Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kejutan Pertemuan


__ADS_3

 


Hari demi hari berlalu, akhir semester telah berlalu. Vania dan teman-temannya kini telah menginjak bangku kelas tiga. Masa abu-abu yang singkat itu mereka nikmati tanpa memikirkan bagaimana di masa yang akan datang.


Yang mereka tahu hanya belajar dan meminta uang pada orang tuanya. Namun tidak dengan Vania, dia sangat berbeda dan sangat lihai mencari sambilan, berjualan secara online adalah keberuntungan baginya karena penghasilan yang di dapatnya sangat lumayan untuk sekedar tambahan uang jajan, di tabung, bahkan terkadang bisa memenuhi keinginan adiknya.


 


Vania yang masih berhubungan baik dengan Sony, tak pernah sekalipun mengabaikannya. Rupanya Sony dan Vania memiliki ikatan cinta yang begitu kuat hingga LDR yang cukup lama pun tak menjadi masalah bagi mereka.


 


Mentari mulai menenggelamkan cahayanya, senja kini berganti malam, menampilkan keindahan bulan dan bintang yang bertebaran. Sony, termenung di balkon kamarnya setelah selesai mengemasi beberapa barangnya. Hanya satu tas ransel yang akan di bawanya besok setelah subuh.


Sony akan meninggalkan hotelnya untuk beberapa hari, dia titipkan semua urusan hotel kepada Beni sahabat terbaiknya itu.


Beberapa bulan terakhir, Sony yang sudah cukup lihai mengurus hotelnya ingin mengambil istirahat sebentar. Meskipun sebagai owner, dia bukan tipe seseorang yang pemalas, dia begitu rajin dan semangat bekerja. Apalagi setelah diberikan amanah oleh omnya, sedikit pun dia tidak ingin mengecewakan beliau.


 


“Son, tangkap ini!” Beni yang tiba-tiba memanggil dari belakang itu langsung melempar sebuah kunci.


 


“Apa ini?!”


 


“Kamu tidak lihat itu kunci?” ucap Beni santai sedikit menyebalkan. Dia yang memang tinggal serumah dengan Sony selalu memahami apa yang di butuhkan Sony.


 


“Iya, aku tahu ini kunci mobil. Terus maksudnya apa kamu kasih ke aku? Untuk apa?!” tanya Sony melihat Beni yang sedang duduk di kursi sambil mengapit sebatang rokok di jarinya.


 


“Pakai untuk besok, tadi siang aku baru saja membelinya.” Jawab Beni singkat menjelaskan mobil Jeep yang baru ia beli untuk sahabatnya dari hasil kerja keras mereka beberapa bulan ini.


 


“Tidak perlu, lagian buat apa kamu beli mobil. Kan sudah ada di bawah. Kamu sangat boros Ben.” gerutu Sony.


 


“Son, di bawah itu mobilnya om.kamu harus punya sendiri. Dan itu mesinnya sudah cukup tua. Kita tidak bisa memakainya terus. Tidak keren untuk kita kalau bertemu dengan rekan bisnis. Apa kata mereka kalau tahu kita memakai mobil buntut om!”


 


“Terserah apa katamu. Besok aku akan tetap naik motor.” Jawab Sony tanpa basa basi.


 


“Jangan naik motor, kamu tahu kan ini musim hujan?! Terlalu bahaya.”


 


 


“Hujan masih air. Jangan khawatir.” Ucap Sony berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Beni sendirian di balkon.


 


“Dasar keras kepala.” Umpat Beni.


.


.


Suara azan subuh nan merdu terdengar jelas di telinga Sony, segera ia mandi dan mengambil air wudu. Percikan demi percikan yang jatuh di kakinya seakan membuatnya tenang. Hari ini adalah hari yang ia nantikan setelah sekian lama. Berharap semua berjalan sesuai rencananya.


 


“Ben, bangun sudah subuh!” membuka pintu kamar Beni.


 


“Hmmm....” Beni yang masih tertidur pulas di kamarnya tak mengindahkan perkataan Sony.


 

__ADS_1


“Ben! Aku berangkat dulu. Titip hotel ya!”


 


“Ya, ya...! Hati-hati.” Jawab Beni lirih dengan mata yang terpejam dan asyik menarik selimutnya. Bahkan alarm ponselnya pun yang berbunyi keras sama sekali tak di anggapnya.


 


Sony menuruni tangga setengah berlari sambil membawa tas ransel hitamnya. Jaket kulit berwarna hitam yang melekat ditubuhnya membuat penampilan Sony tampak sangat gagah. Tak lupa ia memakai kacamata hitam agar tidak silau terkena pantulan sinar dari langit.



Juga mtor merah yang menjadi andalannya selalu setia menemani Sony ke mana pun ia pergi. Bahkan menjadi saksi bisu kisah Sony dan Vania.


 


Beberapa jam Sony menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai di hotel matahari. Hotel yang tidak terlalu besar namun tempat yang sangat bersih dan rapi itu cukup membuat Sony nyaman untuk tinggal dua hari ke depan atau mungkin lebih.


 


Hari ini cukup melelahkan untuknya karena sudah lama dia tak bepergian luar kota dengan mengendarai motor. Biasanya ia lebih memilih menaiki kereta karena lebih cepat dan tidak menguras energi. Namun berbeda dengan hari ini, dia lebih memilih menyusuri beberapa kota agar bisa menghafal jalannya ketika suatu saat nanti keadaan harus mewajibkannya untuk ke sana kemari.


 


Malam telah tiba. Kini Sony telah berpakaian rapi dengan warna hitam kesukaannya. Siap untuk menjalankan misinya.


 


Di sebuah kafe bernuansa putih coklat, Vania yang sedang berkumpul dengan beberapa teman terdekatnya, dia tampak sangat ceria dan bahagia karena bisa merayakan ulang tahun sederhananya bersama para sahabatnya. Leo, Candra, Kiki dan Dina meskipun hanya berlima, mereka cukup meramaikan suasana kafe tersebut.


 


“Selamat ulang tahun sayang,” suara laki-laki sedikit berbisik lembut terdengar tak asing di telinga Vania. Vania yang sedang bercanda gurau mengobrol asyik dengan kawannya langsung terdiam sesaat dan memperhatikan suara tersebut.


 


“Suara itu?!”


 


“Kenapa Van, kok tiba-tiba bengong?” tanya Candra yang duduk tepat di depan Vania yang terhalang meja bundar ala kafe.


 


“Aku seperti mendengar suara Mas Sony, apa hanya perasaanku saja? Ah tapi tak mungkin Mas Sony ada di sini. Kan jauh. Ah dasar gila kamu Van”. Batin Vania.


 


“Dek, kamu tidak sedang halu kok.” Ucap Sony lembut berdiri di belakang Vania, bertumpu senderan kursi yang di duduk i Vania.


 


Spontan Vania langsung berdiri menghadap ke belakang. Dia sangat senang dan langsung menghambur ke tubuh Sony.


 


“Mas Sony?!” Vania memeluknya erat dan mengalungkan tangannya ke pinggang Sony, tanpa memedulikan mata yang memperhatikannya. Sahabatnya yang sudah tahu akan kehadiran Sony pun ikut bahagia menyaksikan pertemuan antara dua insan yang sedang di mabuk cinta itu.


Ya, Sony yang telah bekerja sama dengan Leo sebelumnya sangatlah mudah untuk memberikan kejutan kecil untuk wanita kecilnya itu. Hanya sekedar memberi alamat dan mengajaknya makan bersama teman-temannya. Itu cukup membuat Vania merasa sangat bahagia. Ditambah lagi kehadiran Sony.


 


Sadar ia begitu agresif, Vania melepas pelukannya dan memandangi wajah Sony yang tampannya seperti pangeran berkuda tanpa kuda.



“Maaf, aku terlalu bersemangat.” Ucap Vania meringis memperlihatkan barisan giginya kepada Sony dan ke empat temannya yang duduk mengelilingi meja.


 


“Ini benar Mas Sony kan? Apa aku sedang mimpi?” Vania masih belum percaya dengan apa yang dilihat di depannya saat ini.


 


“Kamu tidak mimpi Dek, coba sini pipinya.” Sony tertawa sambil mencubit kedua pipi Vania dan memencet hidung mungilnya. “Sakit?”


 


“Aww, sakit Mas.” Menepuk dada Sony lalu memegang hidungnya yang sudah memerah karena ulah gemas Sony.

__ADS_1


 


Mereka sangat memaklumi Vania yang terkadang sifatnya masih seperti anak kecil. Merengek kangen, merengek ingin bertemu dengan sang kekasih. Namun baru kali ini permintaannya di kabulkan oleh Sony.


 


Beberapa bulan terakhir Sony sangat sibuk mengurus hotelnya dan tidak bisa di tinggalkan. Namun hal itu tidak di ketahu i oleh Vania karena Sony tidak pernah memberitahunya bahwa ia sekarang telah menjadi pemilik hotel tersebut, dia belum siap dan dia ingin nantinya Vania akan mengetahuinya sendiri tanpa ia berkoar.


 


 


“Mas, kok bisa sampai sini? Tahu dari mana alamatnya? Dan kapan Mas Sony datang? Sendiriankah?!” Vania menghujani pertanyaan pada kekasihnya itu.


 


“Mas boleh duduk dulu Dek? Tidak mau menawari Mas minum?” berdiri menundukkan wajahnya tepat di depan wajah Vania.


 


 


“Oh iya lupa. Sini Mas duduk di ...” melihat sekitar tiada kursi kosong di dekatnya.


 


“Mas bisa ambil sendiri Dek.” Menyeret kursi di meja sebelah tepat dan diletakkan sejajar dengan kursi Vania.


 


“Mas, aku pesankan minum ya? Mau panas apa dingin?” tanya Vania sembari menduduki kursinya.


 


"Terserah Adik, apapun pasti kuminum." jawab Sony tersenyum ramah yang terus dipandang tanpa kedip oleh Vania..


“Ehemm!, mentang-mentang sudah ada sang pangeran. Kita diabaikan nih. Pulang saja yuk.” Sindir Dina pada Vania.


 


“Jangan begitu dong, kalian harus tetap di sini.” Sahut Vania tersenyum.


 


“Boleh gabung?!” suara itu terdengar nyaring membuyarkan fokus mereka yang sedang beradu tawa karena hiburan Candra yang humoris.


 


Tanpa permisi, lelaki itu mengambil satu kursi untuknya dan duduk di sebelah kiri Vania. Suasana menjadi canggung, suara-suara gaduh yang di hadirkan sesaat tiba-tiba hilang begitu saja bagai di terpa angin.


 


 .


.


 


Bersambung...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2