Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Hujan Menguntungkan


__ADS_3

Sony memberhentikan motornya tepat di depan ruko yang minim cahaya lampu malam, bukan karena memilih tempat remang, tapi memang itulah tempat terdekat pemberhentiannya untuk mereka berteduh. Jika mencari tempat lain lagi yang lebih jauh, sudah pasti mereka akan basah kuyup.


 


“Dek, kita berteduh dulu ya. Hujannya semakin deras.”


 


Vania hanya menurut kata Sony, “Iya Mas.” Tuturnya.


 


Sony mematikan mesin dan memarkirkannya. “Ayo sayang, kita duduk di sana biar tidak kena hujan.” Ia menggandeng tangan Vania, mengajaknya duduk di sebuah kursi depan toko yang hanya cukup untuk duduk satu orang.


 


“Mas, duduk di mana?” Vania mendongak melihat Sony yang berdiri di belakangnya, memegang kedua bahu Vania.


 


“Jangan pikirkan Mas, Dek.” Memeluk Vania dari belakang.


 


“Sayang, kenapa suasananya begitu sepi ya, padahal ini pinggir jalan.” Pandangan Vania mengarah pada jalanan yang tak berpenghuni, tak seperti biasa yang padat kendaraan lalu lalang.


 


“Tentu saja sepi Dek, kan hujan. Orang lebih memilih tidur di rumah dari pada harus keluar. Apa lagi ini sudah sangat malam.”


 


“Iya juga sih, apa kita nekat pulang saja ya Mas. Adik takut.”


 


“Takut apa sayang? Kan ada Mas yang akan selalu menjaga dan melindungimu.” Sony berjalan lalu berjongkok tepat di depan Vania. Ia meraih tangan Vania yang sudah mulai dingin.


 


“Terima kasih Mas.”  Sony tersenyum.


 


“Sayang... kedinginan ya?” Sony menatap mata sayu Vania yang hanya di balas dengan anggukan. Tubuh mungil itu terlihat sudah mulai menggigil karena terpaan angin malam di sertai hujan yang semakin deras. Belum lagi kantuk yang mulai melandanya.


 


Seketika Sony menggosokkan tangannya lalu menggenggam erat kedua tangan Vania, sesekali meniupnya agar rasa dingin itu berkurang.


 


“Mas, Pulang yuk.”


 


“Masih deras sayang, nanti sakit. Sabar dulu ya, sebentar lagi hujan pasti berhenti.”


 


“Kenapa Mas begitu yakin, mau sampai kapan kita menunggu di sini sayang? Yang ada Adik semakin kedinginan.”


 

__ADS_1


“Kita tunggu setengah jam lagi ya sayang, kalau belum juga berhenti hujannya, kita pulang.”


 


Sony masih di posisi yang sama, berjongkok di depan Vania sambil terus menggosok tangannya. Kedua pasang tangan itu bertemu saling mengeratkan. Hujan masih nyaman dengan airnya, terus menetes membasahi bumi di malam gelap.


 


Beberapa menit kemudian mereka memutuskan untuk pulang meskipun deras air menyentuh kulit mereka tanpa permisi.


Sesampainya di rumah, Vania dan Sony mengganti pakaiannya yang sudah basah. Sony terlebih dulu selesai merapikan dirinya dan beranjak ke tempat tidur.


Sementara Vania, ia masih sibuk memakai skincare-nya di depan cermin kamar mandi.


 


“Sayang!” panggil Sony sedikit berteriak.


 


“Iya... sebentar Mas.” Sahut Vania, masih mengoles krim malamnya.


 


“Cepat sini Dek!” lagi-lagi Sony berteriak membuat Vania menggerutu.


Hih! Nggak sabaran banget sih Mas! Vania lalu keluar dari kamar mandi.


 


“Kenapa sih Mas dari tadi teriak-teriak?!”


Warning 21+, bocil minggir dulu ya...


 


 


“Adik buatkan kopi ya? Atau mau wedang jahe, biar hangat.”


 


“Mas tidak mau apa pun. Mas cuma butuh kamu, sayang, sini cepetan!” ucap Sony mengedipkan sebelah matanya.


 


Vania mendekati ranjang dengan langkah perlahan, bibirnya tersenyum manis pada Sony seolah tahu apa yang diinginkan suaminya.


 


Sony menarik tangan Vania dan jatuhlah ia di atas Sony, tangannya menahan ke dada bidang itu.


 


“Mas mau apa?!” goda Vania mencubit pipi Sony.


 


“Masih tanya?” Sony semakin erat memeluk Vania di atasnya.


 


“Aku mau tidur Mas.” Vania pura-pura jutek dan mengabaikan Sony. Ia beringsut lalu turun dari tubuh Sony.

__ADS_1


 


“Oh, sudah mulai berani menolak suami, ya?! Sini! Mas akan menghukummu.” Kaki Sony mengunci pergerakan Vania di sampingnya,, ia mulai mencium istrinya dengan gemas dan semakin ganas.


 


“Mas! Pelan dong. Aku tidak mau di per**ko*sa sama suami sendiri.” Keluh Vania yang mulai merasakan tangan Sony meremas kasar dada Vania.


 


“Maaf sayang, ini sangat menggemaskan. Mas tidak tahan.” Deru nafas Sony mulai membalap ketika meraup bulatan kenyal di depannya.


 


“Mas, jangan buka semua kancingnya. Dingin banget. Kecilin dulu AC nya.” Pinta Vania di sela-sela pekerjaan Sony menjelajah gunung kembar Vania, sesekali menyesap puncaknya, menggigitnya kecil, dan ia juga memainkan lidahnya di atas sana.


 


“Tenang saja sayang, habis ini kamu tidak akan kedinginan lagi. Yang ada akan basah keringat dan basah di bawah sana.” Sony mengulas senyum nakal.


 


Lelaki berperawakan tinggi besar itu sedikit pun tak memberi jeda Vania untuk bernafas, Vania terus melenguh merasakan sentuhan nikmat Sony. Desa*han yang terus keluar dari bibirnya pun semakin membuat Sony tertantang untuk melakukan lebih dan lebih pada istri kecilnya itu.


 


“Mas, pelan ... Ah ...” rintih Vania saat Merasakan kejantanan Sony menembus liang kepemilikan Vania dan menggerakkannya dengan gerakan yang semakin menggebu. Bunyi gesekan kulit terdengar sangat jelas di sudut kamar sepasang suami istri yang sedang melakukan penyatuan tubuh bersamaan dengan derasnya hujan yang mengguyur kota.


 


Sony terus mengganti posisi, mencoba mencari posisi yang ternyaman. Ia membolak balikkan tubuh Vania, mulai dari terlentang, miring, duduk, berdiri, dan juga nung*ging. Vania hanya pasrah dan menikmatinya.


 


Hingga hampir dua jam permainan itu belum juga kelar, Sony masih terus memainkan tubuh Vania. Entah tenaga apa yang di miliki Sony hingga ia betah dan tahan lama. Atau mungkin ia meminum obat kuat? Hanya Sony dan author yang tau.😂


 


“Sayang, udah, a--aku nggak kuat.” Rintih Vania merasakan kewanitaannya sudah mulai panas karena gesekan yang terlalu lama.


 


Vania menjerit bersamaan dengan Sony yang memacu sampai puncaknya, ia menyemburkan lahar panas yang menghangatkan rahim Vania. Vania meremas seprai dan mengangkat tubuhnya yang menggelinjang hebat akibat ulah Sony. Tubuh dan kakinya seakan kaku namun seketika lemas tak berdaya.


 Sony memeluk erat tubuh Vania, hawa dingin seketika berubah menjadi sangat panas. Bahkan AC dan hujan di luar tak mampu mendinginkan mereka. Tubuh mereka pun juga di hujani keringat yang membanjir.


 


“Bagaimana sayang? Masih dingin?” bisik Sony menggoda di telinga Vania, ia menjilat dan menggigit pelan daun telinganya yang memerah karena sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan, begitu juga dengan pipinya yang sudah memerah seperti udang rebus.


 


“Mas minum obat kuat ya? Capek tau.”


 


“Tapi enak, kan? Puas, kan? Hehe ...” mencium pipi dan bibir Vania. “Mas tidak minum apa pun sayang, Mas bisa lebih lama dan lebih sering lagi kalau Adik mau.”


 


“Nggak!” jawab Vania cepat dan sangat singkat. Ia lalu menatap tajam suaminya yang berbaring di sebelahnya. Meskipun tak bisa mmeungkiri, ia memang benar-benar puas malam ini. Sony tertawa lepas melihat ekspresi Vania yang menurutnya sangat lucu. Memang apa pun yang di lakukan Vania, di mata Sony selalu lucu dan menggemaskan. Dasar bucin!


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya udah lama ga up, dikarenakan keadaan yang gak memungkinkan untuk menulis. Semoga masih ada yang setia menunggu ya..


jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, juga vote. Itu aja yang author minta buat penyemangat. Terima kasih.


__ADS_2