Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Potong Rambut


__ADS_3

“Sudah selesai Dek.” Sony menutup zip, menarik nafas panjang karena lega akhirnya ujian itu berakhir. Ujian menahan nafsu, ya baginya cukup sulit karena murni sekalipun dia tidak pernah sedekat itu dengan perempuan. Apalagi menyentuhnya. Ya meskipun hanya menyentuh punggung, baginya itu sangat sulit. Ditambah aroma wangi dari tubuh Vania tercium jelas di hidung Sony, membuatnya semakin tergoda.


Sony beringsut bersender di sofa warna coklatnya, Vania yang duduk di sebelahnya memperhatikan Sony, melirik ke kanan.


 


“Mas, kenapa? Capek?” tanya Vania beringsut menghadap ke arah Sony.


 


“Tidak Kok, Mas sepertinya lapar Dek.” Jawab Sony berbohong. “O iya Adik tadi belum sempat makan kan? Mau makan apa nanti biar delivery.”


 


“Emm ,,, terserah Mas saja.” jawaban andalan wanita jika ditanya.


 


Sony pun memesan beberapa menu untuk makan malam mereka di rumah kontrakan Sony yang sederhana. Mereka berbincang sesekali bercanda dan saling tatap menatap mata. Dunia serasa milik berdua, sama-sama membucin karena lagi merasakan kasmaran.


 


“Dek, itu rambutnya Mas potong sekalian ya?” tanya Mas Sony.


 


“Mas benar-benar bisa? Aku takut nanti kalau jadinya malah jelek. “keraguan Vania membuat Sony semakin ingin menggodanya.


 


“Adik tidak percaya sama Mas? Padahal Mas ahli loh dalam potong-memotong rambut.” Jawab Sony tertawa.


 


“Masa? Mas pernah jadi tukang potong rambut juga?” tanya Vania polos.


 


“Ha ha ha ...” tawa Sony semakin keras melihat keluguan Vania.


 


“Dek, bisa memotong rambut itu tidak harus jadi tukang dulu loh.” Jelas Sony.


 


“Iya juga sih, tapi Mas nanti kalau dipotong berarti rambutku jadi pendek dong?! Padahal aku suka rambutku panjang. Hu hu hu ...” merengek manja.


 


“Nanti kan juga bisa panjang lagi Dek. Tapi kalau Adik tidak mau di potong ya, Mas tidak akan memaksa.”


 


“Berat banget Mas rasanya.” Vania merasa keberatan dan sayang jika rambutnya harus di potong.


 


“Ya sudah kalau begitu tidak usah di potong Dek. Biar begitu saja.” Ucap Sony sambil sedikit menahan tawanya.


 


Ya kali rambut bekas terbakar nggak boleh dipotong. Dasar Vania.


 


“iihh Mas kok gitu sih. Kenapa menertawakanku?” tanya Vania sedikit ngambek.


 


“Ya Allah ... siapa yang menertawakan Adik? Mas kan cuma bilang, kalau Adik tidak mau potong ya nggak apa-apa. Tapi apa tidak malu nanti di lihat orang rambutnya berantakan seperti itu? Bekas terbakarnya kelihatan banget Dek. Dan kalau mau ke salon, mana ada jam segini buka?” sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.


 


“Ya sudah kalau begitu, Mas yang potong. Tapi awas ya kalau jelek.” ucap Vania mengancam.


 


“Iya Dek, Mas coba dulu ya .. “ jawab Sony singkat lalu berdiri. “ Mas ambil gunting dulu.”


 


“Oke Mas.”


 


Setelah mengambil gunting Sony mulai beraksi dengan bahan percobaannya, bereksperimen membentuk rambut Vania sebagus mungkin. Semoga hasilnya tidak mengecewakan ya Vania... Hahaha ...


 


“Mas, rasanya kenapa seperti pendek sekali ya?”


 


“Ini Mas potong sampai kebagian yang terbakar Dek. Jadi memang terpaksa harus agak pendek. Tidak apa -apa ya? Yang penting nanti hasilnya bagus. Oke?!” yang terpenting leher tidak terlihat orang. Guman Sony.


 


“Mas, Mas kenapa bisa yakin banget sih kalau hasilnya bakalan bagus? Kepedean ih.” Ucap Vania protes.


 


“Ya harus yakin Dek. Kalau tidak yakin malah nggak akan jadi nanti.” Sambil serius memotong rambut bagian belakang.


 


“Boleh lihat sekarang Mas, mana cerminnya?” menoleh ke belakang.

__ADS_1


 


“Dek, jangan gerak dulu. Nanti miring loh, kalau sudah selesai nanti boleh lihat.” Jawab Sony.


 


“Oke.” Singkat Vania menjawab.


 


“Sekarang hadap sini Dek.” Meminta Vania berbalik menghadap ke arahnya. “Mas bikin poni boleh? Pasti imut banget.” Ijin Sony yang ingin memotong poninya dan menatap dengan senyum menggoda.


 


“Mas! Jangan aneh-aneh! Nanti kaya anak kecil. Nggak mau!” bantah Vania sambil menutup dahinya.


 


“Eh, bagus loh Dek. Kan belum dicoba. Ini bekasnya kan di poni juga Dek.” Sony memperhatikan rambut depan Vania yang lebih pendek.


"Ya ampun kenapa sedekat ini sih wajah Mas Sony. membuat jantungku mulai loncat di dalam sana. Kebiasaan yang sangat tidak bisa kuhindari." Ucap Vania dalam hati.


“Ya tapi kan bukan poni yang di depan Mas. Itu cm di pendekin aja. Biar beda panjangnya sama yang di belakang.” Sahut Vania memundurkan badannya karena tak tahan dengan pandangan Sony.


 


Tok Tok Tok


 


“Permisi!”


 


“Dek, sebentar ya Mas buka pintu dulu. Sepertinya makanannya sudah datang.”


 


“Iya Mas.”


 


“Selamat Malam Mas, ini pesanannya.” Ucap pengantar makanan.


 


“Iya Mas, totalnya berapa?” tanya Sony.


 


“totalnya 122.000 ribu Mas.”


 


“Oh iya, ini Mas. Kembaliannya ambil saja.” Memberikan dua lembar uang berwarna merah.


 


 


“Oke Mas, hati-hati di jalan. Terima kasih.” Masuk membawa beberapa macam makanan.


 


“Dek, makan dulu yuk.” Berjalan ke arah Vania dan menaruh makanannya di meja.


 


“Mas, masa aku makan pakai baju penuh rambut begini? Gatel.” Menggaruk leher belakang.


 


“Astaga. Maaf Dek Mas lupa. Harusnya tadi bajunya di lapisi kain.”


 


“Ya sudah pakai baju Mas dulu saja ya?”


 


“Iya deh,”


 


Sony berjalan menuju lemari kamar. Dia memilih baju yang kekecilan agar muat di pakai Vania.


 


“Ini Dek, ganti baju dulu di kamar mandi sana.” Memberikan kaos dan celana panjang training.


 


Vania berdiri dan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba Sony mengikutinya dari belakang. Vania memutar badan hampir menabrak, untung saja Sony mengerem langkah kakinya.


 


“Dek! Kenapa tiba-tiba berhenti?” Sony kaget memundurkan badannya.


 


“Mas juga! Kenapa mengikutiku?!” tanya Vania penuh kecurigaan meskipun dia percaya Sony tidak akan berbuat apa-apa padanya.


 


“Ya Allah, siapa yang ngikutin Adik?” tersenyum geli. “Mas tuh mau ke dapur ambil piring Dek, tuh dapurnya kan bersebelahan dengan kamar mandi.” Jelas Sony sambil memencet hidung Vania gemas. “Jadi cewek jangan curigaan mulu sama Mas, Mas tidak akan berbuat macam-macam Dek. Paham?” mengusap rambut atas Vania lalu pergi meninggalkannya menuju ke arah dapur.


 

__ADS_1


 


“Habisnya Mas nggak bilang kalau mau ke dapur. Mana aku tahu.” Jawabnya sambil memasuki kamar mandi.


Sony menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vania.


 


“Mas! Kenapa celananya besar banget sih?” berteriak sambil membuka pintu kamar mandi setelah selesai berganti baju.


 


“Mas adanya itu Dek, celana pendek mau? Itu sajalah, kan dingin. Biar hangat pakai panjang.”


 


“Takut melorot, gawat dong.” Ucapnya lirih hampir tak terdengar di telinga Sony.


 


“Apa Dek?”


 


“Bukan apa-apa Mas.” Fokus membetulkan tali celana bagian pinggang.


Sony berdiri lalu menunduk dibawah Vania.


"Mas mau ngapain?" tanya Vania terkejut melihat Sony berjongkok di depannya.


"Sini, Mas lipat bawahnya, biar tidak terinjak nanti kalau jalan. Takut jatuh."


"Oh, terima kasih Mas." Manis sekali sih kamu Mas, perhatianmu membuatku semakin meleleh.


 


“Duduk Dek, makan.”


 


“Ya ampun Mas. Kebiasaan kalau beli makanan selalu banyak. Mubazir nanti kalau tidak habis.” Terkejut melihat meja yang penuh dengan makanan.


 


“Mas bingung Adek sukanya apa. Jadi Mas beli macam-macam. Makanya lain kali kalau ditanya mau makan apa, jawabnya jangan terserah Dek.” Jelas Sony.


 


Kata terserah memang senjata ampuhnya wanita ya gengs. Ha ha ha


 


“Sudah cuci tangan kan?”


 


“Sudah dong.” Jawab Vania singkat.


 


“Adik mau makan sama apa?” tanya Sony.


 


“Aku mau ini Mas.” Menunjuk udang berlumur bumbu pedas. “Sini Mas piringnya, aku ambil sendiri saja.”


 


“Mas kupas dulu kulitnya Dek.” Sony selalu berusaha melayani Vania dengan baik bahkan ia sangat teliti, hal kecil saja dia sangat telaten membantunya. Walaupun Vania bisa mengerjakannya sendiri. Tapi dia senang jika bermanfaat untuk wanitanya. Tidak ingin dia kesusahan atau kerepotan.


 


 


“Mas, lama-lama aku jadi seperti anak kecil kalau Mas manjakan terus.” Memanyunkan bibir, meskipun dalam hati Vania dia merasa di istimewakan, tapi terkadang dia risih jika diperlakukan seperti anak kecil. Apalagi kalau di tempat umum.


 


“Adik kan memang masih kecil, masih sekolah. Hahaha.” Ledek Sony yang selalu suka menggoda Vania kalau dia sedang cemberut.


 


“Mas! Nyebelin ya! Tapi Mas suka juga kan sama anak kecil?!” tanya Vania melotot menajamkan bibirnya ke depan.


 


“Bagaimana Mas tidak suka jika anak kecilnya seperti kamu Dek. Persis boneka, imuuut banget. Sayang kalau diambil orang. Hahaha.” Tawa Sony membuat Vania tersipu malu.


"Kenapa Mas Sony ganteng banget sih kalau ketawa begini. Di hotel saja seperti es, mahal banget senyumnya. Untung dari awal aku bisa menikmati senyumnya. Ahh nasib baik aku bisa sedekat ini dengan Mas Sony”. Gumam Vania dalam hati.


 


“Dek, kok malah melamun?!” ayo dimakan. Keburu dingin nanti.”


 


“Eh, iya. Terima kasih Mas ganteng.” Ucap Vania keceplosan karena habis melamunkan kegantengan sang pujaan hati.


 


Sony tersenyum kecil menahan tawanya. “Gadis yang sangat lucu, polos, imut, dan berhati lembut. Semoga kelak kamu menjadi jodohku Dek. Mas akan menunggumu.” ucap Sony dalam hati.


 


jangan lupa dukung author dengan cara vote, like dan komen ya. terimakasih sudah mampir.😘💚


Bersambung...

__ADS_1


 


__ADS_2