Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Pulang HoneyMoon


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Vania dan Sony sudah merasa puas untuk liburan bersama setelah menjadi pasangan suami istri yang sah. Mereka juga sudah mengulangi beberapa kali membuat adonan hidung setiap malam, benar saja Vania yang awalnya selalu mengeluh sakit. Kini terbukti ia ketagihan dengan perlakuan Sony di atas ranjang. Begitu juga dengan Sony yang terus  menerus meminta jatah pada istri kecilnya itu. Sehari sepuluh kali pun mungkin akan di jabanin. Hihihi


 


Sore hari, ketika fajar mulai tenggelam dan berganti gelapnya malam. Keduanya kini telah kembali ke rumah Vania dengan hati yang berbunga-bunga, keceriaan dari keduanya tampak terlihat jelas tergambar di wajah mereka. Sony dan Vania berniat untuk sekedar menginap semalam dan membereskan barangnya untuk di bawa ke Jogja.


 


Saat ini jarum jam dinding di kamar Vania menunjukkan pukul tujuh malam. Vania mulai berkutat dengan kopernya setelah selesai mandi. Ia mencari oleh-oleh yang sengaja ia beli untuk Bapak Ibunya dan kedua adiknya.


Tok...Tok...Tok...


“Nduk ....” Panggil Bu Jasmin mengetuk pintu kamar Vania.


 


“Iya Bu, sebentar.” Vania lalu bergegas membukakan pintu untuk menemui Bu Jasmin.


“Ada apa Bu?”


 


“Ibu sudah siapkan makan malam, ajak suamimu untuk makan.”


 


“Iya Bu, terima kasih. Mas Sony sedang mandi.” Jawab Vania sambil berusaha menutupi bekas stempel bibir Sony di lehernya dengan rambut karena malu pada Bu Jasmin.


 


“Tidak perlu di tutupi begitu Nak, tifak pwrlu malu. Ibumu sudah paham.” Ujar Bu Jasmin dengan tersenyum. “Anak Ibu sekarang sudah dewasa.” Sambungnya lagi menepuk lengan Vania.


 


“Bu, Vania masuk dulu ya.. mau siapkan baju Mas Sony. Sebentar lagi kita menyusul.” ucap Vania mengalihkan pembicaraan Ibunya.


 


“Ya sudah, jangan lama-lama ya Nduk. Kasihan suamimu pasti sudah lapar.”


 


“Iya Bu.”


 


Vania kembali menutup pintunya, bersamaan dengan Sony yang keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


 


“Mas, lain kali awas ya bikin-bikin stempel di sini lagi. Aku tidak akan mau melayani Mas Sony kalau minta ituan lagi.” Gerutu Vania sambil menunjuk lehernya yang merah, tak hanya satu. Bahkan stempel merah itu kalau dihitung mungkin bisa berjumlah lebih dari sepuluh. Dari leher samping kanan, samping kiri, hingga tengah, sudah dipastikan mata waras akan melihatnya secara jelas. Apalagi Vania memang berkulit putih bersih. Sungguh Sony memang tak tahu malu. Begitu beringasnya ia memakan istrinya.


 


“Apa sih sayang?...” jawabnya sedikit acuh namun dengan senyuman manis yang menggoda.


 


“Awas pokoknya! Libur seminggu!” Ancam Vania pada suaminya untuk tidak memberinya jatah malam.

__ADS_1


 


“Eh kok gitu, Dek! Dosa loh!” jawab Sony.


 


“Makanya Mas tuh jangan bikin yang aneh-aneh. Malu tau sama Ibu. Belum lagi nanti kalau ketemu Bapak di meja makan.”


 


“Sayang, kenapa harus malu. Kan kita sudah halal. Bapak sama Ibu juga pernah muda, jadi santai aja, oke?!”


 


“Yang jadi tersangka malah nggak punya malu!” gerutu Vania, memonyongkan bibirnya sepuluh senti.


 


“Siapa tersangkanya, Dek?! Hehe ...”Ucap Sony sambil tangannya melingkar di pinggang Vania yang sedang menyisir rambutnya.


 


“Mas Sony lah! Lihat. Merah semua! Rata Mas, rata!!” Vania mulai kesal namun dengan nada manjanya.


 


“Mau lagi? Mas tambahin ya sayang?!” Sony menenggelamkan wajahnya ke pundak Vania. Mengecup leher istrinya, aroma harum Vania sepertinya menjadi candu Sony untuk terus bergelayut pada sang istri.


 


“Mas! Cepetan pakai baju ah! Kita udah di tunggu di meja makan loh!”


 


 


Vania dan Sony lalu beriringan keluar dari kamar dan menuju meja makan. Sudah ada Pak Asta, Bu Jasmin, dan kedua adiknya, Rina dan Rafa. Hidangan makanan pun sudah tersaji rapi, ada rendang, sayur sop, ikan gurami, dan juga tahu tempe.


 


Vania dan Sony duduk berdampingan, sedangkan Rafa dan Rina tepat berada di depan Vania, saling berhadapan.


“Mbak, itu lehernya kenapa? Kok merah semua?” tanya Rafa yang masih polos.


 


“Ah ini, ini kena ... kena ulat sayang, jadinya gatal.” Jawab Vania dengan pura-pura menggaruk lehernya.


 


Pak Asta dan Bu Jasmin saling tatap dan mengulas senyum tipis. Pelaku utama yang tak merasa bersalah hanya menunduk, menggaruk kepala yang tidak gatal. Sony terlihat menahan senyum dan sedikit melirik Vania.


 


“Ulatnya nakal ya Mbak, suka gigit. Memangnya Mbak Vania main di mana kok sampai di gigit lehernya. Kenapa bukan tangannya?” Rafa terus bertanya karena rasa penasarannya.


 


“Eh ayo di makan, Vania ambilkan makanan suamimu.” Perintah Bu Jasmin memecah suasana canggung, melihat Vania kebingungan menjawab pertanyaan dari Rafa.

__ADS_1


 


Vania mengambil piring dan mengisinya nasi, juga beberapa lauk yang di sukai suaminya.


 


Setelah beberapa menit selesai makan, Vania lanjut mencuci piring bersama Rina. Sony tengah mengobrol dengan Bu Jasmin dan Pak Asta di ruang tengah.


 


“Pak, Bu, saya mengucapkan banyak terima kasih karena sudah merestui pernikahan kami, dan saya juga mau meminta ijin membawa Vania untuk tinggal bersama di Jogja. Mengingat saya ada kerjaan di sana dan kami juga ingin belajar mandiri agar tidak merepotkan Bapak dan Ibu.”


 


“Rencananya, kapan kalian akan ke Jogja?” Tanya Pak Asta.


 


“Besok pagi Pak. Apakah boleh?”


 


“Silakan. Tidak mungkin kami melarang kalian.” Pak Asta menjawab seperlunya karena memang sifatnya cuek dan tegas, tidak suka basa basi.


 


“Tentu saja boleh Nak Sony, Vania sudah menjadi tanggung jawab kamu. Dia juga memang sudah semestinya mengikuti suaminya. Tapi pesan Ibu, kalau kalian ada masalah, harus cepat di selesaikan. Jangan biarkan berlarut-larut, harus cepat meminta maaf satu sama lain. Mengalah adalah kunci keharmonisan rumah tangga.” Terang Bu Jasmin.


 


“Son, jadilah Pemimpin yang tegas untuk istrimu, jika salah tegurlah. Tapi jangan sekali pun menyakitinya. Bapak percaya kamu akan menjaga anak kami dengan baik.”


 


“Baik Pak, Insya Allah saya tidak akan menghianati kepercayaan bapak dan ibu.”


Vania telah selesai dengan kerjaannya, mencuci piring dan merapikan makanan di meja makan. Ia menyusul ke ruang tengah, bergabung dengan kedua orang tuanya dan juga suaminya.


Sepertinya baru ngobrol serius. Bahas apa ya kira-kira? Gumam Vania.


"Nduk, duduk sini." panggil Bu Jasmin pada Vania, menepuk kursi di sebelahnya agar Vania duduk di dekat sang Ibu.


"Ya Bu,"


"Besok kata Nak Sony, kalian akan berangkat ke Jogja, apa sudah di siapkan barang-barang yang mau di bawa, Nduk?"


"Sebagian sudah Bu, tapi harus di teliti lagi."


"Nduk, kamu harus patuh sama suami ya. Jangan membantah kalau di kasih tau yang benar."


"Siap Bu."


"Ya sudah, kalian kembakilah ke kamar. Istirahatlah, kalian pasti capek."


"Kami permisi dulu Pak, Bu." Pamit Sony, mereka lalu beranjak menuju kamar.


Bersambung...


Maaf ya author baru seempet. Lagi capek banget baru mudik, perjalanan jauh.

__ADS_1


Tetep ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya. Like, Komen, Vote. Biar author semangat ngehalu.🤭 thank you❤


Semoga aku dan kamu sehat selalu...


__ADS_2