
“Mas, sepertinya aku harus kembali ke kos. Sudah terlalu malam.” Berkata di pelukan Mas Sony.
“Iya Dek, maaf ya.” Melepaskan pelukannya.
“Mas, aku naik ojek online saja ya?” berharap Mas Sony tak mengantarku karena aku yakin Ega tidak akan beranjak dari kosku sebelum bertemu denganku. Keras kepalanya tidak pernah hilang sampai kapan pun. Dan apa jadinya nanti jika mereka bertemu, takut menimbulkan keributan. Meskipun aku yakin Mas Sony tidak akan memulainya.
Mas Sony yang bersiap memakai jaketnya terkejut ketika aku mengatakan akan naik ojek.
“Apa? Ojek online? malam-malam begini?! Tidak. Mas tidak akan membiarkanmu pulang sendirian Dek. Apa Mas sudah gila membiarkan Adik pulang sendirian malam-malam?!”
“Tidak apa-apa Mas, lagian juga tidak mungkin drivernya macam-macam kok. Abangnya pasti tidak berani berbuat aneh-aneh.” Kataku bersikukuh mencari pembenaran.
“Apa Adik bisa menjamin?! Mas tetap akan mengantarmu. Ayo. Jangan banyak protes.” Tegas Mas Sony.
“Mas tapi nanti bagaimana kalau orang-orang melihatku pulang malam? Pasti mereka akan membicarakanku.”
“Jangan pedulikan kata mereka Dek. Lagi pula, mau Adik membantah seperti apa pun, Mas tidak akan mengizinkan Adik pulang sendiri. Paham?!” ucap Mas Sony sambil ikut duduk di sebelahku.
Bagaimana ini, aku takut jika Mas Sony dan Ega bertemu akan menimbulkan konflik.
“Em ,, baiklah kalau begitu Mas.”
“Dek, maaf ya.” Lagi-lagi Mas Sony mendekat dan memperhatikan wajahku serius, ibu jarinya menyentuh sekitar bibirku dan mengusapnya.
“Eh, kenapa Mas?” terkejut dan langsung spontan kututup bibirku.
“Itu Dek, bekas lipstiknya kenapa berantakan begitu?” Sony terkekeh.
“Astaga! Mas. Ini pasti gara-gara ...” tak mampu melanjutkan kata-kataku karena malu teringat waktu berciuman tadi. Aku menatap bibir Mas Sony yang ternyata juga terlihat bekas lipstik. Aku tertawa geli dan menutup mulutku dengan jari-jariku.
“Mas, itu juga ada.” Ucapku sambil menunjuk ke arah bibir Mas Sony.
“Iyakah? Ada bekas lipstik juga? Ha ha ha.” Tawanya puas.
Sangat memalukan. Hal seperti ini kenapa harus di bahas sih. Baru juga pertama kali merasakan' sudah membuatku salah tingkah saja kamu Mas.
“Coba hilangkan Dek!” perintahnya mendekatkan bibirnya. Dih mulai ganjen juga nih Mas Sony.
“Mas, apaan sih?! Hapus sendiri, itu kan ada cermin.” Aku merasa sangat malu dan sepertinya pipiku sudah mulai bersemu memerah.
“Ha ha ha .. kenapa malu Dek. Kan Mas Cuma minta tolong di bersihkan.” Menatapku menggoda. Senyum dan tawanya membuatku sungguh terpesona. Bentuk bibirnya begitu manis dan seksi.
“Mas! Sudah sana pergi bersihkan.” Mendorong lengan Mas Sony untuk pergi dari sofa krem yang ku duduki.
“Dek, Apa sudah sering melakukan seperti tadi?” tanya Mas Sony yang enggan pergi untuk membersihkan bekas lipstik di bibirnya. Masih duduk disampingku.
“Hah?! Melakukan apa?!”
“Berciuman seperti tadi.” Lelaki yang benar-benar susah di tebak. Kenapa jadi vulgar begini sih Mas pertanyaanmu. Sungguh menyeramkan.
“Mas, kenapa harus dibahas sih. Mas kan juga pasti tahu jawabannya.” Mengelak karena malu.
__ADS_1
“First kiss?!” tanyanya dengan senyuman kecil.
“Hem, sebelumnya aku tidak pernah sama sekali Mas.”
“Mas juga baru pertama kali Dek, dan tidak akan lagi merasakan ciuman itu untuk beberapa tahun ke depan."
“Ha? Maksud Mas? Tapi sepertinya Mas Sony lihai dan berpengalaman.” Petanyaan macam apa yang kamu lontarkan Van, sudah gila kamu.
“Lihai?! Ha ha ha ... lihai bagaimana Dek. Mas spontan melakukannya.” Tertawa dan mengacak pucuk kepalaku. "Menggemaskan sekali sih kamu Dek???"
“Mas hanya akan memberikan bibir Mas kepada Adik saja. Dan kelak, ini juga hanya akan menjadi milikku sayang. Seutuhnya.” Ucap Mas Sony menunjuk bibirku dengan jarinya.
“Iya Mas, pasti. Tenang saja. Aku juga tidak akan mau di sentuh lelaki yang tidak aku cintai.”
“Lalu, berarti maksudnya Adik mencintai Mas?” tanya Mas Sony yang semakin mendekat. “Coba ulangi Dek.”
“Apa yang diulang Mas?!”
“Bilang kalau Adik cinta sama Mas,”
“Hah?! Bukankah Mas sudah tahu sejak dulu kalau aku cinta sama Mas Sony?”
“Ya aku memang tahu dan bisa merasakan Dek, tapi Mas ingin mendengarnya lagi setelah 6 bulan yang lalu kamu ucapkan.”
“Sayang, tetap seperti ini ya. Sampai nanti jangan pernah pudar.” Membelai pipi dan rambutku. Vania mengangguk. Dan apa yang terjadi? Mereka berpaut kembali dalam kasih, menempelkan bibirnya satu sama lain. Sony meraih tengkuk Vania dan menahannya erat, tangan satunya lagi menggenggam jari-jari lentik Vania. Lidah Sony mulai memasuki rongga mulut, dan menyapu setiap sudut bibir mungil Vania dengan lembut.
Sepertinya bibir Vania menjadi candu untuk Sony. Siapa sangka Sony berani mencium Vania sedangkan sebelumnya dia sangat menjaga dan tidak berani menyentuh seorang wanita. Rupanya godaannya sungguh luar biasa. Apalagi sekarang ini adalah hari terakhir bertemu dengannya. Pastinya Sony akan begitu agresif. Dan melampiaskan sesuatu yang tertahan lama.
Tapi tenang saja. Dia tidak akan berbuat melewati batasan.😁 Son, kapan kamu mengantar Vania pulang? Kenapa kau jadi melahapnya terus? Wkwkkw.
Sony yang berbadan tegap, tinggi besar dan terlihat cuek. Nyatanya sekarang sangat bucin ketika merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Bahkan kata cinta saja harus diungkapkan seperti abegeh.
Sony melepaskan ciumannya yang cukup lama itu. Dia memandang lekat mata Vania tak berkedip. Lalu mencium dahi, pipi kanan kiri Vania, lalu mengecup bibirnya sebentar. Habis malam ini wajah Vania di nikmati Sony.
“Mas.” Panggil Vania.
“Iya, kenapa sayang?” membelai rambut, menyingkirkan rambut ke belakang telinga.
“Boleh aku pulang?” tanyanya sayu karena terlalu lama merasakan ciuman dari Sony. Seperti orang mabuk. Hahaha
“Rasanya aku ingin kamu berada di sampingku terus Dek.”
“Tapi kan tidak mungkin Mas.” menggenggam tangan Sony.
“Ya sudah, Adik bersiap. Mas antar sekarang.”
Mas Sony meraih kedua tanganku untuk bangun dari sofa krem, sofa yang menjadi saksi bisu dan pastinya akan menjadi sebuah kenangan ketika Mas Sony duduk di sini sendirian, mengingatku.
__ADS_1
Aku berjalan dengan tanganku yang digenggam erat Mas Sony. Padahal masih di dalam rumah. Kenapa harus bergandengan seperti mau menyeberang Mas?
Mas Sony membuka pintu dan menutupnya kembali, berbalik badan.
“Kenapa di tutup lagi Mas pintunya. Ada siapa?” tanyaku penasaran, kukira ada seseorang.
Tiba-tiba Mas Sony menarikku ke pelukannya. Pelukan yang sangat erat. Membuatku kembali bersedih.
“Biarkan seperti ini dulu Dek. Please, terakhir kali." Terlihat suara lembut Mas Sony seperti kelu, menahan sesuatu.
“Mas, terima kasih.” Ucapku meneteskan air mata. Sangat terasa perpisahan ini menyiksa.
“Untuk apa Dek?”
“Semuanya. Terima kasih untuk enam bulan ini.” Tangisku semakin terisak.
“Jangan menangis sayang, dan tidak perlu mengucapkan terima kasih.” Masih memeluk sangat erat.
“I love you.” Ucap Mas Sony mencium keningku penuh arti.
“I love you too, Mas.”
Dan izinkan aku memeluk dirimu sekali ini saja ... nyanyi dulu yuk😂
Setelah beberapa menit mereka berpelukan lama. Akhirnya penyatuan itu terlepas juga. Dan Sony mengantar Vania pulang ke kos.
“Dek pakai jaket Mas, dan peluk Mas yang erat ya.” Mas Sony melepas jaket hitamnya dan memakaikannya untukku.
“Mas, kenapa aku yang pakai. Mas yang di depan nanti dingin kena angin.”
“Sudah jangan komplain Dek.” Menarik zip jaket yang ternyata sangat besar jika kupakai.
“Pegangan, peluk Mas yang erat Dek. Biar Mas tidak kedinginan, he he.”
“Modus ya Mas.”
Mas Sony menarik tanganku ke depan ketika motor sudah siap untuk meluncur. Membuatku berpegangan erat dan memeluk Tubuh Mas Sony dari belakang. Lekat dan menempel seperri perangko.
Sepertinya kali ini perjalanan terasa sangat singkat, cepat sekali sampai kost. Padahal aku masih ingin menikmati jalanan malam yang sepi ini bersama Mas Sony. Setibanya di kos, benar saja, Ega masih menungguku. Duduk di motor, di seberang jalan sedang mengamatiku kedatnganku dengan Mas Sony.
BERSAMBUNG GUYS,
__ADS_1