Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Berangkat


__ADS_3

Sinar matahari mulai mengintip di balik awan yang cerah, Vania yang sudah terbiasa tidur lagi setelah salat subuh seolah enggan membangunkan tubuhnya yang masih tergolek di bawah selimut tebal.


 


Merapikan bajunya ke dalam koper semalaman, membuat ia telat tidur hingga sampai pukul dua dini hari.  Padahal, pagi ini ia harusnya berangkat ke Yogyakarta untuk memenuhi keinginannya untuk bekerja di Grand Luxury Hotel, hotel yang saat ini sudah menjadi milik Sony tanpa diketahui oleh Vania.


 


Bunyi alarm dari ponselnya semakin membuat ia geram karena terlalu berisik. Tanpa membuka mata ia mencari benda pipih itu di atas nakas di samping tempat tidur, lalu mematikannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, dan Vania masih asyik menarik selimutnya, mendekap erat guling di sebelahnya.


“Nduk, Ya Ampun! Kenapa masih belum bangun? Itu sudah di tunggu teman kamu.” Membuka pintu kamar Vania yang tak terkunci.


 


“Iya Bu, bentar! lima menit lagi, ya...” ucap Vania dengan suara malasnya.


 


“Bangun Vania! Kasihan itu yang nunggu..” ucap Ibu menarik selimut Vania.


 


“Siapa sih Bu? masih pagi juga.” Gerutu Vania sambil mengerjapkan mata.


 


“Itu, orang hotel yang mau jemput kamu, Ibu lupa namanya.”


 


“Hah?! Astaga!” Ibu kenapa tidak bilang dari tadi?!” Vania langsung membuka kasar selimutnya, melihat jam di ponselnya, kemudian ia bergegas lari ke kamar mandi.


Astaga! Jam delapan! Mati aku! Mati! Batin Vania.


 


“Selalu begitu! Kalau sudah mepet waktunya pasti kalang kabut.” Ibu menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak gadisnya itu. Setelah menunggu sekian abad, akhirnya Vania sudah siap berangkat.


 


Setelah 30 menit kemudian, Vania menuju ruang tamu dan sudah ada Sony yang setia menunggu meskipun cukup lama. Tidak sendiri, selama menunggu ternyata Ayah Vania juga menemani Sony mengobrol, entah apa yang di bicarakan antara keduanya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


 


“Apa yang di bicarakan Bapak sama Mas Sony,  kenapa suasana jadi canggung begini. Wajah Bapak juga tak seperti biasa. Tegang sekali di sini.” Gumam Vania dalam hati sambil menuju ke arah kursi yang kosong di dekat Ayahnya.”


 


“Pak, apa Vania bisa berangkat sekarang?” ucap Vania pada Pak Asta, sambil melirik ke arah Sony yang duduk anteng di kursi seberang meja.


 


“Panggil Ibumu dulu Nduk, masa anaknya mau berangkat malah sibuk di dapur.” tukas Bapak.


 


“Iya Pak.” Vania mengangguk.


 


Vania bergegas menuju dapur untuk memanggil ibunya.


“Bu, sedang apa? Bapak panggil Ibu.”


 


“Iya sebentar, Ibu matikan dulu kompornya.” Ucap Ibu Vania yang sedang berkutat di dapur.


 


“Sudah siap semuanya? Tidak ada yang tertinggal Van?” tanya Ibu pada Vania samb berjalan ke ruang tamu.


“Insya Allah nggak ada Bu, sudah semua kok.”


 


“Ya sudah, kalian berangkatlah. Hati-hati di jalan, jangan ngebut, kalau capek istirahat Nak.” Ucap Pak Asta menatap Vania lalu berpindah ke Sony.


 


“Kalau begitu, Vania berangkat dulu ya, Pak, Bu.” Vania mengukurkan tangan ke Bu Tia, lalu Pak Asta untuk bersalaman. Begitu juga dengan Sony yang sudah berpamitan dengan sopan.


 

__ADS_1


“Nak Sony, titip anak saya, ya. Ingatkan dia kalau dia bandel, apalagi meninggalkan salatnya,” ucap Bu Tia yang lebih terlihat sedih karena lagi-lagi jauh dengan anak gadisnya. Berbeda dengan Pak Asta yang sifatnya cuek, namun tetap perhatian sebagai seorang Ayah.


“Iya Bu, Insya Allah saya akan menjaga Vania dengan baik.”


 


“Jangan lupa pesan saya tadi, ya.” ucap Pak Asta pada Sony. Entah apa maksudnya dan pesan yang mana, Vania dan sang Ibu pun tak tahu apa yang mereka bahas ketika mengobrol berdua beberapa menit yang lalu.


 


“Iya Pak, Insya Allah.” Sony tersenyum dan mengangguk kecil. Vania pun memicingkan mata tanda ia penasaran dengan dua lelaki di depannya yang saling tatap penuh misteri.


 


Vania teringat belum berpamitan dengan kedua adiknya yang sangat ia sayangi. Ia berjalan menuju kamar Rafa yang sedang belajar diajari oleh Rina.


“Rina, Rafa, mbak berangkat dulu ya.”


 


“Iya mbak, hati-hati di jalan. Nanti kalau libur mbak pulang ya.”


 


“Pasti, kalian jaga diri baik-baik ya. Jangan nakal dan jangan buat sedih Bapak dan Ibu.”


 


“Oke mbak,” ucap Rina.


 


Rafa yang menangis berlari memeluk Vania dari belakang seolah ia tak rela di tinggal pergi sang kakak.


 


“Rafa, nggak boleh nangis ya. Kan sudah besar, malu dong. Rafa anak laki harus kuat, nggak boleh cengeng ya,” Vania berjongkok menyeimbangi tubuh kecil Rafa lalu menghapus air matanya. “Mbak pasti akan pulang kalau ada libur sayang.” Vania tersenyum kecil, mengelus lengan Rafa.


 


“Salim dulu,” Vania mengulurkan tangan pada Rafa, ia lalu mencium punggung tangan Vania.


 


“Ya sudah, lanjut belajarnya.”


 


 


“Ya sudah, ayo. Ayo Rina.” Vania juga mengajak Rina untuk ikut ke depan.


 


Tak lama kemudian setelah drama perpisahan, Vania menaiki mobil hitam yang di bawa oleh Sony. Tetesan air mata itu seolah tak mau berhenti ketika ia di dalam mobil, melihat kedua orang tuanya juga adiknya yang melambaikan tangan. Meskipun hanya pergi ke luar kota untuk bekerja, rasanya ini memang terlalu cepat dan mendadak. Baru setahun yang lalu ia berkumpul dengan keluarga, sekarang harus berpisah lagi.


 


“Sudah Dek, jangan menangis terus.” Ucap Sony menggenggam tangan Vania dengan tangan kirinya, karena tangan satu lagi fokus mengatur kemudi.


 


“Vania cuma sedih aja Mas, kebersamaan memang indah. Tapi keadaan yang memang mengharuskan Vania untuk bekerja, berpisah dengan Bapak, Ibu, Rina dan Rafa. Jadi tidak mungkin kalau aku harus berada di samping mereka terus.”


 


“Tidak apa-apa Dek, kamu wanita kuat. Jadi tidak perlu meratapi yang memang harus terjadi, tidak perlu bersedih untuk sesuatu yang tujuannya untuk membahagiakan orang lain, terlebih orang itu adalah keluarga. Jadi harus semangat.”


 


Vania mengangguk pelan. Ia baru tersadar dan baru sempat menanyakan sesuatu yang membuat ia penasaran. “Mas, ini mobil siapa sih?!”


 


“Mobil hotel Dek.”


 


“Kok bisa di pakai sama Mas Sony?! Memangnya boleh?”


 


“Buktinya sekarang sama Mas, berarti boleh dong.” Sony tertawa.


 

__ADS_1


“Ishh...” Vania tak mau ambil pusing dengan jawaban Sony.


“O iya, tadi Mas sama Bapak ngobrol apa sih? Kok aku jadi penasaran. Seperti ada yang penting.”


 


“Bicara masalah lelaki Dek, kamu tidak perlu tahu. Masih kecil. Nanti juga akan tahu sendiri.” Sony menggantungkan jawabannya.


 


“Mas kenapa main rahasia-rahasiaan sih. Serius aku pengen tahu.” Rengek Vania.


 


“Nanti ya Mas ceritanya. Kalau sudah sampai.”


 


“Mas, aku lupa. Aku tinggalnya di mana nanti? Kan aku belum dapat kos-kosan.”


 


“Sudah Mas atur Dek, kamu tidak perlu memikirkan sesuatu apa pun. Sekarang tidurlah, lihat mata kamu susah seperti Panda. Tadi malam tidur jam berapa?!”


 


“Jam dua Mas, aku beresin baju. Subuh bangun lagi, salat. Habis itu tidur lagi. Kesiangan deh. Hehe, maaf ya Mas tadi nunggunya lama ya?”


 


“Nggak lama sayang, cuma satu jam lebih empat puluh menit.” Sony melirik ke arah Vania dan tersenyum masam sedikit menggoda.


 


“Hah?! Yang bener Mas? Lama sekali. Maaf ya... pasti jenuh banget ngobrol sama bapak. Iya kan?”


 


“Bapak asyik kok.”


 


“Bohong banget, orang Bapak nggak ada asyik-asyiknya. Bapak tuh cuek Mas.”


 


“Secuek-cueknya Bapak pasti tetap perhatian sama anaknya, Dek.”


 


Sony menyalakan musik di mobilnya, menyetel lagu kesukaan Vania. Tak lama Vania pun tertidur pulas karena ia pasti masih sangat mengantuk akibat begadang.


Sony berhenti di pinggir jalan yang sedikit lenggang. Ia memperhatikan kekasihnya yang sedang asyik memejamkan mata.


 


“Kamu perempuan hebat sayang, aku salut.” Sony memandang lekat wajah Vania setelah membetulkan posisi joknya, menurunkan sedikit menjadi lebih nyaman untuk tidur Vania.


Bersambung...


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa......


...💚😍💚...


...Happy Reading...


... ...


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...

__ADS_1


... ...


 


__ADS_2