
Begitu terkejutnya Vania melihat pemandangan kamar hotel yang begitu indah penuh dengan bunga. Terbesit dalam pikirannya, lagi-lagi ia membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam di kamar ini.
“Mas Sony, kenapa harus ada bunga? Banyak banget lagi, sudah seperti taman Mas.” Tukas Vania.
“Kenapa, tidak suka ya?” Tangan Sony masih menggandeng Vania.
“Suka Mas, tapi ini berlebihan. Takutnya nanti ada ulatnya gimana coba.” gerutu vania melihat sekeliling kamar.
“Mana ada ulat di sini, Dek?!” pekik Sony mengernyitkan dahinya.
“Mas, itu kan bunga segar, mereka juga berasal dari tumbuhan hidup. Tentu saja ada beberapa yang di makan ulat, mereka pasti bersembunyi di kelopak atau daunnya.” Ujar Vania sambil mengamati bunga di tangannya yang ia ambil dari meja.
“Mas jamin tidak akan ada ulatnya Dek. Kalau kamu tidak suka, Mas bisa menyuruh orang untuk membersihkannya sayang.”
“Jangan! Vania suka bunga Mas, maaf ya ... Vania cuma takut kalau nanti ada ulat yang merambat waktu kita tidur.”
“Tidak sayang, paling nanti ulat besar yang merambati kamu.” Sepertinya otak Sony sudah mulai mesum sejak menikah dengan Vania, pikirannya menjurus ke suatu hal yang vulgar. Maklumlah, istri cantik yang kini di hadapannya saja belum pernah ia rasakan sama sekali. Tak salah jika ia terus terngiang-ngiang akan hal ranjang.
“Mas bicara apa sih?!” Vania menatap sinis karena ia lagi-lagi paham dengan maksud perkataan Sony. Semakin ke sini, suaminya semakin berani mengatakan hal yang ngeres.
“Bukan apa-apa, lupakan.” Sony tersenyum menggoda.
“Sini Dek, Mas mau menunjukkan sesuatu.” Ajak Sony menggandeng tangan Vania. Mengajaknya berjalan di depan pintu balkon yang tertutup gorden.
“Matanya Mas tutup sebentar, ya?” kedua tangan Sony menutup mata Vania dari belakang.
“Pelan-pelan Mas. Nanti nabrak!” Vania berjalan tanpa melihat, hanya mengikuti arahan Sony.
“Selama ada Mas, tidak mungkin kamu terjatuh sayang.” Sony menyingkap gorden dan membuka kunci pintu balkon itu, ia lalu menggeser lebar pintu di depannya.
Sony pun membuka mata Vania yang ia tutup dengan tangannya. Hingga Vania dapat melihat jelas pemandangan alam yang begitu nyata dan sangat indah seperti lukisan.
“Mas, bagus sekali, sangat indah!” Vania memandang haru lukisan alam yang nyata di depannya itu.
Gambaran gunung Bromo dari kejauhan terlihat indah dari kamar Vania dan Sony saat ini, mereka berada di lantai paling atas hotel itu.
“Mas, terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku sangat bahagia. Akhirnya aku dapat menginjakkan kakiku di sini. Aku tidak sabar ingin cepat ke sana.”
“Sama-sama sayang, apa pun yang membuatmu bahagia. Mas akan berusaha mengabulkannya. Besok kita ke sana, sekarang kita istirahat dulu Dek. Hari sudah mulai gelap.”
__ADS_1
“Mas, aku ... “ Vania tak meneruskan kata-katanya.
“Kenapa sayang?”
“Aku lapar...” keluh Vania yang merasakan perutnya perih dan keroncongan karena lapar.
“Mas kira apa, Dek.” Sony mengacak pucuk rambut Vania gemas, ia merengek seperti anak kecil yang sedang meminta makan.
“Mau makan di restoran hotel atau di kamar sayang?”
“Di sini saja Mas, aku ingin makan sambil menikmati senja dan gunung.”
“Baiklah, Mas ambilkan menu dulu, ya.” Sony masuk ke kamar dan mengambil buku menu di laci meja kamar. Lalu menyerahkannya pada Vania untuk memilih makanan yang ia mau.
Vania dan Sony memilih beberapa makanan juga hidangan penutup sejenis dessert. Sony kembali masuk kamar, menelepon Food and Beverage service untuk memesan makanannya.
“Ah, dingin sekali!” pekik Vania begitu merasakan angin dingin yang menerpa dirinya yang tengah berdiri sedari tadi, tiada habisnya ia memuji ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Mendengar Vania kedinginan, Sony langsung menghampirinya dan berdiri di belakang Vania tak berjarak, kedua tangannya kini asyik melingkar di pinggang ramping Vania. Dagunya pun bertumpu pada bahu kanan wanita itu. Sepertinya ia mulai mempunyai posisi favorit saat ini, memeluk Vania dari belakang adalah hal yang ternikmat baginya.
“Sangat cukup Mas.” Vania tersenyum manis melihat ke samping kanan, wajah Sony menempel sempurna pada pipi istrinya itu. Sony mengecup pipi Vania membuatnya sedikit malu.
“Mas, rasanya masih seperti mimpi, ya.” Ucap Vania dengan mengarahkan pandangannya ke satu titik lurus ke depan.
“Maksudnya?”
“Ya, aku masih tidak menyangka Mas, sekarang aku sudah menikah. Aku masih tidak percaya aku sudah menjadi milik lelaki yang aku cintai.” Vania menggenggam tangan Sony yang berada di perutnya.
“Begitu juga denganku sayang, Mas sangat bahagia, entah bagaimana menggambarkan rasa bahagia ini.” Sony membalikkan tubuh Vania, kini mereka berdiri saling berhadapan. Ia lalu menarik Vania dalam pelukannya. Pelukan itu sangat erat, membunuh hawa dingin yang sedang menerpa pori-pori dan berubah menjadi kehangatan yang sangat nyaman.
Tok ... Tok ... Tok ...
Room Service!
“Sepertinya makanannya sudah datang sayang, Mas buka pintu dulu, ya.” Sony mengurai pelukannya dan melangkahkan kaki ke kamar untuk membukakan pintu.
“Mas, tolong bawa makanannya di balkon ya, istri saya mau makan di sana.” Pinta Sony pada seorang waiters yang mendorong trolly berisi makanan.
“Baik Pak,”
__ADS_1
Terima kasih.”
“Sama – sama Pak, permisi.” Waiters pun berjalan ke balkon, ia menata makanannya di meja yang di antaranya terdapat dua kursi yang saling berhadapan.
Setelah rapi dan menyelesaikan tugasnya, waiters pun pergi meninggalkan kamar pengantin baru tersebut.
“Sayang, terlihat sangat lezat. Aku sangat lapar. Ayo kita makan.” Ajak Vania memandangi berbagai jenis makanan di meja yang berada di hadapannya. Ia terduduk sambil mengabsen satu persatu makanan yang tadi ia pesan.
“Cuci tangan dulu sayang.” Sony selalu mengingatkan apa pun pada Vania, termasuk hal sepele mencuci tangan sebelum makan.
“Oke sayang!”
Sony dan Vania pun menikmati hidangan makan petang menjelang malamnya dengan romantis, di temani lilin yang menyala di tengah meja.
...
“Mas, aku sudah kenyang.” Vania duduk bersender kursi sambil mengelus perut buncitnya.
“Alhamdulillah, tunggu setengah jam lagi. Habis itu mandi ya Dek.”
“Iya Mas.”
Sony dan Vania masuk ke kamar dan menyalakan televisi sambil menunggu jam mandi. Sony menelepon waiters untuk meminta tolong membereskan bekas piring kotor di balkon.
Setengah jam berlalu, Vania mulai gerah karena pintu balkon tertutup dan tanpa menyalakan AC
Ia pun berpamitan pada Sony untuk mandi dahulu. Vania membuka koper untuk menyiapkan baju ganti setelah mandi nanti.
“Mas!!!!” teriak Vania ketika ia membuka dua koper dan mengacaknya.
“Kenapa teriak – teriak, Dek?!” ucap Sony sambil memelankan volume televisi dengan remot yang ia pegang. Ia lebih fokus mendengarkan Vania yang mulai protes.
Bersambung....
...Hay, reader baik ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... ♡♡♡...
...Bila berkenan, mampir juga ya di novel author satu lagi,...
...judulnya MEMELUK KENANGAN...
__ADS_1
......Kenalan sama author yuk, follow IG @Ephayunita......