
“Mas jangan tegang begitu, Mas membuatku takut.”
“Maaf Dek, bukan maksud Mas mau membuatmu takut. Mas hanya khawatir Adik tidak bisa menerima kejujuranku.”
Vania menarik nafas panjang, bersiap untuk mendengarkan cerita Sony.
“Dulu, Mas dilahirkan oleh seorang ibu bernama Jasmin dan ayah yang bernama Gunawan Dirgantara. Juga kakak lelaki namanya Dony Dirgantara. Bisa di bilang Mas dari keluarga yang berkecukupan Dek. Tapi, dari kecil Mas tinggal dengan Om Irawan, adiknya ayah. Dia pemilik Grand Luxury Hotel.”
Vania langsung membulatkan bola matanya seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Sony, namun dia memilih untuk terus mendengarkan tanpa menyela atau memotong pembicaraan Sony. Dia sungguh tak menyangka jika selama ini ia berpacaran dengan seseorang yang sebenarnya berada. Kehidupan Sony ternyata tak sesulit yang ia bayangkan.
“Mereka terlalu sibuk dengan bisnisnya, hingga aku di nomor dua kan. Berbeda dengan kakak yang selalu di puja dan di manja, bahkan mendapat perhatian lebih. Hingga Mas dewasa, Mas di suruh menikah dengan seorang perempuan yang bahkan Mas tidak kenal sama sekali.”
“Terus?!” Vania semakin terkejut ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir manis Sony. Apa Mas Sony mau menuruti keinginan orang tuanya? Semoga saja tidak.
“Hingga saat ini, Kak Dony memilih untuk meneruskan perusahaan Papa. Dan menikah dengan anak rekan bisnisnya. Tapi tenang saja Dek, Mas sampai kapan pun tidak akan mau menikah dengan perempuan yang tidak Mas cintai, makannya Mas memilih jalan hidup Mas sendiri. Mas menjauh dari mereka, daripada Mas dekat hanya akan memproduksi dosa, menyakiti hati mereka dan juga menyakiti hati Mas sendiri.”
Ah, syukurlah. Aku lega mendengarnya. Aku kira Mas Sony akan menerima dan menuruti kemauan orang tuanya. Gumam Vania.
“Mas, aku tidak tahu harus bicara apa. Aku bingung, lebih tepatnya aku takut. Takut kalau suatu saat nanti Mas pada akhirnya akan memilih taat dengan perintah orang tua Mas Sony, untuk menikah dengan wanita lain.”
Ditambah lagi, aku yang hanya seperti ini Mas. Bukan terlahir dari keluarga yang beruntung seperti Mas Sony. Vania hanya berbicara dalam hati ketika tak dapat meneruskan kata-katanya.
“Tidak akan Dek, percayalah. Mas hanya akan menikah denganmu. Hanya kamu yang ada di sini.” Sony menepuk dadanya.
Vania menatap lekat netra Sony seolah berbicara kalau ia sangat takut kehilangannya. Namun lidahnya kelu, bibirnya tertutup rapat tak mampu berucap. Rasanya sangat kaku dan berat. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia masih bisa menahannya agar buliran hangat itu tidak lolos begitu saja.
Saat ini, hanya dia satu-satunya lelaki yang ia cintai, kasih sayang Sony yang selama ini ia rasakan sangatlah besar efeknya untuk kehidupan Vania. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung dan paling bahagia. Apa jadinya jika ia hubungannya akan berakhir, ia sama sekali tidak bisa dan tidak mau membayangkan hal yang mengerikan itu. Memikirkannya saja dada Vania terasa sesak.
“Satu lagi Dek.”
“Apa Mas?” tolong jangan lanjutkan lagi soal pernikahan itu Mas, aku tidak sanggup mendengarnya.
“Sekarang, profesi Mas bukan lagi security.”
“Lalu apa Mas?”
“Mas di beri amanah oleh Om Irawan untuk mengurus hotelnya Dek.”
__ADS_1
“Apa? Jadi Mas bukan lagi security? Sejak kapan? Kenapa Mas tidak memberitahuku sebelumnya? Mas kenapa membohongiku?” kali ini Vania terkejut, karena ia masih berpikir Sony akan tetap menjadi security yang selalu menemaninya di saat kerja nanti.
“Dek, Mas minta maaf. Mas sama sekali tidak bermaksud untuk membohongimu. Hanya saja butuh waktu untuk menceritakan semuanya. Semua ini bukan keinginanku. Kalau di suruh memilih, lebih baik jadi security daripada pusing memikirkan urusan hotel. Tapi Mas tidak bisa berbuat apa-apa sayang, semua ini Mas lakukan semata-mata untuk membahagiakan Om Irawan. Tidak lebih.”
“Aku lebih suka Mas Sony yang dulu, dengan segala kesederhanaannya. Bukan seperti sekarang yang memiliki segalanya.” Suara Vania bergetar mengatakan rangkaian kata yang keluar dari bibir manisnya.
“Dek, lihat Mas! Apa ada yang berubah?” Sony memegang kedua lengan Vania dan mengarahkan tubuhnya tepat di depannya, hingga wajah mereka saling bertemu. “Mas masih sama, tidak ada yang berubah, sedikit pun! Dan akan terus seperti ini. Paham?!” Vania mengangguk pelan, namun masih tetap tidak yakin dengan jawaban Sony. Bisa saja suatu saat nanti dia akan berubah, tidak ada yang tahu. Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia.
“Ta-tapi... aku tidak bisa bertemu lagi dengan Mas Sony. Mas akan sangat sibuk. Tidak seperti dulu yang selalu ada waktu buatku, kapan pun aku minta Mas pasti akan datang.” Vania menunduk, berkata lirih dengan nada putus asa.
“Sayang, jangan seperti ini. Tolong mengertilah keadaan Mas sekarang, ya? Mas mohon. Ketika Mas ada waktu, pasti Mas akan mendatangimu.”
“Janji?”
“Mas janji, Dek.” Sony mengelus rambut pendek Vania penuh kasih.
“Mas, bagaimana dengan besok?”
“Besok, aku datang sendiri untuk melamar pekerjaan begitu? Ke mana aku harus memberikan CV nya?”
“Tidak perlu, bagaimana kalau Adik jadi asisten pribadi Mas saja?”
“Apa?! Nggak.! Mas jangan aneh-aneh.”
“Mas serius Dek, nanti tugasnya cuma menemani dan melayani Mas. Jadi tidak perlu capek-capek.”
“Mas, tidak semudah itu! Apa nanti kata karyawan di sana? Yang ada aku akan jadi bahan ghibah mereka.”
“Tidak akan, Dek. Selama kamu di sampingku, semua akan aman.”
“Nggak Mas, aku tetap akan menjadi orang normal yang serius bekerja. Bukan untuk bersenang-senang.” Vania memicingkan matanya pada Sony.
__ADS_1
“Ya sudah, Mas tidak memaksamu. Tapi ingat, jaga diri baik-baik ya... meskipun Mas ada di hotel yang sama, Adik juga harus tahu bagaimana cara melindungi diri dari orang yang berniat buruk padamu.”
“Iya Mas, aku mengerti.”
“O, iya. Nanti Mas akan carikan ART, Dek. Biar nanti Adik nggak kesepian, jadi ada yang bersih-bersih rumah, sekalian memasak.”
“Tidak perlu Mas. Aku bisa melakukan semuanya sendiri.”
“Mas tidak mau kamu kecapekan, Dek. Jangan membantah, Mas tidak suka.”
“Terserah Mas saja.” Vania menyenderkan tubuhnya di kursi panjang itu, matanya terfokus pada kupu-kupu yang terbang mengelilingi bunga yang mulai kuncup itu, berpindah dari bunga satu ke bunga yang lain.
“Lihat Mas, enak ya jadi kupu-kupu. Dia cantik, bebas terbang ke mana pun ia mau tanpa ada yang mengganggu. Ia berpindah-pindah tempat, namun masih tetap bunga cantik juga yang di tuju. Bunga pun juga tak menolak ketika manisnya di hisap oleh kupu-kupu.”
“Sama seperti kamu Dek.” Sony mulai menggoda dengan tawa genitnya.
“Kok aku? Jangan ibaratkan aku seperti kupu Mas, aku bukannya cantik seperti mereka.”
“Siapa bilang?! Kamu itu cantik Dek, sangat cantik, entah itu seperti bunga atau kupu-kupu. Dan itu juga, manis, lebih dari madu.” Fokus Sony pada bibir mungil Vania dan perlahan mendekatkan wajahnya. Gadis itu langsung bereaksi cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu mengerutkan alis juga dahinya, seolah takut Sony akan merenggut bibirnya. Tawa Sony pun pecah, ia lalu merengkuh lengan Vania dan mengantarnya ke pelukan dada bidang itu.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1