
“Mas, memang apa sih yang tertinggal?” tanyaku penasaran sambil memperhatikan Mas Sony membuka kunci pintu kontrakannya.
“Masuk dulu Dek, Kalau sudah ketemu nanti Mas kasih ke Adik.”
“Mas Sony benar-benar membuatku penasaran,” gumamku dalam hati.
“Duduk di sini dulu ya. Mas mau ke kamar.” Mas Sony melangkahkan kakinya masuk ke kamar tanpa menutup pintu, terlihat ia sedang mencari sesuatu.
“Alhamdulillah. Aku kira jatuh. Sudah ketemu Dek," teriaknya bahagia dari dalam kamarnya.
“Apa sih Mas dari tadi aku tanya nggak di jawab. Aku penasaran tahu," ucapku sembari mendudukkan bokongku di sofa.
Mas Sony berjalan menuju ke arahku dengan senyumnya yang khas, senyum yang begitu manis hingga sampai sekarang masih membuatku tak tahan dengan senyuman itu.
“Dek, coba buka.” Dia duduk mendekat di sampingku.
“Apa ini Mas?” tanyaku menatapnya.
“Buka saja Dek,” Aku membuka kotak merah itu dengan pelan. “ Mas, bagus banget.”
“Suka?” Manik indah itu menatapku lekat memperhatikan reaksiku akan pemberiannya.
“Ini untukku?” tanyaku seraya memegang kalung berliontin love.
“Iya Dek, untuk siapa lagi.” Mas Sony tersenyum lembut.
“Tapi Mas, untuk apa? Bahkan aku tidak sedang ulang tahun sekarang. Dan ini terlalu mewah buatku.”
“Hanya ingin memberimu hadiah saja Dek, sebagai ucapan terima kasih karena selama ini kamu sudah mengisi hati yang kosong. Membuat hari-hari Mas berwarna. Terima kasih ya, dan ini tidak seberapa di bandingkan semua yang sudah kamu berikan.”
“Selama ini Mas yang selalu membuat hariku menyenangkan, apalagi dengan perhatian Mas yang sesempurna itu, aku belum bisa membalasnya. Dan aku juga tidak memberi apa pun ke Mas. Maaf," ucapku menunduk iba.
“Sttt ... jangan bicara seperti itu Dek, kamu sekarang ada di sini untukku saja, aku sudah sangat bersyukur.” Mas Sony meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu menelangkup kedua pipiku, mengarahkan ke wajahnya.
“Mas sangat bersyukur bisa mengenalmu Dek, kamu tidak perlu membalas apa pun. Mas hanya berharap kamu menjaga hati kamu untukku. Setidaknya sampai Mas bisa menemui orang tua kamu nanti. Dan ingat, jangan pernah menghilang tanpa kabar ya Dek," pinta Mas Sony yang terlihat sangat serius.
“Iya Mas, dengan senang hati. Insya Allah aku akan menjaga hatiku, dan juga sebaliknya ya. Jaga hati Mas untukku juga.”
__ADS_1
Mas Sony mengangguk tanpa bersuara.
“Boleh Mas pakaikan?” tanya Mas Sony menawarkan diri.
“Boleh Mas,” jawabku sembari memberikan kalung ke tangannya.
Setelah di pakaikan aku berdiri, berjalan menuju cermin yang tak jauh dari ruang tamu, dekat pintu kamar Mas Sony. Aku tersenyum kecil, rasanya sangat bahagia. Tak lama, Mas Sony kemudian menyusul di belakangku.
“Cantik.” Kata singkat yang keluar dari mulut manis Mas Sony eeketika menghipnotisku.
“Terima kasih Mas.”
“Dek, boleh Mas Sony minta sesuatu?”
“Apa Mas? Kalau aku bisa aku pasti akan mengabulkannya.” Aku berbalik dan ternyata badan Mas Sony terlalu dekat. Aku memundurkan tubuhku satu langkah. Namun, ternyata sudah tak berjarak, tubuhku terhimpit dengan dinding. Mas Sony mendekat dan menumpu satu tangannya di dinding tepat di samping kiriku. Netra kami saling bertatap sangat lekat.
“Dek, boleh aku menciummu untuk terakhir kalinya?” permintaan yang tidak pernah di sangka-sangka.
“Hem ... “ Aku terdiam sesaat. Bingung apa yang harus kukatakan.
"Boleh?"
Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku benar-benar buntu. Mas tolong jangan membuatku semakin tidak bisa bernafas. Dadaku rasanya sangat sesak melihat tatapan matamu itu.
“Apa kamu mengizinkanku Dek?” tanya Mas Sony melembutkan suaranya dan terlihat sayu.
“Em-i-iya Mas," jawabku sambil mengangguk pelan. Ya, aku begitu gugup melihat Mas Sony berdiri di depanku semakin rapat dan tiada jarak.
“Walaupun kebersamaan kita sangat singkat, tapi aku sangat bahagia Dek. Kamu adalah wanita pertama yang berhasil membuatku mengenal cinta.” Sorot matanya seperti langsung menembus ke jantungku. Sungguh baru kali ini aku merasakan gerogi yang sangat luar biasa.
“Em-Mas, a-aku ...." Mulutku seperti terkunci tak dapat berkata.
“Tidak perlu berkata apa pun, aku hanya ingin melihat senyummu yang manis itu. Senyum yang akan kuingat sampai kapan pun. Boleh Mas lihat senyumnya, sayang?” pinta Mas Sony yang baru pertama kali memanggilku dengan sebutan sayang.
Ah rasanya benar-benar ingin terbang. Aku menahan senyum malu bercampur nervous. Dan, tanpa menunggu lama, dengan sigap bibir Mas Sony sudah sampai ke bibirku. Mengecup lembut beberapa detik dan melepasnya, mata kita saling bertatap penuh makna namun tak terucap.
Aku sangat terkejut dan tidak menyangka Mas Sony bisa menciumku. Padahal selama enam bulan di sini, hanya satu kali dia mencium dahiku. Itu pun ketika aku hampir diperkosa Pak Herman. Ciuman singkat yang berniat untuk menenangkanku waktu itu.
__ADS_1
Goyah juga imanmu Son. Ah dasar lelaki nggak bisa lihat bibir betina di depan mata! inget dosa wooy!😂 . *AUTHOR*
Diam thor. Sudah terlanjur basah. Nanggung.*SONY*
Entah apa yang di pikirkan Sony, dia kembali merengut bibir manis Vania, seperti belum puas. Dia memegang tengkuk Vania lalu kedua bibir merah itu saling berpaut dalam kasih, Sony ******* lembut bibir Vania cukup lama. Meskipun sama-sama baru merasakan ciuman pertama. Namun Sony lelaki yang aktif dalam ciuman itu, dia menyapu habis setiap inci bibir Vania. Vania yang tadi rapat menutup mulutnya kini mulai membuka sedikit, memberi ruang Sony untuk mengabsen bibir bagian dalamnya.
Vania merasa ada desiran hebat di dadanya setelah berciuman cukup lama. Sony menyudahi ciuman itu kemudian dia menarik badan Vania ke pelukannya. Sony memeluk erat, mencium kepala Vania yang tingginya hanya di bawah dagu Sony.
Vania melingkarkan kedua tangannya ke pinggang lelaki itu. Dia merasakan kehangatan dan kenyamanan begitu dalam, tangannya semakin menarik erat ke badannya. Hingga tak terasa bulir-bulir air mata Vania lolos begitu saja. Dia menahan agar tidak terisak, dia sangat menikmati pelukan hangat dari lelaki berbadan tegap itu.
“Ya Allah, kenapa aku harus berpisah dengannya.” Gumam Vania dalam hati.
Sony mengusap pelan rambut Vania, “Dek, kenapa menangis?!” ucap Mas Sony melepas pelukannya dan memandang lekat wajah gadis kecilnya. Mengusap air mata yang sudah membanjir di pipi Vania.
“Kenapa menangis sayang?” tanya Sony lembut.
Vania hanya menggelengkan kepala, tak mampu menahan air matanya untuk jatuh lebih banyak lagi.
“Maaf, apa tadi aku menyakitimu? Maafkan Mas ya, sudah lancang menciummu.”
“Tidak Mas, Bukan itu,” elakku. “Aku hanya sedih.” Aku semakin terisak.
“Adik sayang, jangan menangis begitu, nanti Mas ikut sedih. Sudah ya ,,,” lagi-lagi mengusap air mataku. “Kita hanya terpisah jarak dan waktu Dek. Percayalah hati kita akan tetap menyatu. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Oke?”
“Iya Mas, tapi tetap saja berat buatku.” .
Mereka kembali berpelukan cukup lama, menikmati pertemuan terakhir mereka. Pelukan yang hangat dan saling mengeratkan satu sama lain. Seolah membuat keduanya lupa akan segalanya. Lupa waktu misalnya. Hingga ternyata jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Harusnya Vania pulang ke Kos dan mengemasi barang-barangnya. Namun apa daya, itu tidak penting baginya. Yang terpenting hanya menikmati waktu berdua dengan kekasih tercinta.
Bersambung...
Maafin author yang kadang bisa dua hari sekali up ya. Maklum ramadhan. Jadi banyak kegiatan. Pokoknya terima kasih yang sudah setia menunggu. Dan terima kasih juga buat yang sudah mampir.
jangan lupa dukung author dengan like, komen, vote ya sayang.💚💚😘
__ADS_1