Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Bersitegang


__ADS_3

“Istri Mas ternyata galak juga ya, serem kalau marah begitu.” Ujar Sony dengan senyumnya, tangannya melingkar di pinggang Vania.


 


“Baru tahu?! Makanya Mas jangan macam-macam!” ancam Vania.


 


“Tapi Mas, Adik heran deh kenapa tiba-tiba banget ketemu sama dia. Padahal selama kita di Jogja, sekali pun tidak pernah bertemu dengannya. Kalau tidak salah kan, rumahnya dekat dengan hotel.” Tutur Vania dengan tatapannya ke awang-awang, mengingat jika selama ini apakah ia pernah bertemu dengan Tina atau tidak.


 


“Mungkin dia sibuk kali, Dek.”


 


“Dari dulu sampai sekarang dia sama sekali tidak berubah ya Mas sifatnya. Suka centil dan menggoda lelaki, penampilannya aja yang berubah semakin dewasa. Menurutku dia juga lebih cantik sekarang, pintar dandan. Ya kan Mas?” Vania menunggu jawaban Sony.


 


“Lebih cantik wanita di sampingku ini.”


Vania tersenyum senang mendengar jawaban yang memuaskan.


 


Dengan langkah pasti, mereka menuju ke barisan meja yang tertata rapi di kanan kirinya. Banyak pengunjung yang sedang menikmati makan siang di sana.


 


“Itu teman Mas, Dek.” Sony memfokuskan pandangannya, seorang lelaki terlihat sedang duduk bersender di kursi sendirian.


 


“Dia sendiri, Mas? Katanya sama istrinya?” tanya Vania, kaki keduanya tak berhenti berjalan.


 


“Mas tidak tahu Dek, kita ke sana saja dulu.”


 


“Dion! Apa kabar? Sudah lama menunggu?!” sapa Sony ketika sampai di meja nomor lima belas.


 


“Hai bro! Kabar baik, aku belum lama juga kok sampainya. Duduk, duduk!” Mereka berpelukan ala cowok. Kemudian Sony menarik bangku di dekatnya untuk duduk Vania yang tengah berdiri di sampingnya.


 


“Sini sayang.” Sony menyuruh Vania untuk duduk.


“Eh iya bro, kenalkan ini istriku, Vania.” Vania dan Dion berjabat tangan.


 


“Mana istrimu, kamu tidak mengajaknya?”


 


“Sudah dari tadi dia pamit ke toilet, sampai sekarang belum juga kembali Son.”


 


“Oh, sudah pesan makanan?” tanya Sony.


 


“Belum lah, aku menunggumu. Kalian mau makan apa?” tanya Dion sambil membuka buku menu yang sudah tergeletak di meja.


 


Dion melambaikan tangan dan memanggil salah satu pelayan restoran untuk menulis pesanan mereka. Setelah itu, Dion ijin pada Sony untuk ke toilet sebentar karena ingin mencari istrinya. Belum sampai di toilet, Dion menemukan istrinya yang tengah duduk bersantai di meja lain, sesekali ia menyesap minuman bersoda di tangannya.


 

__ADS_1


“Tina! Kenapa malah di sini. Ikut aku! Jangan buat malu.” Pekik Dion dengan meninggikan suaranya.


 


“Males. Lo aja sendiri sana!” sungut Tina.


 


“Apa aku perlu menyeretmu untuk menurut!” nada bicara Dion semakin terdengar kasar.


 


Kalau aku ke sana, bagaimana nanti reaksi Vania jika ia tahu aku sudah menikah dengan lelaki sepertinya, Mas Sony jauh lebih tampan di banding suamiku sendiri, batin Tina setelah tadi ia sempat melihat Dion duduk bersama dengan Sony dan Vania.


 


“Ya, ya gue ikut. Tapi lo harus memperlakukan gue layaknya seorang istri!” Tina mengajukan syarat pada Dion.


 


“Kau pikir aku akan memalukan diriku sendiri?! Aku tahu apa yang harus aku buat, jadi kau tidak perlu mengatur dan memerintahku.”


 


Hubungan hasil hamil di luar nikah mengakibatkan Dion dan Tina menikah tanpa adanya cinta. Mereka tak pernah akur walau sekarang sudah memiliki anak yang berusia tiga tahun. Meski begitu, saat ini Tina tinggal bersama Dion di Jakarta. Ia hanya beberapa hari berkunjung ke Jogja karena tuntutan pekerjaan sekaligus ingin bertemu dengan Sony, kawan lamanya.


 


“Son, perkenalkan ini istriku, namanya Tina.” Ujar Dion ketika ia sampai ke mejanya dengan menggandeng Tina. “Tina, dia Sony teman lamaku, dan di sampingnya itu adalah istrinya. Sony ini adalah pemilik Grand Luxury Hotel.” Lanjut Dion.


 


Hah, apa?! Pemilik Grand Luxury? Bukankah pemiliknya Pak Irawan? Kenapa jadi Mas Sony? Masa dari security langsung jadi owner, apa memang dia keluarga Pak Irawan?! Beruntung sekali kamu Van, bisa memiliki Mas Sony, udah kaya, ganteng lagi. Sangat sempurna. Nggak seperti Dion, hanya seorang manajer. Tina terus berdialog dalam hati.


 


Sony mengangguk tersenyum, sedangkan Vania, ia memilih berpura-pura tidak mengenalinya. Namun meski begitu, Vania sangat terkejut kalau ternyata Tina sudah menikah juga. Suaminya yang tak lain adalah teman Sony. Bibirnya sedikit mengulas senyum licik karena mendapat permainan baru.


 


 


“Tina.” Singkatnya, bola mata itu tampak menatap sinis menyimpan dendam. Kemudian, mereka duduk di tempatnya masing-masing saling berhadapan. Sony berdekatan dengan Vania, dan Tina di samping Dion.


 


“Kakinya sudah sembuh, ya?” Vania membuka suara memecah keheningan sesaat.


 


“Memangnya kaki kamu kenapa, Sayang?” tanya Dion pura-pura peduli.


 


“Nggak apa-apa kok," jawabnya singkat.


 


“Oh itu tadi, kita ketemu di toilet, dia meminta tolong pada suamiku untuk membantunya. Tapi kelihatannya sekarang sudah sembuh, kilat ya?!” Vania menjelaskan dengan senyum menyeringai.


 


“Tadi hanya kesandung.” Tina mati kutu, ia hanya menunduk malu dan matanya menatap tajam Vania.


 


Selang beberapa menit, semua makanan datang dan tersaji rapi di meja mereka lengkap dengan minumannya.


 


“Sayang, coba ini deh. Enak banget," tutur Vania sambil menyuapkan sesendok laksa yang pada suaminya.


 


Sony tersenyum geli karena tingkah Vania, ia tahu istrinya sengaja berakting romantis dan manja hanya untuk memanas-manasi Tina.

__ADS_1


 


“Iya sayang, lain kali Mas akan mengajakmu ke sini lagi kalau suka dengan makanannya.”


 


“Kalian romantis ya, jadi iri," ucap Dion begitu menyaksikan kemesraan Sony dan Vania.


 


“Mas Dion bisa aja. Kan istrinya ada di sampingnya, halal kok, hehe ....”


 


“Dion, seingatku kamu pernah bercerita soal anak kamu, sudah berusia berapa dia sekarang?” tanya Sony pada Dion.


 


“Usianya tiga tahun Son, sekarang dia bersama neneknya di Jakarta. Tadinya mau kuajak, tapi sepertinya Tina akan kerepotan kalau mengurusnya sendiri.”


 


“Oh begitu, seusia itu pasti lucu-lucunya, ya," kekeh Sony, ia lalu menatap Vania. Entahlah apa yang sedang ada dalam pikiran Sony. Tiba-tiba membahas soal anak.


 


“Kalian belum punya anak? Kapan menikah?” tanya Tina, padahal sedari tadi ia diam dan tak berkutik.


 


“Usia pernikahan kami baru satu bulan lebih dua minggu, tentu saja belum diberikan momongan, beda cerita kalau aku sudah mengandung sebelum menikah, hehe," jawab Vania tersenyum panas, sambil berpikir dan menerawang, ia mengingat-ingat kapan terakhir mendapatkan menstruasi.


 


“Mas Sony pasti sudah ingin sekali mempunyai anak, ya. Memang seorang wanita harusnya memberikan anak agar rumah tangganya bahagia," tutur Tina dengan senyum menyeringai, ia merasa bahwa ia menang satu langkah karena Vania belum juga hamil.


 


“Anak itu pemberian Tuhan, kita tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk kita di kasih momongan. Jadi ya ... santai aja jalanin hari, kita nikmati waktu berdua sepuasnya dulu," papar Sony.


 


“Lagi pula, buatku ... anak bukan prioritas utama pernikahan. Yang terpenting, aku bisa menikahi wanita di sampingku dan hidup bahagia dengannya." Sony menegaskan pada Tina.


 


“Terima kasih sayang,” Vania bergelayut manja di lengan Sony, bibir manisnya mengulas senyum semanis mungkin sambil melirik Tina.


 


“Keren Bro. Aku salut dengan prinsipmu.”


 


Perbincangan antara Sony dan Dion terus berlanjut, membicarakan bisnis, kerjaan, juga kehidupan sekarang. Berbeda dengan Tina dan Vania yang terus saling lirik dan bersitegang.


 


Bersambung...


 


 


Yang udah ngikutin dari BAB awal pasti tahu siapa Tina..😁


jangan lupa komen dan like nya ya...❤❤


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2