Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Drama Antar Jemput


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah Vania lolos interview, ia bisa langsung bekerja di hotel itu. Ia berada di departemen House Keeping, sesuai dengan keahliannya, meskipun Sony sangat khawatir. Namun ia mencoba memberi kebebasan untuk wanitanya agar ia merasa tak di kekang.


 


Pagi-pagi sekali, Sony mulai bersiap dan melajukan mobilnya ke tempat Vania.


 


“Assalmmualaikum,”


 


“Wa’alaikumsalam,” sahut Fitri, ART yang baru datang kemarin. ia lalu membukakan pintu.


Ya Tuhan, sempurna sekali pria ini, ganteng, putih, manis, pakai Jas lagi.


 


“Eh, iya.. cari siapa ya Mas?”


 


“Bisa tolong panggilkan Vania?” Sony merasa risih karena Fitri terus menatapnya.


 


“Oh Mbak Vania lagi di kamar Tuan, sebentar saya panggilkan. Silakan duduk.” Fitri langsung bergegas memanggil Vania di kamarnya.


 


“Mbak Vania, itu ada yang nyari didepan.”


 


“Siapa mbak?” Vania sedikit meninggikan suaranya.


 


“Aduh, lupa tanya namanya Mbak. Orangnya ganteng pakai jas.”


 


“Oh, apa Mas Sony?”


 


“Siapa dia, Mbak?”


 


“Dia pacar saya Mbak,” Vania tersenyum kecil di meja riasnya sambil melihat Fitri di pantulan cerminnya.


 


“Oalah, Serasi sekali Mbak., ceweknya cantik, cowoknya juga ganteng.” Ucap Fitri berjalan menuju dapur.


"Ah, Mbak Fitri bisa aja." Vania tertawa kecil.


 


“Mas, kenapa kesini?” ia keluar dari kamarnya untuk menemui Sony.


 


“Kok kenapa. Ya, Mas mau menjemputmu Dek, sekalian Mas juga mau berangkat.” Mata Sony juga tak berkedip melihat penampilan wanitanya yang feminim, terlihat satu tingkat lebih dewasa dengan  celana panjang serta blazer yang melekat sempurna di tubuhnya. Ditambah lagi make upnya yang semakin membuatnya memesona.


 


“Tapi Mas, aku mau berangkat sendiri saja.” Vania memutar badannya dan menggerutu, ia langkah menuju sofa lalu mendudukkan tubuhnya dengan kasar.


 


“Sendiri? Terus apa gunanya ada Mas di sini?”


 


“Mas, dengan penampilan seperti itu, apa mungkin aku bisa bebas dekat dengan Mas, status kita sudah berbeda. Mas juga tidak lagi mengendarai sepeda motor. Aku yakin, seluruh wanita di hotel itu pasti menyukai dan mengejar-ngejar Mas Sony.” Vania cemberut merasa kesal setelah melihat penampilan Sony yang begitu sempurna.


 


“Bicara apa sih Dek, jangan berpikir seperti itu. Sudah, sekarang ayo berangkat. Sudah sarapan belum?” Sony duduk di sebelah Vania, memperhatikan wajahnya yang cantik namun sedikit kusut.


 


“Dah.”jawab Vania singkat.


 


“Kok jawabnya begitu, sudah jangan ngambek. Mas sudah kesiangan ini, Dek.”


 

__ADS_1


“Mas, pasti nanti semua mata akan memperhatikan kita, Mas. Aku tidak mau ada yang tahu hubungan kita..”


 


“Kenapa? Mas saja tidak masalah. Malah bagus, tidak akan ada yang berani mendekatimu lagi.”


 


“Pokoknya aku nggak mau kalau sampai ada yang tahu, Mas! Atau aku akan bekerja di hotel lain saja.” Vania mulai mengeluarkan jurus ancamannya pada Sony.


 


“Ya, ya, baiklah Mas akan merahasiakannya. Tapi dengan satu syarat.”


 


“Kok pakai syarat segala, apa?!”


 


“Berangkat dan pulang, bareng sama Mas terus.”


 


“Yah, nggak bisa dong Mas. Sama juga bohong. Lama-lama mereka pasti akan tahu juga. Hih!” Vania mengeluh.


 


“Harus nurut, Dek!”


 


“Ya sudah, tapi berhentinya di depan hotel , ya?!”


 


“Iya sayang. Paling nggak, Mas tenang kalau kamu aman. Ya sudah yuk, kita berangkat.”


 


Sony meraih tangan Vania untuk mengajaknya beranjak dari Sofa. Lagi-lagi Sony memperhatikan penampilan gadis kecilnya itu.


“Dek, lain kali jangan terlalu cantik, ya? Mas takut nanti ada yang melirikmu.”


 


“Salah lagi, kan. Ribet banget sih Mas.”


 


 


“Iya sayang.”


 


“Mbak Fitri, aku berangkat dulu ya.”


 


“Iya Mbak, hati-hati.”


 


Mereka pun berjalan bergandengan menuju mobil yang terparkir di depan rumah yang hanya berjarak tiga meter. Sony membukakan pintu mobil bagian depan, mempersilahkan Vania untuk ke dalamnya.


 


Satu menit, dua menit, sepuluh menit. Perlahan namun pasti, mobil hitam Sony sudah memasuki area hotelnya yang sangat luas itu.


 


“Mas! Stop! Kenapa masuk sih. Kan, tadi sudah sepakat berhenti di depan.” Teriak Vania yang tadinya sedang sibuk dengan ponselnya, dia tak menyadari jika ternyata sudah sampai halaman hotel.


 


“Masih sepi sayang, tidak akan ada yang melihat. Ayo turun.”


 


“Nggak! Aku nggak mau turun Mas! Putar balik, putar balik! ayooo,” perintah Vania.


 


“Tanggung Dek, sudah sampai sini juga masa mau balik lagi ke depan.”


 


Vania membungkukkan badannya, takut ada yang melihat meskipun mungkin hanya beberapa orang saja yang mengenalnya.


“Mas, aku tidak akan turun kalau Mas tidak putar balik. Aku mau turun di depan Mas, please ...” rengek Vania.

__ADS_1


 


“Ah, baiklah. Kalau bukan karena sayang Mas tidak akan menurutimu Dek.” Ujar Sony sambil memutar setirnya.


 


“Terima kasih, Mas.”


 


“Pulangnya, tunggu Mas, ya. Awas pulang sendiri! Apalagi diantar lelaki lain.”


 


“Siap Bos!”


 


Sony membuka pintu mobilnya, bermaksud untuk membukakan pintu Vania dari luar.


 


“Mas mau ngapain?!”


 


“Membukakanmu pintu, Dek.”


 


“Hish, tidak usah Mas. Ribet! Aku bisa sendiri. Mas di sini aja.” Mata Vania menyapu sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatnya, setelah suasana aman untuk turun, ia lalu perlahan membuka pintu mobil itu. Mengendap-endap seperti maling. “Dah Mas!” Vania melambaikan tangan setelah menutup pintu mobil hitam itu.


 


Vania berjalan perlahan dengan santai, matanya sungguh kagum melihat pemandangan sekitar hotel. Ia berhenti di pos security untuk laporan, beruntung bukan Kris yang bertugas saat ini.


“Akhirnya, aku bisa menginjakkan kaki lagi di sini. Bahagia sekali rasanya, seperti mengulang masa lalu yang sangat mengesankan.” batin Vania.


 


Sementara itu, Sony yang telah memarkirkan mobilnya berdiri mematung sejenak dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Memperhatikan Vania dari kejauhan, mengulas senyum kecil di bibirnya. Hatinya tenang dan sangat bahagia, bisa berdekatan lagi dengan gadis yang dicintainya. Semakin lama, tak terlihat lagi punggung Vania. Ia sudah memasuki ruang House Keeping.


 


Mas sangat lega Dek, sekarang Mas bisa semakin mudah menjaga dan melindungimu. Mas akan pastikan tidak ada satu pun orang yang berani mengganggumu. Apalagi menyakitimu.


Dengan wajah ceria dan penuh semangat, Vania menyapa beberapa orang yang sedang berkumpul di kantor House Keeping.


"Assalammualaikum, selamat pagi Pak, Bu."


Lima orang di dalamnya serentak menjawab salam Vania. ia seperti mimpi, kehadirannya kali ini disambut hangat oleh para senior yang dikenal baik.


 


"Astaga, Vania? kamu ngaoain disini?!" tanya Bu Endang langsung berlati memeluk Vania. Mereka memang seakrab itu, sudah seperti anak dan Ibu.


"Aku kerja Bu, aku di terima kerja di sini." Vania tertawa puas, melontrakan senyuman bahagianya karena bertemu dengan Bu Endang, serta senior lainnya.


"Kok tidak kasih kabar? tau-tau sudah di sini."


"Iya Bu, Bu Endang apa kabar? dan Pak Adi dimana Bu? masih kerja disini kan?" Vania sama sekali tak melupakan senior paling baik yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri.


"Sehat, sehat, Pak Adi juga masih di sini. Mungkin hari ini jadwalnya shift sore."


Vania dan para senior pun berbincang-bincang sebelum ia mulai bekerja pukul tujuh nanti. Ya, masih ada waktu setengah jam untuk saling bertemu kangen.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2