
Waktu demi waktu terlewati, jam berputar begitu cepat hingga hari pun berganti. Tak terasa delapan bulan berlalu, Sinta yang menjadi guru abal-abal sepertinya makin mendalami perannya dan mulai nyaman dengan profesinya saat ini.
Masih dengan misi yang sama, Sinta selalu mencegah kehadiran Ega di sekitar Vania, menggagalkan segala cara busuknya untuk mendekati Vania. Ega yang semakin lama merasa terusik dengan kehadiran Sinta pun mulai curiga hingga ia hampir saja membuat Sinta celaka saat hendak mengantar pulang Vania.
“Ega, sebaiknya kamu pulang saja. Vania biar saya yang antar.” Ucap Sinta mendatangi Ega di depan halaman sekolah yang sedang duduk di motornya menunggu Vania keluar dari perpustakaan. Sinta melarang Ega untuk menawarkan bantuan pada Vania.
“Bu, kenapa selalu menggangguku saat saya ingin mendekati Vania?!” Ega meninggikan nada suaranya merasa aneh dengan gurunya itu.
“Maaf ya, saya hanya tidak ingin kamu mengganggu aktivitas sekolah Vania, apalagi membuatnya kehilangan nilai plusnya di beberapa mata pelajaran. Sebaiknya kamu juga belajar yang rajin Ga, jangan selalu memikirkan cinta. Belum saatnya, oke?” Ujar Sinta berlagak bijak seperti nasehat guru ke murid pada umumnya.
“Tidak Bu, itu privasi saya. Bu Sinta tidak seharusnya ikut campur dan menasehati seperti itu.”
“Vania adalah murid pilihan saya untuk saya jadikan leader pada saat ujian praktik kelas sebelas nanti. Jadi dia harus konsentrasi mengemban tugasnya. Saya harap kamu mengerti ya?” Sinta berusaha bertutur lembut pada Ega meskipun hatinya bergejolak menahan emosi.
“Saya curiga. Sejak kehadiran Bu Sinta di sekolah ini, fokus Bu Sinta hanya pada Vania. Kenapa tidak siswi lain? Bahkan urusan pribadi Vania pun Ibu selalu ingin tahu dan selalu mencampurinya. Apa tujuan Bu Sinta di sekolah ini sebenarnya? Apa ada yang menyuruh?!”
Deg! Bagai mendengar dentuman keras yang menggetarkan hati, Sinta berusaha tersenyum dan menghadapinya dengan penuh ketenangan.
Sinta mengulas senyum ramahnya, “Apa yang kamu pikirkan Ega? lucu sekali kamu ini.” Menepuk bahu Ega yang duduk di motornya.
“Jangan berpura-pura lagi. Siapa yang menyuruhmu untuk mengawasiku?!” Ega mulai menghilangkan rasa hormatnya pada Sinta, tidak lagi menganggapnya seorang guru.
“Terserah apa katamu Ga, saya tidak mengerti dan tidak mau tahu jalan pikiranmu seperti apa. Belajarlah menghargai wanita, agar kamu bisa mendapatkan gadis yang kamu inginkan!”
“Sudahlah, jangan sok bijak. Jika saya bisa membuktikan kamu suruhan seseorang. Saya pastikan kamu akan menyesal.” Ega berani mengancam Sinta yang selama ini menjafi gurunya, memang sepertinya, otaknya sudah sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Jaga bicaramu Ega! Saya bisa saja membuatmu keluar dari sekolah ini dengan perlakuanmu yang kurang ajar terhadap seorang guru! Hati-hati dengan pikiranmu yang sudah mulai tidak normal itu!”
“Kamu yang harusnya hati-hati, Saya peringatkan, jangan pernah lagi mengurusi urusanku dengan Vania atau saya akan berbuat nekat.”
“Silakan saja kalau berani, saya tunggu!” Sinta beranjak pergi meninggalkan Ega.
__ADS_1
Sinta menuju perpustakaan, tempat favorit Vania ketika suntuk nam istirahat atau puoang sekolah. Ia sangat hobi membaca, mendalami ilmu baru yang ingin ia perluas di otaknya.
“Vania, kita pulang sekarang yuk!” Sinta dan Vania sudah sangat akrab dan mengenal satu sama lain, hingga ia juga mengetahui hubungannya dengan Sony, sang bos. Meskipun Sinta berpura-pura tidak mengenal lelaki itu.
“Oke bu.” Sahut Vania semangat lalu bergegas mengembalikan buku yang ia baca, menyimpannya di rak.
Di perjalanan pulang, setelah Sinta mengantar Vania ke rumahnya. Terlihat motor yang mengikutinya sampai rumah. Dengan penuh ketakutan, Sinta membuka kunci rumahnya,
“Ke mana mereka?! Kenapa menghilang begitu saja?!” gumam Sinta mencari para body guard yang selalu menjaganya ke mana pun Sinta dan Vania pergi.
“Selamat siang,” sapa dua lelaki yang
“Si—siang, ada perlu apa ya?” jawab Sinta dengan suara terbata-bata.
“Ibu Sinta ya?”
“Maaf, salah orang. Sa—saya bukan Sinta.” Sinta berkelit karena ketakutan melihat pria tinggi besar yang badannya hampir sama dengan body guardnya itu.
Ketika Sinta berhasil membuka kunci pintunya, ia segera masuk dan menutupnya kasar, sungguh sial nasibnya. Kini dua lelaki itu malah berhasil mendorong kuat pintu itu dan ikut memasuki rumah Sinta, mereka mengunci serta menyimpan kumci iti di sakunya.
“Mau apa kalian?! Pergi dari sini! Keluar!”
“Tenang cantik, kita akan bersenang-senang dan bersantai di sini. Tidak usah takut.” ucap salah satu lelaki berambut ikal.
Sinta berlari masuk menuju kamarnya, baru beberapa langkah ia lari. Tangannya sudah di tarik dan di pegang erat oleh penjahat itu.
“Kalian mau apa, tolong lepaskan. Apa salahku?!” Sinta mulai terisak, badannya melemas tak karuan menahan rasa takut . Membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Blazer yang di pakai Sinta sudah berhasil terlepas dari tubuhnya. Tinggal kemeja putih tipis sedikit menerawang memperlihatkan bentuk tonjolannya, dan juga rok yang tersisa. Sinta mencengkeram baju depannya dengan kuat menggunakan satu tangannya. Satu tangannya lagi menahan tubuhnya yang sudah terjatuh di lantai karena di kejar lelaki mengerikan itu.
__ADS_1
Pyarrr! Suara gelas pecah membuat Sinta semakin merasakan sakit ketika ia berdiri lagi mencoba berlari menuju meja makan. Goresan pecahan kaca mengenai kakinya yang polos tanpa sepatu. Tangan Sinta berhasil di genggam oleh kedua lelaki itu. Ia di bopong menuju sofa ruang tamu.
Sinta terus berontak dan memukulinya agar terlepas dari mereka namun semakin lama tenaganya semakin melemah. Darah segar mulai menetes deras dari telapak kakinya. Dengan tangisan yang semakin lirih juga, ia mulai pasrah dan putus asa. Dalam batinnya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya memohon pertolongan.
BRAAKKKKK
Pintu depan yang tadinya terkunci kini terbuka lebar karena di dobrak dari luar. Body guard yang baru saja datang itu segera menyelamatkan Sinta. Mereka memukuli dua orang itu habis-habisan meski badannya sama-sama besar. Tak sulit bagi mereka mengalahkan penjahat itu. karena kekuatan keduanya tak sebanding.
Setelah keduanya lemas, babak belur penuh dengan luka pukulan. Kedua body guard itu segera menelepon Bosnya, Beni. Mereka memang jarang berinteraksi dengan Sony karena Sony lebih sibuk dan tidak ingin di ganggu. Kecuali hal mendesak soal Vania atau yang lain.
Dia akan memastikan mendengarnya langsung. mereka melaporkan kejadian tersebut yang langsung mendapatkan makian serta amukan sang bos karena lalai. Salahnya, mereka tidak mengantar Sinta pulang sampai rumah dulu dan memastikan keadaannya aman, mereka malah asyik mampir membeli makanan yang di bungkus di sebuah rumah makan untuk makan siang.
Selang beberapa jam, Beni datang ke tempat Sinta yang sudah mendapatkan perawatam dokter sebelumnya. Dua penjahat yang ternyata suruhan Ega sudah mendekam di tempat yang seharusnya. Sebenarnya Ega hanya menyuruh untuk menggoda Bu Sinta atau sekedar menyerempetnya, namun mereka malah tertarik untuk berbuat lebih begitu melihat Sinta yang perawakannya bak model.
"Pak, sejak kapan Bapak di sini?" tanya Sinta yang sedang duduk bersender di temoat tidur.
"Baru saja. Bagaimana kaki kamu?" tanya Beni mendekat setelah membuka pintu kamar Sinta.
"Oh, sudah membaik Pak." Sinta merasa canggung ketika Beni menatapnya lekat dan memeriksa kakinya yang sakit.
"Apakah sangat sakit? lalu, apalagi yang terluka?"
"Sa--saya tidak apa-apa, sebentar saya ambilkan minum dulu Pak." ucap Sinta menurunkan kakinya dari ranjang.
"Tidak perlu, beristirahatlah," perintah Beni.
"Baik Pak." kenapa jadi canggung begini sih, dan tumben sekali dia sangat peduli.
"O iya, saya akan stay di sini untuk beberapa hari selama kamu sakit. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya di kamar sebelah." Beni berjalan keluar tanoa mendengar jawaban dari sinta.
"Hah? Tinggal di sini?" Sinta menatap punggung Beni yang semakin menghilang. Mati aku!
Selama tiga hari kaki Sinta mulai membaik, Beni yang selalu merawatnya kini ia harus kembali lagi ke hotel Sony. Hubungan mereka semakin dekat meskipun belum ada kepastian.
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1