
Ya Allah apakah dosa jika aku menyentuhnya? Aku hanya berniat mengobatinya saja. Semoga aku dijauhkan dari khilaf. Bismillah,..
Akhirnya Sony memberanikan diri untuk mengobati Vania, karena semakin lama jika tidak segera diobati pasti akan semakin sakit. Sony mulai mengompres dengan es.
“Dek, maaf ya Mas harus menyentuhmu.” Dengan keraguan Sony membuka zip belakang baju Vania dengan Bismillah, berharap agar terhindar dari kekhilafan.
Sony lelaki normal yang pasti akan berpikir ke arah sana meskipun dia berusaha menahannya. Apalagi tepat di depannya sekarang ada wanita yang ia kasihi. Getaran tangan yang gugup sangat dirasa oleh Vania.
“Mas, kenapa?” tanya Vania keheranan karena dia merasakan Mas Sony tidak fokus mengompres.
“Tidak apa-apa Dek, Mas hanya takut kamu akan kesakitan. Luka ini memerah dan hampir melepuh. Apakah Adik merasakan perih?” tanya Mas Sony mengalihkan rasa heran Vania.
“Perih banget Mas, tapi kalau di kompres aku merasa lebih baik. Tidak begitu panas.
“Sebenarnya apa yang terjadi tadi Dek, bisa-bisanya kena api sampai rambut. Apa yang dilakukan Tina?”
“Tina itu Mas, membuatku emosi. Masa dia bilang aku simpanannya Pak Herman. Terus lagi, bilang aku katanya murahan semua cowok aku dekati. Benar-benar tidak masuk akal. Ya, aku tamparlah dia!” jawabku menggebu-gebu menceritakan kejadian tadi.
“Lancang sekali mulutnya Dek! Tapi Adik berani juga ya menamparnya. Hehe .. bagus, setidaknya dia mendapat balasan awal.“ tertawa kecil.
“Balasan awal? Maksudnya Mas?”
“Ya, kalau dia berulah lagi, Mas yang akan turun tangan Dek. Terus kenapa Adik bisa kena api?”
“Ya, tadi habis aku menamparnya, dia tidak terima Mas, awalnya mau mendorongku ke kolam renang tapi aku berhasil menepis tangannya. Eh malah tangan satu lagi mendorongku sampai terjatuh, rambutku menjuntai tepat pada lilin di tepi kolam mas. Ya sudah terbakar deh!”
“Lain kali hati-hati Dek, dia sepertinya benci banget sama Adik.”
“Iya Mas, di membenciku karena Mas tahu!”
“Loh kok Mas sih?” tanya Mas Sony.
“Iya kan Mas Sony tidak pernah merespon Tina, padahal dia tuh sukaaaaa banget sama Mas Sony. Eh malah Mas Sony mendekatiku.” Ucapku kepedean tersenyum.
__ADS_1
“Diih siapa yang mendekati Adik, hahaha ...yang ada Adik tuh tebar pesona sama Mas. Hahaha.” Tertawa puas menggodaku.
“Eh mana ada?! Mas kan yang awalnya mengikutiku dari atas, bantuin aku bawa trolly. Terus langsung memanggilku aku ‘Adik’. Hehe ...”
“Dek, ingat tidak Adik minta bantuan Mas? Pas tugas sama Pak Herman, itu padahal belum kenal Mas, tapi sudah berani minta tolong. Berarti Adik mengejarku dulu. Hahahha, iya kan?!”
“Mas! Itu karena kepepet ya! Bukan mau mengejar. Iihh kepedean!” bantahku sambil tertawa geli. “ Mas, Maaf ya dari awal kenal Mas, aku selalu merepotkan.”
“Sama sekali tidak merepotkan Dek. Hanya saja Mas tidak terbiasa berdekatan dengan wanita seperti ini.” Jawab Mas Sony jujur.
“Benarkah?! Mas Sony sebelumnya pernah berpacaran?!” Tanyaku penasaran.
“Belum Dek, sama sekali. Jadi maaf jika Mas belum berpengalaman dalam melayani wanita berharga sepertimu.”
“Hah? Serius?! Tidak mungkin Mas belum pernah pacaran.” aku berkata membalikkan badan karena terkejut dengan jawaban Mas Sony yang katanya belum pernah berpacaran.
Biasanya Vania yang selalu salah tingkah dan bermain dengan jantungnya, tapi kali ini Sony benar-benar mengontrol kegiatannya. Penuh energi untuk menahan sesuatu di dalam sana agar tidak terbangun.
“Dek hadap sana. Jangan lihat ke belakang, dan jangan gerak-gerak terus.” Perintah Mas Sony memutar lengan Vania mengarahkan ke depan.
“Tapi bagiku Mas hebat, buktinya sampai sekarang selalu memperlakukanku dengan baik meskipun belum pernah berpacaran, perlakuan Mas Sony kepadaku itu sangat manis. Terima kasih ya Mas sudah menjadikanku wanita yang spesial buat Mas.
“Eh tunggu, belum pernah berpacaran kan bukan berarti Mas juga tidak mengenal perempuan? Aku yakin pasti Mas dekat dengan banyak cewek. Iya kan? Lelaki ganteng seperti Mas Sony mustahil kalau selalu sendirian.” Ucap Vania menebak-nebak.
“Dek, kenapa jadi banyak bicara ya?” bukankah sedang merasakan sakit? Kenapa tidak bisa diam Ya Allah ... “ keluh Sony yang sibuk mengompres punggung belakang Vania.
“Ya sudah, kalau begitu aku diam. Tapi Mas jawab dulu pertanyaanku tadi.”
“Sudah Mas bilang Dek, Mas tidak pernah dekat dengan cewek mana pun apalagi berpacaran. Lagian jika Mas sudah cocok dengan satu wanita pasti Mas akan langsung nikahi.” Jawaban Sony membuat Vania tersentak kaget lagi-lagi menoleh ke belakang.
__ADS_1
“Mas? Apa artinya Mas akan cari wanita lain selain aku?” tanya Vania terlihat sedih.
“Kenapa memangnya kalau Mas cari cewek lain?” jawab Sony menggoda Vania, terlihat Vania takut jika Sony mencari wanita lain.
“Mas tega.” Vania menunduk meneteskan air mata. Sony memutar badan Vania, meletakkan handuk itu ke mangkuk lalu memutar badan Vania menghadap ke wajahnya. Tangan Sony memegang kedua pipi Vania, netra mereka saling bertatap tak berkedip.
“Dek, kenapa kamu masih meragukan Mas? Bukankah Mas sudah bilang kalau Mas sayang sama Adik. Jadi apa pun yang terjadi Mas tidak akan berpaling dan berhenti untuk terus menyayangimu, sekalipun Adik menjauh. Mas akan tetap mengejar dan mendapatkanmu, lagi. Paham?!” jelas Sony panjang lebar mengungkapkan perasaannya.
“Tapi aku belum siap untuk menikah Mas, sedangkan Mas harus cepat menikah. Pasti kan Mas cari cewek lain yang siap diajak nikah.” Jawab Vania seperti orang bodoh.
“Siapa bilang Mas akan menikah cepat? Mas akan menunggumu, sampai kamu siap Dek. Wanita yang saat ini ada di hati Mas cuma kamu. Jadi jangan pernah berpikir Mas akan meninggalkanmu. Oke?”
“Benarkah? Mas serius? Tidak bohong?”
“Benar sekali Adik cantik, Vania Alzahreyna ....” Jawab Sony gemas memencet hidung Vania. “Dasar cengeng.” Lanjutnya menggoda.
“Habisnya Mas membuatku takut.”
“Takut kenapa Dek? Kehilangan Mas ya? Ciye ... sekarang sudah mulai berani mengakui ya Dek, malu-malunya sama Mas sudah hilang ya?! Hahaha..”
“Iih apaan sih Mas, lagian kan sudah cukup lama juga dekat dengan Mas Sony. Masa mau malu-malu terus. Bosan tahu!” jelas Vania sewot setengah tersenyum.
“Sudah, sekarang berbalik lagi Dek. Hadap sana. Belum selesai ini, Mas mau oleskan krim dulu.” Perintah Sony.
“Pelan-pelan Mas, harus pelaaaan banget pokoknya. Pasti bakalan perih.” Pinta Vania menggemaskan.
“Tenang Dek, Mas juga mana tega sih kasar sama Adik.” Jawab Sony meyakinkan.
“Bismillah ya Dek, semoga sembuh.” Sony mengoleskan krim ke punggung Vania yang terluka. Kulit mulus putih yang dimiliki Vania kini ternoda oleh luka bakar. Sony merasakan gejolak aneh saat menyentuh kulit Vania, ditambah lagi sedari tadi dia melihat leher jenjang yang juga sangat putih mulus terdapat rambut halus di sekitarnya.
Ya Allah kuatkan hamba dari godaan ini, jangan biarkan hamba khilaf. Pemandangan ini begitu indah. Tak pernah aku menyentuh kulit perempuan sehalus ini. Junior, tolong jangan bangun ya. Sangat tidak wajar kalau kamu bangun hanya karena melihat lehernya. Gumam Sony dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....