Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kecerdasan Beni


__ADS_3

Sony mengantar kepergian Sony di depan rumahnya, melihat Sony berlalu dengan motornya membuat mata Vania semakin perih menahan genangan air yang sedari tadi ddi bendungnya.


 


Hati-hati Mas, semoga selamat sampai tujuan tanpa ada yang melukaimu. Aku di sini akan selalu mendoakanmu.


 


Sony berada di hotel tempat ia menginap, di lihatnya jam di tangannya menunjukkan pukul empat sore. Ia segera mengemasi barangnya, harusnya jam chek out pukul dua siang namun Sony tak peduli jika harus membayar lebih untuk ekstra jamnya. Yang terpenting dia cukup puas dua hari ini bisa menghabiskan waktu dengan pujaan hati yang lama tak di temuinya.


 


💚💚💚


 


Tengah malam, Sony tiba di rumah. Setelah membersihkan badannya, ia membaringkan badannya ke ranjang sambil memeriksa ponselnya. Di lihat banyak pesan dari Vania yang belum sempat ia baca. Sony segera menelepon Vania agar ia tak kepikiran dan merisaukannya.


 


Di bawah sang rembulan di temani sang bintang, dua insan yang sedang merasakan kesepian satu sama lain kini di landa rindu. Di tempat yang berbeda, jauh. Saling mengungkap rasa masing-masing lewat panggilan yang bertatap muka. Mencurahkan kegundahan yang terpendam.


 


Vania, gadis belia yang sudah beranjak dewasa bahkan sudah mengerti cinta, otaknya kini sudah mulai memikirkan masa depan. Entah masa depan seperti apa yang dia inginkan, yang jelas ingin hidup bahagia dengan Sony.


 


Ketika mata mereka saling bertatap walau lewat gambar bersuara, bagi mereka sangatlah cukup untuk saat ini. Setidaknya mereka berkomitmen untuk saling menjaga hati masing-masing sampai nanti di persagukan kembali.


 


“Bro! Baru balik!” sapa Beni yang menemui Sony di kamarnya, tepatnya di balkon tempat favorit Sony ketika lagi bersantai.


Sony dengan gugup mematikan teleponnya dengan Vania karena ia belum terbiasa memperlihatkan kemesraannya pada sahabatnya itu. Sony yang sekarang bucin jadi wajar dia malu.


 


“Iya, baru saja. Kenapa? Bagaimana hotel Ben? Aman?!” tanya Sony.


 


“Tenang, hotel sangat aman berada di tanganku.”


 


“Aku percaya itu. Thanks!” Sony menepuk pundak Beni yang berada di sampingnya sambil mengapit benda berasap sesekali menghisapnya.


 


“Ben, ada yang mau kubicarakan.”


 


“Cerita saja, soal apa?” tanya Beni penasaran.


 


“Vania.”


Beni menebak, “Kekasihmu itu? Kenapa dengan dia?”


 


“Aku sedang bingung, aku tidak tenang. Berjauhan seperti ini membuatku semakin khawatir akan keselamatannya.”


 


“Ceritakan yang jelas, aku masih belum paham intinya apa.” Sahut Beni.


 


“Ada lelaki yang mengejar Vania, lebih tepatnya mantannya. Dia satu kelas. Dan dia tidak terima kalau aku memiliki Vania. Jadi dia berusaha merebut Vania kembali, lebih parahnya lagi kemarin dia menyuruh temannya untuk mengeroyokku.”


 


“Apa?! Kamu serius? tapi kamu tidak apa-apa, kan?" memperhatikan tubuh Sony kalau-kalau ada yang terluka. "Wah ini tidak bisa di biarkan Son, kita harus bertindak.”


 


“Apa yang harus kita lakukan agar dia jera tanpa menyakitinya. Dia masih sekolah. Kasihan orang tuanya kalau sampai dia kenapa-napa.”


 


“Dasar gila! Masih saja mikirin orang yang sudah menjahatimu. Sampai kapan kamu mau jadi orang baik Son! Ada saatnya kamu harus tega dan jahat pada orang. Jangan terlalu lemah seperti itu. Jangan pakai hati! Paham?!”


 


“Bukan saatnya menghinaku Ben. Bantulah aku memikirkan caranya. Bayangkan, masih satu tahun lagi aku harus menunggu Vania lulus, dan mereka juga bersama selama satu tahun lagi. Ya Tuhan..” Sony mengusap kasar wajahnya.


 


“Chill dude, Kalau kamu gelisah terus mana bisa berpikir. Biasanya kamu cerdas, melebihi kepintaranku. Masa masalah begini saja kamu nyerah.”


 

__ADS_1


“Huh!” Sony menghela nafas panjang tanpa menjawab perkataan Beni yang sedari tadi mencibirnya.


 


“Tidak mungkin aku bolak balik ke sana. Terlalu jauh dan bagaimana nanti kalau hotel sering kutinggal-tinggal, bisa-bisa Om Irawan menegurku karena aku lalai."


 


“Cuma itu idemu?! Payah.” Cela Beni tiada habisnya.


 


“Ben! Kau mau membantuku atau menghinaku?!” Sony menatap tajam Beni.


 


“Hahaha ... aku ingin main tebak-tebakan aja Son.” Beni malah tertawa melihat ekspresi Sony yang gelisah dan terbawa emosi.


 


“Bukan saatnya bercanda Ben.”


 


“Kamu punya bawahan banyak, mereka juga pintar, kenapa tidak kamu manfaatkan salah satu di antara mereka.”


 


“Maksud kamu? Apa aku harus menyuruh seseorang untuk mengawasi Vania?! Mana mungkin Vania menyetujuinya.” Bantah Sony.


 


“Ah kenapa kamu jadi bodoh begini sih Son.”


 


“Lalu?!”


 


“Kamu perintahkan salah satu karyawanmu untuk menyamar menjadi guru Vania. Dengan begitu, ia akan selalu bisa mengawasi Vania di sekolah tanpa seorang pun yang tahu termasuk Vania.”


 


“Bagaimana caranya? Apa bisa?”


 


“Hei bro! Kau lupa sudah menjadi kaya sekarang? Apa kamu akan membiarkan uangmu itu membusuk di bank?! Hah?!”


 


 


“Tenanglah, serahkan padaku!” jawab Beni dengan penuh percaya diri. “Besok aku akan mengurusnya brother. Sekarang tidurlah.”


 


“Terima kasih.”


 


“Jangan terlalu sering mengucap kata itu. Aku sangat risih mendengarnya dari mulutmu!” Beni memutar tubuhnya lalu berjalan meninggalkan kamar Sony.


 


Sony tidak menjawab perkataan Beni, hanya tersenyum melihat sahabtanya itu mengomel tiada habisnya.


“Semoga ada jalan ya Dek,” batin Sony.


 


☘☘☘☘


 


“Sinta, tolong ke ruangan saya sekarang.” Perintah Beni.


 


“Baik Pak.” Suara wanita yang baru saja mengangkat telepon di meja kerjanya, di Hotel Sony.


 


Tok Tok Tok


“Boleh saya masuk Pak?” ijin Sinta di balik pintu yang tertutup.


 


“Silakan.”


 


“Sinta, di sini tertulis kamu belum menikah, dan orang tua kamu sudah meninggal. Apa betul?!” tanya Beni sambil memeriksa data diri Sinta, sekretaris Sony yang tingkat kepintarannya di atas rata-rata.

__ADS_1


 


“Iya betul Pak, maaf kalau boleh saya tahu, ini ada apa ya Pak?”


 


“Kalau kamu belum menikah dan tidak ada orang tua, berarti kamu tinggal sendirian? Berarti tidak ada tanggungan, kan?”


 


“Iya Pak.”


 


“Saya akan menawarkan kamu pekerjaan, tapi di luar kota. Apa kamu bersedia?” tanya Beni dengan mimik wajah yang tegas, sok cool dan sok ganteng.


 


“Pekerjaan apa Pak?” tanya Sinta sedikit ragu dan berusaha menjaga perkataannya lebih hati-hati karena Beni terkenal galak dan tegas. Berbeda dengan Sony yang sangat ramah dengan siapa pun.


 


“Jadi guru.” Ucapnya singkat.


 


“Guru? Maaf, tapi saya belum pernah dan sepertinya saya tidak bisa Pak, karena bidang saya bukan sebagai guru.” Ucap Sinta memberanikan diri.


 


“Kamu berani menolak?!” Beni mulai meninggikan suaranya.


 


“Bu—bukan begitu maksud saya Pak, saya bersedia tetapi ini terlalu mendadak. Saya belum ada persiapan apa pun.”


 


“Kamu hanya perlu siapkan mental, dan kamu tenang saja. Saya akan bawakan kamu dua lelaki sebagai pelindung untukmu dan Vania.”


 


“Vania?!” seperti tidak asing aku mendengar nama itu. Siapa dia?


 


“Tugas kamu melindungi Vania di sekolahnya, jangan lengah dan jangan sampai dia hilang dari pengawasan kamu, selama di sekolahnya.” Tukas Beni menyusun rencananya.


 


“Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang Pak?”


 


“Kamu kemasi barang-barang kamu, dan nanti akan ada dua lelaki yang akan ikut denganmu.”


 


“Maaf Pak, apa saya boleh menyelesaikan berkas-berkas yang harus saya kerjakan dulu sebelum pergi?!”


 


“Beri tahu saya kalau sudah selesai semuanya. Saya akan siapkan file-file yang harus kamu bawa berangkat.”


 


Bersambung.....


 


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2