
“Berapa orang yang mau ikut? Jadi jangan sampai ada yang naik motor sendiri ya?” Suara Biyan terdengar nyaring di meja paling belakang. Vania yang masih sibuk dengan ponselnya jelas mendengar keributan tapi tak menghiraukannya.
“Van, kamu ikut enggak?!” tanya Dina.
“Hah, ikut? Mau ke mana memangnya? Ikut siapa?” tanya Vania terlihat bingung.
“Dasar lemot. Dari tadi ngapain aja sih. Orang pada rame, heboh mau pergi ke danau kamu malah duduk manis di sini.” Ucap Dina setengah emosi. Watak Dina yang keras dan tomboi seperti sudah biasa di terima Vania. Jadi dia tidak pernah sakit hati dengan perkataannya, sekalipun itu kasar.
“Ke danau? Kapan? Ayuklah, aku ikut.” Jawab Vania antusias.
“Kamu boncengan sama siapa? Aku sudah sama Dela loh.” Sahut Dina.
“Yah, aku sama siapa dong. Kamu tega banget sih, biasanya kamu menomor satukan aku. Sekarang kamu melupakanku Din. Jahat!” rengek Vania seperti bocah.
“Udah deh, nggak usah drama. Cepat cari gandengan!”
“Naik motor kok gandengan. Dasar aneh.” gerutu Vania.
Eh, HP ku bergetar. Jangan-jangan Mas Sony. Vania segera melihat ponselnya yang baru saja ia masukkan dalam tas.
“Halo, assalammualaikum Mas.” Sapa Vania.
“Wa’alaikum salam Dek, Mas mengganggu?!” tanya Sony.
“Sama sekali tidak Mas.” Jawab Vania menahan senyum meski Sony tak bisa melihat senyumnya.
“Syukurlah kalau tidak mengganggu, Mas ingin mendengar suaramu Dek. Sedang apa di sana? Kok sepertinya rame sekali.” Tanya Sony ketika mendengar suara gaduh di ponselnya.
“Aku di kelas Mas, ini anak-anak mau pergi ke danau. Heboh banget.”
“Ke danau? Jauh? Terus Adik ikut enggak? Ada cowoknya juga?” Sony menghujani pertanyaan.
“Iya ikut Mas, kan pengen refreshing. Banyak kok yang ikut, hampir satu kelas. Hitung-hitung melepas rindu sama teman-temanlah. Kan lama nggak ketemu.” jelas Vania.
“Van, kamu sama aku ya. Tinggal kamu sama aku saja yang sendiri, jadi kita harus barengan.” Ega duduk di sebelahku, menyambar kursi yang ada di meja sebelah.
“Apaan Sih?! Minggir Ga.” Ucap Vania semakin memojok ke tembok, dan masih menempelkan ponsel di telinganya, panggilan telepon itu juga masih tersambung dengan Sony.
“Sudahlah Van, jangan pura-pura nggak mau, padahal kamu pasti senang kan bisa berboncengan denganku,” goda Ega semakin menjadi, seperti dia sengaja berbicara seperti itu karena dia tahu Vania sedang menelepon seseorang, berusaha membuat lelaki di seberang itu cemburu.
“Dek, bisa keluar kelas sebentar? Sangat berisik. Mas mau bicara.” Ujar Sony memerintah.
“Iya Mas, sebentar.” Jawabnya.
“Ega minggir! Aku mau lewat! Cepetan!” Vania berdiri mengusir Ega. Namun dia masih tetap dengan posisi yang sama, menghalangi Vania dengan badannya yang bersantai di kursi.
__ADS_1
“Aku tidak akan minggir kalau kamu belum menjawab IYA. Kamu harus pergi bersamaku Van.” Paksa Ega.
Vania melihat tajam mata Ega, tatapannya begitu menusuk penuh kebencian. Kenapa dia tidak henti-hentinya menggangguku. Gumam Vania. Dia menggeser meja mencari celah agar bisa lolos dari Ega. Setelah berhasil, dia bergegas keluar mencari tempat yang sepi untuk mengobrol dengan Mas Sony,
“Halo Mas, maaf ya. Aku tidak bermaksud mengabaikan Mas Sony.”
"Dek, Mas tidak suka kamu dekat-dekat dengan Ega, Mas khawatir. Dan aku juga tidak rela kalau Adik pergi bersamanya. Berboncengan berdua, pasti nanti akan sangat berdekatan tidak ada jarak, belum lagi kalau seandainya nanti Adik di belokkan ke suatu tempat terus di apa-apain sama dia, siapa yang akan menolong?! Hah?! Jangan membuat Mas semakin merasa bersalah karena tidak bisa melindungimu, "ucap Sony terdengar suaranya yang menahan emosi di sambungan telepon.
“Mas, jangan terlalu khawatir yang berlebihan. Percayalah, aku bisa jaga diriku sendiri kok. Dan lagi pula aku juga tidak mau, sampai kapan pun tidak akan pernah sudi berboncengan dengan Ega. Melihatnya saja rasanya seperti ingin menimpuknya Mas.” Jawab Vania mencoba meredakan emosi Sony.
“Kenapa dia tadi bisa bersamamu Dek?”
“Ya tentu saja Mas, dia kan ketua kelas di kelasku. Apa Mas belum pernah aku kasih tahu kalau Ega sekelas denganku.” Jelas Vania membuat Sony semakin tercengang mendengar perkataan Vania dari ponselnya.
“Apa Dek? Sekelas?!” Sony terkejut dengan ungkapan Vania. Wah gawat, peluangnya untuk mendekati Vania semakin terbuka lebar. Semoga saja kamu tidak akan luluh lagi dengannya Dek. Gumam Sony penuh harap.
“Iya Mas, kita sekelas. Mas, jangan khawatir ya. Aku sangat tahu apa yang Mas pikirkan sekarang.”
“Tolong simpan hati dan pikiranmu hanya untukku Dek, aku pun juga melakukan hal yang sama. Dan jangan sampai memberi celah kesempatan untuk siapa pun mendekatimu, apalagi menyentuhmu, Mas tidak akan rela. Paham?!”
“Jangan menggombal Dek, Mas serius ini.” Ucapnya tegas.
“Adik juga serius Mas ganteng. Hiihh... gregetan deh.” Ucap Vania semakin gemes.
“Hahaha, Mas merindukanmu kemanjaanmu yang menggemaskan itu Dek.”
“Mas yang lebih menggemaskan. Terlalu protektif itu tidak baik Mas. Intinya Mas percaya aja deh sama Adik.” Ucap Vania.
“Mas sangat mempercayaimu Dek, hanya saja Mas tidak percaya lelaki hidung belang di luar sana. Termasuk mantan kamu itu, selalu mengganggumu. Kalau dekat mungkin Mas sudah sangat ingin menghadiahinya kepalan tangan Mas.”
“Hahaha, Mas Sony memang sangat menakutkan. Membuatku semakin cinta.”
__ADS_1
“Van ayo! Yee malah ngebucin di sini. Orang udah mau berangkat nih. Mau ikut enggak?!” teriak Dina dari pintu kelas yang berjarak beberapa meter dari Vania.
“Iya Din, sebentar!” jawabnya singkat.
“Mas, maaf, boleh aku berangkat sekarang? Aku akan pulang sore. Nanti aku pasti kasih kabar Mas.”
“Ya sudah Dek, hati-hati di jalan ya. Ingat! Jangan mau di bonceng Ega. Kan bisa tukeran dengan teman kamu yang lain.” Tegas Sony memperingatkan.
“Siap Bos!”
“Satu lagi Dek! Meskipun lagi seru. Jangan tinggal salatnya ya. Makan juga yang teratur. Jaga kesehatan.”
“Iya Masku sayang. Adik tutup dulu ya. Mas juga jaga kesehatan di sana.” Ucap Vania sambil berjalan menuju kelasnya.
“Iya sayang, Love You. Assalammualaikum.”
“Love You Too Mas, waalaikumsalam.”
Panggilan panjang di akhiri, Sony kini yang sedang termenung di Pos seperti mengkhawatirkan sesuatu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa seperti ini terus, setiap detik, menit pikiranku hanya soal Vania. Dia wanita yang polos, wanita yang selalu membutuhkan pertolonganku di sini. Apa dia akan baik-baik saja ketika jauh dariku?! Gumam Sony dalam hati. Dia memikirkan cara agar bisa memastikan wanitanya aman.
Sementara itu di kelas, keributan tak kunjung usai. Entah apa yang mereka rebutkan hingga membuat kegaduhan yang begitu mengganggu kelas lain.
“Van, kamu sama siapa nih?! Sama Ega mau?!” tanya Dela.
“Tidak. Lebih baik aku tidak ikut kalau aku berboncengan dengannya.” Ancam Vania.
“Atau sama Kiki saja aja Van, Widya biar sama Ega.” Bisik Dina.
“Boleh juga tuh. Tapi bagaimana bilangnya, nanti di kira kita mengatur mereka.”
“Gampang, kamu bisikin Kiki. Terus kalian berangkat dulu, tunggu di pertigaan. Widya pasti bingung nyariin Kiki. Mau nggak mau dia pasti juga akan berangkat sama Ega. Kan dia doang yang nganggur.” Dina memberi ide.
“Pinter kamu Din. Nggak sia-sia aku punya teman kaya kamu.” Vania tersenyum lebar.
**BERSAMBUNG...
Hay, Author sangat berterima kasih kakian sudah mampir, dan jangan hilangkan Sony Vania dari ruang favorut kalian ya.
jangan lupa dukung terus karya author biar tambah semangat menulis.
tinggalkan jejak ya sayang, kike dan komen kalian sangat berarti buat author.
💚💚💚😍😍😍😘😘**
__ADS_1