa mengetuk pintu, Beni yang sudah emosi mendatangi Sony ke ruangannya. Ia duduk di depan meja Sony dengan menatap lekat lelaki yang sok sibuk itu.


 


“Apa kau tidak melihat kedatanganku?!”  tanya Beni menyindir Sony yang mengabaikan kedatangannya.


 


“Apa lagi Ben?? Jangan menggangguku dengan menambah beban di kepalaku, bisa?!”


 


“Siapa juga yang ingin mengganggumu. Makanya kalau orang telepon diangkat. Pesanku juga tidak kamu buka.”


 


“Bicara saja sekarang, lalu kau boleh keluar.”


 


“Oh, sudah mulai sombong sekarang? Sudah berani mengusirku? Kau tak ingat semua ini karena aku yang memban--?!”


 

__ADS_1


“Ya, ya, ya! ungkit saja terus. Dasar perhitungan!” cibir Sony.


 


“Kau dengar, Vania sekarang aman. Meskipun lelaki itu masih selalu mendekat. Sintalah yang berjasa menjauhkan mereka.”


 


“Ha, benarkah?” Sony tersentak mendengarnya. Dan fokus dengan cerita Beni.


 


“Tadi aja mengacuhkanku. Sekarang lihat! Begitu dengar nama Vania kau langsung bersemangat.”


 


“Apa yang Ega lakukan pada Vania?”


 


“Tenang bro, hari ini dia hanya dua kali mendekati Vania.”


 


“Apa dua kali? berani sekali dia. Padahal aku sudah memperingatkannya.”


 


“Kamu sangat pencemburu ternyata. Hahaha!” tawa Beni menggema di seluruh ruangan Sony.


 


“Kalau mau cerita, langsung saja. Jangan membahasku.” Pandangan Sony mulai menembus mata Beni dengan serius, seserius apa pun mereka tetap saja sebagai sahabat, Beni merasa lucu melihat tingkah Sony yang tak biasa.


 


“Pertama, jam istirahat dia mendekati Vania karena ini.” Menunjukkan sebuah rekaman video yang diambil Sinta dari balik pintu kelas Vania ketika waktu istirahat.


 


Pandangan Sony benar-benar menajam saat Ega berusaha mendekati Vania, ia menghela nafas panjang karena tak terima jika gadisnya terus di dekati pria lain. Namun, bibir itu mengulas senyum tipis tatkala mendengar pengakuan Vania yang sangat mencintainya dan tak memberi harapan sekecil apa pun pada Ega. Ia berusaha menahan bibirnya untuk tak melepaskan senyumannya karena malu pada Beni. Bisa-bisa ia mengutukinya sampai ujung gunung.


 


Mungkin hatinya saat ini ditumbuhi bunga sakura yang bermekaran, berbunga-bunga indah. Menari-nari di dana dengan gadis tercintanya itu.


 


Kamu memang menggemaskan Dek, semakin hari rasa ini semakin besar untukmu. Meskipun seragam abu-abu melekat di tubuhmu itu menggambarkan usia kita yang lumayan jauh, namun aku tidak pernah menganggap itu sebagai penghalang.


"Lagi, tadi pulang sekolah Ega juga berusaha untuk mengantarkan Vania pulang. Dia memberhentikan ojek online yang di pesan Vania lalu mengcancelnya, orang suruhanku sudah mematai-matai gerak gerik Ega." ujar Beni.


"Apa Vania bersedia diajaknya?"


"Awalnya dia tidak bisa menolak karena Ega terus memaksa. tetapi akhirnya Sinta datang dan mengagagalkan rencana Ega. Vania sudah diantar pulang oleh Sinta."


"Dia benar-benar licik. lain kali harus lebih hati-hati Ben! aku yakin dia tidak sungguh-sungguh meminta maaf pada Vania. Dia hanya memikirkan banyak trik untuk mendapatkan Vania kembali."


Coba saja kalau berani, sampai ujung kutub pun aku tidak akan membiarkanmu mendrkati Vania.


 .


 


Bersambung.....


 


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 

__ADS_1


__ADS_2