Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Sangat Tampan


__ADS_3

Aku berjalan menunduk sambil mengusap sisa air mataku yang basah.


BRAKK


Badanku tak sengaja menabrak dada bidang tepat di depanku. Ponsel yang di pegangnya terjatuh. Reflek aku berjongkok mengambilkannya.


“Maaf.” Ucapku sambil memberikan ponsel miliknya, tanpa memandang wajahnya.


“Dek?! Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit? Kenapa menangis?” tanya Mas Sony ikut berjongkok.


 


Ya Allah, pangeran dari mana yang kau kirim untukku? Sungguh ini pemandangan yang begitu indah. Hamba tak sanggup memandangnya Ya Allah. Jantungku seperti berontak ingin keluar dari raga. Kenapa dia sangat tampan memakai jas, Gagah sekali. Dan wajahnya. Perfect.


“Dek?” panggilnya agak keras karena aku tak berkedip melihatnya. Sungguh memalukan.


 


“Eh, Mas ... aku tidak apa-apa kok. Mas dari mana saja?” ucapku lega melihat kedatangannya yang benar-benar aku tunggu sedari tadi.


 


“Maaf ya Dek Mas agak telat, baru saja Mas mau balas pesan kamu. Mas tadi ada kepentingan sebentar. Jadi baru saja sampai hotel.”


 


“Van, aku sama Kiki masuk dulu ya.” Ucap Dina meninggalkanku berdua dengan Mas Sony.


 


“Iya Din.” Singkatku.


 


“Duduk di luar yuk Dek?” mengajakku duduk di dekat kolam renang. Meja yang tadinya ada Kris, kini sudah kosong. Entah ke mana perginya tak terlihat. Yang jelas aku senang dia sudah tidak menampakkan wajahnya di depanku lagi. Namun aku memilih duduk di kursi paling ujung dekat dengan pintu masuk, terdapat pohon yang di hias dengan lampu. Tak lupa lilin juga menghiasi sekitarnya.


 


“Di sana saja Mas, bisa melihat acaranya juga meskipun hanya dari luar.”


 


“Yuk.” Mengangguk lalu berjalan beriringan. “Adik kenapa tadi menangis?” lanjutnya mengulang pertanyaannya tadi yang tidak aku jawab..


 


“Aku baik-baik saja kok Mas, mungkin aku hanya terlalu cengeng.”


 


“Adik tahu kan, Mas paling tidak suka kalau melihatmu menangis. Mas akan merasa bersalah terus karena membiarkan air mata itu menetes. Apa yang menyebabkan Adik menangis?” tanyanya memaksa.


 


“Hanya hal sepele Mas, tidak perlu di bahas.”


 


“Oke kalau Adik tidak mau menjelaskan. Mas tanya langsung ke Dina ya, tunggu di sini dulu. Mas cari Dina ke dalam.” Berdiri dengan sigap mencari keberadaan Dina.


 


“Eh, tunggu Mas, jangan ke mana-mana. Baiklah, aku akan bercerita.” Menarik tangan Mas Sony.


 


Mas Sony menarik kursi mendekat dan mendengarkan ceritaku dengan serius.


 


“Sebenarnya tadi Kris menggangguku Mas. Aku sudah berusaha menjauh, tapi dia menarikku dan aku berada di pangkuannya. Tangannya melingkar di perutku sangat kuat, kalau Dina tidak mencubitnya mungkin tidak akan di lepaskan.” Air mataku tiba-tiba memaksa untuk jatuh.


 

__ADS_1


“Apa?! Berani sekali Kris berbuat itu ke kamu Dek. Padahal aku sudah sering memperingatkannya untuk tidak mengganggumu karen Tuhan a kau milikku. Mas tidak rela siapa pun menyentuhmu.” Ucap Mas Sony seperti sangat emosi.


 


Apa dia bilang? Aku miliknya? Apa aku tidak salah dengar? Seperti mimpi rasanya. Ya, Mas Sony ... bagaimana bisa orang setampan dia mau bersamaku. Aku masih tidak habis pikir.


 


“Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Mas. Mas kan sudah di sini jadi aku lebih tenang.” Ucapku tersenyum.


 


“Maafkan Mas ya Dek, coba tadi Mas datang lebih awal, pasti kamu akan aman. Tidak di ganggu lelaki hidung belang seperti Kris. Rasanya Mas sangat ingin memukulnya sekarang.”


 


“Jangan Mas! Aku tidak mau pertemanan Mas sama Kris berantakan gara-gara aku.”


 


“Buat apa punya teman seperti dia, menyapa saja malas Dek. Dia tidak pernah menghargai wanita sedikit pun. Nanti Mas pastikan dia tidak akan berani mengganggumu lagi Dek.” Memandangku tak berkedip seperti akan berkata sesuatu.


 


“Terima Kasih Mas.”


 


“Dek, boleh Mas jujur?”


 


“Jujur apa Mas, mau bicara apa? Katakan saja.”


 


“Malam ini, Adik begitu cantik. Sangat sempurna. Mas suka melihat penampilanmu seperti ini Dek. Lihat! baju kamu sangat tertutup. Rambut juga menutupi leher, manis sekali.” Menatapku intens, dan memperhatikanku dari atas sampai bawah.


Wanita mana yang tak tercubit hatinya jika dipuji lelaki yang di sayang, lelaki yang sangat sempurna.


 


“Mas jangan seperti itu. Jangan terus memandangku, memujiku, aku tak sanggup. Tapi hari ini Mas juga sangat tampan loh. Hehe,” ucapku malu-malu.


 


“Tak sanggup kenapa memangnya Dek? Hahaha.” Menertawakan ekspresiku yang mungkin baginya lucu. Padahal mengatakannya saja seperti berat.


“Eh, tadi Adik bilang apa? Mas tampan? Tumben sekali berani mengucap kata itu. Tuh kan, Wajahmu mulai memerah Dek, imut sekali. Ha ha ha.”


 


“Mas tolong dong, cukup ya jangan menertawakanku seperti itu.” protes, manyun dan memukul kecil lengan Mas Sony.


 


“Mas senang menggodamu Dek. Apalagi kalau sudah berhasil membuat pipimu merah seperti itu. Melihatnya jadi gemas. Rasanya ingin mencubit, tapi kasihan.” Lagi-lagi tak berhenti tertawa. Bahagia sekali sepertinya Mas Sony.


 Aku pun ikut hanyut dalam suasana yang begitu indah ini hingga tak tahu acara telah di mulai. Tapi bagiku itu tak penting. Yang terpenting aku bisa menghabiskan waktu bersama orang terkasih.


“Coba rambut kamu seperti ini terus Dek, tidak seperti waktu kerja. Selalu dicepol rapi. Kalau begini kamu terlihat sangat cantik, dan leher juga tidak bisa bebas dilihat orang.”


 


What? Kenapa lagi-lagi yang dibahas leher sih Mas.


 


“Memang kenapa dengan leherku sih Mas?!” tanyaku sedikit sebal.


 


“Sayang Dek kalau bagian sensitif dilihat orang. Itu kan termasuk aurat. Mas juga tidak rela orang bebas melihatnya. Sebenarnya Mas pengen lihat Adik pakai jilbab, tapi Mas kan tidak bisa begitu saja mengatur, sedangkan Mas saja bukan siapa-siapa.” Tutur Mas Sony,

__ADS_1


 


“Loh, kok bukan siapa-siapa? Mas kan penting buatku.” Jawabku tanpa pikir panjang.


 


“Sepenting apa Dek?” mulai menggoda lagi.


 


“Ya penting Mas, bangetlah pokoknya, intinya aku bahagia kalau sama Mas Sony. Juga merasa aman.”


 


“Benarkah seperti itu? Mas senang Dek mendengarnya. Sekarang sudah berani terang-terangan sama isi hati ya Dek? Alhamdulillah.” Tersenyum sedikit menggoda. 


 


“Tuh kan salah lagi?” ucapku sedikit ngambek.


 


“Tidak salah Dek, Mas suka. Tapi walaupun Adik menganggap Mas penting, Mas tidak bisa seenaknya mengatur penampilanmu sekarang Dek, mungkin hanya sebagian kalau Mas tidak suka akan Mas katakan. Tapi untuk merubah seluruhnya, Mas akan keterlaluan, karena posisi Mas sekarang masih orang lain. Kecuali kalau sudah jadi istriku nanti.” Melebarkan penjelasan yang membuatku terpaku, kenapa harus menyebut istri. Itu terdengar sangat aneh meskipun sangat menyenangkan jika aku mengkhayalkannya. Ha ha ha


 


“Eh istri?! Ehm iya aku paham kok Mas. “ bijak sekali Mas kamu, lagian aku belum siap juga kalau harus pakai jilbab sekarang, meskipun itu kewajiban.


 


“Dek, lapar? Mas ambilkan makan ya?”


 


“Tidak perku repot-repot Mas. Aku kan bisa ambil sendiri. Atau kita bareng saja yuk Mas.” Ajakku.


 


“Baiklah, ayo.” Aku dan Mas Sony berjalan berdampingan menuju buffet (meja prasmanan).


 


Selesai mengambil makanan, aku dan Mas Sony kembali ke meja tadi. Belum sempat makan, Mas Sony sepertinya dipanggil temannya yang juga security. Terlihat mereka mengobrol serius, entahlah, mereka juga pasti punya urusan penting kan,


 


“Dek, Mas tinggal sebentar tidak apa-apa?” tanyanya, seperti berat meninggalkanku. Lebay sekali ya, kan masih satu lokasi.


 


“Tidak masalah Mas, kan kita masih satu lokasi juga. Hehe, tapi jangan lama ya, kan Mas belum makan.”


 


“Tapi Mas takut, tidak tenang ninggalin kamu sendirian Dek. Atau Mas cari Dina dan Kiki dulu ya buat jagain kamu di sini.”


 


“Mas. Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja. Sudah sana pergi. Kasihan teman kamu menunggu.” Sedikit risih juga di perlakukan seperti ini, tapi ada senangnya juga sih karena dia sangat perhatian.


 


“Oke Dek, sebentar ya. Mas tidak akan lama. Kamu hati-hati ya. Adik makan dulu, habiskan.”


“Iya Mas, iya ,,, Ya Allah. Udah sana!”


Aku makan dengan santai sesekali melihat acara yang begitu meriah di dalam sana.


Mataku mendapati Tina dan dua orang temannya berjalan menuju ke arahku.


Ah mereka. Mau apalagi sih ke sini. Semoga mereka tidak membuat ulah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2