
Sony melepas ciumannya, memberi ruang bernafas untuk Vania yang mulai memburu. Kemudian bibirnya menuju ke dahi Vania untuk di kecupnya dengan penuh kasih. Ia berniat menyudahi ciuman panas itu karena suatu hal. Ya, sudah bisa dipastikan akan ada gejolak yang mengajaknya menuntut lebih. Ia tidak mau memaksa istrinya jika ia memang benar-benar belum siap.
Netra mereka saling bertemu dan menatap penuh makna. Tak dapat dipungkiri, saat ini jantung Vania memang memompa lebih cepat dari sebelumnya. Apalagi baru kali ini juga ia berada di pangkuan Sony layaknya seorang bayi yang berada dalam pangkuan ibunya yang sedang menyusu.
Vania mengalungkan tangannya ke leher belakang Sony sejak ciuman berlangsung tadi. Hingga adegan itu telah usai pun Vania enggan melepasnya, ia malah menempelkan dahinya ke dahi Sony, hidung keduanya tampak menyatu lagi, namun tidak untuk bibirnya karena bibir pun sudah mulai kelu terlalu lama bertaut.
Aku sangat merasakan ketegangan dibawah sana Mas, benda itu sangat keras dan mengganjal di panta*tku. Sungguh menggelikan sekali. Sejujurnya kalau Mas Sony mengajakku lebih,, mungkin aku akan mempersiapkan diriku, lagi pula aku juga sudah merasakan sesuatu yang menginginkan kelanjutannya, darahku seperti mengalir deras mendapat perlakuan dari Mas Sony. Tapi apa daya, aku sudah terlanjur bilang sudah siap, tidak mungkin aku mengajaknya. Mau di taruh di mana mukaku, sangat memalukan meskipun sama suami sendiri.
“I Love You, sayang.” Ucap Sony dengan suara lirihnya disertai nafas yang tak beraturan karena menahan desiran birahi.
“I Love You too,” Jawab Vania, ia malah menyenderkan kepalanya di pundak Sony. Nafasnya pun berembus hangat di leher juga telinga lelaki itu.
Merasakan hal itu, juniornya juga semakin tak mau tidur lagi. Seperti sengaja Vania malah menempelkan bibirnya ke leher Sony, sesekali ia berani mencuri ciuman singkat di leher itu.
“Dek, jangan memancing terus. Jangan salahkan Mas kalau ini akan berlanjut.” Ujar Sony yang semakin erat memeluk pinggang Vania.
“Nyaman sekali seperti ini Mas. Aku ingin terus di posisi ini.”
“Benarkah? Ya sudah, kalau begitu pejamkan matamu. Nikmatilah kenyamanan ini. Mas tidak akan mengusikmu."
Vania memejamkan matanya walau kesadarannya masih 100%, ia terus menikmati saat-saat menjadi pengantin baru. pikirannya masih melayang entah ke mana.
Sambil mengelus punggung dan rambut Vania, Sony menanyakan sesuatu padanya.
“Dek, kamu ingin pergi bulan madu ke mana?”
“Hah? Bulan madu? Buat apa Mas? Aku rasa tidak perlu melakukannya.” beringsut dari duduk ternyamannya dan memperhatikan Sony.
“Kok buat apa? Tentu saja itu wajib, Dek.”
“Memangnya siapa yang mewajibkan?” tanya Vania heran.
“Mas yang mewajibkan. Suami kamu. Jadi kamu tidak boleh menolaknya.”
“Bulan madu?! Di mana Mas? Terus nanti mau ngapain?”
“Ya, kita nikmati masa-masa indah ini berdua Dek, tanpa gangguan siapa pun.”
__ADS_1
“Tapi kan Mas Sony harus kerja?”
“Dek, sampai kapan pun Mas juga akan terus bekerja, dan pekerjaan masih bisa di tunda. Tapi kalau bulan madu? Mana boleh di tunda-tunda?!”
“Baiklah, aku setuju. Tapi aku tidak tau mau ke mana Mas. Beri aku pilihan!” titah Vania sambil berpikir, menaruh telunjuknya di dagu, pandangannya ke menerawang ke langit kamar.
“Mau ke luar negeri atau keluar kota?”
“Mas, jangan menghamburkan uang. Kenapa harus sampai luar negeri sih. Di negara kita aja banyak tempat bagus kok.” Protes Vania.
“Pintar sekali istriku. Ya sudah kalau begitu Mas beri pilihan tempatnya, mau Malang, Bali, atau ... ?!”
“Mas, sepertinya aku ingin ke Bromo!” ucap Vania dengan crpat dan nada terkejut.
“Bromo? Kenapa mau ke sana sayang?”
“Ya, karena aku mau. Aku mau ke sana pokoknya.”
“Di sana dingin banget loh? Bisa tahan?” jelas Sony yang tau akan istrinya yang memang tidak tahan dengan hawa dingin. Apa lagi Bromo, pasti dinginnya menusuk sampai ke tulang
“Iya Dek, Mas akan bawa kamu ke sana. Sekarang Adik tidur aja, Mas coba cari tiket dan hotel dulu. Semoga bisa berangkat besok.”
“Mas, kebiasaan banget sih. Selalu sukanya yang mendadak! Tidak bisa santai gitu?! Kan masih bisa berangkat lusa, atau minggu depan juga tidak masalah.”
“Untuk istriku, Mas akan usahakan cepat. Jadi mendadak pun kalau hasilnya memuaskan kenapa tidak?! Pernikahan kita juga mendadak, Dek. Dan hasilnya, sekarang kamu bahagia juga kan?!”cibir Sony sambil beranjak dari tempat tidur dan mengambil laptopnya.
“Terserah Mas saja lah.” Gerutu Vania, “ Mas, aku boleh tidur sekarang? Aku capek banget, mataku juga sudah tinggal lima watt ini.” Ujar Vania merapikan bantal yang akan dipakainya.
“Tidurlah sayang. Selamat malam.”
“Malam, suamiku. Jangan tidur larut malam ya,”
Mendengar Vania menyebut kata ‘Suamiku’ membuat Sony bergegas dari sofa yang terletak di samping tempat tidur. Ia mengulas senyum tipisnya karena merasa sangat bahagia dengan ucapan Vania tadi. Sony menghampiri Vania yang sedang tertidur miring membelakangi Sony.
Cup
__ADS_1
Sony mencium pucuk kepala Vania dan mengelus rambutnya, “Tidur yang nyenyak istriku sayang. Mas sangat menyanyangimu..”
Vania yang mulai terpejam pun terkejut dan membuka lagi matanya. Ia tersenyum manis pada lelaki yang tengah berdiri di sampingnya itu.
Sony melanjutkan kegiatannya, berkutat pada laptop miliknya. Hanya beberapa menit, ia pun berhasil mendapatkan tiket secara online dan juga sudah menyewa hotel untuk menginap beberapa malam. Terbesit dalam pikirannya Sony untuk merapikan beberapa baju Vania dan memasukkannya ke koper. Agar besok mempermudah mereka untuk langsung berangkat tanpa harus membereskan barang - barangnya.
Huaahh...
Sony menguap, tanda raga mengajaknya untuk tidur dan menikmati mimpinya. Meskipun gagal malam pertama ia tak begitu menyesal akan hal itu. Masih ada malam – malam berikutnya yang panjang untuk menghabiskan waktu dengan istri tercintanya.
Sony menaiki ranjang dan membetulkan selimut Vania, juga bajunya yang tersingkap ke atas. Sony dengan sabar dan perlahan membetulkannya tanpa membangunkan Vania yang sudah tertidur pulas. Ia pun juga perlahan membaringkan tubuhnya di sebelah Vania, tangannya salah satu memeluk pinggang Vania yang membelakanginya.
🌷🌷🌷
“Dek, bangun sayang! Sudah subuh.” Sony mengelus pipi Vania, ia menyingkirkan rambut yang menutup wajah cantiknya.
“Hem.. aahhh..” gadis itu menggeliat dan malah memeluk Sony seperti guling. Ya, mungkin saja ia masih belum sadar dan masih di bawah alam mimpinya. Kalau saja ia tahu ia memeluk suaminya se erat itu, pasti ia akan malu.
Sony berkali kali mengecupi Vania mulai dari dahi, pipi hingga bibir. Akhirnya gadis itu mulai mengerjapkan matanya, lalu merentangkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan ototnya. Dengan sigap Sony memeluk tubuh Vania dan menindihnya sambil menciumnya dengan gemas.
“Sayang .... “ panggil Sony lirih, tangannya tak berhenti mengelus pipinya. Masih belum terbangun juga.
Cup ! Mwah!
“Mas! Ah!” teriak Vania terkejut melihat Sony mengecupinya tiada henti.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
... ...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... ...
... 🌿...
...*K**enalan sama author yuk, follow IG @Ephayunita*...
...Bila berkenan, mampir juga ya di novel author satu lagi, ...
...judulnya MEMELUK KENANGAN...
__ADS_1