
“Mas, kenapa harus membeli boneka sebesar ini?” Sepertinya di mata Mas Sony aku masih seperti anak kecil, hingga dia membelikanku boneka. Ya ampun padahal aku tidak begitu suka dengan boneka. Tapi tidak apalah, apa pun pemberian Mas Sony, akan sangat menyenangkan.
“Kenapa Dek, kamu tidak suka?”
“Suka kok Mas, hanya saja terlalu mubazir kalau Mas berlebihan membelikanku sesuatu, ini saja pasti sudah mahal banget.” Aku menyentuh kalung yang melingkar di leherku, pemberian Mas Sony semalam.
“Mas bahagia Dek bisa memberimu sesuatu, anggap saja sebagai pengingat selama Mas tidak berada di sampingmu.”
“Ah sedih lagi kan, Mas kenapa bicara seperti itu sih. Lagi-lagi air mataku tak bisa ku tahan.
“Kok menangis lagi sih Dek? Dasar cengeng.” Mengacak rambutku bagian atas.
“Habisnya Mas membuatku sedih.”
“Iya, Mas minta maaf. Sudah ah jangan menangis lagi. Mas tidak mau melihatmu menangis Dek. Coba senyum, pasti akan tambah cantik, jangan sedih-sedih terus tidak ada gunanya.” Menyentuh lembut pipiku.
“O iya Mas, mana parfumnya? Pasti lupa, kan?!”
“Memangnya buat apa sih Dek? Kenapa harus parfum yang di minta?”
“Boleh enggak? Kalau keberatan enggak jadi aja.” Ucapku melengos sedikit manja.
“Boleh sayang, tapi Mas penasaran, buat apa? Jawab dulu coba.”
“Buat wewangian jaket Mas Sony yang aku bawa. He he ..” jawabku dengan senyum yang di buat-buat.
“Hah? Maksudnya bagaimana sih Dek?”
“Jaket Mas Sony nanti kan setiap hari pasti aku peluk, dan pasti akan kotor. Kalau misal aku cuci pasti aroma Mas Sony akan hilang. Jadi untuk mengantisipasinya, aku meminta parfum Mas Sony. Biar sewaktu-waktu aku mencucinya, aku bisa langsung menaburkan parfum Mas Sony. Dengan begitu kan aku akan tetap mencium aroma tubuh Mas Sony.”
“Ha ha ha ... astaga Dek. Kenapa bisa berpikir sampai ke situ?! Benar-benar sangat menggemaskan ya.” Tawa Mas Sony terdengar sangat merdu di telingaku, sambil tangannya menarik hidungku karena gemas.
“Mas, selalu mencubit hidungku. Saki tahu!” rengekku manja.
“Ya Sudah bawa masuk dulu Dek bonekanya.” Memberikan boneka yang besar itu. Sungguh aku sangat malu. Baru kali ini aku benar-benar seperti bocah kecil yang suka boneka.
“Eh, iya Mas.” Aku masuk dengan memeluk boneka besar berwarna coklat itu.
“Ya ampun Van. Kamu ngapain bawa-bawa boneka segede orang?!” teriak Dina menegurku.
“Stttt... diam. Ini pemberian.” Aku mengisyaratkan Dina untuk diam, menaruh jari telunjuk ke bibirku.
“Ooo ... hahaha.” Dina dan Kiki lalu tertawa.
Widya yang sekarang lebih banyak diam, sibuk dengan ponselnya, tidak seperti dulu yang sering menyindirku. Ya semoga saja akan terus seperti ini agar aku juga tidak buang energi untuk menanggapinya.
Setelah meletakkan boneka di kursi. Aku keluar menemui Mas Sony lagi.
“Mas, parfumnya mana?!” tanyaku ke Mas Sony yang sedang bersender di motor merahnya, sibuk dengan ponsel yang ia pegang.
“Oh iya, ini.” Merogoh parfum dari jaketnya.
“Terima kasih ya Mas, nanti Mas beli lagi saja. Hehe...” Mengambil parfum kaca berbentuk kotak.
__ADS_1
“Terima kasih ya sayang,” Mas Sony menyindir dengan senyuman yang sangat manis, menyuruhku untuk memanggil dengan sebutan ‘sayang’.
“Terima kasih, sa-yang. He he..” tersenyum malu.
“Apa Dek? Mas belum mendengarnya.” Mendekatkan telinganya ke arahku.
“Terima kasih sayang,” masih kupelankan suaraku karena takut Dina dan yang lain mendengarnya.
“Lagi? Sekali lagi yang keras Dek.” Lagi-lagi Mas Sony menggodaku.
“Terima kasih SAYANG!” ucapku meninggikan suara.
“Ha ha ha ... boleh Mas menciummu Dek?! Mas sangat gemas melihatmu.”
“Hah?!” aku terkejut dan reflek melihat sekitar kos. Hanya ada pepohonan yang tumbuh mengelilingi halaman namun tetap saja aku malu jika ada yang melihat aku berciuman di tempat umum seperti ini.
Baru saja aku menengok ke arah Mas Sony, tiba-tiba dengan cepat dia mengecup bibirku. Padahal mataku sedang sibuk menyapu sekitar kos. Ah lagi-lagi aku seperti mabuk, merasakan ciuman darinya membuatku salah tingkah. Sangat memalukan. Setelah Mas Sony memberikan ciumannya, dia menatapku dalam tanpa berkedip. Ya Tuhan masih saja aku gugup setiap kali dia memandangku.
“Kenapa Mas memandangku seperti itu?”
“Tidak apa-apa Dek, Mas cuma ingin memandangmu puas sebelum Adik pergi.” Netra itu berubah menjadi sayu sesaat, namun terlihat Mas Sony menutupinya.
Aku terdiam, menunduk dan mulai merasakan air mataku yang mulai menggenang.
“Yah, nangis lagi. Dek, lihat wajahmu jelek sekali kalau lagi menangis. Ha ha ha.” Goda Mas Sony yang berusaha membuatku berhenti tertawa.
Dari gang kejauhan aku melihat Ega ,Bian, Leo, dan Candra berjalan menuju ke arah kosku membawa barang bawaannya. Ega dan Bian magang di hotel lain yang lokasinya lumayan jauh.
“Dek, itu teman kamu mau kesini?”
“Iya Mas, mereka di suruh Bu guru untuk menunggu di sini agar mudah penjemputannya.”
“Dek, nanti di bus duduknya sama siapa? Kalau bisa jangan sama cowok ya. Mas tidak rela.”
“Ha ha ha, iya Mas. Mas Sony cemburu?!” tanyaku kegirangan.
“Memang kenapa kalau Mas cemburu? Kenyataannya memang Mas keberatan kalau Adik dekat-dekat dengan lelaki lain, kan bisa sama Dina Dek.”
Aku tersenyum bahagia mendengar pengakuan Mas Sony. Tak sempat aku menanggapinya, suara Ega sudah sangat mengganggu.
“Van, sudah siap?” tanya Ega basa basi dan melihat Mas Sony dengan pandangan tak suka.
“Sudah.” Jawabku singkat.
“Loh, Mas Sony, kok di sini? sudah lama Mas?” tanya Leo yang mengenal Mas Sony karena dia magang di hotel yang sama denganku, begitu juga dengan Candra.
“Iya, lumayan. Ada perlu sama Vania soalnya.”
“Kalian berpacaran?! Ciyee...” tanya Candra yang memang karakternya suka bercanda. Mas Sony menanggapi dengan senyuman.
“Apa sih Ndra, lebay banget. Ingat, aku ada di sini.” Sewot Ega menanggapi pertanyaan Ega yang di lontarkan ke kita.
__ADS_1
“Biasa aja kali Ga, baperan banget jadi cowok. Ha ha ha.” Sahut Candra.
“Kalian masuk saja, nanti kalau Bu Triana sudah datang aku panggil..”
“Tidak, tidak. Kita akan di sini sampai Busnya datang. Enak saja kalian malah berduaan di sini. Bisa-bisa nanti dia mencari kesempatan dalam kesempitan.” Protes Ega.
“Ya sudah terserah. Kalian juga akan capek kalau tidak duduk.” Dasar lelaki aneh.
“Iya, capak tahu habis jalan jauh bawa barang banyak, berat lagi. Masuk aja yuk.” Ajak Leo.
Leo dan Candra pun masuk. Ega tetap dengan pendiriannya yang juga tak tahu malu. Tidak ada gunanya juga dia berdiri mematung hanya untuk mengawasiku dengan Mas Sony. Tapi aku tak ambil pusing. Aku tetap mengobrol dengan Mas Sony seperti biasa, dan menyelipkan beberapa candaan.
“Van, keterlaluan kamu.” Ucap Ega meninggikan suara.
“Apaan sih Ga! Aneh banget.”
“Kamu yang aneh, kamu sama sekali tidak menganggapku di sini, kamu benar-benar tidak punya perasaan.”
“Loh, salah siapa kamu di situ. Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk masuk?!”
“Aku di sini karena aku khawatir sama kamu, takut kamu di apa-apain sama dia.” Menunjuk ke arah Mas Sony.
“Cukup Ga, jangan cari gara-gara. Aku tidak suka kamu terus-terusan menghina Mas Sony. Apa dia pernah berkata jelek kepadamu?! Tidak sama sekali kan?!”
“Sudah Dek, jangan buang-buang tenaga untuk mengurusi dia.” Mas Sony meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Kemudian merangkulku. Aku tahu ini sengaja di lakukan Mas Sony untuk memanas-manasi Ega.
“Lihat, berani sekali dia menyentuhmu seperti itu.” Ega terkejut melihat Mas Sony mesra terhadapku. “Aku muak melihatnya. Membuatku mau muntah!” Ega berlalu pergi, masuk ke dalam kosku membanting pintu.
Mas Sony tertawa puas sudah berhasil membuat Ega seperti kebakaran jenggot.
“Dek, itu sepertinya busnya sudah datang.” Menunjuk dengan dagunya.
“Eh iya Mas, cepat banget sih. Padahal aku masih ingin di sini.” Keluhku merasa sedih.
“Dek, awas ya. Mas tidak mau melihat Adik menangis, pokoknya harus tersenyum sampai Adik nanti menghilang dari pandangan Mas. Paham?”
“Apa bisa Mas? Ini saja sudah mulai menggenang.” Aku menatap Mas Sony dengan mataku yang berkaca-kaca.
“Bisa. Harus bisa Dek. Cup, cup, cup, sini.” Mas Sony merangkul kemudian memelukku sebentar dan mengusap air mataku. Sudah ah, jangan menangis terus.”
Menegakkan badanku lagi dan berkata,
“ Sekarang Adik masuk, panggil teman-temannya biar keluar.”
“Iya Mas, sebentar ya.” Bus mulai mendekat, mundur memasuki halaman yang cukup luas.
“Semuanya, ayo keluar. Busnya sudah datang.” Aku berteriak di dalam ruang santai mengajak semuanya untuk bergegas.
Bersambung...
Terima kasih sudah mampir, dukung author terus ya. komen, like dan vote. love u all💚💚☘☘☘☺😘
__ADS_1