
Tanpa persetujuan, Sony menghentikan motornya di sebuah restoran. Mengajak Vania mengisi perutnya meskipun ia sempat bilang tidak mau. Namun Sony tidak peduli. Sudah di pastikan gadisnya itu kelaparan karena hanya makan angin di sekolahnya, di tambah lagi sudah hampir satu jam mereka mengukur jalanan tak tahu arah tujuan.
“Kenapa berhenti Mas?!”
“Kita makan dulu. Ayo turun.”
“Tapi aku tidak lapar Mas.”
“Sudah ya Dek, jangan protes. Cukup, ngambeknya jangan lama-lama. Mas sudah sangat lapar, dari tadi muter-muter tidak jelas sayang.”
Dengan langkah gontai Vania berjalan di gandeng Sony memasuki restoran itu. Tidak banyak berkata, Vania berwajah lesu entah apa yang di pikirannya saat ini. Masih tentang Ega. Meski tahu Sony sekarang selamat. Dia tidak tahu apa yang terjadi besok.
“Apa yang kamu pikirkan Dek?”
“Ah, aku—aku tidak memikirkan apa-apa Mas.”
“Mas tahu Adik sedang melamun memikirkan sesuatu, jangan bohongi Mas.” Memandangi wajah Vania yang duduk di depannya terhalang meja. “Cuci tangan dulu Dek.” Mengalihkan pembicaraan karena Vania tak kunjung membuka mulutnya untuk bercerita.
“Iya Mas,” Vania berjalan lurus ke belakang bukannya menuju wastafel namun ia malah menuju toilet yang padahal dia tak merasakan ingin buang air.
Di depan wastafel, Vania menatap pantulan dirinya. Ia melihat bayangan wajahnya yang berantakan tidak karuan. Di bukanya kran yang berada di wastafel kemudian menadahkan tangannya di bawah pancuran air lalu membasuhkannya ke muka.
Kenapa Ega selalu di pikiranku, ketakutanku hanya akan membuat Mas Sony semakin merisaukanku. Aku sadar Mas dari tadi aku uring-uringan, marah-marah tak jelas. Maafkan aku, aku hanya khawatir, aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu karena selalu bersamaku.
Gadis berseragam abu-abu itu keluar dari toilet dengan wajah yang sudah cukup menyegarkan, tidak kusut lagi seperti baju yang belum di setrika. Sambil membetulkan rambut depannya yang sedikit basah, ia tak memperhatikan jalanan di depannya.
BRUUKKK
“Auwh! Ma—maaf, aku tidak sengaja.” Vania menunduk.
“Kenapa lama sekali Dek di toilet?” tanya Sony yang sedari tadi menunggu Vania di depan toilet karena khawatir takut kejadian sebelumnya terulang lagi.
“Mas? aku kira tadi orang lain.”
“Sakit perut? Atau kenapa?!” cecar Sony.
“Siapa yang sakit sih Mas, aku tadi hanya cuci muka saja kok.”
“Mas tadi menyuruhmu cuci tangan Dek, bukan tidur di toilet.” Tutur Sony yang menantikan Vania cukup lama bersemedi di dalam toilet.
“Maaf Mas,” jawab Vania singkat.
“Ya sudah ayo cepat, kita makan. Makanannya sudah datang dari tadi Dek. Mas lapar.”
“Ayo.” Mereka berjalan beriringan seperti pengantin, bergandengan, padahal cuma dalam restoran bukannya mau menyeberang.
__ADS_1
Suasana makan siang di restoran itu masih cukup padat pengunjung. Vania dan Sony terfokus dengan makanannya hingga habis tak bersisa. Keduanya terlihat kelaparan, lega akhirnya cacing di perut tidak meneror lagi.
.
.
“Apa sebenarnya yang kamu pikirkan Dek? Kenapa dari tadi diam saja?” tanya Sony memulai pembicaraan setelah selesai makan.
“Aku tidak memikirkan apa-apa kok Mas.” Jawab Vania membalas tatapan Sony.
“Lalu kenapa? Apa masih marah karena Mas tadi telat? Mas kan sudah minta maaf Dek. Kalau ngambek jangan berlarut-larut. Tidak baik Dek.”
“Mas, aku hanya bingung. Bagaimana besok kalau Mas pulang? Aku takut Mas kenapa-napa di jalan.”
“Jangan berpikir macam-macam Dek, cukup doakan Mas supaya selamat.” Ucap Sony dengan senyum tipisnya, netranya tak berhenti menatap gadis manis itu.
“Pasti kudoakan Mas, tapi soal Ega—, aku takut jika dia nanti melukai Mas Sony.”
“Percayalah Dek, Mas bisa jaga diri kok.”
“Tapi teman Ega banyak Mas, dan sepertinya mereka kuat-kuat, nekat lagi!” keluh Vania membayangkan teman Ega yang berbadan besar, sangat mengerikan.
“Kalau dia merasa lelaki harusnya tidak main keroyokan Dek, Ega pasti takut sama Mas, iya kan??!” Sony menyeringai bangga.
“Dih, Mas Sony kenapa sombong begitu sih.” lirik Vania menyunggingkan bibirnya.
.
.
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan keluar dari bangunan restoran yang cukup besar itu. Kali ini mereka tidak bingung arah lagi ke mana tempat yang akan mereka kunjungi karena sudah berdiskusi sebelumnya. Sony ingin menghabiskan waktu bersama Vania sebelum ia kembali ke kotanya dan sebelum waktunya tersita juga untuk mengurus hotelnya saat ini.
Di tengah perjalanan yang cukup menanjak, di kelilingi pohon-pohon rindang yang begitu hijau di pinggir jalan dan terdapat jurang di sisi jalan sagu lagi. Mesin yang di naiki dua sejoli itu tiba-tiba terhenti mendadak, bukan karena mogok, bukan karena medan yang sulit juga, bahkan jika medan sesulit apa pun, Sony pasti akan bisa melaluinya.
Di belakangnya, pengendara lain menyalipnya sangat rapat, ada dua motor dengan dua orang di setiap motornya. Lalu berhenti tepat di depan Sony. Beruntung Sony memelankan laju motornya sehingga masih bisa menarik rem mendadak.
“Mas!” Vania berteriak spontan menarik kencang jaket Sony berpegangan erat karena takut dan terkejut.
“Kita turun dulu ya Dek.”
“Mas, aku takut sebaiknya kita lanjut aja yuk, jangan meladeni mereka.”
“Sepertinya mereka sengaja Dek.” Sony menatap sinis pada empat pria tersebut dan melepas helmnya.
“Mas, kenapa mereka berjalan ke sini semua?” Vania bersembunyi di belakang Sony, mencengkeram kuat jaketnya.
“Adik tunggu sini dulu ya, semua akan baik-baik saja kok.” Mengusap pucuk kepala Vania.
“Apa kalian hobi memainkan nyawa orang?!” Sony bertanya karena merasa terkejut dengan perlakuan mereka yang mendadak menyalip dan memberhentikan mereka di tengah jalan, dan terdapat jurang di pinggirnya. Jalanan menuju kebun teh
__ADS_1
“Ya, mainan kami memang sebuah nyawa yang tak berguna sepertimu!”
“Apa maksudmu!” bentak Sony mendekat namun kepalan tangan dari salah satu gerombolan itu melayang tepat di pipi mulus Sony.
“Mas Sony!” Vania berteriak ketakutan di dekat motor Sony, bulir air matanya jatuh begitu saja ketika melihat sang pujaan hati terkena pukulan.
“Apa-apaan ini! Siapa kalian seenaknya memukul!”
“Jangan pura-pura bego. Dengar ya! Satu teman kami tersakiti, semua akan turun tangan!”
“Oh, kalian suruhan Ega lelaki pengecut itu?! Mana dia? Sembunyi?! Dasar lelaki lemah!” Sony mulai emosi menatap tajam mereka.
“Jaga mulutmu!” dua orang maju menghampiri Sony mencekal kuat kedua tangan Sony, dua orang lagi memukul perut Sony dan wajahnya. Beruntung Sony berhasil lepas dari cengkeraman tangan mereka. Ia lalu melayangkan kakinya ke beberapa orang tepat pada perutnya.
“Kalian lelaki kan? Beraninya keroyokan. Sangat memalukan!” ucap Sony.
Mereka tidak peduli dengan hinaan Sony, yang ada gerombolan itu tambah semangat menghajar Sony meskipun Sony melawan tetap saja ia akan lemas jika di keroyok empat orang.
Vania yang sejak tadi teriak-teriak tak jelas dan menangis kini mulai berpikir bagaimana cara menolong Sony yang sudah lemah itu. Berusaha mencari bantuan namun nihil, satu pun tak ada kendaraan yang lalu lalang. Vania teringat benda yang pernah Sony berikan untuk menjaga dirinya di saat berjauhan dengan kekasihnya itu.
“Mas Sony, tangkap!” teriak Vania melemparkan barang berbentuk seperti senter mini dan dengan sigap di tangkap oleh Sony.
“Terima kasih sayang.” Batin Sony.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
.
.
.... Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
... ...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1