Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Curahan Hati


__ADS_3

“Maaf. Hahaha. Aku masih tidak percaya kau bisa mempunyai kekasih Son.” Beni masih tertawa geli mendengar Sony mempunyai seorang wanita. Karena sejak dia sekolah hingga kuliah, dia sama sekali tidak berniat pacaran. Meskipun banyak wanita yang mendekati, dia akan menolaknya. Dan Sony juga pernah bilang ke Beni kalau ia tidak akan berpacaran hingga nanti menikah. Ternyata semua berubah ketika ia bertemu dengan Vania.


 


“Sekarang berbeda Ben, tiba-tiba saja dia datang mengetuk hatiku. Sebelumnya juga aku tak pernah menyukai wanita sebegini dalamnya.” Ucap Sony terbuka pada Beni. Beni yang tadinya bercanda mulai serius menanggapi Sony.


 


“Wanita mana yang beruntung mendapatkanmu itu? Kenapa tidak menikah saja langsung?!”


 


“Bukan dia yang beruntung, justru aku yang sangat beruntung mendapatkannya. Dia wanita yang begitu baik dan sederhana. Tapi sayangnya dia masih sekolah, aku mengenalnya waktu dia magang di hotel ini.” ucap Sony.


 


“Hah? Masih sekolah? Kenapa kamu tidak mencari yang dewasa saja? Masa kamu pacaran sama anak kecil sih?! Ya, meskipun dia cantik sih.”


 


“Ya, memang umurnya jauh di bawahku. Tapi jangan salah, dia begitu dewasa dengan pemikirannya. Sopan, dan tidak seperti wanita lain yang ku temui di luaran sana.”


 


“Sepertinya kamu begitu mencintainya ya Son, heran sekali aku melihatmu sekarang. Aku kira kamu memang benar-benar tidak tertarik dengan perempuan.” Ujar Beni serius namun masih sedikit bercanda.


 


“Terus bagaimana denganmu.?!” Tanya Sony menanyakan seorang wanita ke Beni.


 


“Aku? Aku baru saja putus dengan pacarku. Padahal sudah dua tahun. Dia selingkuh. Aku paling benci wanita selingkuh.”


 


“Kasihan sekali kamu. Ah tapi kamu tidak susah juga untuk mendapatkan seorang perempuan.” Ucap Sony.


 


“Tapi kriteria yang kucari sedikit rumit Son. Tidak semua wanita mau dengan syarat yang kuajukan.”


 


“Memang apa syaratnya?! Menjalin hubungan kok bersyarat.” Keluh Sony keheranan dengan perkataan Beni.


 


“Intinya dia harus memberiku kabar setiap satu jam sekali, laporan foto apa yang sedang dia kerjakan. Dan paling penting dia cantik, pintar, seksi, dan satu lagi dia harus bisa masak.”


 


“Hey! Apa kamu sudah gila?! Apa yang ada di otakmu Ben?! Dasar tidak waras!” Sony memicingkan matanya tajam ke arah Beni begitu mendengar pengakuannya. “Kamu mau cari ke lubang semut pun tidak akan dapat menemukan wanita seperti itu. Cuma wanita bodoh yang mau menerimamu. Amit-amit! Kenapa kamu jadi aneh begini sih Ben?!” Sony memaki Beni tiada habisnya yang hanya di balas tawa olehnya.


 


“Aku mengajukan syarat seperti itu saja, dia masih ada kesempatan selingkuh Son. Sepertinya aku harus menambahkan beberapa syarat lagi agar wanita yang bersamaku setia denganku.


 

__ADS_1


“Memangnya kamu pikir kamu itu sesempurna apa mau mengajukan syarat yang memberatkan wanita?! Aku masih tidak habis pikir sama jalan pikiranmu Ben. Segeralah insaf! jangan terus menyakiti wanita dengan kemauanmu yang tidak logis itu!" Sony terus memaki tanpa henti karena ucapan Beni. Sony yang sangat menghargai wanita seperti tidak terima jika ada wanita yang tersakit i meskipun dia tidak mengenalnya.


 


“Sudahlah Son. Jangan mengurusiku. Aku tahu yang terbaik untuk hidupku.” Jawab Beni menepuk bahu Sony.


 


“Ya, ya memang aku tidak ada hak mengurusimu Ben, tapi kau sahabatku. Aku harus menegurmu ketika kamu salah.”


 


“Rupanya kamu sangat memuja wanita Son. Hahaha. Pasti wanitamu sangat bahagia di dekatmu.”


 


“Sayangnya dia jauh, dia bukan asli sini.” Jawab Sony.


 


“Sejauh-jauhnya jarak, tidak mungkin kamu tidak bisa menemuinya.”


 


“Belum saatnya Ben. Nanti pasti akan ada waktunya aku menemuinya.”


 


Setelah acara selesai, Pak Irawan pun meninggalkan hotel itu dan berangkat ke Jakarta, para tamu juga sudah kembali ke kantornya masing-masing. Sony dan Beni kini berjalan beriringan sambil mengobrol akrab melewati koridor. Beberapa karyawan dan pengunjung hotel yang melihatnya sangat terheran-heran menyaksikan pemandangan indah itu, bagaimana tidak. Hotel yang mereka tempati sekarang menjadi bersinar karena hadirnya dua lelaki tampan dan sangat gagah. Para wanita yang bekerja pun mulai semangat bekerja demi mendapat perhatian sang pemilik hotel yang baru, juga pendampingnya yang tak kalah keren.


 


Sesampainya di lantai lima tempat mereka bekerja, mereka sibuk mengecek berkas hotel yang harus mereka urus dan mereka pelajari.


 


“Ben, ajari aku. Aku benar-benar belum mengerti apa pun.” Ujar Sony dengan mata fokusnya memegang berkas yang bertumpuk di meja kerjanya.


 


Beni yang juga tengah sibuk di sofa sambil memeriksa satu persatu berkas menanggap ucapan Sony tanpa melihat ke arahnya sesekali menyenderkan badannya ke sofa.


 


“Berapa, kau akan membayarku?” ucapnya lirih tanpa semangat namun cukup mengejutkan Sony.


 


“Hei! Perhitungan sekali kamu Ben! Bukankah kau sudah tidak butuh uang?!” Sony terkekeh.


 


“Kau bodoh kalau menanggapiku. Berapa lama kau mengenalku?! Dasar lelaki polos.” Beni mengejek Sony.


 


“Hahaha.. ternyata kamu tidak berubah ya.”


 

__ADS_1


“Sudah kita rapikan saja ini. Kita kerja besok. Aku capek Son, aku mau istirahat.” Beni menumpuk ulang berkas-berkas yang berserakan di meja.


 


“Tidur saja di situ.” Sony menunjuk kamar yang di dalam ruang kerjanya.


 


“Oke. Sebelum kau pulang bangunkan aku.” Membuka pintu kamar.


 


“Ben, koper kamu di mana?! Kamu tinggal di rumah om Irawan kan?” teriak Sony melihat punggung Beni berlalu memasuki kamar.


 


“Koperku di bawah, di resepsionis. Iya lah aku di rumah Om, kau mau menyuruhku tinggal di mana lagi?!” menutup pintu dengan kasar, Sony yang mendengar jawabannya hanya tersenyum menggelengkan kepala. Dari dulu sifat kasarmu tidak berubah Ben.


Jam menunjukkan pukul dua belas, Sony bergegas keluar dari ruangannya dan turun ke masjid depan untuk salat zuhur. Dia melihat sekeliling yang di lewatinya, semua karyawan menunduk menyapa dan begitu menghormatinya. Sony yang tak pernah mendapat perlakuan seperti itu merasa risih dan tidak nyaman. Tak sedikit juga yang mengucapkan selamat dan bersalaman dengannya.


 


“Selamat ya Son, eh Pak Sony. Sekarang sudah menjadi owner.” Ucap salah satu karyawan resepsionis bernama Pak Rudi yang biasa berbincang dengan Sony ketika waktu luang. Mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


 


“Terima kasih Pak.”


 


“Mas, selamat ya. Aku tidak menyangka ternyata kamu keponakan Pak Irawan.” Sela Susan merebut tangan Sony dari Pak Rudi mengajaknya bersalaman. Tetapi Sony dengan cepat menarik tangannya dan mengabaikan Susan yang menyapanya secara tidak sopan.


 


“Saya permisi dulu Pak, mari.”


 


“Susan. Jaga sikapmu!” dia owner sekarang, jangan kau sama kan dia seperti dia masih menjadi security. Bisa-bisa kamu di pecat nanti.” Tegur Pak Rudi merasa kesal dengan sikap Susan.


 


“Habisnya dia ganteng banget Pak,” ucap Sony.


 Andai saja aku menjadi wanita beruntung yang menjadi kekasihnya. Susan bergumam sendiri berjalan kembali ke meja resepsionis.


 


Setelah salat, Sony kembali ke ruangannya, kini ia berbaring di sofa, memandangi foto wanita pujaan hatinya yang ada di galeri ponselnya. Kemudian terbesit untuk meneleponnya. Tak perlu berlama-lama Sony menunggu, telepon itu langsung di angkat cepat oleh Vania.


.


.


.Bersambung..


**JANGAN LUPA COMMENT, LIKE, VOTE YAA...


dukungan kalian sangat berarti.buat author... terimakasih..💚💚😍**

__ADS_1


 


__ADS_2